PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

“Baiklah, Nak, kalau begitu kamu bisa membicarakannya langsung dengan Jossie, ibu yakin dia tidak akan menolakmu kali ini” ucap Bu Sum dengan senyum kelegaan di wajahnya.


“Menolak apa, Bu?” sebuah suara membuat Bu Sum dan dokter Jimmy segera memalingkan wajah mereka.  Dan disana mereka melihat Jossie melangkah menuju ke arah mereka dengan kening berkerut, “Memang apa yang ditolak, Bu dan siapa yang menolak” tanya Jossie bertubi tubi.


Bu Sum tersenyum mendengar pertanyaan bertubi tubi dari wanita muda itu, “Astaga Jossie, kalau bertanya itu apa nggak bisa satu per satu” kekeh Bu Sum melihat wajah penasaran Jossie.


“Ish, Ibu, ya gimana aku tidak penasaran kalau kalian berbicara dengan setengah suara seperti sedang menyembunyikan sesuatu” sahut Jossie dengan wajah cemberut.


“Ya, sudah, bukannya tadi kalian mau keluar, pergilah, nanti Nak Jimmy akan menjelaskannya padamu” sahut Bu Sum.


Dokter Jimmy juga segera berdiri lalu meraih jemari sang kekasih, “Ibu benar, Sayang, ayo kita keluar, aku akan menjelaskan semuanya padamu di tempat yang tepat.  Ibu, kami pamit dulu ya, doakan anakmu ini agar berhasil” ucap Dokter Jimmy seraya mengedipkan satu matanya pada Bu Sum.


“Apaan sich, Kak, memangnya apa yang harus didoakan ibu?” tanya Jossie yang semakin penasaran.


“Makanya kalau mau tahu, jangan banyak tanya, yuk kita berangkat” ucap dokter Jimmy dengan senyum misterius.


Jossie hanya bisa mendesah pasrah, dia tahu dia tidak akan bisa memaksa kedua orang itu untuk berbicara.  “Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu, Bu” ucapnya mengalah.


“Iya, Nak, hati hati ya” ucap Bu Sum dengan senyum keibuan yang selalu menghiasi wajah paruh baya wanita itu.


Dokter Jimmy dan Jossie akhirnya segera berlalu meninggalkan pentha house mewah milik Dean.  Bu Sum yang memandang kepergian kedua orang itu hanya bisa tersenyum sendu, “Ku harap kamu bisa segera meraih kebahagiaanmu sendiri, Nak” desis wanita itu.


Bu Sum kemudian meraih phonselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian dia menekan nomor seseorang yang sangat dikasihinya.  “Pah, bisa jemput aku sekarang” tanya Bu Sum pada seseorang diseberang sana.


“Tentu, Sayang, aku akan segera menjemputmu” sahut suara di seberang sana membuat Bu Sum tersenyum bahagia.


Bu Sum kemudian kembali melangkah menuju kamar yang telah disediakan Dean khusus untuk dirinya.  Bu Sum mulai mengemas beberapa potong pakaiannya, sebelum akhirnya dia teringat kalau dia belum mengabari Dean.  “Astaga, bagaimana aku bisa lupa untuk minta ijin pada tuan rumah, ish, apa aku memang sudah tua, sampai sampai sudah mulai pikun” kekeh Bu Sum.


Segera wanita paruh baya itu meraih phonselnya dan menghubungi Dean, “ Maaf kalau ibu mengganggu, Nak Dean” sapanya saat mendengar suara Dean diseberang sana.


“Tidak apa apa, Bu, ada apa Ibu menghubungiku” ucap Dean dengan suara penuh hormat.


“Ibu ingin pamit untuk mengunjungi keluarga ibu, Nak, sebentar lagi suami ibu akan datang menjemput ibu” ucap Bu Sum.


“Oh, iya, Bu, silahkan saja Bu” sahut Dean.


“Mmmm, bagaimana keadaan Nak Qiqi sekarang” tanya Bu Sum, karena memang sebenarnya hanya itulah yang agak mengganjal di hatinya saat ini.


“Kalau Qiqi, keadaannya sudah jauh lebih baik, sekarang, Bu, mungkin beberapa hari lagi dia sudah bisa pulang, jadi ibu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.  Aku janji akan segera menghubungi ibu, kalau Qiqi sudah boleh pulang” sahut Dean.

__ADS_1


“Hmmm, baiklah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya, Nak, nanti kalau memang Qiqi sudah keluar, ibu akan segera menemaninya lagi” sahut Bu Sum, lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Bu Sum bisa bernafas lega, akhirnya dia bisa pergi dengan perasaan lebih tenang.  Sejujurnya, Bu Sum memang hanya menunggu keadaan  Qiandra sampai membaik.  Anak anak dan suaminya sendiri sudah berulang kali menawarkan untuk menjemput Bu Sum.  Namun, wanita itu tetap setia menunggu hingga Qiandra pulih.


Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya yang dinantikan oleh Bu Sum datang juga.  Seorang laki laki paruh baya yang masih terlihat tegap dan tampan meski diumur yang sudah tidak muda lagi.  Laki laki itu menekan bel pentha house Dean, dan saat pintu terbuka dia melihat wajah wanita yang sangat dirindukannya itu.


“Pah, ….” ucap Bu Sum seraya menghambur ke pelukan laki laki itu.


“Clay, ….” desis laki laki itu seraya menyambut pelukan wanita paruh baya itu.  Keduanya berpelukan dengan erat, yah, usia tidak menghalangi mereka untuk tetap menyalurkan kasih sayang yang selama ini harus terpisah oleh jarak dan waktu.


“Apa sekarang kamu benar benar akan pulang, Hmmm” bisik laki laki paruh baya itu pada Bu Sum atau Clayandra.


Bu Sum tersenyum, “Iya Pah, aku hanya akan sekali sekali kembali menjenguk Feli kalau dia sudah pulih nanti” sahutnya.


Laki laki paruh baya itu tersenyum, “Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang, anak anak sudah tidak sabar menanti kepulanganmu” ucap laki laki paruh baya yang tak lain dari Chris mantan kepala pelayan di mansion keluarga orang tua Dika dan Felicia dulu.


Clayandra mengangguk, lalu segera meraih tas kecil tempat beberapa potong pakaian dan keperluan pribadinya.  Chris segera mengambil tas itu dari tangan Clayandra, lalu dia meraih jemari wanita paruh baya itu dan menggenggamnya dengan erat.  Mereka berdua sama sama melangkah menuju lift yang membawa mereka menuju ke basement tempat Chris memarkirkan mobilnya.


Chris membawa Clayandra menuju ke sebuah mobil mewah berwarna putih, “Wow, sejak kapan kamu memiliki mobil ini, Pah” seru Clayandra saat melihat mobil Chris.


“Baru beberapa bulan ini, Sayang, yah ini juga atas kemauan dan persetujuan anak anak.  Mereka bilang mobil kita yang dulu sudah terlalu tua” sahut Chris dengan tekekeh.


“Ha ha ha, kamu sangat tahu sifat ketiga anak kita” kekeh Chris saat mendengar sang istri mengomel.


“Papa juga sich selalu manjain dia, apa apa yang dia mau selalu dipenuhin” kini kekesalan Clayandra beralih pada sang suami.  Dan bukannya marah, Chris malah tergelak mendengar istrinya mengomel.


“Papa, ich, kenapa malah ketawa, tau aja mama lagi kesal” Clayandra mencubit lengan sang suami dengan gemes.  Bukannya kesakitan, Chris malah semakin terbahak bahak.  “Papa kenapa sich, orang lagi kesel malah diketawain” seru Clayandra dengan wajah cemberut.


Chris malah perlahan menghentikan mobilnya di sebuah sudut rest area, “Aku selalu merasa bahagia saat kamu ada disisiku, Sayang, aku tahu saat inilah kamu menjadi dirimu sendiri.  Bukanlah perkara yang mudah bagimu, harus bertahun tahun hidup dan berpura pura menjadi orang lain.  Aku sungguh tidak sabar menantikan semua ini berakhir bahagia” ucap laki laki itu seraya merapikan beberapa anak rambut di wajah sang istri.


“Maafkan aku, Pah, aku seperti menomor duakan kalian, permintaan kakak agar aku menjaga Felicia seolah selalu menuntutku untuk menjamin agar Feli bisa hidup bahagia” desah Clayandra.


“Aku mengerti, Sayang, anak anak juga bisa memahami hal itu, kami bahkan sangat kagum padamu yang selalu sanggup membagi waktumu dan selalu menyempatkan diri mengurus segala hal dalam keluarga kita” ucap Chris dengan tulus.


Clayandra menghembuskan nafas berat, “Hah, sebenarnya aku selalu saja merasa bersalah, saat aku mengerjakan apapun di rumah Felicia, tapi aku tidak mengerjakan apapun di rumahku sendiri, tidak mengurus anak anakku sendiri” desah wanita paruh baya itu.


Chris menggenggam lembut jemari Clayandra, “Jangan merasa bersalah, Sayang, lagi pula kami sama sekali tidak merasa terabaikan.  Aku selalu mengatakan pada anak anak agar mereka berpikir mama mereka sedang bekerja, sama seperti wanita karier lainnya yang pergi pagi dan pulang malam.  Jadi, kami semua tidak pernah merasa ada masalah” sahut Chris berusaha menenangkan sang istri.


“Tapi aku telah meninggalkan kalian cukup lama, Pah” desah Clayandra lagi.

__ADS_1


“Dua tahun itu memang cukup sulit bagi anak anak dan aku yang selalu terbiasa bergantung padamu, tapi lihatlah, kita bisa melewatinya bukan?.  Jadi, jangan lagi menyesali waktu yang telah berlalu, bagiku kamu adalah wanita luar biasa, Sayang, dan terima kasih sudah menjadi ibu dan istri untuk anak anak dan aku” ucap Chris seraya meraih tubuh sang istri dan memberinya kecupan lembut.


Clayandra tersenyum sendu, “Aku yang berterima kasih, Pah, terima kasih karena kamu mau mengerti keadaanku, kamu dan anak anak” ucap wanita itu denga wajah penuh haru.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kita sudah menjalani ini puluhan tahun, dan bukankah semuanya baik baik saja.  Jadi, bagaiman sekarang, apa kamu akan berhenti mendampingi Felicia” tanya Chris lagi mengalihkan pembicaraan mereka.


Clayandra kembali mendesah berat, “Seharusnya aku sudah bisa melepasnya menikmati hari bahagianya bersama Dean.  Apalagi sekarang ada Dika yang pasti akan selalu menjaga adiknya lebih dari dirinya sendiri.  Tapi, aku masih mengkhawatirkan keputusan keduanya dalam menghadapi masalah ini” ucap Clayandra.


“Masalah apa, Sayang” tanya Chris dengan kening berkerut.


“Pah, jangan bilang kamu juga tidak tahu siapa Dean dan apa hubungannya dengan keluarga kerajaan itu” ucap Clayandra dengan mata menatap sang suami dengan intens.


“Dean Walt Zacharias, putra Walt Zacharias dan cucu Yang Mulia Zacharias” ucap Chris membuat Clayandra menganga menatapnya tanpa berkedip.  “Aku sudah tahu, Sayang, sejak awal aku dan Fred sudah menyelidiki semua ini.  Dan kami memutuskan bahwa dengan menikahi Dean, Feli justru akan aman” sahut Chris lagi.


“Aman, aman bagaimana, Pah, bagaimana bisa kita menempatkan Feli di sarang orang orang yang telah membuat jejak kelam di dalam kehidupan Feli” seru Clayandra yang merasa tidak mengerti dengan jalan pemikiran sang suami.


“Sayang, aku sendiri sampai saat ini belum bisa melacak kebenaran kalau memang keluarga kerajaan yang saat itu mendukung perbuatan Lee.  Tapi, apapun alasannya, aku yakin, jika Dean sungguh sungguh mencintai Feli, maka dia sendiri yang akan melindungi Feli.  Dean adalah pewaris tunggal Zacharias, dan tidak akan ada yang berani menantang dirinya” ucap Chris.


Clayandra berdecak kesal, “Tapi, bagaimana kalau dia mengetahui masa lalu itu, bagaimana kalau dia tahu bahwa ayah Feli juga sudah mendukung kehancuran kerajaan dan dianggap sebagai pengkhianat.  Apa kamu yakin Dean bisa tetap mencintai anak seorang pengkhianat” cecar Clayandra dengan berapi api.


“Justru disitulah letaknya cinta mereka akan diuji, Sayang, saat Dean mengetahui kenyataan itu, aku yakin dia tidak akan tinggal diam.  Dean pasti akan menyelidiki dan membongkar semuanya sampai ke akar akarnya.  Hanya dia yang bisa melakukan hal itu, sehingga kita semua bisa mengetahui kebenaran yang tersembunyi selama ini” sahut Chris.


“Tapi, bagaimana jika dugaan itu benar, Pah, bagaimana nasib Felicia” seru Clayandra lagi.


“Pembuktian dari kebenaran dugaan itu sangat penting, Sayang, itu juga untuk membersihkan nama baik keluarga Hamilton yang sekarang seolah dihapus dari muka bumi.  Dan masalah Felicia dan Dean, biarkan mereka memutuskan apa yang terbaik untuk keduanya, jika cinta mereka memang sekuat yang kita pikirkan, maka masalah ini tidak akan menjadi penghalang bagi mereka.  Toh, semua ini hanya bagian dari masa lalu, namun, tetap harus dibuktikan mana yang benar dan mana yang salah, agar tidak menjadi masalah lagi di kemudian hari” ucap Chris panjang lebar.


Clayandra yang tadi merasa sangat kesal akhirnya terdiam mendengar penjelasan sang suami.  “Tapi, Pah, aku  tidak mau kalau sampai Feli menderita lagi, dia sudah cukup banyak menderita selama ini” desah Clayandra dengan mata menerawang jauh.


“Feli sudah cukup dewasa, Sayang, lagipula ada Dika yang akan selalu siap mendukungnya jika saja Dean memilih sebuah pilihan terburuk sekali pun.  Feli tidak akan sendiri lagi menghadapi semuanya, ada Dika, ada kamu dan kami semua yang adalah keluarganya juga” sahut Chris dengan bijaksana.  Chris sangat tahu kegelisahan hati istrinya.


Tapi, dia juga menyadari bahwa tidak mungkin mereka terus menyembunyikan hal besar seperti ini.   Semua ini harus dibuka kembali, agar bisa menemukan titik terang dari musibah yang menimpa keluarga Hamilton.  Jika memang mereka tidak bersalah, maka mereka tidak perlu lagimerasa takut memakai nama keluarga mereka.  Kalaupun Hamilton memang bersalah, maka Dika dan Felicia juga harus membuat keputusan.


“Kamu benar, Pah, semua ini memang sudah saatnya untuk dibuka kembali” desah Clayandra dengan berat hati.


“Jangan khawatir, kita akan terus mendampingi mereka berdua, sekalipun sebenarnya mereka pasti mampu menghadapinya sendiri dengan kemampuan Dika dan Feli, tapi sebagai keluarga, kita tidak akan membiarkan mereka berjalan dan berjuang sendiri” ucap Chris sambil meremas lembut jemari sang istri.


“Terima kasih, Pah, terima kasih banyak untuk tetap setia dan selalu ada bersamaku selama ini” ucap Clayandra.  Wanita paruh baya itu menyadari hanya karena kekuatan dari sang suamilah dia bisa tetap bertahan hingga saat ini.  Bahkan dengan pengertian yang sangat besar, Chris, sang suami tetap mendukung dirinya yang seolah lebih mengutamakan Felicia dibanding keluarganya sendiri.


“Ya, sudah, sekarang kita pulang, anak anak pasti sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu” ucap Chris kembali meraih jemari Clayandra dan mengecupnya lembut.  Setelah itu, dia mengarahkan mobilnya meninggalkan rest area untuk menuju ke rumah mereka yang terletak cukup jauh dari pentha house milik Dean.

__ADS_1


__ADS_2