PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH TUJUH


__ADS_3

“Love, sebenarnya kita mau kemana” Qiandra akhirnya bertanya kembali pada suaminya, setelah keduanya keluar dari basement apartemen mewah Dean.  Mobil mewah yang mambawa sepasang suami istri ini berjalan dengan kecepatan sedang menelusuri jalan kota metropolitan yang sedang lengang.  Jalanan memang sedang lengang karena saat ini masih jam kerja dan jam sekolah, sehingga tidak banyak kendaraan di jalanan.


“Ada apa, hmmm, apa istriku ini takut suaminya akan mencelakainya atau istriku ini memang berat dan tidak ingin keluar dari kamar” ucap Dean tanpa menjawab pertanyaan istrinya.  Laki-laki itu menggenggam tangan Qiandra dengan erat, beberapa kali dia bahkan mengecup tangan istrinya dengan lembut.


“Ish, bukan begitu, Love, setidaknya aku tahu kan kemana kamu akan membawaku, paling tidak aku bisa mempersiapkan diri untuk…..”


kata-kata Qiandra terhenti saat mendengar tawa renyah suaminya.


“Honey, kamu bukan mau bekerja atau mau menemui klien, santai saja, tidak ada yang perlu kamu persiapkan, nikmati saja waktu ini.  Kamu akan tahu kemana aku akan membawamu nanti, jika aku katakan sekarang tentunya itu tidak menjadi kejutan lagi kan” sahut Dean masih dengan sisa tawanya.


Dean sangat tahu kalau Qiandra seorang wanita yang terbiasa selalu mempersiapkan segala sesuatunya saat dia akan menghadapi suatu pekerjaan.  Bahkan dalam saat-saat


terjepitpun, Qiandra akan tetap berusaha mempersiapkan yang terbaik.  Qiandra memang terkenal di kota itu sebagai sekertaris yang sangat cakap dan selalu siap di berbagai keadaan.


Namun, bersama dengan Dean, hidup Qiandra benar-benar dipenuhi dengan berbagai kejutan-kejutan yang membuatnya tidak bisa


mempersiapkan apapun.  Jangankan membuat


persiapan, apa yang akan dihadapinya saja baru dia ketahui saat sudah ada di depannya.


“Kamu curang, Love, kamu selalu memberikan begitu banyak kejutan untukku, sementara aku tidak bisa memberikan kejutan apapun untukmu” keluh Qiandra yang kembali merasa bersalah pada suaminya itu.


“Hei, apa kamu lupa yang tadi malam, itu kejutan yang sungguh luar biasa, Honey, dan aku berharap bisa mendapatkannya lagi” ucap Dean dengan senyum smirknya, dia kembali mengecup tangan sang istri dengan bahagia.


“Love….” seru Qiandra dengan tertahan, dia sangat malu jika mengingat apa yang sudah dilakukannya tadi malam pada suaminya.  Walaupun, memang itu dilakukannya dengan


perencanaan khusus, tapi tetap saja dia merasa malu.


“Ha ha ha, jangan bilang kamu merasa malu sekarang, Honey, karena aku bersungguh-sungguh, aku sangat, sangat dan sangat ingin lagi dan lagi” kekeh Dean yang membuat  wajah


Qiandra  semakin merah padam.


“Love, bisakah kamu menceritakan bagaimana keluargamu, yah, setidaknya aku bisa sedikit memahami saat aku harus bertemu dengan mereka nanti” ucap Qiandra setelah mereka berdua cukup lama terdiam, Qiandra juga


sengaja mengalihkan pembicaraan mesum sang suami yang diyakininya pasti akan


berlanjut untuk membahas hal yang sama.


“Hmmm, aku akan menceritakannya, Honey, tapi jangan sampai kamu berpikir aku menyombongkan diri, dan membuatmu menjadi rendah diri.  Aku memang tidak pernah mau menceritakan kapadamu tentang keluargaku, karena aku tidak ingin hal itu menjadi alasanmu untuk menolak aku” ucap Dean.


Qiandra menatap suaminya dengan kening berkerut, “Ceritakanlah, Love, aku sekarang sudah menjadi bagian dari dirimu, jadi, aku


juga menjadi bagian dari keluargamu, bagaimanapun kehidupan keluargamu, sama


seperti kamu menerima aku walaupun aku memiliki  latar belakang keluarga yang tidak jelas” sahutnya.


“Sebenarnya, keluargaku adalah keluarga kerajaan yang menguasai kota ini, negara ini, namun, karena sistem pemerintahan sekarang ini telah berubah, sehingga keluarga kami tidak lagi menjadi penguasa.  Akan tetapi, semua asset  raja tetap menjadi milik kami, karena kakekku adalah raja terakhir yang duduk di takhta.   Daddy Walt sendiri sebenarnya bisa saja menjadi pemimpin kota ini, namun beliau tidak menginginkannya.  Daddy Walt sebagai anak tertua lebih memilih membangun perusahaan dan meninggalkan dunia pemerintahan.   Daddy Walt bersama dengan kelima orang saudaranya membangun perusahaan yang tersebar di seluruh pelosok negri ini.  Setiap saudaranya memegang


perusahaan sendiri sesuai dengan bakat dan minatnya, namun tampuk kekuasaan tetaplah di tangan daddy Walt.  Karena itulah, kami masih memelihara tradisi kerajaan, tentunya sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman sekarang ini” Dean bercerita dengan panjang lebar.


Qiandra menatap suamiya dengan terkesima, “Jadi, kakekmu adalah King Zach” tanya Qiandra dengan mata terbelalak.

__ADS_1


“Tidak salah lagi, Honey, King Zach, atau lengkapnya King Zacharias” sahut Dean dengan santai.  Qiandra menutup mulutnya yang ternganga saking terkejutnya dia mendengar silsilah keluarga suaminya.


“Astaga, Love, bodohnya aku, aku sama sekali tidak tahu tentang hal itu.  Aku hanya pernah


mendengar  tentang King Zach saat aku


sekolah dulu, aku kira itu hanya legenda, maaf” ucap Qiandra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.  Sekali lagi, wanita ini merasa malu atas ketidak tahuannya tentang kehidupan suaminya.


“Ha ha ha, memang cerita tentang kakek cukup melegenda, bagaimanapun, beliau adalah raja terakhir yang memimpin negri ini.  Tapi itu adalah masa lalu, sekarang, kami sama saja dengan masyarakat lainnya, hanya saja memang oma selalu menegaskan pada mamah, sebagai menantu tertua, untuk memelihara tradisi keluarga.  Dan sekarang, kamulah yang akan meneruskan tradisi itu, Honey, karena aku adalah putra tunggal dari daddy Walt.  Sayangnya, kamu tidak punya kesempatan belajar langsung dengan mamah” ucap Dean dengan wajah sendu.


Qiandra semakin terkejut lagi mendengar tanggung jawab yang harus di embannya, tapi dia tidak ingin membuat Dean merasa bersalah.   Qiandra menggenggam erat tangan suaminya, “Jangan bersedih, Love, jika memang itu yang menjadi tugas dan tanggung


jawabku, aku akan berusaha mempelajarinya, walau tidak dengan ibumu secara langsung.  Aku yakin, masih ada tempatku untuk belajar


selain ibumu” ucapnya berusaha menghibur suaminya.


Dean tersenyum, “Kamu benar, Honey, kamu memang  masih bisa belajar dari oma dan bibi Anna yang merupakan saudara perempuan daddy satu-satunya.  Mereka berdualah yang sampai saat ini masih memegang teguh semua tradisi kerajaan, walaupun sekarang di mansion utama telah dikuasai oleh iblis itu” ucap Dean, wajahnya kembali mengeras.


“Dimana mereka sekarang, Love” tanya Qiandra dengan rasa penasaran, dia berusaha mengalihkan kemarahan suaminya.


Dean menghembuskan nafas dengan berat, “Mereka semua ada di mansion utama, iblis itu membuat mereka seperti berada dalam penjara.  Mereka tidak bisa bebas keluar tanpa


seizinnya, karena memang mansion utama selalu berada di bawah kekuasaan ratu, dan saat ini iblis itulah yang menjadi ratu disana” ucapnya.


“Bahkan opa dan omamu juga tidak bisa melawannya?” tanya Qiandra dengan kening berkerut, sungguh aturan yang aneh baginya, jika sampai ada orang yang bisa melarang bahkan memenjarakan pemilik asli hanya karena sebuah status.


“Seperti itulah aturannya, Honey, jika tidak bersedia tunduk, maka harus keluar dari mansion utama itu” sahut Dean.


“Jika mereka keluar dari sana, maka sama saja mereka menyerahkan segalanya untuk iblis itu.  Mereka harus tetap bertahan disana agar mansion itu masih bisa dipertahankan sebagai milik keluarga Zacharias.  Mereka berkorban demi daddy, demi…..aku” desah Dean, matanya menatap jalanan di depan dengan sendu.


Sejujurnya ada pedih yang terasa dalam hati Dean, saat memikirkan keadaan keluarga besarnya.  Namun, dia juga tidak mampu jika harus tinggal satu atap dengan orang yang telah menyebabkan kematian ibunya sendiri.


“Demi kamu, maksudnya?” Qiandra semakin tidak mengerti.


“Akulah  raja selanjutnya, pewaris tunggal mansion utama dan tahta Zacharias, sementara aku telah memutuskan keluar dari sana, jadi terpaksa mereka harus bertahan hingga aku kembali lagi” Dean kembali menghembuskan nafas dengan berat.


“Ohhh…” Qiandra akhirnya mengerti dengan masalah yang dihadapi oleh suaminya ini.  Qiandra sangat mengerti kalau Dean tidak akan kembali ke mansion utama selama wanita


itu masih ada.   Tetapi Qiandra juga sangat menyadari kalau tidak mungkin mengeluarkan wanita itu dari sana dengan paksa.


Keduanya lama terdiam membisu, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, hingga Qiandra menyadari jalan yang sedang mereka


lalui.  “Love, ini kan jalan menuju…..” Qiandra tidak meneruskan kata-katanya, saat mobil mewah itu benar-benar berbelok ke sebuah halaman mansion yang cukup mewah.


“Ayo, Honey, kita turun” Dean mengajak istrinya untuk keluar dari mobil.  Tapi wanita itu masih


terdiam, dia termangu menatap bangunan yang ada di depannya saat ini.  “Honey….” Dean sudah membuka pintu mobil untuk Qiandra dan mengejutkan wanita itu.


Qiandra masih tidak bisa berkata-kata, matanya menatap Dean dengan penuh tanda tanya.  Dean hanya tersenyum dan mengangguk pada istrinya, lalu dia menggenggam tangan wanita itu membawanya keluar dari mobil dan menuntunnya masuk ke dalam mansion.


“Aku memerintahkan supaya mereka mempertahankan semuanya tetap seperti  semula, jadi  seharusnya tidak ada yang berubah sama sekali” ucap Dean sambil menatap ke sekeliling masion itu.

__ADS_1


Qiandra menatap seluruh ruangan dalam mansion itu, perlahan air mata menetes di pipinya, “Love, apa kamu yang telah…..” Qiandra tidak melanjutkan pertanyaannya saat melihat senyum  suaminya.


“Benar, Honey, aku yang telah membelinya, saat itu aku memang sangat curiga karena orang misterius itu langsung menawarkan mansion ini lewat Vian.  Tapi, aku sama sekali tidak


menyangka jika itu benar-benar kamu yang menjualnya.  Saat membelinya, aku hanya bertekad akan mengembalikan ini padamu suatu saat kelak jika kita bisa bertemu” sahut  Dean.


Qiandra menatap suaminya, “Walaupun aku bukan istrimu” tanya wanita itu dengan rasa penasaran.


“Aku hanya berharap bisa bertemu denganmu, sekalipun kamu tidak menjadi milikku, Honey, aku akan tetap mengembalikan mansion ini padamu, ini milikmu dan sudah seharusnya kembali padamu” jawab Dean dengan tegas.


“Terima kasih, Love, tapi akan kita apakan mansion ini, aku…..aku tidak ingin tinggal disini lagi” desis Qiandra dengan suara perlahan.


“Kenapa, Honey, apa kamu masih tidak bisa melupakan dia” desis Dean, ada kecewa terbersit dalam kata-katanya, laki-laki itu menatap foto pernikahan Qiandra dan Charles yang memang terpajang dalam ukuran sangat besar.


Qiandra sangat mengerti perasaan suaminya itu, “Bukan begitu, Love, jika aku masih sendiri, maka aku bersedia tetap tinggal disini, tapi sekarang aku sudah menikah, aku merasa tidak berhak lagi menempati pemberian kak Charles.  Sekarang, aku sudah menjadi tanggung jawab suamiku, dan aku akan tinggal dimanapun suamiku membawa aku” jelas Qiandra dengan yakin.


“Sekalipun hanya di apartemen itu” tanya Dean yang penasaran dengan jawaban istrinya.


“Aku tidak perduli dimanapun, Love, selama aku bersama denganmu, aku tetap akan bahagia.  Dimanapun kamu membawaku untuk tinggal, maka aku akan mengikutimu” sahut Qiandra.


Dean tersenyum bahagia mendengar jawaban wanita yang sangat dicintainya itu, karena dia memang sempat khawatir kalau Qiandra masih


menyimpan rasa pada almarhum suaminya.  “Jadi, sekarang apa kamu akan berkeliling, Honey” tanya Dean lagi.


“Kurasa tidak perlu, Love, bukan aku tidak menghargai pemberiaanmu.  Aku sangat berterima kasih kamu mau membantuku dengan membeli mansion ini, dan sekarang kamu mengembalikannya padaku lagi.  Tapi, aku benar-benar merasa tidak berhak lagi atas mansion ini” sahut Qiandra.


“Jadi, bagaimana, mau kamu apakan mansion ini, apakah akan kamu jual lagi” tanya Dean.


“Entahlah, Love, mungkin untuk sementara aku akan membiarkannya seperti ini saja.  Aku


tidak akan menjualnya, dulu aku menjualnya karena memang aku benar-benar butuh uang” sahut Qiandra.


“Hmmm, baiklah, kalau memang kamu belum memutuskan mau kamu apakan mansion ini.  Tapi, jika suatu saat kamu sudah memutuskan, aku harap kamu mau menceritakannya padaku, Honey” ucap Dean.  Dean sangat tahu bagaimana jiwa istrinya, wanita ini memsng tidak akan mau mengambil apapun yang bukan


mejadi haknya, bahkan dia sering merelakan haknya jika dia rasa itu bisa memenuhi


kewajibannya.


“Pasti, Love, kamu suamiku, maka apapun yang akan aku lakukan pasti aku akan meminta ijin darimu” sahut Qiandra, membuat Dean kembali


merasa bahagia mendengar jawaban wanita yang sangat dicintainya itu.


“Baiklah, terima kasih mau berbagi denganku, kalau begitu, apa kita bisa melanjutkan perjalanan kita sekarang, Honey” tanya Dean lagi.


“Tentu saja, Love, tapi kita akan kemana lagi” tanya Qiandra.  Dean hanya tersenyum, dia


meraih pinggang istrinya dan membawanya melangkah keluar dari mansion itu.  Sesaat matanya melirik ke arah foto pernikahan  Qiandra dan Charles, dan saat itu dia seakan menangkap kalau Charles  sedang tersenyum kepadanya.


“Terima kasih, Bro, aku akan menjaganya dengan nyawaku, dia permataku yang paling berharga, aku akan membahagiakannya dan tidak akan membiarkan Qiqi menderita lagi” bisik Dean dalam hati, dia menundukkan kepala sepintas saat melewati foto tersebut.  Dean cukup merasa senang medengar keputusan


dan jawaban Qiandra, karena semua itu menunjukkan kalau wanita itu sudah

__ADS_1


melepaskan kenangan masa lalunya bersama Charles.


__ADS_2