PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH


__ADS_3

Posisi dokter Albert yang memang sedikit


tersembunyi membuat para tamu tidak menyadari keributan yang sempat terjadi


tadi.  Ditambah lagi fokus semua tamu


undangan memang sedang terarah ke atas panggung pelaminan dimana ketegangan


sedang terjadi.


Dokter Albert berusaha mencari tempat untuk


bersandar, “Vian, aku dibius, suruh Dewi segera membawa penawar ke posisi ku


saat ini” seru dokter Albert dengan sekuat tenaga yang masih tersisa padanya.  Dokter Albert sangat menyadari kalau suaranya


sangat lemah karena pengaruh obat bius yang sempat tercium olehnya membuat


seluruh tenaganya seperti hilang.  Setelah itu, dokter Albert benar benar kehilangan kesadarannya dan tidak tahu lagi apa yang terjadi di sekitarnya.


Asisten Vian yang masih bisa mendengar


kata-kata dokter Albert walaupun dengan suara lemah menjadi semakin panik.  Dia segera meraih phonselnya dan menghubungi


sekertaris dokter Albert, seorang wanita cantik bernama dokter Dewi yang memang


berada di ballroom itu juga namun di ruangan khusus perawatan.  Di ruangan ini memang semua petugas kesehatan telah dipersiapkan untuk mengantisipasi jika ada kejadian seperti ini.


“Dewi, segera bawa penawar bius, Albert kena, lokasinya ku kirimkan padamu” seru asisten Vian saat mendengar teleponnya sudah diangkat bahkan tanpa menunggu suara diseberang sana menyapanya.


“Baik, Tuan” sahut dokter Dewi dengan cepat


tanpa bertanya lagi, wanita itu segera meraih tas perlengkapannya yang memang selalu siap di sampingnya, dan segera melangkah menuju ke lokasi yang dikirimkan asisten Vian, dimana dokter Albert saat ini berada.


Sementara asisten Vian dalam kepanikannya


akhirnya tidak bisa lagi hanya bertahan dan memantau segala sesuatunya.  Dengan berat hati dia akhirnya memanggil salah satu orang kepercayaannya dan yang terbaik diantara ahli IT yang ada di ruangan itu.


“Rio, masuk ke ruanganku” serunya dengan cepat pada alat komonikasi di telinganya.  Tidak berapa lama seorang laki-laki muda masuk dengan tergesa gesa dan segera menunduk di hadapan asisten Vian.


“Ada apa, Tuan” tanya laki-laki berkacamata


tebal itu.


“Aku harus ke ballroom, aku serahkan


pemantauan sepenuhnya kepadamu, aku percaya padamu, kuharap kamu tidak


mengkhianatiku” ucap asisten Vian dengan suara dalam namun tegas dan tenang.  Nada suara yang terdengar biasa saja namun bagi yang memahaminya, kata kata itu mengandung ancaman di dalamnya.


“Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan,


akan aku jaga dengan nyawaku” sahut Rio.  Laki-laki itu cukup bangga karena asisten Vian mau mempercayai dirinya, karena semua orang tahu kalau asisten tampan ini sangat sulit meletakkan kepercayaannya pada seseorang.


“Segera laporkan apapun yang kamu lihat berpotensi mengancam keselamatan Tuan Dean dan Nyonya Muda” ucap asisten Vian lagi dengan tegas.


“Baik, Tuan” sahut Rio.


Asisten Vian menepuk bahu Rio dengan lembut, “Aku percaya padamu” ucapnya saat melangkah meninggalkan ruangan pemantauan itu.  Setelah itu, asisten Vian mengambil beberapa senjata di atas meja yang memang sudah dipersiapkannya, lalu dengan cepat berlari menuju ke ballroom.


“Dewi, bagaimana keadaan Albert” tanya asisten Vian kepada dokter Dewi melalui phonselnya sambil terus berlari.


“Saya sudah menyuntikkan penawarnya, Tuan, tapi sepertinya obat bius yang digunakan cukup keras” sahut dokter Dewi.


“Lalu, bagaimana kondisinya” tanya asisten


Vian lagi.


“Dokter Albert baik-baik saja, tapi membutuhkan waktu setidaknya lima belas menit baru dia bisa sadar” sahut dokter Dewi yang terdengar masih sibuk dengan berbagai perlengkapannya.


“Shitt” desis asisten Vian dengan marah, “Baik, berikan perawatan terbaik untuk dokter Albert, aku percayakan padamu” ucap


asisten Vian lalu menutup sambungan teleponnya.

__ADS_1


Asisten Vian melihat panggung pelaminan dari jauh saat Daniel mulai melangkah mendekati Dean dan Qiandra.  Nafasnya terasa tercekat, saat dia melihat laki laki itu melangkah dengan begitu tenang ke arah Qiandra.  Asisten Vian melihat kedaan di sekelilingnya, mencoba mencari celah agar


bisa mendekati panggung pelaminan dengan cepat.


Sementara itu, diatas panggung, Daniel terlihat mengulurkan tangannya pada Qiandra dengan senyum smirk menghias wajah


tampannya, “Kemarilah, Qiandra, mari pergi bersamaku” ucapnya dengan suara lembut


namun nyaring sehingga bisa didengar oleh semua orang.


Semua orang yang melihat Daniel datang dan


mengulurkan tangannya pada Qiandra kembali bergumam.  Mereka semua sangat mengenal Daniel sebagai seorang pengusaha kaya raya yang selalu bersaing dengan Dean.  Dan sesaat tadi semua orang juga melihat


bagaimana Qiandra jatuh dalam pelukan seorang Daniel Putra Mahardika, walaupun


semua itu dibantah oleh Dean dan ayahnya dengan menunjukkan bukti kalau Qiandra


sudah dijebak.


Namun, keberanian Daniel saat ini untuk datang ke pesta ini sudah menjadi sesuatu yang luar biasa bagi semua orang.  Ditambah lagi, laki-laki muda itu dengan penuh percaya diri naik ke atas panggung tanpa rasa ragu sedikit pun.  Bahkan, saat ini Daniel bisa dengan tenang mengulurkan tangannya pada Qiandra dan mengajak wanita itu untuk pergi


meninggalkan suaminya.  Daniel seolah


sangat yakin kalau Qiandra pasti akan mengikuti kemauannya.


Dean yang khawatir melihat kelembutan Daniel, segera memeluk tubuh Qiandra dan memaksa wanita itu untuk menghadap ke


arahnya.  Dean takut kalau Daniel menghipnotis Qiandra jika membiarkan Qiandra menatap mata biru laki-laki itu.  Dalam hatinya, Dean sangat yakin bahwa


jika dengan kesadaran penuh, sudah pasti Qindra tidak akan mau mengikuti permintaan gila dari Daniel.


Dean benar benar bersikap waspada terhadap


Daniel, sayangnya, tanpa dia sadari posisi Qiandra yang menghadap ke arahnya membuat wanita itu melihat bahaya yang mengancam Dean dari arah belakang Dean. Bahaya yang tidak disadari oleh Dean sendiri


karena terlalu fokus pada Daniel.  Qiandra bisa melihat dengan jelas tiga titik merah yang tepat mengarah ke kepala Dean.


Qiandra terkesiap, dia sangat tahu arti tiga titik merah itu yang berarti tiga buah senjata sedang diarahkan pada Dean.  Badan Qiandra


“Mari pergi bersamaku, Qiandra, pilihan ada di tanganmu, apakah kamu akan tetap bertahan” ucap Daniel dengan tegas dan keyakinan penuh.  Senyum penuh kemenangan menghiasi wajah tampan laki laki itu, dia sangat tahu kalau Qiandra tidak akan menolaknya jika itu harus dilakukan wanita itu demi menyelamatkan Dean


Qiandra melihat di kejauhan ada asisten Vian yang sedang berusaha dengan keras melewati orang banyak untuk mendekat


ke arah panggung.  Qiandra sadar, ada hal


yang tidak beres terjadi pada dokter Albert, karena dia tahu asisten Vian tidak akan keluar dari ruang pemantauan jika tidak ada hal yang mendesak.


Demi mengulur waktu, Qiandra perlahan melepaskan pelukan tangan Dean.  Wanita ini tersenyum sangat manis pada sang suami, “Percayalah padaku, I love you” bisiknya saat melepaskan diri dari rengkuhan Dean.


Dean yang terkejut ingin kembali menarik Qiandra ke dalam pelukannya, namun gerakannya ternyata kalah cepat dengan tangan Daniel yang memang sudah terulur.  Daniel segera menarik tubuh Qiandra dan


langsung menyeret wanita itu pergi meninggalkan Dean, membuat Dean terkejut


bukan main.


Tidak hanya Dean, bahkan Qiandra juga terkejut sekali saat tersadar tubuhnya sudah ada dalam pelukan Daniel.  Dan saat Daniel berusaha menyeret dirinya, Qiandra berusaha untuk melawan, namun bisikan Daniel membuat seluruh perlawanannya luruh.


“Ikuti aku, atau ketiga senjata itu memecahkan kepala Dean saat ini juga” bisik Daniel membuat Qiandra serta merta menjadi lemah dan tidak lagi melakukan perlawanan.


Qiandra dengan berat hati terpaksa mengikuti langkah Daniel, ada pedih dalam hati wanita ini.  Namun, Qiandra sudah bertekad, dia tidak akan membiarkan orang yang dicintainya berkorban lagi untuk dirinya.  Jika ada yang harus dikorbankan, maka Qiandra siap mengorbankan dirinya.


Asisten Vian yang melihat dari kejauhan kalau Qiandra melangkah dengan suka rela mengikuti langkah kaki Daniel langsung merasa curiga.  “Dean, awas…..” serunya, namun sayangnya suaranya sama sekali tidak terdengar oleh Dean.


Dean masih terpaku dalam keterkejutannya saat melihat sang istri dengan sukarela mengikuti laki-laki lain.  Otak Dean seakan


membeku, sehingga dia sulit memahami kejadian yang berlangsung di hadapan


matanya ini.


“Apa aku salah, lihatlah wanita yang kalian puja itu ternyata bisa dengan begitu mudahnya meninggalkan Dean, saat laki-laki yang katanya menjebak dirinya itu memintanya untuk pergi” ucap Risty memecah kebekuan di atas pelaminan itu.


“Diam, dasar ja*ang…..” seru Dean dengan kemarahan yang tidak bisa terbendung lagi.  Laki-laki tampan yang baru saja melihat

__ADS_1


istrinya di rebut oleh laki-laki lain dari dalam pelukannya itu menjadi benar benar meradang.


Sekarang, tidak ada lagi tangan lembut yang akan menahan sikapnya dan menenangkan dirinya.  Amarah seorang Dean Walt Zacharias ditambah dengan frustasi dalam ketidak mengertiannya akan kepergian Qiandra, membuat laki-laki itu menjadi tidak terkendali.


Dean melangkah dengan lebar ingin memukul wajah Risty, kali ini dia tidak akan memberi ampun pada wanita itu.  Wanita yang sejak awal sudah menghina dan melecehkan istrinya.  Dean mengangkat tangannya untuk memukul wajah Risty saat itulah dia mendengar suara teriakan dari asisten Vian.


“Dean, awas dibelakangmu” seru asisten Vian yang berhasil mendapatkan sebuah pengeras suara sehingga suaranya bisa didengar dan menggema di seluruh ruangan mewah itu.


Dor…. dor….. dor…..


Tiga bunyi tembakan menyusul teriakan asisten Vian, dan disusul dengan teriakan semua tamu undangan yang terkejut dengan suara tembakan itu.  Para tamu undangan segera menjadi kacau balau, masing-masing dari mereka berusaha berlari mencari jalan keluar dari ballroom mewah itu.


Teriakan kesakitan dan bunyi barang-barang pecah yang berjatuhan membuat suasana dalam ballroom mewah itu semakin kacau.  Ditengah kekacauan itu, tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi dengan asap hitam yang membuat semua orang semakin panik.


Semua orang berpikir bahwa itu asap beracun, sehingga mereka semua semakin berlarian dengan panik menuju ke pintu keluar dari ruang ballroom itu.  Tidak ada satu orang pun yang perduli dengan apa yang terjadi di atas pelaminan, masing-masing orang berusaha menyelamatkan diri dari asap yang


semakin pekat memenuhi ruangan mewah itu.


Asisten Vian yang berusaha berlari mendekati pelaminan semakin mengalami kesulitan.  Laki-laki tampan itu harus bergerak dengan


perlahan melawan arus manusia yang sedang berusaha meninggalkan ruangan itu.  Belum lagi berbagai peralatan kursi, meja dan peralatan makan juga berbagai dekorasi yang berhamburan akibat kepanikan para tamu undangan.


Semua itu benar-benar membuat asisten Vian semakin kerepotan untuk mendekati panggung pelaminan.  Ditambah lagi asap hitam yang terlihat semakin tebal memenuhi ruangan itu, membuat jarak pandang semakin terbatas.  Beberapa kali asisten Vian terjatuh karena menabrak meja atau kursi yang berhamburan.


Laki-laki terlihat sangat panik dan khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi pada Dean.  “Nyalakan kipas dan buka semua pintu atas


agar asap ini segera hilang” serunya melalui alat komonikasi yang ada di telinganya.


Tidak berapa lama, kubah ballroom mewah itu terlihat bergerak perlahan dan terbuka.  Kipas kipas besar juga segera dinyalakan sehingga asap hitam itu bisa keluar dan perlahan semakin menipis.  Namun, hal itu ternyata memang sudah direncanakan oleh pihak Risty dan Daniel.


Pada saat kubah ballroom mewah itu terbuka lebar, pada saat itulah terdengar suara menderu di atas ballroom mewah itu.  Dan saat asap hitam itu semakin menipis, asisten Vian bisa melihat dengan jelas Qiandra yang


terlihat terkulai lemah digendong oleh Daniel dan ditarik dengan sebuah tali.  Sebuah helicopter ternyata sudah siap menjemput keduanya tanpa melewati jalur-jalur yang sudah di jaga dengan ketat oleh orang orang asisten Vian.


“Maafkan aku Qi, aku gagal melindungi kalian” desah asisten Vian dengan wajah putus asa.  “Segera lacak kemana arah helikopter itu membawa Nyonya Muda, Rio,


jangan sampai kehilangan jejak mereka” lanjutnya lagi melalui alat komonikasi untuk memerintahkan Rio terus memantau Qiandra.


“Baik, Tuan” sahut Rio, “Tapi Tuan....”


kata-kata Rio terhenti membuat asisten Vian menghentikan langkahnya.


“Ada apa, Rio” tanya asisten Vian dengan wajah tegang.


“Se.... sepertinya baju Nyonya Muda sudah di


buang dari helikopter itu, karena semua pelacak terlihat jatuh dan jejak helicopter itu menghilang” ucap Rio dengan suaa gemetar.


“Shitt, dasar baj*gan kamu, Daniel, kamu sudah berani membuka lagi pakaian Qiqi.  Aku tidak akan mengampunimu lagi kali ini, laki laki kurang ajar” seru asisten Vian


dengan penuh kemarahan.  “Ya sudah


sekarang cek semua alat komonikasi yang bisa terhubung ke helikopter itu atau


lacak melalui cara apapun untuk mengetahui ke mana arah helikopter itu” seru


asisten Vian lagi.


“Baik Tuan” sahut Rio dengan cepat, karena


memang dia sedang berusaha mencari cara melacak keberadaan Qiandra yang dibawa


oleh Daniel dengan helikopter.


Asisten Vian sendiri kembai berlari melewati


semua kekacauan yang terjadi di ballroom mewah itu.  Para tamu undangan sebagian besar sudah berhasil keluar dan dievakuasi, sehingga asisten Vian bisa dengan mudah


melintasi ruangan besar itu untuk menuju ke arah panggung pelaminan.


Saat sudah dekat dengan panggung pelaminan utama, asisten Vian segera naik tangga dengan meloncati beberapa anak tangga sekaligus.  Dan saat dia sudah tiba di


atas panggung, betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang terjadi di sana.

__ADS_1


Kaki asisten Vian seketika menjadi goyah dan


lemah, sehingga tidak mampu lagi menyangga beban tubuhnya.  Laki laki tampan itu langsung jatuh terduduk dalam posisi menunduk lemah.  Rasa bersalah benar benar membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengontrol semua yang terjadi di hadapannya.  Asisten Vian hanya menatap nanar pemandangan yang sama sekali tidak pernah di duganya akan terjadi.


__ADS_2