PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH PULUH ENAM


__ADS_3

Qiandra melangkah dengan perlahan sambil dituntun oleh Dika menuju ke ruang makan mewah yang ada di dalam mansion itu.  Mata Qiandara menatap lekat setiap ornamen yang ada di sepanjang jalan menuju ke ruang makan, “Kak, ini …..” wajah Qiandra terlihat sedikit pias saat menyadari kalau dia seolah berada di suatu tempat.  Tempat yang entah mengapa membuatnya merasakan suatu kerinduan yang sangat besar.


Dika hanya tersenyum namun tidak memberikan jawaban apapun pada Qiandra.  Dika sangat tahu kalau secara perlahan ingatan Qiandra pasti akan kembali pulih.  Hal itu akan membuat wanita itu bisa mengingat kembali semua kenangan masa lalunya walaupun samar.  Oleh sebab itu, Dika tidak memberikan jawaban apapun, dia ingin Qiandra dengan perlahan kembali mengingat semuanya sendiri.


Kedua kakak beradik itu terus melangkah dengan perlahan dengan mata Qiandra yang terus menyusuri setiap bagian ruangan yang dilewatinya.  Qiandra bisa merasakan desiran yang menghangatkan hatinya, suatu kehangatan yang berbeda dari yang dirasakan selama ini.  Kehangatan yang terasa sangat dirindukan oleh Qiandra selama ini.


Mereka tiba di ruang makan, dan disana sudah ada Clayandra dan Chris bersama dengan kedua putrinya, Zanetta dan Delicia.  Qiandra menatap mereka semua yang sedang memperhatikan dirinya dan Dika dengan tatapan sendu.  “Kamu tidak akan mendapatkan jawaban apapun sebelum kamu memberi makan keponakanku ini” ucap Dika sambil menarik kursi untuk Qiandra.


Semua yang ada di meja makan bisa melihat bagaimana Dika memperlakukan Qiandra bak seorang putri.  Laki laki itu bahkan tidak beranjak sedetik pun dari sisi Qiandra.  Bahkan saat ini, Dika yang seharusnya duduk di posisi kepala keluarga di ujiung meja, lebih memilih duduk di samping Qiandra.


Dika juga tidak segan melayani sang adik dengan membalik piring milik Qiandra dan mengisinya dengan beberapa jenis makanan yang disukai Qiandra dulu.  Qiandra menatap piringnya, dan tanpa terasa sebulir air mengali di pipi putih mulus itu.


“Hei, ada apa Feli Sayang, mengapa kamu menangis, apa makanan pilihanku tidak sesuai seleramu, jika demikian aku akan menggantinya” ucap Dika seraya kembali ingin meraih piring Qiandra.


Qiandra menahan tangan Dika, “Tidak, Kak, bukan itu, aku hanya merasa terharu dan seolah mengalami dejavu saat kembali mengalami ini.  Bukankah dulu Kakak juga sering melakukan hal ini untukku, aku tidak menyangka kalau kakak masih mengingat menu favoriteku” ucap Qiandra dengan sendu.


Dika tersenyum, lalu membelai lembut rambut panjang Qiandra, “Kamu benar Feli Sayang, hal ini selalu aku lakukan setiap kali kita makan bersama, dan kamu tahu aku sangat merindukan semua ini, jadi bagaimana aku bisa melupakan setiap detil dari semua yang aku rindukan” tanya Dika.


“Terima kasih, Kak, dan maaf aku masih belum mengingat banyak hal tentangmu, yang aku ingat hanyalah perasaan betapa aku selalu sangat tergantung padamu” ucap Qiandra dengan seikit rasa bersalah.


“Tidak masalah, Feli, dan jangan memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya dalam waktu yang bersamaan.  Ingat akan keberadaan makhluk kecil di dalam rahimmu, jangan sampai kamu mengalami stress yang akan membuatnya tidak nyaman” ucap Dia dengan lembut.


Qiandra hanya mengangguk lemah, dia sangat mengerti akan hal itu, walaupun sebenarnya dia sangat ingin segera mengingat kembali masa lalunya.  ”Kamu masih sangat kecil saat itu, Sayang, jadi wajar jika kamu tidak bisa mengingat semuanya.  Untuk kami, saat kamu bisa menerima semua ini saat ingatanmu pulih pun sudah merupakan suatu keajaiban” ucap Clayandra dengan senyum teduh pada Qiandra.


“Tante benar, dan aku memerluka penjelasan yang lengkap agar semua ini bisa masuk akal dan tidak membuat aku membenci kalian yang telah menyembunyikan semua kenyataan ini dariku” desis Qiandra.  Wanita cantik itu masih sedikit kesal saat menyadari kalau wanita yang selama ini menjadi pelayannya ternyata adalah saudari kandung ibunya.


“Kamu akan mendapatkan jawaban dari semuanya, Feli Sayang, sekarang bisakah kamu fokus pada makananmu dulu” ucap Dika dengan lembut sambil membelai pucuk kepala sang adik.  Qiandra menggangguk pelan dia tidak bisa menentang kata kata Dika, yang walaupun diucapkan dengan lembut tapi mengandung ketegasan.


Akhirnya, mereka bisa menikmati makan siang dengan tenang, mereka sama sama tidak ingin memulai percakapan.  Sebenarnya, hanya Qiandra yang terlihat sangat menikmati makan siangnya, sementara yang lain lebih banyak memperhatikan dirinya.  Mereka tidak ingin merusak mood ibu hamil yan terlihat sedang lahap menikmati makan siangnya.  Dika hanya tersenyum melihat ibu hamil itu yang terlihat seperti sangat kelaparan.


Qiandra meletakkan peralatan makannya di atas meja setelah dia menyelesaikan makanan penutup yang sangat lezat.  Entahlah, Qiandra seperti merasa sangat familiar dengan semua makanan yang disajikan hari ini dan dia sangat merindukannya.  Hingga Qiandra sempat melupakan dimana dia berada saat ini dan masalah yang dihadapinya.


Saat Qiandra mengangkat kepalanya, dia tersenyum kikuk saat semua orang tersenyu menatap ke arahnya.  “Oh, astaga, maafkan aku, sepertinya bayiku benar benar kelaparan” ucapnya mencoba berdalih mengatasnamakan si kecil di dalam rahimnya.

__ADS_1


“Ha ha ha, jangan suka menyalahkan keponakanku, atau aku akan menghukummu, tapi tenang saja, kali aku bermurah hati padamu” ucap Dika.


“Ish, mengapa Kakak suka sekali menghukumku” rengek Qiandra yang tak ayal membuat semuanya tersenyum.  Dulu, Dika memang suka menghukum adik kecilnya, karena gadis kecil itu sangat manja dan selalu memaksakan kehendaknya pada sang kakak.


Dika menatap Qiandra dengan tatapan sendu, hatinya benar benar merasa bahagia, saat secara spontan wanita cantik itu bisa mengingat kembali semua kenangan saat bersama dengan Dika.  Qiandra mengernyitkan keningnya, “Apa, kenapa menatapku seperti itu, apa kata kataku salah, tapi, eh, …....” Qiandra tiba tiba menyadari semuanya.


“Terima kasih, Feli Sayang, Kakak senang kamu perlahan sudah bisa mengingat masa lalu kita.  Percayalah, perlahan lahan kamu pasti bisa mengingat semuanya lagi” ucap Dika dengan yakin.


“Entahlah, Kak, semuanya seperti refleks saja, aku sendiri tidak tahu apakah memang aku bisa mengingat semuanya atau tidak” desah Qiandra dengan wajah pasrah.


“Jangan cemas, Feli Sayang, kamu juga waktu itu masih kecil, jadi wajar jika kamu tidak bisa mengingat semuanya.  Sekarang ini ada hal yang lebih penting yang harus kamu ketahui” ucap Dika dengan lembut.  Dika mengatakan hal tersebut, karena dia melihat Qiandra sudah menyelesaikan makan siangnya.


Qiandra mengernyitkan keningnya sambil menatap Dika dengan penuh tanda tanya.  “Sebaiknya kita beralih ke ruang kerja, disana kamu bisa duduk dengan lebih nyaman.  Kakak akan menceritakan semuanya padamu, dan kamu boleh memutuskan tindakan apa yang akan kamu ambil selanjutnya” ucap Dika seraya membantu Qiandra berdiri.


Qiandra merasa sangat penasaran dengan semua kata kata Dika, namun dia menahan untuk tidak bertanya.  Qiandra kembali menikmati setiap langkah menapaki mansion mewah itu saat melangkah menuju ke ruang kerja.  Saat mendekati ruang kerja, langkah Qiandra perlahan melambat, dan saat tangannya menyentuh pintu ruang kerja itu tanpa sadar bibirnya berdesis, “Daddy, ….” cicit Qiandra tanpa sadar.


Dika segera merengkuh tubuh Qiandra, dia khawatir sang adik kembali ambruk saat gelombang ingatan kembali menghantam alam pikiran Qiandra.   Qiandra tersenyum sendu seraya menyandarkan tubuhnya di dada bidang Dika.  “Terima kasih, Kak” desis Qiandra.


Dika menuntun Qiandra dan mebawanya ke salah satu sofa yang tersedia di ruang kerja.  Ruang kerja yang memang dibuat Dika sama persis dengan ruang kerja sang ayah dulu.  Wajar saja kalau Qiandra langsung teringat dengan ayahnya saat menyentuh pintu ruang kerja itu.


Dika masih ingat dengan jelas kalau Felicia kecil adalah satu satunya orang yang tidak bisa dilarang untuk masuk ke dalam ruang kerja sang ayah.  Jika Felicia mau, dia tidak akan perduli apapun yang sedang dikerjakan oleh ayahnya, dia akan tetap masuk ke sana.  Tak jarang mommy mereka melarang, tapi Felicia akan menangis dengan keras hingga sang ayah sendiri keluar untuk menjemput dirinya.


Yah, Felicia memang sangat dimanja oleh Tuan Hamilton, gadis kecil yang selalu diperlakukan seperti princes.  Tidak ada satu orang pun yang tidak memanjakan Felicia, hanya sang mommy yang terkadang bersikap tegas padanya namun selalu tidak berdaya karena sang daddy selalu melindungi Felicia.


Qiandra menatap foto laki laki paruh baya yang terpajang di dinding ruang kerja itu, “Daddy, …...” desisnya dengan senyum sendu menghias wajahnya.  Satu pertanyaan yang masih memenuhi benak Qiandra, dimana kedua orang tuanya.


Clayandra dengan dituntun oleh Chris juga mengambil tempat duduk berhadapan dengan Qiandra.  Mereka sudah memutuskan, bahwa Clayandra lah yang akan menceritakan semuanya pada Qiandra.  Karena wanita paruh baya itu yang mengetahui semuanya, walaupun yang lain juga sudah mengetahuinya.  Tapi Clayandra lah yang selalu berada di samping Qiandra.


“Apa kamu siap, Nak” tanya Clayandra dengan senyum yang berusaha dibuat setegar mungkin.


Qiandra menatap Clayandra, “Ceritakanlah, Tante, aku ingin mengetahui semuanya” ucap Qiandra dengan yakin.


Saat itu, terdengar ketukan dari luar ruang kerja yang membuat Dika segera berdiri dan membuka pintu, “Silahkan masuk, Dok” ucapnya pada seorang pris paruh baya yang tak lain dari dokter Freddy.  Mereka memang meminta dokter itu hadir disana, untuk mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan terjadi pada Qiandra.

__ADS_1


Dika kembali duduk di sisi Qiandra, tangannya memeluk bahu sang adik dengan lembut.  Dika sadar hal yang akan didengar oleh Qiandra nantinya bukalah hal yang akan mudah untuk diterimanya.  “Feli Sayang, ini akan cukup berat, kamu harus benar benar yakin kalau kamu siap mendengarnya” ucapnya dengan lembut.


“Hah, memangnya aku bisa menghindari ini, dan apa aku harus menunggu lagi, sampai kapan Kak” desah Qiandra dengan suara pelan.  “Dua puluh tahun lebih aku tidak tahu apa apa, dan jika saat ini adalah waktunya untuk aku mengetahuinya, apa aku harus menunggu lagi” ucap Qiandra dengan pasrah.


“Feli, …... maafkan kakak ya” desah Dika dengan suara lemah.


“Aku tidak tahu, Kak, yang aku inginkan saat ini hanya mengetahui semuanya” desah Qiandra mengabaikan permohonan Dika.


“Baiklah, jika kamu memang siap, Tante akan mulai menceritakan semuanya padamu, Nak” ucap Clayandra dengan berat hati.  Chris terus merengkuh bahu istrinya dan membelai punggung wanita itu dengan lembut seolah mengalirkan kekuatan untuk Clayandra.


“Ceritakanlah, Tante” ucap Qiandra, dan Dika juga terus duduk disisinya seolah tidak ingin membiarkan wanita itu mengalami hal hal yang tidak diinginkan.


Clayandra menghembuskan nafas berat sebelum memulai ceritanya, “Kejadian itu terjadi saat kamu masih kecil, malam tragis yang benar benar tidak akan Tante lupakan seumur hidup Tante” Clayandra memulai ceritanya.


Clayandra menceritakan semuanya dengan perlahan agar tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.  Hanya saja dia tidak menyebutkan siapa orang yang diduga mendalangi peristiwa itu, karena Dika memang menginginkan hal itu di ceritakan pada bagian akhir nanti.  Dika ingin Qiandra mengetahui dahulu semua yang terjadi sebenarnya.


“Jadi, Mommy dan Daddy benar benar sudah meninggal” desah Qiandra dengan suara sendu.


“Aku sendiri yang melihat mereka menyeret mommy, tepat di saat kamu mendengar teriakanku.  Sementara Daddy, Daniel memastikan kalau memang beliau sudah meninggal saat tiba di rumah sakit keluarga Mahardika, selain itu aku juga mendengar anak buah bajungan itu yang melaporkan kalau Daddy memang tidak bisa diselamatkan lagi” sahut Dika memastikan pada Qiandra.


“Daniel? ….” desis Qiandra dengan kening mengerut dalam.  Sungguh Qiandra tidak mengerti mengapa tiba tiba nama laki laki yang begitu dihindarinya itu juga terlibat dalam kisah rumit masa lalunya.


“Ya, Daniel Putra Mahardika, dia dan Daddy Putra, ayahnya, merekalah yang menyelamatkan aku saat melarikan diri dari kejaran anak buah Lee” sahut Dika.


Dika melanjutkan cerita Clayandra dengan cerita tentang kehidupannya dan alasan mengapa dia tidak mencari Qiandra karena dia mengira jenazah yang ditemukan itu benar benar Felicia.  “Ah, kedua anak itu, sungguh malang nasib mereka” desis Clayandra.


“Siapa mereka, Tante” tanya Dika yang penasaran dengan kedua jenazah itu.


“Mereka adalah anak tukang kebun, mereka sengaja diminta datang ke mansion oleh Daddymu pada sore hari itu.  Entah apa rencana Daddymy, saat itu kami mengira dia hanya ingin memberikan Felicia teman bermain karena kebetulan kedua saudara itu juga seumuran dengan kalian berdua.  Sayangnya, saat malam naas itu terjadi, sepertinya mereka berdua bersama kedua orang tuanya terjebak dalam mansion” desah Clayandra.


“Apakah Daddy sudah menduga hal seperti itu akan terjadi” desis Dika dengan berjuta dugaan dalam hatinya.  Jika memang ayahnya telah mempersiapkan hal itu, bararti sang ayah telah mengetahui rencana Lee.


Tapi mengapa ayahnya tidak segera mengungsikan mereka dan membawa mereka pergi menjauh.  Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benak Dika, namun dia berusaha mengabaikannya terlebih dahulu.  Saat ini Dika hanya fokus pada keadaan Qiandra saja.  Untuk hal lainnya, Dika akan mencoba kembali melakukan penyelidikan lebih jauh, tentunya setelah Qiandra bisa membuat keputusan.

__ADS_1


__ADS_2