PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN


__ADS_3

“Tapi, aku ragu wanita itu akan menerimaku, Qi, apa kamu ada saran untukku” tanya dean lagi.


“Hanya wanita bodoh yang akan menolakmu, Tuan Dean, sebagai laki-laki, kamu benar-benar sempurna, kaya, mapan dan baik hati, jadi, jangan ragu, nyatakan saja perasaanmu pada wanita itu, aku yakin dia akan menerimamu”  sahut Qiandra dengan yakin, tapi dalam hati diam-diam wanita itu merasa sedikit kecewa.


Jika ingin jujur, sebenarnya Qiandra sempat berharap semua kebaikan Dean punya tujuan lain.  namun, dia segera menyadari siapa dirinya, jadi Qiandra tidak lagi berharap pada  Dean.  Apalagi saat ini Dean jelas-jelas  mengatakan kalau dia menyukai seorang wanita, jadi, Qiandra berusaha bersikap santai dan memberikan saran-saran untuk menyemangati Dean.


“Hmmm, jadi menurutmu aku harus menyatakan perasaanku pada wanita itu, Qi” tanya Dean lagi.


“Tentu saja, dia tidak akan tahu jika kamu tidak menyatakannya padanya” sahut Qiandra.


“Tapi, aku sudah menunjukkan seluruh perhatianku untuknya, Qi, apa itu tidak cukup” tanya Dean.


“Banyak wanita yang tidak berani berprasangka terhadap kebaikan seorang pria, Dean, kaum kami memerlukan kejelasan dengan kata-kata,  tidak hanya dengan sikap dan perhatian” sahut Qiandra.


“Hmmm, baiklah, apa kamu tahu siapa wanita itu, Qi” tanya Dea lagi dengan menatap intens kedua bola mata Qiandra.


“Astaga, mana aku tahu, Dean, kita baru saling mengenal, aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang dirimu selain tentang perusahaanmu, heeee” kekeh Qiandra.


“Wanita itu adalah kamu, Qi, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu”  ucap Dean dengan sendu, dia menggenggam tangan Qiandra dengan erat.


“A-aku?” tanya Qiandra yang terkejut mendengar pernyataan Dean, “Jangan bercanda Dean, tak perlu menghiburku dengan lelucon seperti ini” ucap Qiandra lagi.


“Apa aku terlihat sedang bercanda, Qi, coba kamu lihat aku, tataplah mataku, Qi, apa kamu menemukan kebohongan” tanya Dean dengan mengunci kedua bola mata Qiandra.


Qiandra terpaku, matanya terkunci pada manik hitam kecoklatan pria tampan dihadapannya.  Walau sebenarnya Qiandra bahagia karena harapannya jadi kenyataan, namun, dia cukup sulit menerima kenyataan itu.


“Dean, jangan seperti ini, ada banyak wanita diluar sana yang lebih pantas untukmu, aku, aku hanya seorang janda pembawa sial, kumohon, jangan menyulitkan dirimu dengan menyukai aku” ucap Qiandra sendu.  “Lagipula, kita baru saja bertemu dan saling mengenal, apakah ini tidak terlalu terburu-buru” lanjutnya lagi.

__ADS_1


“Qi, aku telah tertarik padamu, sejak beberapa waktu yang lalu, saat kita sering bertemu di pemakaman itu, tapi kamu tidak pernah  memperdulikan kehadiranku.  dan pertemuan  kali ini, aku benar-benar yakin bahwa aku telah jatuh cinta padamu” ucap Dean dengan tegas.


“Tapi, Dean….” Qiandra belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Dean meletakkan telunjuknya di bibir seksi wanita itu.


“Aku tidak memintamu menjawabnya sekarang, Qi, aku hanya ingin kamu tahu, aku mencintaimu, dan aku mengagumimu dengan segala latar belakang dan statusmu, jadi jangan pernah merasa sungkan hanya karena statusmu”  ucap Dean dengan lembut, dia mengecup kedua tangan Qiandra, “Sekarang  istirahatlah, jika kamu sudah merasa segar, aku akan membawamu ke pantai nanti sore” lanjutnya lagi.


“Pantai?, bukankah itu cukup jauh, Dean” ucap Qiandra lagi.


“Ha ha ha, jadi kamu belum menyadari dimana kamu sekarang, Qi, sebentar” Dean melangkah menuju jendela kamar itu, lalu dia membuka tirai jendela itu.  Pemandangan yang terlihat  dari jendela itu membuat Qiandra melongo.


“Ja-jadi sekarang kita ada di tepi pantai, Dean” seru Qiandra dengan wajah berbinar.


“Iya, kamu akan tinggal di mansion ini, Qi, mansion ini dulu kubeli dari seorang sahabatku yang pindah ke luar negri, dan sejak dibeli aku  tidak pernah menempatinya.  Hanya ada  beberapa pelayan yang mengurus mansion ini , aku hanya berkunjung sekali-sekali saja, jika aku sedang suntuk” sahut Dean.


“Ah, terima kasih, mengijinkan aku tinggal disini, Dean” ucap Qiandra dengan senyum manisnya, “ Tapi, jika suatu saat kamu memerlukan  mansion ini, aku siap mencari tempat tinggal yang lain, atau aku harus membayar sewanya, akupun siap” lanjutnya lagi.


“Jangan pikirkan itu, Qi, sekarang istirahatlah, itu ada telepon di nakas dekat tempat tidurmu, kamu bisa menghubungi pelayan, jika ada  sesuatu yang kamu perlukan” sahut Dean, “Aku akan keluar sebentar, menemui Albert dan Vian, juga Bik Sum dan Mang Ijal, aku yakin saat ini mereka sangat mengkhawatirkan dirimu” lanjutnya lagi.


“Istirahatlah dulu, Qi, nanti sore kamu bisa bertemu dengan Bik Sum dan Mang Ijal, dan ini, minumlah obat yang sudah dipersiapkan Albert untukmu” sahut Dean seraya menyerahkan beberapa butir obat dan juga segelas air putih untuk Qiandra.


“Hmmm, baiklah” Qiandra mengambil obat itu lalu menelannya, “Sekali lagi terima kasih banyak untuk semuanya, Dean” ucap Qiandra dengan senyum lembutnya.


“Istirahatlah, Qi, dan tolong pertimbangkan harapanku tadi” ucap Dean lembut, dia menggengam tangan Qiandra lalu mengecupnya lembut, “Aku sungguh mencintaimu, Qiqi” ucapnya tulus dan penuh kasih.


Qiandra hanya bisa terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa, semua ini terasa terlalu cepat untuknya.  Sehingga, Qiandra masih merasa terkejut dan tidak percaya jika laki-laki sesempurna Dean menyukai apalagi mencintai dirinya.


“Aku keluar dulu, ya, Qi” pamit Dean pada Qiandra, yang dijawab Qiandra dengan anggukan kepala dan senyum manisnya.

__ADS_1


Setelah Dean keluar, Qiandra termenung beberapa saat, “Mengapa semuanya berjalan begitu cepat, ya, duka, suka seakan silih berganti tanpa jeda.  Hah, ini benar-benar sulit kupercaya, tapi bukannya Dean musuh bebuyutan Tuan Daniel, astaga, aku lupa mengabari Tuan Daniel” bisik hati Qiandra  seraya menepuk jidatnya.


Perlahan dia turun dari tempat tidurnya dan meraih tasnya yang diletakkan Dean diatas nakas dekat tempat tidurnya.  Qiandra mengambil phonselnya, dia melihat ada  beberapa panggilan tidak terjawab yang semuanya berasa dari Daniel.  Bahkan beberapa pesan masuk, semuanya dari Daniel yang menanyakan keberadaan dirinya.  Qiandra menghembuskan nafas pelan, lalu berusaha bersikap tenang dan kemudian Qiandra menekan kembali sebuah nomor untuk menghubungi seseorang.


“Hallo, selamat siang Tuan Daniel” sapa Qiandra yang ternyata sedang menelepon Daniel, atasannya.


“……………..”


“Maafkan aku, Tuan, aku terlambat mengabari kalau hari ini aku tidak bisa turun ke kantor, aku sedang tidak enak badan, dan tadi aku bangun kesiangan, aku mohon ijin untuk hari ini, mungkin sampai besok aku masih belum bisa turun kantor” ucap Qiandra denga nada sopan.


“……………..”


“Tidak apa-apa Tuan, aku hanya terkena flu saja, Tuan, mungkin karena aku sempat kehujanan kemaren, terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku, Tuan” sahut Qiandra.


“……………..”


“Oh, jangan repot-repot, Tuan, aku janji akan segera turun lusa, kata dokter aku hanya perlu beristirahat” sahut Qiandra lagi.


“……………..”


“Tidak, tidak perlu, Tuan, anda tentu tahu bagaimana sikap mertuaku” Qiandra terpaksa berbohong pada Daniel.


“……………..”


“Baiklah, terima kasih, Tuan, selamat siang” sahut Qiandra, lalu dia mengembalikan phonselnya ke dalam tasnya.


“Aduh, bagaimana ini, kalau Tuan Daniel tahu aku bersama dengan Dean, dia pasti akan marah besar, karena dia sangat membenci Dean, Tuan Daniel juga pasti berfikir aku  mengkhianatinya sama seperti anak buahnya yang pernah dilihatnya berdekatan dengan Dean.  Tapi, Dean begitu baik, mengapa Tuan Daniel bilang dia sangat jahat dan kejam, apa mungkin itu hanya karena persaingan bisnis.  Terus, apa mungkin Dean mendekati aku juga karena alasan bisnis, apa mungkin dia ingin  mengorek informasi tentang perusahaan Mahardika dariku” tiba-tiba sebuah praduga muncul di benak Qiandra.

__ADS_1


“Ah, aku tidak bisa menuduh Dean dengan sembarangan hanya berdasarkan praduga saja, bagaimanapun, Dean sudah sangat banyak membantuku, sebagai orang asing, apa yang dilakukannya memang sudah berlebihan.  Mungkin aku perlu menyelidiki dulu, karena rasanya juga mustahil Dean tiba-tiba mencintai  aku, apalagi dia telah tahu bagaimana kehidupanku dan juga statusku” desis Qiandra lagi.


Beberapa saat kemudian, Qiandra merasa matanya semakin berat, dia menyadari itu pasti pengaruh obat yang baru diminumnya tadi.  Akhirnya Qiandra hanyut dalam alam mimpinya, hingga dia tidak menyadari waktu berlalu.


__ADS_2