
Tiga hari berlalu dan Qiandra masih bertahan dengan kesibukannya, dia bahkan tidak pernah pulang ke rumah Mang Ijal. Bik Sum beberapa kali menelepon Qiandra, menanyakan keadaan wanita itu. Qiandra selalu mengatakan bahawa dia baik-baik saja dan semuanya berjalan sesuai harapannya.
Qiandra tidak ingin membuat cemas Bik Sum, sementara Mang Ijal sudah bekerja sebagai security di salah satu perusahaan kenalan Qiandra, yang letaknya tidak jauh dari rumah Mang Ijal. Sehingga Mang Ijal bisa selalu pulang ke rumah setiap hari.
Hari itu, seperti biasa, jam delapan pagi Qiandra suadah berada di meja kerjanya. Walaupun lelah, Qiandra tetap bersemangat, apalagi jika dia mengingat dia hanya perlu lembur untuk malam ini saja. Dan besok pagi, dia sudah bisa pulang untuk beristirahat di rumah.
Qiandra bisa bekerja dengan tenang karena Daniel tidak pernah lagi mengganggu dirinya. Daniel bersikap seperti biasa, sebagai atasan dan bawahan saja. Sementara Dean, sama sekali tidak bisa bertemu dengan Qiandra, karena wanita itu selalu berdiam diri dalam kantornya. Qiandra hanya keluar kalau dia pergi dengan Daniel untuk menghadiri pertemuan di luar kantor.
Qiandra bukannya tidak tahu kalau Dean selalu berusaha menemuinya saat dia keluar kantor. Beberapa kali Qiandra melihat kehadiran Dean di tempat-tempat Qiandra melaksanakan pertemuan. Namun, Dean sama sekali tidak bisa mendekati Qiandra, karena Qiandra akan langsung masuk mobil Daniel, jika pertemuan telah selesai.
Dan untuk kepulangannya besok, Qiandra sudah menyusun rencana yang matang. Dia sangat tahu kalau kedua laki-laki itu akan berusaha mencari tahu dimana dia tinggal. Qiandra tidak mau mereka mengikutinya, karena pasti akan membuat keributan kalau mobil-mobil mewah itu datang ke tempat Mang Ijal.
Qiandra sedang asyik menyusun jadual kegiatan Daniel untuk satu minggu ke depan, seperti yang dilakukannya setiap akhir pekan. Dengan cara ini, saat hari Senin, Qiandra sudah siap dengan semua persiapan untuk kegiatan Daniel.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah berkas untuk Qiandra, Qiandra mengangkat kepalanya dan dia terkejut melihat Daniel menyerahkan sebuah map untuknya. “Apa ini, Tuan” tanya Qiandra.
“Bukalah, Qian, hanya ini yang bisa aku lakukan, semoga kamu tidak menolaknya” ucap Daniel dengan suara lembut.
Qiandra segera membuka map itu, dia terperanjat saat melihat isi map itu, “Tu-Tuan, apa maksudnya ini” tanya Qiandra masih dengan nada tak percaya.
“Aku hanya membantu mengembalikan apa yang memang menjadi milikmu, Qian” sahut Daniel, ada bahagia di hatinya saat melihat binar bahagia di mata Qiandra.
“Benarkah, rumah ini kembali jadi milikku, Tuan” tanya Qiandra yang masih tidak percaya kalau map itu berisi sertifikat kepemilikan rumah pemberian Charles, yang sudah dibuat atas nama Qiandra.
“Ya, Qian, mulai saat ini, rumah itu kembali menjadi milikmu, karena hanya kamu yang berhak atas rumah itu” sahut Daniel.
“Terima kasih, Tuan” ucap Qiandra, beberapa kali dia membungkukkan badannya di hadapan Daniel.
“Hei, hei, jangan seperti ini, Qiandra, aku cukup bahagia jika kamu bahagia” ucap Daniel dengan tulus.
__ADS_1
“Tidak, Tuan, aku sungguh tidak menyangka rumah ini bisa kembali padaku, dan aku sangat bahagia, terima kasih banyak, Tuan” ucap Qiandra penuh haru.
“Syukurlah, kalau kamu bahagia, Qian, semoga ini dapat sedikit mengurangi penderitaanmu” ucap Daniel dengan sendu.
Qiandra tersentak mendengar ucapan Daniel, dia sempat terlena dengan kebahagiaan bisa memiliki kembali rumah peninggalan Charles. Namun, Qiandra sadar, ini dilakukan oleh Daniel tentu dengan harapan Qiandra mau memaafkan Daniel.
Qiandra meletakkan kembali map yang dipeluknya itu ke atas meja, membuat Daniel mengernyitkan keningnya, “Jika ini Tuan lakukan untuk membalas kejadian itu, dengan rela hati saya mengembalikannya, Tuan, maaf saya tidak bisa menerimanya” ucap Qiandra kembali dingin.
“Tidak, tidak, Qian, ini sama sekali tidak ada kaitannya, aku hanya ingin mengembalikan apa yang menjadi hakmu, bukan karena kejadian itu. Aku mohon, Qiandra, terimalah, setidaknya sekali ini saja, kumohon terimalah pertolonganku” ucap Daniel dengan nada putus asa.
Lama Qiandra termenung, dia tahu Daniel tidak akan berhenti memaksanya menerima rumah itu, hingga sebuah ide terbersit di otak Qiandra. “Baiklah, Tuan, saya terima pertolongan Anda kali ini, lagipula saya memang sangat membutuhkan rumah ini” ucap Qiandra.
Daniel tersenyum bahagia, dia sangat senang Qiandra mau menerima kembali rumahnya itu. “Kena kamu, Qiandra, sejak saat ini aku yakin, kamu tidak akan bisa menolakku datang ke rumahmu, karena aku yang telah
mengembalikan rumah itu untukmu” desis Daniel dalam hatinya.
“Syukurlah, Qiandra, kurasa kamu bisa segera menempati rumah itu lagi” ucap Daniel.
“Baiklah, jika kamu memerlukan bantuan, kamu tahu aku selalu siap, Qiandra” ucap Daniel dengan sangat bahagia.
“Baik, Tuan” sahut Qiandra, “Sekali lagi terima kasih banyak, Tuan” ucap Qiandra penuh hormat, dia kembali membungkukkan badannya kepada Daniel.
“Ya, sudah, Qiandra, sekarang persiapkan dirimu, bukankah kita ada jadual diluar siang hari ini” ucap Daniel lagi.
“Benar, Tuan, beri saya waktu sepuluh menit untuk mempersiapkan segala sesuatunya” ucap Qiandra.
“Baiklah, aku akan menunggumu” ucap Daniel, dia duduk di kursi yang ada dihadapan meja Qiandra, Qiandra hanya mendesah pelan dalam hatinya, dia sebenarnya tidak ingin terlalu dekat lagi dengan Daniel.
“Biarlah, hanya untuk beberapa saat lagi, aku akan meninggalkan kenangan yang baik untuknya, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku atas semua dukungannya selama ini” desah Qiandra dalam hatinya.
__ADS_1
Qiandra mempersiapkan dirinya dengan cepat, dia merasa sangat tidak nyaman karena Daniel terus menatapnya dengan intens. “Saya siap, Tuan” ucap Qiandra seraya berdiri membawa beberapa berkas yang diperlukan untuk pertemuan nanti.
“Baiklah, ayo kita berangkat” ucap Daniel, dia mengira Qiandra akan berjalan disisinya, namun ternyata wanita itu tetap menempatkan dirinya dibelakang Daniel dan asisten Dika.
Daniel mendesah sesaat,sebenarnya dia berharap ada perubahan pada sikap Qiandra, setelah dia mengembalikan rumah itu. Namun, ternyata hanya sesaat saja Qiandra bersikap seperti harapannya, karena sekarang, Qiandra kembali menjaga jarak dengannya.
Mereka tiba di sebuah restoran mewah untuk membicarakan sebuah proyek besar dengan salah satu rekan kerja Daniel. Saat acara akan selesai, Qiandra merasa harus pergi ke toilet, dia berusaha menahannya, karena Qiandra sempat melihat kehadiran Dean di restoran itu.
Namun, karena sudah tidak mampu menahan panggilan alam itu, Qiandra segera pamit untuk pergi ke toilet. Saat Qiandra selesai dan keluar dari bilik toilet, sebuah tangan kekar meraih pinggangnya, membuat Qaindra terpekik.
“Tenang, Qiqi, ini aku” seru sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinga Qiandra.
“Dean, apa yang kamu lakukan, ini toilet wanita” seruQiandra yang terkejut karena Dean masuk ke toilet wanita.
“Qi, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya bisa menemui kamu, aku hampir gila memikirkan kamu, Qi” ucap Dean dengan nada sendu. Dia menatap kedua bola mata Qiandra dengan penuh kerinduan.
“Dean, sudahlah, lupakan semuanya, bukankah sudah kukatakan, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita” ucap Qiandra dengan nada tegas.
“Tidak, tidak, Qi, aku tidak sanggup berpikir seperti itu, aku mohon maafkan semua kesalahanku, Qi, aku sungguh khilap, aku trauma karena masa laluku yang sangat menyakitkan, Qi, kumohon maafkan aku” ucap Dean dengan penuh kesungguhan.
Qiandra menatap kedua bola mata Dean, dia tidak menemukan kebohongan di mata laki-laki itu. Qiandra menyadari kalau getaran dalam hatinya kembali terasa, kesalahan Dean tidak mampu membuat hatinya membeku. Qiandra sudah terlanjur membiarkan rasa itu tumbuh walaupun hanya sesaat.
Dan sekarang, Qiandra menyadari kalau dia tidak bisa membohongi hatinya, dia mencintai Dean. Tanpa sadar Qiandra mengulurkan tangannya meraih wajah laki-laki yang mampu membuat hatinya kembali merasakan kedamaian. Airmata Qiandra perlahan turun di sudut matanya, ada bahagia sekaligus perih yang bersamaan menikam hatinya.
“Qiqi, aku mohon, biarkan aku memulai semuanya dari awal, ijinkan aku membuktikan kesungguhanku padamu, kumohon, Qi” desis Dean ditelinga Qiandra dengan lembut.
Qiandra hanya berdiam diri, dia tidak tahu harus berkata apa. Qiandra tidak mampu menolak pelukan Dean, namun, dia juga tidak membalas pelukan laki-laki itu. Qiandra sadar dia sangat membutuhkan pelukan yang mampu membuatnya merasa damai itu, tapi Qiandra juga sadar dia tidak boleh berharap terlalu jauh.
Setelah terlena selama beberapa saat, akhirnya Qiandra berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Dean. Qiandra perlahan mendorong tubuh laki-laki itu, “Aku sudah memaafkanmu, Dean, untuk selanjutnya, biarkanlah waktu yang menjawab apa yang akan terjadi diantara kita berdua” ucap Qiandra ambigu.
__ADS_1
“Apa maksudmu, Qi” tanya Dean penasaran dengan ucapan Qiandra.
“LEPASKAN QIANDRA” sarkas sebuah suara menggelegar mengejutkan Qiandra dan Dean.