PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

“PT. Chaenqi, apakah itu berasal dari Charles dan Qiqi, honey” tanya Dean tiba-tiba dia menatap wajah Qiandra dengan intens.


“Yah, memang seperti itu adanya, love, Chaenqi yang berarti Charles dan Qiqi, maaf” desah Qiandra, dia menyadari Dean pasti tidak menyukai ada nama lain diantara keduanya.


“Kamu bilang, kamu ingin melupakan semuanya, honey, tapi ternyata kamu masih membawa namanya, jujur, aku cemburu dan iri padanya, karena sebegitu besar kamu  mencintai dia” ucap Dean dengan wajah sendu.


“Aku memang ingin melupakan semuanya, love, termasuk Kak Charles, tapi perusahaan tetap ada namanya,  karena uang untuk aku mendirikan semua usahaku berasal darinya.  Jadi, aku tidak akan melupakan hal itu,


makanya aku masih memakai namanya” sahut Qiandra.


“Uang dari Charles?, bukannya semua uang peninggalannya sudah kamu serahkan pada mertuamu, honey, lalu uang yang mana lagi” tanya Dean bingung.  Selama dua tahun ini Dean memang telah menyelidiki masa lalu Qiandra, dengan harapan bisa menemukan celah untuk menemukan Qiandra.


“Hei, dari mana kamu tahu kalau semua uang peninggalan Kak Charles kuserahkan pada mertuaku, love” tanya Qiandra.


“Kamu pikir selama dua tahun ini aku berdiam diri, honey, ya tidaklah, aku menelusuri  kehidupanmu dan masa lalumu, hanya untuk sekedar mencari jejak dirimu” sahut Dean. 


Qiandra hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dean, bagaimana bisa seorang sesempurna Dean mau bersusah payah hanya untuk mencari informasi tentang dirinya.  “Lalu, uang Charles yang mana yang kamu maksudkan” tanya Dean lagi.


Qiandra menarik nafasnya dengan perlahan, matanya menatap jauh ke luar jendela, “Aku, aku menjual rumah peninggalan Kak Charles” ucapnya dengan suara rendah penuh dengan kesedihan.


Dean sempat terkejut mendengar jawaban Qiandra, namun dia segera menutupi keterkejutannya itu.  “Tapi, bukankah rumah itu sudah kamu serahkan kepemilikannya kepada  orang tua Charles, kamu menandatangani berkasnya di hadapan aku waktu itu, honey” ucap Dean lagi dengan penuh rasa penasaran.


“Benar, love, namun Daniel berhasil mengambil kembali rumah itu beserta semua surat-suratnya, dia melakukan itu setelah kejadian yang……., hah, kurasa dia mengharap aku akan memaafkannya dengan mengembalikan rumah itu” Qianda kembali menarik nafas berat.


“Hmmm, begitu rupanya, lalu kalau kamu tidak berhasil menjual rumah itu, apa kamu tetap akan pergi waktu itu, honey” tanya Dean lagi.


“Dengan atau tanpa uang dari penjualan rumah itu, aku pasti tetap akan pergi, love, kamu ingat bagaiamana sulitnya kamu menemui aku kan, ya, saat itu aku sedang bekerja keras  mengumpulkan uang untuk modal kepergianku” sahut Qiandra.


Dean ingin mengajukan pertanyaan lagi, namun dia juga merasa iba melihat wajah Qiandra yang sedikit pias, “Honey, ada apa denganmu” tanya Dean sambil menyentuh tangan Qiandra.

__ADS_1


“Heee, maafkan aku, love, aku baru ingat kalau aku belum makan sejak tadi pagi” sahut Qiandra dengan wajah sedikit meringis.


“Astaga, honey, mengapa tidak bilang dari tadi, ayo kita cari makan dulu” ucap Dean dengan  wajah panik, laki-laki tampan itu segera menarik Qiandra untuk berdiri.


“Sebentar, love, kurasa ibu juga pasti belum makan” Qiandra segera melangkah mendekati Bik Sum yang terlihat sedang tertidur, “Bu, Ibu” Qiandra menepuk pelan bahu Bik Sum.


“Eh, ada apa Nyo.. eh Nak, maaf ibu ketiduran” ucap Bik Sum yang tergagap karena dibangunkan.


“Tidak apa-apa, Bu, bagaiman kalau Ibu istirahat di hotel saja, biar nanti aku antar Ibu ke kamar Ibu dulu” tanya Qiandra dengan lembut pada Bik Sum.


“Ah, tidak, tidak Nak, Ibu tidak akan pergi sebelum mengetahui keadaan Jossie, ijinkan ibu tetap berada disini, ya” ucap Bik Sum  dengan wajah penuh permohonan.


Qiandra menarik nafas sebentar, sebenarnya dia sangat tidak tega melihat wanita tua itu harus duduk berjam-jam menunggu seperti itu, tapi dia juga tidak mampu menolak permintaan Bik Sum. ”Hmmm, baiklah Bu, tapi kalau Ibu lelah, Ibu harus bilang sama aku ya, biar aku antar Ibu ke hotel nanti” ucap Qiandra akhirnya pasrah pada keinginan Bik Sum.


“Iya, Nak, pasti ibu akan bilang nanti” sahut Bik Sum lagi.


“Astaga, Nak, bagaimana kamu bisa lupa makan, ya sudah sana, kamu cari makan dulu, kalau ibu tadi sudah makan waktu menunggu kalian di bandara” sahut Bik Sum, dia sangat khawatir mendengar Qiandra belum makan,


karena Qiandra akan mudah sakit bila terlambat makan.


“Ya, sudah kalau begitu kami berangkat makan dulu ya, Bu” ucap Qiandra dengan lembut, lalu dia dan Dean pergi meninggalkan Bik Sum.


“Mereka berdua memang pasangan yang sangat serasi, cocok sekali, semoga saja tidak ada lagi aral yang akan memisahkan keduanya, cinta mereka benar-bear telah teruji” desah Bik Sum dalam hati saat melihat Qianda dan Dean melangkah dengan begandengan tangan meninggalkan ruang tunggu.


Qiandra dan Dean melangkah menuju ke lobby rumah sakit besar itu, namun mereka terkejut saat mendengar ada keributan di dalam lobby rumah sakit itu.  Qiandra dan Dean  memperhatikan keributan itu dari kejauhan, mereka bisa melihat ada berpuluh-puluh wartawan lengkap dengan kameramen sedang berusaha masuk ke dalam rumah sakit itu.


“Ada apa ya?” tanya Qiandra yang kebingungan, namun berbeda dengan Dean, dia sangat menyadari kehadiran dirinya pasti akan menarik perhatian para pemburu berita itu.


“Tidak apa-apa, honey, ayo, kita kesana” sahut Dean seraya melangkah ingin membawa Qiandra ke arah para wartawan itu.  Dean memang sangat ingin memberitahukan pada dunia bahwa posisi dihatinya telah diisi oleh seorang wanita yang selama ini dicarinya.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, love, jangan bilang kehadiran mereka ada kaitannya dengan dirimu” ucap Qiandra yang tiba-tiba merasa curiga.


“Aku tidak tahu, honey, tapi kalaupun memang begitu, kurasa tidak ada salahnya kan, aku juga sudah tidak sabar lagi ingin memperkenalkan calon istriku pada dunia” sahut Dean dengan wajah bebinar penuh kebahagiaan.


“Tidak, tidak, love,  tidak sekarang, aku masih belum siap” sahut Qiandra, dia segera meraih tasnya dan mengambil dua buah masker serta kaca mata hitam.  Qiandra memakai salah satu masker itu dan kacamatanya, kemudian dia menyerahkan satu masker beserta topi untuk  Dean.


Dean mengernyitkan keningnya melihat perbuatan Qiandra, “Untuk apa ini, honey” tanyanya dengan bingung.


“Pakai saja, jangan banyak tanya, pokoknya aku tidak mau mereka mengenali kita, atau kalau kamu akan menemui mereka, biar kamu sendiri saja, aku akan kembali ke ruang operasi” sahut Qiandra dengan nada tegas.


“Okey, okey, jangan ngambek gitu donk, honey, aku pakai nich” ucap Dean dengan segera memakai semua perlengkapan yang diberikan oleh Qiandra.


Saat mereka berdua kembali melangkah, tiba-tiba Bryan datang dengan tergopoh-gopoh, “Maaf, Tuan, Nona, rombongan itu ingin bertemu Anda berdua, jika Anda tidak ingin menemui mereka, kita bisa keluar lewat jalan


samping rumah sakit ini yang langsung menuju ke hotel” ucapnya pada Dean dan Qiandra.


“Ya, sudah, tunjukkan jalannya, Pak” ucap Qiandra yang memang sudah sangat ingin meninggalkan tempat itu.


“Baik, mari ikut saya” ucap Bryan, dia segera melangkah mendahuli kedua orang yang sedang berada dalam penyamarannya itu.  Mereka melangkah dengan santai, agar tidak  menarik perhatian orang lain, khususnya para wartawan yang terlihat masih berusaha mencari celah agar bisa masuk ke rumah sakit besar itu.


Mereka melewati pintu samping rumah sakit dan langsung menuju ke pagar pembatas dengan hotel di sampingnya.  Disana ada sebuah jalan kecil yang langsung menuju ke pintu samping hotel.


“Tuan, Nona, maaf, apa Anda berdua mau langsung ke kamar atau mau ke tempat lain dulu” tanya Bryan lagi sesaat setelah mereka sudah masuk ke hotel.


“Kami mau makan dulu, dimana restorannya” tanya Qiandra.


“Honey, apa kamu yakin akan makan di restoran hotel ini setelah kejadian di lobby tadi” tanya  Dean.


Qiandra berpikir sejenak, “Baiklah, kalau begitu kita ke kamar saja, love” sahut Qiandra.

__ADS_1


__ADS_2