PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Dean membawa Qiandra menuju ke sebuah restoran mewah, saat keduanya masuk ke dalam restoran itu, manager  restoran itu meyambut keduanya.  “Selamat siang, Tuang Dean dan Nona, eh Nona Qiandra?, apa Anda bersama dengan Tuan Daniel” tanya sang manager saat menatap wanita yang bersama dengan Dean.


Sang manager restoran itu cukup terkejut saat melihat Dean datang bersama dengan Qiandra, dia tahu kalau Qiandra adalah sekertaris


Daniel.  Dan permusuhan serta persaingan


antara Dean dan Daniel adalah hal yang sudah diketahui oleh semua orang.  Oleh sebab itu, laki-laki ini cukup terkejut melihat kehadiran Dean yang berjalan dengan sangat mesra bersama dengan Qiandra.


“Ini istriku, Nyonya Dean Walt Zacharias, dia bukan lagi nona” sahut Dean dengan nada tajam.  Matanya menatap sang manager dengan kesal, bagaimana bisa masih ada


orang yang tidak mengetahui pernikahannya.


“Ah, oh iya, iya, Tuan Dean, maafkan saya, sepertinya saya sudah terlalu tua sehingga selalu tertinggal berbagai informasi penting, sekali lagi maafkan saya, Tuan” ucap laki-laki paruh baya itu dengan membungkukkan


badannya berharap tamu istimewanya ini bisa memaafkan dirinya.


Dean sangat kesal sekali, tapi genggaman lembut Qiandra membuatnya terdiam, “Tidak masalah, Tuan, kami memang baru menikah, wajar jika Anda belum mengetahuinya”  ucap wanita itu dengan sopan.  Qiandra bahkan


tersenyum ramah ke arah laki-laki paruh baya itu, dia tahu laki-laki itu pasti sangat terkejut.


“Sekali lagi maafkan saya, Tuan, Nyonya, dan selamat untuk pernikahan kalian, semoga kalian selalu berbahagia, mari saya antar ke ruangan Anda” ucap sang manajer lagi.  Laki-laki itu bernafas lega, karena kedua tamu ini tidak membatalkan niat mereka makan di


restorannya.


Manager mengantar Dean dan Qiandra ke salah satu ruang VVIP yang tersedia di restoran itu.  Saat masuk ke dalam ruangan itu, Qiandra tertegun melihat semua hidangan yang sudah


tersedia diatas meja.  Qiandra sudah biasa


datang ke restoran mewah bersama dengan Daniel, namun biasanya dia pasti harus


memesan dulu makanannya.


Dean menarik kursi dan mempersilahkan istrinya untuk duduk, dan sebelum dia meninggalkan Qiandra, Dean sempat mengecup bahu sang istri dengan lembut.  Manager restoran yang masih ada di ruangan itu, menundukkan kepalanya melihat kemesraan tamu istimewa ini.  “Tuan, jika ada yang masih kurang, Anda bisa menyampaikannya, agar kami segera mempersiapkannya” ujarnya.


“Tidak, tidak, ini sudah lebih dari cukup, Tuan, terima kasih banyak” Qiandra yang menjawab sang manager itu, karena Dean hanya berdiam


diri saja.  Qiandra sangat  tahu kalau  laki-laki itu masih kesal dengan kejadian tadi.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, selamat menikmati, Tuan dan Nyonya” ucap sang manager dengan membungkukkan badannya lalu dia keluar dari ruang VVIP yang terasa gerah baginya, walaupun pendingin ruangan itu berfungsi dengan baik.  Keringat


dingin hampir menetes dari kening laki-laki paruh baya itu, seandainya Qiandra tidak bersikap ramah, dia tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan mata tajam Dean.


“Love…” Qiandra menyentuh tangan sang suami yang wajahnya masih terlihat kesal, “Baiklah, jika kamu masih merasa kesal, kita pergi saja


dari sini, walaupun aku sudah lapar sekali” lanjutnya lagi, lalu dia mendorong kursinya dan akan berdiri.  Qiandra merasa tidak nyaman kalau harus menikmati makanan dengan wajah berlipat sang suami di hadapannya.


Dean menahan tangan istrinya, meskipun kesal pada manager restoran itu, dia juga tidak tega kalau harus membiarkan sang istri kelaparan.  Apalagi Dean sangat tahu kalau istrinya tidak boleh terlambat makan, sementara sekarang saja sudah hampir lewat dari jam makan siang.  “Duduklah, Honey, kita akan makan disini, tapi hanya kali ini saja, aku tidak mau lagi makan di restoran ini” sahut Dean.


Qiandra tersenyum, lalu dia kembali duduk dan mengambil piring suamiya.  Qiandra terlebih dulu mengisi piring suaminya, baru kemudian dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.  “Silahkan makan, Love” ucapnya pada suaminya.


Dean segera menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya itu, dia tahu, Qiandra tidak akan makan sebelum dia mulai terlebih

__ADS_1


dulu.  Saat keduanya sedang menikmati


makan siang itu, tiba-tiba Dean merasakan kalau phonselnya bergetar.  Dean mengernyitkan keningnya saat merasakan


getaran itu yang memberikan kode bahaya, dia tahu itu pasti dari Vian.


“Honey, teruskanlah makanmu, aku ingin ke belakang sebentar” ucap Dean pada Qiandra, dan saat wanita itu mengangguk, Dean segera keluar dari ruangan itu.  Dean mencari sudut yang cukup tersembunyi, lalu mengangkat phonselnya.


“Tiga di arah jam sembilan dan dua di arah jam dua belas, mereka professional dilengkapi dengan pistol, mungkin mafia” suara di seberang yang memang adalah asisten Vian langsung melaporkan.


“Bereskan, jangan sampai Qiqi tahu” desis Dean dengan tajam, dia bisa melihat orang-orang yang dimaksud oleh Vian dari tempatnya berdiri saat ini.  Matanya yang terlatih, bisa


langsung melihat senjata yang memang ada dan terselip di pinggang  orang-orang itu.


Dean kembali masuk ke dalam ruangannya, dimana Qiandra masih asyik menikmati makanannya.  Qiandra mengernyitkan keningnya saat melihat Dean sudah kembali,  “Cepat sekali kamu ke belakang, Love” ucap


Qiandra sambil menatap suaminya dengan sedikit curiga.


“Aku tak suka meninggalkanmu sendirian terlalu lama, Honey” sahut Dean, dia tersenyum melihat Qiandra yang makan dengan lahap.


Qiandra tersenyum pada suaminya, “Aku tidak masalah, Love, sekalipun kamu lama, aku akan tetap menunggumu karena…..” Qiandra menghentikan kata-katanya saat mendengar keributan di luar ruangan mereka.


“Karena apa, Honey?” tanya Dean, dia berusaha mengalihkan perhatian Qiandra dari keributan di luar kamar mereka.  Dean tahu, pasti  orang-orangnya yang dikirim oleh Vian sudah mulai beraksi, dan Dean tidak ingin Qiandra sampai mengetahui hal itu.


“Love, apa kamu tidak mendengar keributan di luar, ada apa ya?” tanya Qiandra.


“Ah, paling-paling ada yang makan tapi tidak bisa membayar dan beralasan harganya terlalu mahal, atau mungkin ada pasangan yang sedang berselingkuh dan kepergok pasangan yang sah” sahut Dean dengan santai.  “Sudahlah, jangan dipikirkan, bukan urusan


Dean menyeruput jus buah yang sudah disiapkan untuknya, “Hei, Honey, ayo lanjutkan makanmu, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak ada kaitannya dengan kita” ucapnya lagi saat melihat Qiandra masih mencoba  mendengar keributan di luar ruangan mereka.


Dorrr……dorrrr…


Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara tembakan yang cukup keras, membuat Qiandra terpekik dan langsung menutup telinganya.  Wanita itu bahkan langsung turun dari kursinya dan menunduk di samping meja mereka.  Dean dengan panik segera berdiri dan memeluk istrinya, dia menekan intercom yang langsung dijawab manager tadi, “Keluarkan kami lewat jalur aman” ucapnya dengan suara dingin.


Tidak lama kemudian, manager itu masuk dan menundukkan kepalanya, “Maaf, Tuan, Nyonya, sepertinya ada perkelahian antar mafia, mari  ikut saya, saya akan mengantar Anda berdua langsung keluar” ucap sang manager dengan wajah pias.  Baru saja dia bernafas lega setelah kekesalan Dean tadi, tiba-tiba ada kejadian seperti ini lagi, sungguh hari yang berat baginya.


Dean merengkuh tubuh Qiandra yang terlihat gemetaran, wanita itu bahkan hampir tidak mampu melangkah.  Dean yang merasakan kalau tubuh Qiandra semakin lemah segera mengangkat tubuh Qiandra dan menggendongnya dengan cepat, sementara Qiandra menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Saat keluar dari ruangan mereka, Qiandra sempat mengintip sedikit, dan dia terkejut saat melihat ada orang yang tertembak dan wajahnya terasa sangat familiar bagi Qiandra.  Tapi, Qiandra tidak sempat berpikir karena Dean membawanya dengan cepat keluar dari restoran itu.


Mereka masuk dalam mobil mewah yang berbeda dari mobil yang tadi mereka pakai, di mobil itu juga sudah supir, sehingga Dean membawa Qiandra untuk duduk di kursi penumpang.  “Kemana kita Tuan” tanya supir itu.


“Apartemen” sahut Dean dengan singkat, dan saat mobil itu mulai bergerak, Dean menekan tombol pembatas sehingga supir tidak bisa melihat keduanya.  Dean menyentuh wajah Qiandra yang terlihat memucat, tangannya juga terasa dingin.


Qiandra diam dan tidak berbicara sedikitpun, dia hanya menutup matanya dan terus menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.  Dean bisa merasakan tubuh istrinya itu masih


bergetar.  “Hei, Honey, tenanglah, kita sudah aman, tidak apa-apa, kita hanya berada di tempat yang tidak tepat” bisiknya dengan lembut berusaha menenangkan istrinya.


Qiandra masih diam, Dean menepuk nepuk wajah istrinya, namun tidak ada reaksi sama sekali.  “Honey, Honey, Qi, Qiqi…” Dean memanggil Qiandra namun sama sekali tidak ada respon dari wanita itu, membuat Dean menjadi panik.


Dean segera menghubungi dokter Albert , dan langsung disambut oleh dokter Albert, “Segera ke apartemen, Qiqi tidak sadarkan diri” seru Dean.

__ADS_1


“Baik” sahut dokter Albert, lalu Dean memutuskan sambugan telepon.  Dia kembali menepuk-nepuk pipi Qiandra dengan perlahan sambil memanggil-manggil istrinya itu.


Mobil mewah itu sampai di basement apartemen mewah milik Dean, disana ternyata sudah berdiri asisten Vian dan dokter Albert yang menunggu dengan wajah cemas.  Mereka


segera membuka pintu mobil saat melihat kedatangan Dean, Dean keluar sambil


menggendong istrinya langsung masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


Didalam lift, dokter Albert meraba denyut nadi Qiandra, keningnya berkerut sesaat, lalu dia tersenyum.  “Kenapa kamu tersenyum, Al, kamu senang ya melihat Qiqi seperti ini”  seru Dean yang merasa gusar karena dokter Albert tersenyum justru saat dia merasa sangat panik.


“Al, ini bukan saatnya untuk bercanda” asisten Vian ikut menimpali, dia tahu kalau dokter Albert suka bercanda, tapi saat ini Dean


sedang panik, tidak seharusnya sahabatnya itu bercanda.  Dokter Albert hanya berdiam diri saja, dia tidak ingin menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu.


Mereka tiba di lantai teratas apartemen mewah itu, dimana penta house milik Dean berada.  Dean langsung membawa Qiandra masuk ke dalam kamar utama dan membaringkannya dengan perlahan di sana.  Wajah wanita itu masih terlihat pias, dan kedua tangannya terasa dingin sekali.


“Segera periksa Qiqi dengan teliti” seru Dean pada dokter Albert, membuat dokter tampan itu dengan tergesa segera mengeluarkan


peralatanya lalu mulai memeriksa keadaan Qiandra.


“Sebearnya apa yang terjadi” tanya dokter Albert setelah dia memeriksa Qiandra.


“Dia mendengar dua kali bunyi tembakan, lalu dia histeris dan bersembunyi di samping meja makan, aku memeluknya dan merasakan tubuhnya bergetar hebat sehingga aku segera meminta manager restoran mengeluarkan


kami.  Saat akan keluar, Qiqi benar-benar


lemas sehingga aku harus menggendongnya hingga didalam mobil, aku baru menyadari


kalau dia tidak sadarkan diri.  Apa yang terjadi padanya, tidak mungkin hanya suara tembakan membuatnya  tidak sadarkan diri” Dean menjelaskan pada dokter Albert sekaligus bertanya  tentang keadaan Qiandra.


“Ada dua berita yang bisa kuanalisa saat ini, ada berita baik dan berita buruk” sahut dokter Albert.


“Berita baik?, apa maksudmu, Al, Qiqi sedang dalam keadaan begini….” Dean menatap dokter Albert dengan tajam, namun sebelum dia semakin marah, dokter Albert momotong kata-katanya.


“Qiandra sedang hamil” sergah dokter Albert membuat Dean terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.  Asisten Vian mendekati dokter Albert, dan menatap dokter itu dengan seksama.


“Apa kamu serius, Al” tanya asisten Vian.


“Kehamilannya masih sangat muda, tapi aku bisa merasakan dari denyut nadinya, mungkin Qiandra sendiri belum menyadainya” sahut dokter Albert.


“Dia memang tidak tahu, baru saja tadi pagi dia memintra ijin untuk memeriksa kondisi rahimnya, karena dulu dia pernah kehilangan


janinnya saat kecelakaan yang merenggut nyawa Charles” sahut Dean.  Presidir tampan itu duduk di samping istrinya dan membelai wajah wanita itu dengan penuh kasih.  Ada haru dan bahagia terselip dalam hatinya walaupun dia mengkhawatirkan keadaan Qiandra yang masih belum sadarkan diri.


“Dan apa berita buruknya” tanya asisten Vian membuat Dean tersentak, dia kembali menatap dokter Albert dengan tajam.


“Menurut  kronologis yang disampaikan Dean, aku bisa menyimpulkan kemungkinan besar  Qiandra pernah mengalami trauma dengan suara tembakan, entah dia menyadarinya atau tidak.  Jika dia menyadarinya, maka mudah untuk mengobatinya, tapi jika tidak, cukup sulit untuk mengatasinya karena harus menggali dulu penyebab traumanya.  Kalau melihat efek yang ditimbulkan, trauma ini cukup parah, dan  kita tahu bagaimana kehidupan kita, hah, kalian berdua tahu sendiri kan, lalu bagaimana Qiandra bisa menghadapinya” ucap dokter Albert dengan panjang lebar menyampaikan hasil analisanya.


Mereka bertiga kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.  Mereka sangat tahu apa.yang dikatakan dokter Albert itu benar adanya.  Kehidupan mereka, khususnya Dean banyak diintai oleh bahaya dan musuh-musuh yang bahkan tidak mereka sadari keberadaannya.  Berhadapan dengan senjata api sudah biasa bagi mereka, bahkan sudah seperti permainan saja bagi mereka bertiga.


“Kak Charles……”

__ADS_1


__ADS_2