PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
EMPAT PULUH


__ADS_3

Dean mengambil phonselnya dan segera menghubungi dokter Albert


“Dimana kalian sekarang” tanya Dean.


“Ish, hampir saja aku meminta pilot meninggalkanmu, kami sudah lama menunggu di pesawat” seru dokter Albert dengan suara kesal.  Dean mengacuhkan kekesalan sahabatnya itu, dia malah langsung mematikan phonselnya.


“Kita ke rumah sakit kah, sekarang Dean” tanya Qiandra.


“Hei, apa kamu tidak punya panggilan khusus untukku, Qi” tanya Dean tiba-tiba saat keduanya melangkah menuju garasi mobil Qiandra.  Qiandra mengernyitkan keningnya.


“Panggilan khusus, maksudnya seperti apa” tanya Qiandra merasa bingung dengan pertanyaan Dean.


“Bukankah kamu bisa memanggilku sayang, honey, beb, atau dad, pah, yah yang semacam itulah, Qi” sahut Dean.


Qiandra membulatkan matanya mendengar ucapan Dean, “Memangnya kamu mau dipanggil apa” tanyanya dengan malas.


“Apa saja, asal itu berasal dari kamu dan khusus untukku” ucap Dean, dia mulai memacu mobilnya meninggalkan rumah Qiandra.


Qiandra terlihat berpikir beberapa saat, hingga akhirnya dia menyahut ucapan Dean, “Bagaimana kalau aku memanggilmu Love saja” tanya Qiandra.


“Ah, itu sangat romantis, Honey, aku setuju” seru Dean dengan wajah berbinar penuh  kebahagiaan.


Qiandra hanya terkekeh geli melihat tingkah laki-laki itu, ada bahagia yang perlahan mengisi relung hatinya yang selama ini kosong.  Qiandra memang selalu terlihat bahagia dan ceria, namun sebagai seorang wanita dewasa, Qiandra juga membutuhkan kehangatan untuk mengisi kekosongan dalam hatinya.


Dan saat ini, laki-laki yang selalu hadir dalam mimpinya, dengan tiba-tiba hadir di hadapan Qiandra, benar-benar membuat Qiandra tidak berdaya.  Bukan hanya wajah tampan dan tubuh atletisnya, tapi sentuhan lembut dan ketulusan seorang Dean, telah membuat wanita tangguh seperti Qiandra mabuk kepayang.


“Kemana kita, Love” tanya Qiandra saat melihat mobilnya tidak kembali ke arah rumah sakit.


“Bukankah ini jalan menuju bandara, Honey, mereka sudah di pesawat” sahut Dean tangannya menggenggam erat tangan Qiandra.


“Oh, begitu rupanya, kenapa kamu nggak bilang tadi, kan aku bisa minta Paman Lev untuk mengantar kita” ucap Qiandra.


“Aku tak mau ada yang menggangguku saat aku bersamamu, Honey” sahut Dean dengan santai.


“Ish, bukannya sejak tadi kita selalu bersama, Love, apa itu masih kurang” ucap Qiandra.

__ADS_1


“Tidak akan pernah cukup waktu untuk melepas rinduku padamu, Honey, dua tahun aku menahannya, apa kamu pikir cukup hanya dengan beberapa jam saja kamu. membayarnya” kekeh Dean seraya mengecup lembut punggung tangan Qiandra.


Qiandra hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah, walau memang jujur Qiandra akui, kalau dia pun sangat merindukan laki-laki ini.  Mobil mewah itu masuk dalam bandara  yang ada di kota kecil itu.  Dean turun


dengan cepat dan segera membukakan pintu mobil untuk Qiandra.


“Terima kasih, Love” ucap Qiandra tulus.


“Apapun untukmu, Honey” sahut Dean, lalu dia meraih tangan Qiandra dan menggenggamnya erat.  Mereka berdua melangkah menuju sebuah jet pribadi yang sudah siap untuk berangkat, Qiandra berdecak melihat kemewahan jet itu.


Bukanlah hal yang baru untuk Qianda berangkat menggunakan pesawat pribadi, karena saat bersama Daniel, Qiandra seringkali bepergian dengan menggunakan peswat pribadi milik Daniel.  Namun, jet pribadi milik Dean benar-benar terlihat sangat mewah, dan saat Qiandra masuk ke dalam dia melihat Bik Sum yang duduk di samping Jossie.


“Bu…” sapa Qiandra mengejutkan Bik Sum yang masih terpaku menatap wajah pucat Jossie.


“Ah, Nak, akhirnya kamu datang, bagaimana ini, kita akan kemana, apa ibu harus ikut, lalu bagaimana rumah” tanya Bik Sum bertubi-tubi.


“Tenanglah, Bu, tentu saja Ibu harus ikut, menurut Kak Pras, rumah sakit di kota A sudah sangat lengkap, dia merekomendasikan agar kita membawa Jossie ke sana, Bu” ucap Qiandra yang memang telah membicarakan kemana akan membawa Jossie bersama dengan kepala rumah sakit di kota kecil itu.


“Honey, apa kita bawa saja langsung pulang, di sana ada banyak pilihan rumah sakit, bahkan salah satu rumah sakit Zacharias adalah yang terbaik di dunia” ucap Dean yang berharap bisa membawa Qiandra segera pulang ke kotanya.


Dokter Albert dan Bik Sum yang mendengar pembicaraan kedua orang itu hanya bisa mengernyitkan kening, karena sebutan mereka yang tiba-tiba saja sudah berubah.  Namun, kedua orang itu sama-sama memilih berdiam diri dan tidak berani mempertanyakan hal itu.


“Baiklah, kalau begitu, kita berangkat sekarang” sahut Dean, mereka semua mengangguk, lalu mengambil tempat duduk masing-masing.  Namun, Dean kembali menarik Qiandra dan  membawanya duduk di pangkuan laki-laki itu.


“Ish, apaan sich, Love, malu dilihat orang, tahu” kesel Qiandra, dia segera ingin berdiri namun  tubuhnya direngkuh dengan erat oleh Dean.


“Aku tak perduli pada mereka, Honey, buatku yang ada saat ini di mataku hanya kamu, hanya kamu saja” bisik Dean dengan lembut di telinga Qiandra, membuat wanita itu merinding  mendengar kata-kata lembut sang kekasih.


“Dasar gombal” kekeh Qiandra, Qiandra yang tidak bisa berdiri akhirnya perlahan menggeser badannya agar bisa duduk disamping Dean dan bukannya di pangkuan laki-laki itu.


“Honey, jika kamu terus bergerak, maka jangan salahkan aku jika aku membawamu masuk ke dalam kamar pribadiku” bisik Dean lagi yang merasa bagian bawah tubuhnya mulai bereaksi akibat gerakan-gerakan lembut Qiandra.


Qiandra segera berhenti bergerak saat merasakan ada tonjolan yang semakin membesar di bagian bawah tubuhnya.  Wajah wanita itu kembali merah padam menahan malu, membuat Dean terkekeh geli melihat tingkah Qiandra yang benar-benar terdiam seperti patung.


“Apa kamu mau membantuku menenangkannya, Honey” tanya Dean dengan suara sedikit mendesah, membuat Qiandra semakin salah tingkah.

__ADS_1


“Apaan sich, Love” ucap Qiandra yang merasa serba salah.


Dokter Albert dan Bik Sum memalingkan wajah dan tidak mau melihat kemesuman seorang Dean saat menggoda Qiandra.  Dokter Albert malah perlahan memejamkan mata dan berpura-pura terlelap.


Sementara Bik Sum, dia lebih fokus memperhatikan keadaan Jossie, yang masih belum sadarkan diri.  “Ah, Jos, sepertinya kecelakaanmu ini sedikit membawa berkah untuk kakakmu, setidaknya mereka berdua bisa kembali bertemu, ibu berharap ini merupakan akhir dari penderitaan Qiandra.  Semoga setelah ini hanya akan ada bahagia yang mengiringi langkahnya” desah Bik Sum dalam hati sambil membelai rambut Jossie dengan penuh kasih.


Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih dua jam, akhirnya pesawat jet mewah itu mendarat di sebuah bandara yang terlihat jauh lebih besar dibandingkan bandara di kota kecil tadi.  Sebuah ambulance ternyata sudah menunggu kehadiran mereka, karena dokter Pras sudah lebih dulu memberitahukan hal tersebut.


Beberapa perawat segera memindahkan Jossie dengan hati-hati dari dalam pesawat itu dan membawanya masuk ke dalam ambulance.  Saat mereka sedang mengurus Jossie, sebuah  mobil mewah juga datang mendekati mereka.  “Maaf, Nona Andra” tanya laki-laki muda yang membawa mobil mewah itu.


Qiandra yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh, dan tersenyum ramah pada laki-laki muda itu.  “Hai, Tuan Kenric, bagaimana bisa Anda berada disini” tanya Qiandra menyapa laki-laki muda yang terlihat cukup tampan itu.


“Ternyata benar, Anda, Nona Andra, saya mendapatkan info kalau sekertaris Anda mengalami kecelakaan, dan tadi saya juga sudah bertanya pada Pras, katanya memang dibawa kesini, makanya saya berinisiatif untuk menjemput Anda disini” ucap Kenric dengan wajah berbinar bahagia.


“Ah, terima kasih banyak, Tuan Kenric, Anda tidak perlu repot-repot kok” ucap Qiandra masih dengan senyum ramahnya.


“Kalau begitu, mari Nona Andra, saya akan mengantar Anda menuju ke rumah sakit, toh Anda tidak mungkin kan ikut di ambulance” ucap laki-laki tampan itu.


“Tidak perlu, kekasihku akan ikut denganku, sebentar lagi mobil jemputan kami akan datang” tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar di pinggang Qiandra, membuat wanita itu sedikit tersentak.


“Love…..” desis Qiandra yang benar-benar terkejut mendengar kata-kata dingin yang diucapkan oleh Dean.


“Ada apa, Honey, sabarlah, mobil kita sedang menuju kesini” ucap Dean dengan sedikit menekan kata ‘honey’.  Kenric yang mendengar pembicaraan kedua orang itu dan juga melihat Dean merengkuh tubuh Qiandra benar-benar terkejut, dia tidak bisa berkata-kata saking terkejutnya.


“Maafkan saya, Tuan Kenric, sepertinya saya sudah dijemput” ucap Qiandra masih berusaha bersikap ramah pada Kenric.


“Ti-tidak apa-apa, Nona Andra, si-silahkan melanjutkan perjalanan Anda” ucap Kenric dengan terbata-bata, “Mati aku kalau harus bersaing dengan Dean Walt Zacharias, ya jelaslah aku kalah telak” desis Kenric dalam hati.  Ternyata laki-laki muda ini mengenal Dean dan sangat mengetahui seberapa  hebatnya seorang Dean.


Akhirnya, Kenric meninggalkan bandara itu dengan membawa rasa kecewa dan sedih.  Yah, laki-laki tampan itu lebih memilih mundur sebelum berperang, jika melihat lawan  bersaingnya.  Belum lagi saat dia melihat  kedekatan Qiandra dan Dean, bahkan mereka sudah punya panggilan kesayangan.  “Astaga,  sebenarnya berapa lama hubungan keduanya, tapi mengapa aku tidak pernah mengetahuinya” desah Kenric dalam hati seraya mengacak rambutnya dengan frustasi.


Saat mendengar, Qiandra akan membawa Jossie ke kotanya, Kenric memang sangat besemangat.  Dia telah mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan kamar hotel terbaik untuk Qiandra.  Dia sudah mengatur semua


jadualnya dikosongkan selama Qiandra ada dikotanya, agar dia bisa selalu mendampingi Qiandra. 


Namun, saat ini, semua angan-angan Kenric hilang sudah karena ternyata wanita yang dinantikannya itu sudah didampingi oleh laki-laki lain.  Dan jika dibandingkan dengan Dean, Kenric sadar dia bukanlah apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2