
Qiandra kembali ke meja kerjanya, dan dia kembali tenggelam dengan berbagai berkas yang harus disusun untuk ditanda tangani oleh Daniel. Baru saja Qiandra mulai bekerja, intercom di mejanya berbunyi, “Qiandra, masuk ke ruanganku sekarang” ucap Daniel.
Qiandra mendengus kesal, “Apalagi yang diinginkan baj*ngan itu, benar-benar menguji kesabaranku saja” desahnya dalam hati. Namun, dia tetap berdiri juga dan melangkah menuju ruangan Daniel. Setelah mengetuk pintu dan disuruh masuk, Qiandra masuk kedalam ruang kerja mewah itu, tapi dia hanya berdiri di depan pintu saja.
“Ada apa, Tuan, apa ada yang Anda perlukan” ucap Qiandra dengan sedikit kesal.
Daniel melangkah mendekati Qiandra, lalu dia menutup pintu di belakang Qiandra dan menguncinya. “Aku memerlukanmu, Qiandra” ucap Daniel di dekat telinga Qiandra, membuat wanita itu bergidik.
Daniel merengkuh pinggang ramping Qiandra, wanita itu hanya berdiam diri seperti patung, tidak menerima ataupun menolak perlakuan Daniel. “Apa Anda memerlukan saya menjadi budak **** Anda, Tuan” dingin kata-kata Qiandra membuiat Daniel tersentak.
Daniel mendorong tubuh Qiandra ke dinding lalu mengukung tubuh wanita itu diantara kedua tangannya. “Jika ya, apa kamu bersedia melakukannya, Qi” tanya Daniel dengan menatap tajam kedua bola mata wanita itu. Wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa senti saja sehingga hembusan nafas keduanya terasa di wajah mereka berdua.
Qiandra tersenyum sinis, “Apa kesediaanku itu masih bisa menjadi perhatian Anda, Tuan, bukankah Anda bisa melakukan apa saja yang Anda mau tanpa perlu memperdulikan kesediaan saya” ucapnya dengan berani menatap mata Daniel.
Bugh…
Pukulan keras didinding tepat disamping wajah Qiandra, membuat wanita itu sedikit tersentak, namun tidak membuatnya takut. Wajah Daniel merah padam menahan marah, tangannya meneteskan darah segar setelah dia menampar dinding di dekat Qiandra.
“Apa maumu sebenarnya, Qiandra” desis Daniel dengan penuh kemarahan, dia telah berusaha menahan diri sejak tadi pagi dalam menghadapi sikap sinis dan kata-kata tajam wanita yang ada dalam kukungannya itu.
“Saya hanya ingin bekerja, Tuan Daniel, bekerja sesuai dengan tugas dan kewajiban yang sudah saya terima saat saya menanda tangani kontrak kerja saya dulu, bukan pekerjaan yang sama sekali diluar tugas saya” ucap Qiandra tanpa ragu.
Qiandra tidak perduli sekalipun Daniel akan memukulnya ataupun melecehkan dirinya lagi. Qiandra benar-benar tidak perduli, sehingga dia dengan berani menjawab setiap kata -kata Daniel.
“Qi, aku mohon, aku mohon sekali lagi, jangan bersikap seperti ini lagi, setidaknya kembalilah menjadi Qiandra yang dulu, aku tak bisa melihatmu seperti ini” ucap Daniel dengan suara rendah.
“Anda yang telah mengubahku menjadi seperti ini, Tuan, jangan berharap aku bisa kembali seperti hari-hari kemaren, kecuali Anda bisa memutar waktu dan membuat semua yang sudah terjadi itu tidak terjadi” ucap Qiandra.
“Qiandra, tolong maafkan aku, aku khilaf, aku begitu mencintaimu dan sangat takut kehilangan dirimu, penolakanmu membuat aku kehilangan akal sehatku” ucap Daniel dengan nada sendu.
“Khilafkah namanya jika sudah direncanakan, Tuan” sinis kata-kata Qiandra, membuat Daniel hanya bisa memejamkan matanya dan menggeleng kepalanya dengan lemah. “Jika tidak ada lagi yang Anda perlukan, Tuan, saya akan kembali ke meja saya” ucap Qiandra.
__ADS_1
Wanita itu menurunkan sedikit badannya untuk keluar dari kukungan Daniel. Namun, belum sempat Qiandra melangkah lebih jauh, tangannya ditahan oleh Daniel, “Qiandra, aku tidak akan melepaskanmu, aku terlalu mencintaimu” desisnya dengan perlahan.
Qiandra berbalik dan melepaskan tangannya dari genggaman Daniel, “Saya rasa sebentar lagi waktunya makan siang, Tuan, dan Anda ada janji temu dengan klien di restoran A” ucap Qiandra mengabaikan perkataan Daniel. Lalu Qiandra melangkah keluar dari ruangan itu, tanpa menoleh ataupun memperdulikan Daniel yang sedang terluka tangannya.
Dalam hati Qiandra merasa cukup puas, walaupun hanya bisa membalas Daniel dengan kata-kata. Namun, Qiandra yakin semua kata-katanya cukup menusuk hati Daniel, karena Qiandra melihat sikap Daniel yang begitu frustasi.
Saat Qiandra kembali ke mejanya, disana sudah ada asisten Dika yang menunggunya dengan menenteng beberapa buah paper bag di tangannya. “Nona Qiandra, ini beberapa dress kantor yang khusus disiapkan perusahaan untuk sekertaris presidir” ucap asisten Dika dengan ramah.
“Sejak kapan perusahaan menyediakan dress untuk karyawannya, Tuan Dika” tanya Qiandra dengan sedikit sinis.
“Maaf, Nona Qiandra, saya harap Anda bisa menerima ini sebagai bagian dari tugas Anda menjadi sekertaris presidir” ucap asisten Dika masih berusaha membujuk Qiandra.
Qiandra mendengus kesal, “Baiklah, aku akan memakainya saat jam kantor” ucap Qiandra mengalah. Dia sudah lelah menghadapi semua perdebatan tentang penampilannya sejak tadi pagi. Qiandra mengambil semua paper bag itu lalu dia meletakkannya didalam lemari khusus barang pribadinya.
Qiandra mengambil satu paper bag dengan asal, lalu melangkah menuju toilet untuk berganti pakaian. Dia mendesah sesaat, saat menyadari gaun yang dikenakannya adalah model yang sangat disukainya bahkan dari merek yang sama. Sedikit terasa pedih di hatinya, saat mengingat begitu banyaknya gaun seperti ini disediakan oleh Dean di kamar yang ada di mansion Dean.
Qiandra merapikan penampilannya dan menyimpan pakaian murahannya tadi ke dalam paper bag, lalu dia melangkah keluar dari toilet. saat tiba di mejanya, Qiandra melihat Daniel dan asisten Dika sudah berdiri disana, “Kita berangkat sekarang, Dik, tolong kamu handle kantor” ucap Daniel.
Daniel segera melangkah menuju ke lift khusus presidir, namun, Qiandra masih mengambil beberapa berkas yang harus dibawanya. Daniel menunggu Qiandra di dalam lift, namun dia kembali mendesah kasar, saat melihat Qiandra masuk ke dalam lift karyawan yang kebetulan terbuka karena ada seorang staff yang mengantar berkas.
Daniel akhirnya menutup liftnya dan segera menyusul Qiandra yang sudah lebih dulu turun. Sampai dibawah, Daniel melihat Qiandra sudah lebih dulu melangkah ke luar lobby dan langsung masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di depan lobby itu.
Daniel kembali harus menahan kekesalannya saat melihat Qiandra sudah duduk di depan, disamping sopir Daniel. Saat Daniel sudah masuk, Qiandra langsung memberitahukan sopir itu, “Ke restoran A, Pak ya” ucap Qiandra dengan ramah.
Daniel hanya bisa mendengus kesal,bagaimana bisa Qiandra berbicara sangat ramah dengan sopir sementara dengan dirinya Qiandra selalu berkata-kata dengan tajam dan penuh sindiran. Namun, Daniel sangat menyadari kalau Qiandra pasti merasa marah besar atas kejadian kemaren. Jadi, Daniel mati-matian menekan emosinya dan berusaha tetap sabar menghadapi sikap Qiandra.
Direstoran, Daniel kembali harus menahan emosinya, saat Qiandra mengambil posisi agak jauh darinya dan duduk bersama sekertaris klien Daniel. Sekertaris laki-laki itu sangat antusias bisa berdekatan dengan Qiandra yang memang terkenal sebagai sekertaris yang sangat kompeten, selain cantik dan juga cerdas.
Kedua sekertaris itu terlibat dalam perbincangan yang cukup hangat tapi masih dalam batas kewajaran sebagai rekan kerja. Namun, di mata laki-laki itu terlihat jelas kekagumannya pada pesona seorang Qiandra, matanya bahkan tidak pernah teralihkan dari wajah wanita yang sedang berbicara dengan santai itu.
“Ehmmm….” Daniel menyadarkan kedua sekertaris yang sedang asyik dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Qiandra segera berdiam diri, “Maaf, Tuan, baiklah apa bisa kita mulai sekarang” ucap Qiandra dengan ramah pada klien mereka. Pertemuan itu segera dimulai, dan seperti biasa, Qiandra selalu berhasil membuat klien mereka terpesona dan menyetujui kesepakatan yang mereka bicarakan.
“Anda beruntung sekali, Tuan Daniel, memiliki sekertaris yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan sangat berkompeten” ucap klien mereka.
“Terima kasih, Tuan Bram, sayangnya Nona Qiandra tidak akan lama lagi berhenti menjadi sekertarisku” ucap Daniel yang tidak hanya mengejutkan Bram dan sekertarisnya tetapi juga mengejutkan Qiandra.
“Astaga, jangan bilang Daniel akan memecatku, aku masih belum punya apa-apa, dan aku sangat memerlukan pekerjaan ini” bisik Qiandra dalam hati.
“Apa maksud Anda, Tuan Daniel, kalau Anda ingin memutuskan kontrak kerja Nona Qiandra, saya akan dengan senang hati merekrut dia, kebetulan putraku sedang mencari sekertaris juga” ucap Bram dengan wajah berbinar.
Daniel hanya tersenyum samar, “Nona Qiandra akan berhenti jadi sekertarisku, karena tidak lama lagi dia akan menjadi istriku” ucap Daniel dengan tegas, membuat Qiandra membelalakkan matanya.
“Apa-apan sich, kapan juga aku mau jadi istrinya, seenaknya saja mengumumkan hal yang hanya sebuah harapan semu” desis Qiandra dalam hati.
“Ah, begitu rupanya, baiklah kuucapkan selamat untuk kalian berdua” ucap Bram dengan sedikit kecewa.
“Ha ha ha, Tuan Daniel memang pandai bercanda, saya sangat tersanjung sekali, tapi saya sadar diri kok, kalau saya hanya seorang janda, mana pantas bersanding dengan laki-laki sehebat tuan Daniel. Tapi, ngomong-ngomong Tuan Bram, apa Anda serius dengan keinginan Anda tadi” tanya Qiandra pada Bram.
“Tentu saja, Nona Qiandra, putraku akan meneruskan perusahaanku, dia masih muda, kurasa mungkin seumuran dengan Anda, dia masih baru, jadi sangat memerlukan pendampingan oleh seorang professional seperti Anda, Nona” ucap Bram dengan bersemangat.
“Ba….” belum sempat Qiandra menyelesaikan kata-katanya, Daniel sudah berdiri.
“Maaf, Tuan Bram, sepertinya kami harus pamit dulu, masih ada pertemuan lain yang harus kami hadiri” ucap Daniel dengan suara berat.
Bram juga segera berdiri, “Oh, baiklah Tuan Daniel, terima kasih untuk waktu Anda” ucapnya seraya menjabat tangan Daniel. Dan saat Bram berjabat tangan dengan Qiandra, “Tawaran saya berlaku resmi, Nona, saya sangat berharap Anda mau mempertimbangkan ini jika Anda ingin resign dari posisi Anda sekarang, dan saya bersedia
menggaji Anda sebesar gaji Anda saat ini, tanpa harus melewati masa uji coba” ucap Bram dengan ramah pada Qiandra.
“Ah, terima kasih banyak, Tuan Bram, saya akan….” kata-kata Qiandra kembali terputus.
“Kita berangkat sekarang, Nona Qiandra” ucap Daniel seraya menarik tangan Qiandra meninggalkan restoran itu. Qiandra benar-benar terkejut, namun dia hanya mengikuti langkah Daniel tanpa membantah, karena Qiandra tidak ingin membuat keributan. Qiandra mengunci mulutnya bahkan saat mereka berada di mobil dan kembali ke kantor pusat PT. Mahardika.
__ADS_1