
“Bagaimana keadaan Nyonya Muda, Al” sebuah suara membuat dokter Albert segera menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang menyapa dirinya. Dia melangkah kembali ke arah laki-laki yang menyapa dirinya.
Dengan tiba-tiba dokter Albert mencengkram kerah kemeja laki-laki itu dan mendorongnya ke dinding, “Kenapa kamu bisa selalai itu, apa
yang ada dalam otakmu, kamu tahu kan nyawa Qiqi adalah nyawa Dean” desis dokter Albert penuh kemarahan. Tangannya terkepal dengan erat, dan dengan gerakan cepat sebuah pukulan keras terlepas dari dokter tampan itu.
Dugh....
“Maafkan aku, Al, aku memang bersalah, aku terlalu fokus pada penyelidikanku dan perusahaan, aku hanya percaya pada anak-anak untuk menjaga Nyonya Muda” laki-laki yang tidak lain dari asisten Vian itu sangat terkejut dengan kemarahan dokter Albert. Dokter Albert yang selama ini selalu bersifat urakan dan senang bercanda, tiba-tiba
menjadi semarah ini, membuat asisten Vian menjadi pias.
Untung saja pukulan keras dokter tampan itu mendarat beberapa centi di samping kepala asisten Vian. Seandainya pukulan itu mengenai wajah sisten Vian, bisa dipastikan
hidung mancung asisten tampan itu akan patah. Darah segar bahkan mengalir di sela-jemari dokter Albert, namun tidak
diperdulikannya.
“Bodoh, mulai sekarang, tempatkan Qiqi dalam pengamanan prioritas utama, dia bahkan harus dijaga jauh lebih ketat dari Dean. Kamu tahu kalau Qiqi benar-benar tidak mampu melindungi dirinya, ditambah lagi trauma yang dialaminya, semua itu membuatnya semakin rawan untuk disakiti. Dan kamu juga tahu kan kalau terjadi hal buruk pada Qiqi, maka dampak terberat akan terjadi pada Dean” desis dokter Albert masih dengan kemarahan yang besar.
“Mafkan aku, Al, maafkan aku, aku memang bodoh” asisten Vian terhenyak mendengar kata-kata dokter Albert. Lututnya menjadi goyah saat dia menyadari kalau dia hampir saja
mencelakai Dean karena kelalaiannya. Saat dokter Albert melepaskan engkramannya di kerah kemeja asisten Vian, tubuh laki-laki itu langsung melorot ke lantai.
Asisten Vian tertunduk dengan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat besar, air mata bahkan mengalir di pipinya. Dokter Albert hanya terdiam melihat kondisi asisten Vian, dia sebenarnya tidak ingin menyalahkan laki-laki itu, tapi kekesalannya membuat dokter Albert tidak mampu menguasai emosinya.
Tiba-tiba pintu ruangan tempat Qiandra di rawat terbuka, Dean keluar dari ruangan itu dengan wajah sendu. Dean terkejut saat mendapati kedua sahabatnya dalam keadaan yang kacau balau tepat di depan ruangannya. Dean bisa menduga apa yang telah terjadi pada
kedua sahabatnya itu, dia segera melangkah mendekati keduanya.
“Jangan menyesali apapun yang telah terjadi, jadikan ini sebagai pelajaran untuk kita semua, tidak perlu saling menyalahkan, sekarang
saatnya kita harus menyusun strategi untuk menjaga dan melindungi Qiqi” ucap Dean dengan tegas mengejutkan kedua laki-laki yang masih tenggelam dalam rasa bersalah dan rasa penyesalan mereka.
“Maafkan aku, Tuan, akulah yang paling bersalah dalam peristiwa ini” ucap asisten Vian, dia bersimpuh di hadapan Dean, dia
menundukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah Dean.
Dean segera meraih bahu asisten Vian dan memeluknya, “Jangan seperti ini,Vian, aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Ini semua kelalaian kita, kamu sudah begitu banyak menangani berbagai masalah, justru akulah yang paling bersalah disini. Tapi sekarang, sudahlah jangan lagi saling menyalahkan, mari kita fokus untu mengatasi semua masalah
yang dihadapi Qiqi. Maafkan aku karena
membuat kalian berdua harus bersusah payah mengatasi masalahku” ucap Dean sambil menepuk bahu asisten Vian.
Dean juga menarik tangan dokter Albert dan mereka bertiga saling berpelukan, setelah beberapa saat dia melepaskan kedua sahabatnya itu. “Terima kasih karena kalian selalu ada bersamaku selama ini, dan sekarang aku kembali mohon bantuan kalian berdua,
hanya kalian yang aku percaya dapat membantuku menghadapi masalah ini, aku
mohon” ucap Dean kepada kedua sahabatnya.
__ADS_1
“Tak perlu kamu minta, kamu tahu itu sudah menjadi kewajiban kami dan tujuan hidup kami” sahut dokter Albert. “Bagaimana Qiqi” tanya dokter Albert lagi.
“Dia sedang beristirahat, aku keluar untuk menenangkn diri, aku tidak ingin dia melihat keadaanku dan pastinya akan mempengaruhi dirinya” sahut Dean dengan wajah sendu.
“Apapun keadaan hati kita, kita harus tetap bersikap wajar dan bahagia di hadapan Qiqi, itu akan menjadi semangat untuknya. Qiqi memerlukan dukungan yang besar untuk
pemulihannya, dia wanita yang kuat, dukungan penuh baginya akan membuat dia lebih cepat pulih. Hanya saja kita harus berusaha untuk menghindari dia dari kejadian seperti ini lagi, ini akan menghambat pemulihannya” ucap dokter Albert.
“Baiklah, jika begitu,mulai sekarang, Al akan fokus pada pemulihan Qiqi, dan Vian, fokus pada pengamanan Qiqi, untuk penyelidikan masa lalunya, serahkan saja pada tim, aku yakin mereka bisa membuka rahasia masa
lalu Qiqi. Aku sendiri akan tetap fokus pada Qiqi dan juga perusahaan, kurasa bajingan itu akan semakin menggila sekarang” ucap Dean membagi tugas pada kedua sahabatnya.
“Baik” sahut asisten Vian dan dokter Albert secara bersamaan.
“Sekarang kembalilah pada tugas kalian masing-masing, jangan perlihatkan apapun pada orang lain, kita akan lakukan ini dalam mode tenang, agar Qiqi tidak mengetahui apapun yang mungkin akan mempengaruhi perawatannya, dan terima kasih” ucap Dean dengan sedikit menundukkan kepalanya ke arah dokter Albert dan asisten Vian.
Dokter Albert dan asisten Vian cukup terkejut melihat sikap Dean, dan dengan cepat mereka berdua serempak membungkukkan badan ke arah Dean. Dokter Albert yang biasanya selalu
bercanda dan tidak pernah bersikap segan pada Dean, kali ini terlihat sangat serius dan menghormati Dean dengan sungguh-sungguh.
Setelah itu ketiganya segera berpisah, Dean kembali masuk ke dalam ruang perawatan Qiandra, Dean melihat kalau Qiandra masih tenggelam dalam mimpinya. Dean sedikit bernafas lega karena wanita itu terlihat cukup pulas tertidur, yang artinya Qiandra tidak
diganggu oleh mimpi-mimpi buruk kejadian masa lalunya. Dean duduk di samping tempat tidur Qiandra, dengan perlahan dia merapikan beberapa helaian rambut di wajah Qiandra. “Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu, Honey, apapun itu, sekarang kamu
adalah prioritas utamaku. Jika selama ini kamu harus menanggung dan menghadapinya semuanya sendiri, maka sekarang aku yang akan menanggung dan menghadapi semuanya untukmu” bisik Dean dalam hati.
Dokter Albert kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya untuk memeriksa hasil pemerikasaan terhadap Qiandra. Setelah beberapa saat, dengan kecerdasannya, dokter Albert sudah bisa menganalisa kondisi kesehatan Qiandra. Dia meraih phonselnya dan menghubungi dokter Tirta, dokter Albert ingin mendiskusikan perawatan terbaik untuk Qiandra agar kesehatan mentalnya bisa segera pulih.
“Masuk” seru dokter Albert, tak lama berselang terlihat seorang pria paruh baya dengan jas khas dokternya masuk ke dalam ruangan dokter Albert. “Silahkan duduk, dokter Tirta”
ucap dokter Albert seraya berdiri mempersilahkan pria paruh baya yang tak lain
dari dokter Tirta itu untuk duduk.
“Terima kasih, Dok, ada apa Anda memanggil saya kesini” tanya dokter Tirta setelah dia duduk di hadapan dokter Albert.
“Dok, tolong jelaskan bagaimana kondisi Nyonya Dean dengan rinci dan peluang apa saja yang bisa kita lakukan untuk penyembuhannya” ucap dokter Albert setelah melihat dokter Tirta sudah duduk.
Dokter Tirta menghela nafas panjang sebentar, “Seperti yang saya katakan kemarin, pemulihannya tidak bisa serta merta, karena traumanya memang sudah cukup lama terpendam. Hanya Tuan Dean yang bisa membantunya, dan tentunya ini harus didukung dengan kondisi yang aman. Kejadian hari ini akan memberi dampak yang kurang baik
untuknya, dan kalau bisa jangan sampai terulang lagi. Saya khawatir, jika Nyonya sering mengalami kejadian seperti ini, traumanya akan semakin berat, karena rasa takut kehilangannya akan semakin besar” ucap dokter paruh baya itu dengan panjang lebar.
Dokter Albert mendesah berat mendengar penjelasan dokter Tirta, “Apa ada cara pengobatan yang lebih baik dan lebih cepat” tanya dokter Albert. Dokter tampan ini merasa sangat iba pada kondisi istri sahabatnya itu.
“Kehadiran buah hati akan memberikan dampak yang signifikan untuk proses penyembuhannya, karena selama proses kehamilannya akan memberikan waktu
yang cukup untuk menumbuhkan kepercayaan dalam diri Nyonya Muda, tentunya dengan catatan tidak ada kejadian seperti ini lagi” sahut dokter Tirta.
Dokter Albert sedikit terkejut mendengar penjelasan dokter Tirta, sementara dia sendiri sudah merencanakan penundaan kehamilan Qindra. “Dok, bukankah anda tahu keadaan Nyonya Dean saat ini, jika dia hamil lagi dan mengalami keguguran lagi, bukankah itu berbahaya bagi kesehatan rahimnya” tanya dokter Albert dengan sedikit penekanan.
__ADS_1
“Benar, Dok, memang di satu sisi itu tidak baik untuk kesehatan rahim Nyonya Muda, jika dia mengalami keguguran lagi. Tapi, bukankah dengan atau tanpa Nyonya hamil, penjagaan terhadap dirinya tetap akan diperketat dan dia dijamin akan aman, bukan?. Jadi, tidak ada salahnya kalau Nyonya Muda bisa hamil lagi, ini akan memberikan dampak positif yang
cukup besar untuk pemulihannya” sahut dokter Tirta.
Dokter Albert menatap dokter Tirta dengan intens, keningnya berkerut dalam berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk Qiandra. “Bagaimana jika mereka pergi jauh dari sini,
apakah itu bisa membantu pemulihan Nyonya” tanya dokter Albert. Dia masih berusaha mencari celah untuk pemulihan Qiandra. Walaupun dia sangat sadar, menjauhkan Dean dari kota itu akan sangat sulit.
Dokter Tirta menggeleng pelan, “Menjauhkan Nyonya Muda dari kota ini hanya akan membuat traumanya kembali tersembunyi, dan kapanpun dia kembali lagi ke kota ini, maka rasa itu akan kembali muncul. Bahkan mungkin akan lebih parah, jika pada saat itu dia telah memiliki anak, maka rasa takutnya akan semakin besar” sahut dokter Tirta.
“Jadi, Nyonya Dean harus tetap berada di kota ini untuk pemulihannya” tanya dokter Albert memastikan pendapat dokter Tirta.
“Benar sekali, jalan terbaik adalah tetap berada di kota ini, dan menjalani kembali semua keadaan yang pernah dijalaninya di hari naas
itu. Dengan Nyonya bisa melaluinya tanpa
gangguan akan menumbuhkan kepercayaan dalam dirinya dan akan memulihkan
keadaannya dengan lebih cepat. Dan yang
tak kalah pentingnya lagi, dengan kehamilannya maka Nyonya akan merasa dirinya layak dan pantas untuk Tuan Dean karena dia bisa memberikan keturunan untuk
suaminya” sahut dokter Tirta dengan tegas.
“Baiklah, dok, terima kasih untuk informasinya, saya akan membicarakan hal ini dengan Tuan Dean” ucap dokter Albert setelah cukup lama
keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Dokter Tirta mengangguk lalu dokter paruh baya ini berdiri dan sedikit membungkukkan badannya pada dokter Albert.
“Sama-sama, dok, sudah jadi kewajiban saya, kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya, jika ada yang diperlukan lagi, saya selalu siap” ucap dokter Tirta. Setelah itu, dia segera meninggalkan ruangan dokter Albert dan kembali ke ruang kerjanya sendiri.
Setelah dokter Tirta keluar dari ruanggannya, dokter Albert kembali termenung. Dia sadar seluruh pengobatan dan pemulihan Qiandra telah diserahkan dan menjadi tanggung
jawabnya. Dan dokter Albert juga mengakui bahwa semua hasil analisa dokter Tirta adalah benar adanya.
Namun, dokter Albert masih khawatir jika kejadian seperti hari ini akan terjadi lagi. Hari ini Qiandra baru bertemu dengan Daniel, dan
dia sudah mengalami hal seperti ini. Entah bagaimana kalau dia bertemu dengan Risty. Dan dokter Albert sangat tahu kalau hal itu
tidak mungkin bisa dihindari oleh mereka.
Dokter Albert memang tidak mengenal Qiandra sebaik asisten Vian, karena dia tidak pernah mengetahui bagaimana wanita itu dalam dunia bisnis. Berbeda dengan asisten Vian yang sudah beberapa kali berhadapan langsung
dan melihat sendiri kemampuan Qiandra dalam bersilat lidah dan menaklukkan para pengusaha lainnya. Tentunya tidak hanya mengandalkan kecantikannya tetapi juga kecerdasannya.
“Hah, Qi, mengapa wanita lemah sebaik dan secantik kamu harus menjalani jalan hidup yang begitu pahit. Seandainya suamimu bukan Dean, aku pasti sudah memintamu pergi sajauh
mungkin dari kota ini dan tidak pernah kembali lagi. Tapi, kamu malah memilih Dean, Dean tidak mungkin meninggalkan kota ini. Sekalipun dia dengan suka rela akan melakukan hal itu untuk kesembuahnmu, tapi kami tidak mungkin membiarkannya. Karena itu sama saja kami membiarkan iblis betina itu menguasai semuanya” bisik dokter Albert dalam hati.
Dokter Albert menatap jauh keluar jendela ruangannya yang ada di lantai teratas gedung rumah sakit itu. Hamparan awan putih dengan semburat cahaya senja mulai mewarnai langit
__ADS_1
sore hari itu. “Maafkan aku, Qi, aku tidak bisa membiarkan Dean meninggalkan kota ini, aku tidak mungkin membiarkan kerajaannya runtuh serta membiarkan semua orang yang mengasihinya terkurung dalam tembok istana itu. Hanya Dean harapan semua keluarga besarnya” desah dokter Albert lagi.
Dokter tampan itu kembali menghembuskan nafas dengan berat. Sungguh, suatu keputusan yang sangat berat baginya kalau harus memilih antar kesembuhan dan kebahagiaan Dean dan Qiandra atau keselamatan keluarga kerajaan yang saat ini bertumpu pada Dean.