
Dean melangkah dengan lebar ingin memukul wajah Risty, kali ini dia tidak akan memberi ampun pada wanita itu. Wanita yang sejak awal sudah menghina dan melecehkan istrinya. Dean mengangkat tangannya untuk memukul wajah Risty saat itulah dia mendengar suara teriakan dari asisten Vian.
“Dean, awas dibelakangmu” seru asisten Vian yang berhasil mendapatkan sebuah pengeras suara sehingga suaranya bisa didengar dan menggema di seluruh ruangan mewah itu.
Dor…. dor….. dor…..
Tiga bunyi tembakan menyusul teriakan asisten Vian, dan disusul dengan teriakan semua tamu undangan yang terkejut dengan suara tembakan itu. Para tamu undangan segera menjadi kacau balau, masing-masing dari mereka berusaha berlari mencari jalan keluar dari ballroom mewah itu.
Dean terkejut bukan main, langkahnya terhenti seketika seiring dengan tangannya yang juga berhenti di udara. Teriakan asisten Vian memang membuat Dean seketika secara reflek menunduk dan menggeser posisi tubuhnya. Namun, saat dia berpaling, wajah Dean seketika menjadi pias saat satu tubuh jatuh ke arahnya.
Dengan sigap Dean menangkap tubuh yang ternyata menjadi tameng dirinya itu, “Dad......” seru Dean dengan panik. Ternyata daddy Walt sempat melihat arah bahaya yang mengancam putranya itu. Sehingga dengan secepat kilat laki laki paruh baya itu meloncat dan menjadi tameng bagi putranya.
Dean segera memangku sang ayah, tangannya langsung bersimbah dengan darah segar yang mengalir dari luka tembak di dada daddy Walt. Sejenak Dean melupakan kepergian Qiandra juga kemarahannya pada Risty, bahkan semua kekacauan di sekitarnya tidak diperdulikannya.
“Dad, apa yang Dad lakukan, mengapa Daddy mengorbankan diri seperti ini, ku mohon bertahanlah Dad, bantuan akan segera datang, ku mohon jangan tutup matamu, Dad” seru Dean dengan putus asa.
Tangan daddy Walt berusaha menggapai wajah putranya, membuat Dean segera menundukkan kepalanya, “Qiandra pergi untuk menyelamatkanmu, Nak, dia sudah melihat bahaya yang mengancammu, jadi tolong segera selamatkan menantuku” ucap daddy Walt dengan terbata.
“Iya, Dad, aku tahu, dia pasti melakukannya untukku, aku akan menemukannya dimana pun mereka menyembunyikannya, tapi sekarang ku mohon, daddy harus bertahan untukku, untuk Qiqi” ucap Dean dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Daddy Walt tidak menjawab perkataan Dean, dia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan lemah. Dan setelah itu, perlahan mata laki-laki paruh baya itu tertutup dan tangannya terkulai lemah di sisi tubuhnya.
“Dad..... bangun Dad..... bangun....” seru Dean dengan frustasi.
Saat Dean berseru, tiba-tiba kubah balroom mewah itu terbuka, dan saat Dean melihat ke atas, semakin hancurlah hati laki-laki itu. Dean bisa melihat dengan jelas kalau istrinya, Qiandra, terkulai tidak sadarkan diri dalam pelukan Daniel.
Risty yang melihat semua kejadian itu juga terkejut luar biasa, dia sungguh tidak menyangka kalau Daniel benar benar menggunakan senjata. Risty segera berlari ke arah Dean dan daddy Walt, “Dad, sadarlah, Dad, ku mohon, bagaimana aku jika kamu pergi” serunya dengan penuh kepanikan.
Dean menatap wanita itu dengan kesedihan dan amarah yang membara, “Jangan coba menyentuh daddyku, pembunuh” seru Dean dengan suara keras.
“Tidak, Dean, bukan seperti ini seharusnya, aku tidak pernah merencanakan untuk melakukan penembakan ini, aku hanya ingin mengusir wanita pembawa sial itu dari hidupmu” seru Risty dengan menghiba.
“Dia istriku, kamu tidak berhak menyebutnya seperti itu, ja*ang” seru Dean lagi dengan sengit.
“Tapi aku jauh lebih pantas untukmu, Dean dan aku jauh lebih mencintaimu, buka matamu, kenapa kamu begitu buta dan tidak perduli dengan semua keburukan wanita itu” seru Risty tidak kalah sengit.
“Jadi semua ini adalah rencanamu” seru Dean lagi.
“Ya, karena aku tidak rela wanita sialan itu merebut posisiku menjadi ratu di hatimu dan kerajaan ini” seru Risty tanpa sadar. Namun seketika wanita itu terkulai lemah saat menyadari kalau dia sudah terjebak dan mengakui perbuatannya.
“Tangkap dan penjarakan orang gila ini” seru Dean pada beberapa orang bodyguard yang sudah berdiri di sekitarnya.
__ADS_1
Para bodyguard dibawah komando Alex segera menangkap Risty dan mengikat ke dua tangannya di belakang tubuh wanita itu.
“Dean, apa yang kamu lakukan, aku ini ibumu, bagaimana bisa kamu memperlakukan ibumu sendiri seperti ini. Aku hanya ingin menolongmu dan menyelematkan martabat keluarga ini, Dean.... lepaskan aku” seru Risty.
Sayangnya, Dean sama sekali tidak perduli pada wanita itu. Pengakuan Risty sudah lebih dari cukup untuk Dean, dan saat ini yang diperhatikannya hanyalah kondisi daddy Walt saja. Teriakan bahkan amukan Risty yang dipegang dengan erat oleh para bodyguard Dean sama sekali tidak masuk ke dalam telinga laki-laki itu.
Asisten Vian yang baru berhasil mencapai tangga terkejut bukan main melihat apa yang sudah terjadi. Kaki asisten Vian seketika menjadi goyah dan lemah, sehingga tidak mampu lagi menyangga beban tubuhnya. Laki laki tampan itu langsung jatuh terduduk dalam posisi menunduk lemah. Rasa bersalah benar benar membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengontrol semua yang terjadi di hadapannya. Asisten Vian hanya menatap nanar pemandangan yang sama sekali tidak pernah di duganya akan terjadi.
Namun, beberapa saat kemudian, asisten Vian segera tersadar, “Siapkan operasi darurat, yang mulia terluka” serunya memerintahkan tim kesehatan untuk bersedia. Asisten Vian tidak berkata banyak lagi, dia segera meraih tubuh daddy Walt dari pangkuan Dean dan segera membawanya berlari turun dari panggung pelaminan itu.
“Alex, jaga Tuan Muda dengan nyawamu” seru asisten Vian sesaat sebelum dia mengangkat tubuh daddy Walt. “Bersihkan jalanku” serunya lagi dengan suara menggelegar, membuat semua orang yang masih tersisa dalam ballroom segera memberikan jalan untuk asisten Vian.
Asisten Vian terus berlari, hingga di tengah ballroom dia bertemu dengan tim kesehatan yang sedang mendorong brankar menuju ke arahnya. Asisten Vian dengan dibantu oleh tim kesehatan yang terdiri dari beberapa orang dokter terbaik segera menempatkan daddy Walt di brankar.
Setelah terbaring dengan baik, tim kesehatan dengan sigap langsung memasang berbagai peralatan di tubuh daddy Walt untuk membantunya agar tetap bertahan hidup. Saat semua peralatan sudah terpasang, asisten Vian sedikit merasa lega, karena ternyata daddy Walt masih bisa bertahan.
“Segera tangani, dengan segenap kemampuan terbaik kalian” serunya dengan tegas kepada para dokter yang mengelilingi daddy Walt. Para dokter itu hanya mengangguk, lalu segera membawa daddy Walt menuju ke sebuah ruangan yang memang sudah dipersiapkan untuk operasi darurat.
Assisten Vian yang ingin masuk ke dalam ruangan dilarang oleh salah satu dokter senior, “Mohon maafkan saya, Tuan Vian, tapi kami benar-benar harus berkonsentrasi tanpa tekanan dan intimidasi, mohon pengertian Anda, demi keselamatan Yang Mulia” ucap dokter itu dengan hormat.
“Baiklah, lakukan yang terbaik” ucap asisten Vian pada akhirnya, dia menyadari keberadaannya di ruang operasi akan membuat suasana canggung bagi para dokter untuk bekerja karena mereka juga sangat menghormati asisten Vian.
“Yang Mulia” ucap asisten Vian seraya membungkukkan badannya saat berbalik dan melihat Dean masih dengan pakaian kerajaannya. “Yang Mulia, mohon ijinkan saya melepas jubah Anda” ucap asisten Vian dengan sopan.
“Ah, iya” Dean segera menyadari kalau semua orang tidak bisa bersikap bebas jika dia masih menggunakan pakaian kebesarannya walaupun tanpa mahkota. Dean segara melepas jubah kebesarannya, termasuk jas mewah yang dikenakan juga dilepasnya.
Dean hanya menyisakan kemeja lengan panjang yang kemudian digulungnya hingga ke batas siku. Dasi dilepaskan dari lehernya dan membiarkan beberapa kancing kemeja bagian atasnya terbuka. Dalam kondisi seperti ini semua orang tahu bahwa laki laki ini sudah bersiap untuk suatu pekerjaan yang serius.
Seluruh perlengkapan pakaian kebesaran Dean langsung dikumpulkan dan dirapikan oleh asisten Vian. Setelah rapi barulah dia menyerahkannya kepada Alex, “Langsung dibersihkan” perintahnya pada Alex.
“Jangan dibersihkan, biarkan semua noda darah itu menjadi saksi, hingga daddy benar benar sembuh dan Qiqiku ditemukan. Aku tidak akan lagi mengenakan jubah itu sebelum keduanya berhasil diselamatkan” seru Dean dengan suara dingin dan aura amarah serta dendam yang begitu besar.
Alex hanya bisa menundukkan kepalanya, dia sangat mengerti jika sang Tuan Muda ini sedang dikuasai amarah. “Ah, Nyonya Muda, tolong bertahanlah, hanya Anda yang bisa menenangkan kemarahan Tuan Muda” bisik hati Alex.
“Bagaimana keadaan daddy, Vian” tanya Dean kembali pada asisten Vian, kedua tangannya dilipat di depan dada. Tatapan mata laki-laki itu terlihat penuh dengan kemarahan, namun dia tetap bisa bersikap tenang di hadapan para bawahannya.
“Tim dokter sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan pelurunya, keadaannya memang kritis, tapi saya yakin mereka akan berhasil” ucap asisten Vian dengan optimis.
“Dan Albert” tanya Dean lagi.
“Aku disini” sahut sebuah suara tepat di belakang Dean. Dean segera berpaling dan melihat dokter Albert berdiri namun masih agak goyah di belakangnya. Dokter Dewi juga ada di sana membantu memegang dokter Albert agar tidak sampai jatuh, karena memang dokter Albert baru sadar dan pengaruh obat biusnya masih belum habis sepenuhnya.
__ADS_1
“Duduklah, Al, jangan memaksakan dirimu” ucap Dean seraya menuntun sahabatnya itu.
“Dean....” desis dokter Albert, dokter tampan itu tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat sikap Dean yang terlihat sangat tenang.
Dokter Albert dan sisten Vian hanya pernah satu kali melihat Dean setenang itu saat berada di puncak suatu masalah. Dan satu kali itu terjadi saat Dean selesai menghadiri pemakaman ibunya. Saat itu Dean dengan sikap sangat tenang memilih untuk mengalah dan keluar dari mansion utama.
Dan jika sekarang Dean kembali bersikap seperti itu, tiba tiba dokter Albert merasa khawatir dengan sikap sahabatnya itu. “Dean, jangan bilang kamu akan.....” dokter Albert kembali tidak melanjutkan kata-katanya.
“Jangan khawatir, Al, kali ini aku tidak akan menyerah, kita perlu tenaga yang banyak dan ketenangan dalam berpikir. Yah, saat ini Qiqi sudah jatuh ke tangan baji*gan itu, tapi aku yakin dia akan baik-baik saja. Kita hanya perlu segera melacak keberadaannya dan merebutnya kembali serta menghancurkan baji*gan itu hingga ke akar-akarnya” ucap Dean.
“Sterilkan ruang sebelah” seru asisten Vian pada salah satu bodyguard yang selalu bersiaga di sekitar mereka. Para bodyguard segera bergerak dengan cepat memeriksa ruangan yang ada di samping ruang operasi, mereka sudah tahu jika para tuannya sedang memerlukan ruangan khusus.
Tidak berselang lama, bodyguard itu kembali lagi, “Ruangan sudah siap, Tuan” lapornya sambil menunduk di hadapan asisten Vian.
Setelah mendengar itu, Dean segera membantu dokter Albert untuk berdiri.
Asisten Vian memberikan kode untuk dokter Dewi untuk membiarkan Dean membawa dokter Albert. Asisten Vian sendiri segera membantu dari sebelah dokter Albert.
“Hah, aku merasa seperti baru keluar dari diskotik saja, saat kalian berdua sok jago memapah aku keluar, tapi pada akhirnya justru aku yang merawat kalian karena kalian mabuk berat” kekeh dokter Albert. Dia teringat dengan masa lalu ketiganya saat mereka masih kuliah dulu dan baru mengenal diskotik.
Dean dan asisten Vian hanya berdiam diri, mereka tahu kalau dokter Albert sedang berusaha mengurangi ketegangan mereka. Ketiga orang laki-laki tampan itu segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di persiapkan, Dean dan asisten Vian menuntun dokter Albert ke sebuah sofa santai yang tersedia di ruangan itu.
Setelah dokter Albert duduk dalam posisi yang nyaman, barulah Dean juga mengambil tempat duduk. “Vian, tolong ceritakan kronologis semua yang sudah terjadi dengan lengkap” ucapnya pada asisten Vian.
Asisten Vian juga segera mengambil tempat duduk, lalu dia mulai menceritakan kronologis semua kejadian yang diketahuinya. Dan setelah asisten Vian, dokter Albert juga menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
“Jadi, menurut kalian, Qiqi melihat senjata itu ditodongkan ke arahku” tanya Dean lagi memastikan pada kedua sahabatnya itu.
“Dugaanku seperti itu, karena tembakan memang berasal dari arah belakang Anda, Tuan” sahut asisten Vian.
“Yah, lagipula aku sangat yakin kalau Qiqi tidak akan menyerah semudah itu jika tidak ada ancaman yang membahayakan nyawamu” dokter Albert yang tidak melihat langsung kejadian itu juga memberikan masukan.
“Aku juga berpikir seperti itu, tapi mengapa dia sampai tidak sadarkan diri lagi, aku kira dia sudah cukup kuat” tanya Dean dengan rasa penasaran.
“Qiqi memang cukup kuat, namun saat mendengar bunyi tembakan yang awalnya dilihatnya mengarah padamu, maka secara otomatis dia berpikir kalau kamu sudah tertembak. Dan hal itu tentu saja memicu kembali traumanya sehingga membuat dia kembali tidak sadarkan diri” sahut dokter Albert.
“Hal itu mungkin saja terjadi, tapi bisa saja kalau Nyonya Muda juga dibius sama seperti dirimu” asisten Vian ikut menimpali.
“Aku memang berharap dugaanmu itu yang terjadi, Vian, karena jika dia tidak sadarkan diri karena traumanya maka akan semakin sulit untuk kita memulihkannya lagi. Tapi jika dia tidak sadarkan diri karena di bius, maka hal itu berarti dia tidak mengetahui kejadian penembakan ini, dan hal itu akan membuatnya aman dari traumanya” sahut dokter Albert.
Dean hanya berdiam diri mendengar kedua sahabatnya sedang berspekulasi mereka reka apa yang sudah terjadi pada Qiandra. Pedih dan amarah membaur menjadi satu di dada laki-laki tampan itu.
__ADS_1