PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Daniel membawa Qiandra menuju ruang makan yang ada di villa itu, setelah Qiandra merasa puas menikamati semua fotonya di masa lalu. Foto foto yang sengaja diambil Daniel saat Qiandra bersama dengan laki laki itu. Dan semua foto itu benar benar diambil tanpa sepengtahuan Qiandra. Bahkan Qiandra sampai lupa kapan dan dalam acara apa beberapa foto itu diambil.


Namun, Daniel benar benar mengingat setiap moment kebersamaan mereka. Daniel bisa menjelaskan setiap foto itu dengan detil, bahkan kejadian kejadian unik yang terjadi saat itu juga dijelaskannya pada Qiandra. Oleh sebab itu, Qiandra bisa mengingat kembali semua yang pernah terjadi saat setiap foto itu diambil.


Mengenang masa lalu melalui lembar demi lembar foto yang tersusun rapi di atas buffet mewah itu, membuat keduanya seakan kembali ke masa lalu. Saat dimana keduanya benar benar selalu berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan banyak pekerjaan bisnis. Kadang keduanya tertawa lepas saat mengingat kejadian kejadian lucu saat kebersamaan mereka itu.


Seperti sebuah foto yang diambil dimana Qiandra terlihat sangat cantik dengan gaun putih dan topi putih serta kacamata hitam menghias wajah cantiknya. Qiandra sempat berpikir mengingat kapan foto itu diambil, saat dia menoleh ke arah Daniel, laki laki itu malah tertawa.


“Kamu lupa ini dimana, Qi, apa kamu lupa dengan direktur perusahaan yang rambut palsunya terlepas saat terkena hembusan angin laut” tanya Daniel masih dengan sisa tawanya.


“Oh, astaga, tentu aku ingat sekali, bagaimana bapak itu datang dan menawarkan segelas jus untukku. Namun, aku belum sempat mengambil gelas itu, dia sudah melemparkannya karena berusaha menyelamatkan rambutnya” sahut Qiandra diikuti tawa berderai keduanya.


“Yah, untung saja hanya rambutnya yang terlempar dari kepalanya, seandainya saja dia tetap berusaha menggodamu, maka saat itu juga tidak hanya rambutnya yang akan terlempar, tapi seluruh tubuhnya akan ku lempar ke laut” kekeh Daniel.


“Ish, ada ada saja kamu, Dan, tapi kasihan bapak itu, sejak kejadian itu bahkan sampai kita pulang dia benar benar tidak pernah lagi muncul di hadapanku” sahut Qiandra.


“Tentu saja dia tidak akan muncul lagi, selain malu, aku juga sudah memperingatkannya untuk tidak lagi coba coba menggoda dirimu” sahut Daniel.


“Astaga, kamu benar benar melakukan itu, Daniel” tanya Qiandra tidak percaya dengan jawaban Daniel.


“Yah, aku selalu mendatangi setiap laki laki yang mencoba menggodamu, Qi, kalau kamu tidak percaya kamu bisa mengingatnya. Tidak ada satupun laki laki yang pernah menggodamu datang lagi untuk mencoba menggodamu, hanya sekali saja mereka bisa melakukan hal itu. Setelah itu mereka tidak akan pernah berani lagi” sahut Daniel.


“Ya ampun pantas saja tidak pernah yang datang kembali padaku, dan yah aku ingat jika aku meminta minuman pada seseorang, tidak pernah orang itu datang kembali padaku. Paling paling hanya pelayan atau kamu sendiri yang datang membawa pesananku. Haish, padahal waktu itu aku sempat minder, aku berpikir mereka malu untuk berteman denganku karena aku seorang janda” keluh Qiandra.


Yah, pada awalnya dulu, Qiandra sempat merasa rendah diri karena setiap laki laki yang berusaha mendekati dirinya tidak akan pernah kembali datang lagi padanya. Mereka justru menjauhi dirinya dan seperti ketakutan padanya. Hal itu membuat Qiandra berpikir semua laki laki itu menghindar darinya karena baru mengetahui statusnya sebagai seorang janda.


“Hah, justru statusmu sebagai janda itu yang membuat aku kerepotan menghalau para penggemarmu, Qi. Mereka sudah seperti semut yang baru menemukan gula saat mengetahui sekertarisku seorang janda. Dan karena itu pula lah kamu menjadi satu satunya sekertaris yang harus selalu duduk di samping bosnya dalam setiap acara kantor. Karena sedikit saja kamu berjarak dari aku, maka para lelaki itu sudah mulai mengatur antrian untuk mendekatimu” sahut Daniel.


“Ish, mana ada sampai seperti itu, memangnya aku siapa, selebriti bukan, pejabat juga bukan, hanya seorang janda miskin yang berusaha mengais rejeki demi menghidupi keluarga mertuaku” sahut Qiandra dengan senyum miris di wajahnya saat mengingat perjuangannya dulu.


“Kamu sudah lama menjadi selebritis dan primadona, jika bukan Daniel Putra Mahardika menghalanginya. Semua pemberitaan tentang dirimu aku cekal, aku tidak ingin semakin banyak orang mengenal dirimu. Karena menghadapi rekan rekan kerja saja sudah cukup merepotkan diriku” sahut Daniel.


“Masa sampai segitunya, Daniel” Qiandra masih merasa ragu dengan kata kata Daniel.


“Aku selalu menjaga dan melindungi dirimu dari semua terpaan berita baik atau buruk, Qi, aku tidak ingin siapapun menyakiti dirimu, kamu permataku, harta terindahku” ucap Daniel. Kedua telapak tangannya menangkup pipi Qiandra dan mengunci manik mata wanita itu dengan mata birunya.


“Daniel ....” desis Qiandra yang terkejut dengan perlakuan laki laki itu.


“Iya, Qi, kamu sangat berharga bagiku, dan aku tidak pernah membiarkan dirimu didekati apalagi disentuh oleh para lelaki itu. Aku selalu dan akan selalu melindungimu, Qi, dengan ataupun tanpa kamu ketahui. Aku akan melakukannya, dulu, sekarang bahkan sampai kapan pun, selama aku masih bernafas” ucap Daniel.

__ADS_1


Qiandra tidak tahu harus berkata apa lagi, kesungguhan dan ketulusan terpancar jelas di mata biru yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta itu. Qiandra tidak tahu apakah dia harus bahagia mendapatkan cinta yang begitu besar dan tulus seperti itu, atau bahkan dia harus menangis karena tidak bisa membalas cinta Daniel.


Bahkan saat Daniel mengecup keningnya dengan sangat lembut, Qiandra masih belum bereaksi. Gemuruh dalam dadanya begitu bergejolak, bukan, bukan rasa cinta tapi rasa bersalah karena tak mampu berbuat apa apa untuk membalas cinta Daniel.


“Daniel, ....” desis Qiandra, namun kata katanya terhenti saat jari telunjuk Daniel menyentuh bibirnya dengan perlahan.


“Ku mohon jangan katakan penolakan lagi, Qi, aku sudah tahu kamu tetap akan menolakku. Jadi, kamu tidak perlu mengatakannya lagi, hmmm” ucap Daniel dengan lembut, membuat Qiandra benar benar kehilangan kata kata.


Kedua tangan Daniel turun dari wajah Qiandra lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dengan lembut. “Apa kamu masih ingin melihat semua foto ini, Qi, atau kamu mau makan dulu, ini sudah cukup malam” ucap Daniel kepada Qiandra.


“Ehmmm, baiklah, ku rasa sebaiknya kita makan saja dulu, mungkin lain kali aku bisa melihat lihat foto foto ini lagi. Tapi terima kasih banyak, Daniel, karena kamu sudah mengabadikan semua momen yang bahkan aku sendiri tidak mengingatnya” ucap Qiandra.


“Tidak, Qi, aku yang berterima kasih karna kamu tidak marah. Jujur tadi aku sempat berpikir kalau kamu akan marah karena aku begitu banyak mengambil foto tanpa seijin dirimu” sahut Daniel. Dia akhirnya menepi namun tangannya tetap menggenggam satu tangan Qiandra dan menuntun wanita itu menuju ke ruang makan.


Saat masuk ke ruang makan, Qiandra kembali terpesona dengan keindahan ruang makan mewah itu. Walaupun dalam hati sebenarnya dia sudah menduga seperti apa bentuk ruang makan itu. Qiandra yakin pasti ruang makan itu juga dibuat sesuai dengan keinginannya dan memang seperti itulah adanya. Namun tetap saja Qiandra terpesona karena semua yang dilihatnya itu jauh lebih mewah dan lebih indah dari yang dilihatnya di majalah.


“Silahkan duduk, Qi” ucap Daniel seraya menarik satu kursi untuk wanita itu.


“Terima kasih” ucap Qiandra dengan sopan, yah dia memang sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh Daniel setiap kali mereka makan bersama dulu.


Daniel kemudian duduk di samping Qiandra, “Silahkan dinikmati, Qi, makanan istimewa untuk wanita istimewa” ucap Daniel mempersilahkan Qiandra untuk makan setelah semua hidangan tersaji di atas meja makan.


“Astaga, Daniel, kamu benar benar ingin merusak bodyku dengan selalu menyajikan makanan favoritku seperti ini” kekeh Qiandra saat melihat semua menu yang tersedia di atas meja makan.


Daniel tersenyum saat melihat tawa renyah wanita itu, dia merasakan sangat bahagia saat melihat Qiandra bisa tertawa bebas seperti itu. “Melihatmu tertawa saja sudah membuatku sangat bahagia, Qi” ucap Daniel.


“Haish, sudahlah, Daniel, jangan terus menerus menggombal, kamu mau semua makanan ini mubazir karena tidak ku makan akibat aku baper pada gombalanmu” sahut Qiandra berusaha mengalihkan pembicaraan laki laki itu.


“Ini bukan gombalan tapi kenyataan, Qi, tapi baiklah, lebih baik sekarang kita makan saja dulu” ucap Daniel.


Qiandra berusaha mengabaikan kata kata Daniel, walaupun sebenarnya semua perkataan laki laki tu benar benar membuat Qiandra salah tingkah. Wanita mana yang bisa tahan selalu diberikan kata kata manis, apalagi yang memberikannya adalah seorang laki laki seperti Daniel Putra Mahardika.


Namun, sebagai seorang wanita yang sudah bersuami, Qiandra tetap mampu mengendalikan perasaannya. Dia tidak membiarkan hatinya terhanyut oleh semua sikap manis dan kata kata penuh pemujaan yang di ucapkan oleh laki laki selain suaminya.


Keduanya akhirnya menikmati makan malam dalam diam, namun, Qiandra harus benar benar menahan diri atas sikap Daniel. Karena beberapa kali laki laki itu membersihkan sisa makanan yang terkadang ada di sudut bibir Qiandra. Qiandra bahkan tidak sempat menolaknya, karena gerakan Daniel yang begitu cepat, bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.


“Daniel ....” delik mata Qiandra melirik ke arah Daniel dengan kesal.


“Haish, jangan memasang mata dan wajahmu seperti itu, Qi, kamu justru semakin terlihat cantik, hmmm” bukannya memperdulikan kekesalan Qiandra, Daniel justru malah menggoda wanita itu.

__ADS_1


“Ish, jangan terus menggodaku, Daniel” seru Qiandra dengan kesal.


“Hei, aku tidak menggodamu, aku hanya mengatakan kebenarannya, kalau aku mengatakan yang sebaliknya, maka aku membohongi dirimu” sahut Daniel masih terus menggoda Qiandra. “Baiklah, baiklah, aku akan diam saja, silahkan lanjutkan makanmu, Qi” lanjutnya lagi mengalah saat melihat Qiandra akan meletakkan sendok dan garpunya.


“Ish, kamu benar benar membuat selera makanku hilang, Daniel” rungut Qiandra, sambil meletakkan sendok dan garpunya.


“Astaga, Qi, kumohon jangan marah begitu, maafkan aku ya, ayo teruskan makanmu, atau perlu aku suapi” tanya Daniel, secara refleks dia meraih jemari Qiandra dan menggenggamnya dengan lembut. Mata biru penuh permohonan itu, harusnya mampu meluluhkan kekesalan hati wanita manapun.


“Ah, tidak, aku cukup saja, aku sudah kenyang” ucap Qiandra seraya melepaskan sarbet dari pangkuannya dan berdiri.


“Setidaknya minumlah dulu, Qi, ini, minumlah jus ini, akan sangat bagus untuk memulihkan tenagamu” ucap Daniel seraya menyodorkan segelas jus buah mangga untuk Qiandra.


Qiandra sebenarnya tidak mau lagi menerima apapun dari laki laki itu. Namun, akhirnya hatinya luluh juga saat melihat Daniel menyodorkan minuman itu di hadapannya.


“Maafkan aku, Qi” desis Daniel seraya tetap mengulurkan gelas jus itu pada Qiandra.


“Baiklah” ucap Qiandra pada akhirnya, lalu dia kembali duduk dan mengambil gelas yang di sodorkan oleh Qiandra. Qiandra mulai meminum jus itu dengan pelan, “Haish, mengapa selalu aku tidak tega menolak semua perlakuannya. Hah, ternyata menjadi orang tidak tegaan itu susah sekali, bagaimana bisa aku menolak perlakuannya, dia begitu ....., ah” Qiandra berdesis dalam hatinya.


“Terima kasih, Qi, terima kasih” ucap Daniel dengan sendu.


“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, terima kasih untuk makan malamnya, juga minumannya” ucap Qiandra dia mengambil sarbet dan membersihkan mulutnya. Saat Qiandra akan berdiri, ternyata Daniel sudah lebih dulu berdiri di belakangnya dan menarik kursi wanita itu saat dia telah berdiri.


Qiandra kembali mendesah, entah mengapa Daniel selalu begitu cekatan dalam hal melayani Qiandra. Qiandra bahkan tidak sempat berpikir namun Daniel sudah melakukan segalanya untuk Qiandra.


“Daniel, bisakah kamu tidak terus menerus memperlakukan aku seperti ini” desah Qiandra.


“Hmmm, mengapa, Qi, apa kamu merasa tidak nyaman” tanya Daniel dengan wajah heran.


“Sangat, Daniel, kamu membuat aku merasa, ...... ah entahlah” desis Qiandra.


“Merasa apa, Qi, katakan dengan jelas, kamu merasakan apa saat aku melakukan semua itu padamu” tanya Daniel lagi.


“Daniel, kamu terus menerus melayani aku, melakukan segalanya untukku, apa kamu tidak merasa terhina terus menerus berbuat semua ini. Kamu ....” Qiandra tidak tahu harus mengatakan apapun lagi.


“Qi, aku tidak akan terhina melakukan apapun jika itu untukmu, bagiku melakukan semuanya dan melayanimu adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri untukku. Kamu ratuku, kamu permataku, apapun akan kulakukan asal kamu bahagia” sahut Daniel.


“Tapi, Daniel, .....” Qiandra berusaha mengajukan protes pada Daniel.


“Sudahlah, Qi, ijinkan aku terus melakukan semua ini, ijinkan aku terus melayanimu, terus memberikan yang terbaik untukmu. Selama kamu bersamaku, Qi, tolong jangan menolak semua yang aku lakukan untukmu, aku benar benar tulus melakukannya, Qi” ucap Daniel dengan wajah sendu.

__ADS_1


Daniel berdiri di belakang Qiandra, hembusan nafas laki laki itu terasa di puncak kepala Qiandra. Daniel tidak menyentuh Qiandra tetapi kedekatan itu benar benar membuat Daniel mati matian menahan gairah dalam dirinya. Aroma tubuh Qiandra dihirup oleh laki laki itu dengan nafas dalam dan membiarkannya memenuhi rongga dadanya.


“Hah, Qiandra, tidak bisakah semua ini terus aku nikmati. Tidak bisakah kamu benar benar selalu tinggal dan berada di sisiku. Tidak bisakah kamu melupakan semua yang ada di luar sana, seperti aku, aku siap melepaskan semua yang ada di luar sana untuk hidup bersamamu. Kita tinggalkan semuanya, dan kita mulai yang baru, Qi, tidak bisakah seperti itu” desis Daniel dengan lembut di telinga Qiandra.


__ADS_2