
“Tuan, semua jejak telah kita telusuri. Barang barang Nyonya Muda juga sudah ditemukan dan sudah kita simpan. Kami sudah berusaha menghubungi pihak yang berwenang pada lalu lintas udara, mereka
juga sedang berusaha melakukan pelacakan. Namun, sampai saat ini kita masih menemui jalan buntu. Helikopter itu sepertinya sudah dilengkapi dengan peralatan canggih sehingga tidak bisa di lacak sama sekali. Kita hanya bisa melacak arah kepergiannya saat meninggalkan kota ini, sepertinya helicopter itu menuju ke arah kepulauan yang ada di luar wilayah kita” Rio segera memberikan laporannya.
“Arah mana” tanya Dean dengan suara dingin.
“Timur, Tuan, tapi kita juga tidak bisa mempercayai begitu saja, karena tidak menutup kemungkinan mereka berputar ke arah lain saat sudah berada di luar jangkauan radar. Kami sudah menghubungi juga pihak otoritas jasa penerbangan internasional dan
bekerja sama untuk melacak setidaknya arah helicopter itu. Dan saat ini, mereka sedang berusaha melakukan pelacakan” sahut Rio lagi.
“Apa kalian sudah menginventarisir pulau pulau yang menjadi milik keluarga dan perusahaan Mahardika” tanya Dean lagi.
“Sudah, Tuan, kami sudah melakukan pelacakan, dan daftarnya juga sudah kami terima. Kami sudah berusaha melacak penerbangan ke pulau pulau tersebut, tapi sepertinya tidak ada penerbangan yang terjadi sejak tadi malam” kembali Rio menjawab pertanyaan Dean.
“Darimana kalian mendapatkan laporannya, apa dari pihak di pulau pulau itu” tanya Dean lagi.
“Awalnya kami memang menerima laporan langsung dari pihak pihak di setiap pulau. Kemudian kami melakukan cross chek dengan pihak otoritas penerbangan dan kami menemukan data data dan fakta yang sama. Sepertinya, helicopter itu tidak menuju ke salah satu pulau milik keluarga Mahardika. Kami menduga mereka membawa Nyonya Muda ke pulau lain yang tidak terdaftar sebagai pulau milik keluarga Mahardika” jawab Rio lagi.
“Cek rekening Daniel, aku yakin dia sudah melakukan pembelian entah pulau atau tempat tertentu yang terpencil. Cek aliran dana yang tidak wajar sehingga kita bisa memprediksi apa yang sudah dilakukannya” ucap Dean.
“Akan kami lakukan, Tuan, tentunya dengan ijin dari pihak yang berwenang, walaupun itu tidak akan jadi masalah, karena keadaan dan status Daniel saat ini sudah menjadi buronan. Tapi, mohon maafkan kami, Tuan, cara ini pasti akan memerlukan waktu yang tidak sebentar” sahut Rio lagi.
“Lakukan secepat yang kalian bisa, sambil kita mencoba mencari celah lainnya” sahut Dean dengan wajah dingin. Otak cerdasnya sedang berusaha menemukan cara tercepat untuk bisa menemukan keberadaan Qiandra. “Aku ingin melihat kembali kejadian tadi”
lanjutnya lagi seraya melangkah menuju ke ruang tengah yang menjadi pusat dari ruang kendali.
Ruang ini hanya bisa diakses oleh asisten Vian, dan tadi sempat diserahkannya pada Rio. Asisten Vian segera mengikuti langkah sang bosnya itu. Sementara Rio tidak ikut
serta karena asisten Vian sudah memberikan kode padanya untuk melanjutkan perintah yang diberikan Dean.
“Tuan, apa Anda benar benar yakin ingin melihat semuanya lagi” tanya asisten Vian, dia khawatir semua itu akan memicu amarah Dean lagi.
“Aku ingin melihat dengan lebih detil, siapa tahu aku bisa menemukan setitik petunjuk, paling tidak aku bisa melihat kondisi terakhir
Qiqi” sahut Dean dengan yakin. Laki laki
itu masuk ke dalam ruangan mewah yang dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih itu, lalu mengambil tempat duduk di kursi utama dimana dia bisa melihat beberapa layar lebar yang ada di hadapannya.
Asisten Vian segera memutar kembali setiap tayangan yang dimulai sejak Dean dan Qiandra masuk ke dalam ballroom mewah itu. Dean benar benar memperhatikan setiap adegan yang berlangsung, kadang dia meminta asisten Vian menghentikan tayangan itu dan memperjelas beberapa hal disana.
“Wanita ular itu benar benar telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mengapa aku bisa terkecoh dengan sikapnya, dia bukanlah tipe wanita yang bisa menerima kekalahan. Tapi dia bisa terdiam dan tetap bertahan meskipun dia jelas jelas sudah dipermalukan oleh Qiqi” desah Dean pada dirinya sendiri.
Asisten Vian hanya berdiam diri dan tidak memberikan tanggapan pada kata kata Dean. Dia tahu kalau Dean tidak mengharapkan tanggapan, laki laki itu hanya bergumam pada dirinya sendiri. “Berhenti di situ, dan ambil arah sebaliknya” ucap Dean tiba tiba saat sampai pada adegan dia
merengkuh tubuh Qiandra dan wanita itu memeluk dirinya.
Asisten Vian segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Dean. Dengan cara itu Dean bisa melihat apa yang terjadi dibelakang punggungnya saat dia memeluk Qiandra. Pemandangan yang dilihat oleh Qiandra saat tiga titik cahaya merah mengarah pada punggung dan kepala Dean. Dean tahu kalau saat itu wajah Qiandra
seketika menjadi pias dengan bibir yang bergetar, yang tampak pada layar lainnya.
Saat Daniel menarik tubuh Qiandra dan merengkuh wanita itu, Dean bisa melihat kalau Daniel membisikkan sesuatu pada Qiandra. “Putarkan rekaman pembicaraan mereka, bukankah alat penyadap masih ada di tubuh Qiandra saat itu” ucap Dean pada
__ADS_1
asisten Vian.
Asisten Vian hanya mengangguk lalu mulai mengetikkan beberapa hal di keyboard yang ada di hadapannya. Tidak berapa lama, Dean bisa mendengar pembicaraan Daniel dan Qiandra yang dilakukan dengan berbisik pada saat itu.
“Ikuti aku, atau ketiga senjata itu memecahkan kepala Dean saat ini juga” bisikan Daniel terlihat benar benar membuat Qiandra langsung menjadi lemah dan dengan pasrah mengikuti laki laki itu. Dean bisa melihat sendiri wajah khawatir istrinya itu, juga buliran bening yang perlahan mengalir di pipi cantik sang istri.
Dean akhirnya meneruskan perhatiannya pada rekaman pembicaraan yang ada di sekeliling Qiandra yang terekam melalui alat pelacak di tubuh istrinya itu. Dean juga sempat mendengar saat sang istri sepertinya berusaha kabur dan berseru seperti ingin minta tolong, namun setelah itu Dean hanya mendengar bunyi tubuh yang terjatuh dalam dekapan seseorang. Dan tidak berapa lama setelah itu Dean mendengarkan bunyi tiga buah tembakan yang diyakininya sebagai tembakan yang mengenai tubuh sang Daddy.
Walaupun harus mengeratkan rahangnya menahan amarah karena Dean mengetahui kalau istrinya jatuh dalam pelukan laki laki lain. Namun, dia sedikit merasa lega karena
mendengar suara terakhir dari Qiandra adalah sesaat sebelum bunyi tembakan.
“Vian, berarti Qiandra sudah tidak sadarkan diri sesaat sebelum bunyi tembakan, bagaimana menurutmu” tanya Dean memastikan analisanya pada sahabat sekaligus asistennya itu.
“Sepertinya begitu, Tuan, tampaknya Nyonya Muda memang dibius dan bukan karena traumanya. Karena suara Nyonya Muda terputus sesaat sebelum terdengar bunyi tembakan. Jika mendengar suara itu, saya menduga Nyonya Muda sempat ingin melarikan diri dan minta tolong” sahut asisten Vian.
“Tapi mengapa dia baru mau minta tolong setelah dia berada jauh dariku” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Saya menduga, Nyonya Muda sedang berusaha mengulur waktu, karena dia melihat keberadaan saya yang cukup jauh dari Anda. Dan mungkin juga saat berada di lorong yang
memang tidak ada kamera CCTV disana, Nyonya Muda baru menyadari kalau orang
orang kita sudah dilumpuhkan” sahut asisten Vian memberikan analisanya.
“Memangnya orang orang kita di lorong itu sudah mereka lumpuhkan” tanya Dean lagi.
“Sudah, Tuan, bahkan sampai saat ini mereka masih dalam perawatan intensif” sahut asisten Vian lagi.
aku jaga dan aku lindungi justru harus berkorban demi melindungi dan
menyelamatkan nyawaku” desis Dean dengan wajah frustasi.
Dean benar benar merasa bersalah saat ini, dia merasa gagal mengemban pesan Qiandra untuk memastikan semuanya benar benar aman dan ada dalam kendalinya. Hingga akhisrnya wanita itu harus rela masuk dalam perangkap Daniel demi untk menyelamatkan
dirinya. Demikian pula Daddy Walt yang
harus menjadi tameng hidup baginya.
Asisten Vian sungguh tidak menyangka kalau Dean malah menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Karena pada awalnya asisten Vian mengira Dean hanya akan dipenuhi
kemarahan dan dendam saja. Hal yang
benar benar mengejutkan saat melihat laki laki yang selalu terlihat tegar dan yakin dengan setiap keputusannya itu menyalahkan dirinya sendiri.
Asisten Vian bahkan tidak bisa berkata kata saking terkejutnya dia dengan kata kata yang keluar dari seoran Dean Walt Zacharias. Asisten Vian memastikan penglihatan dan pendengarannya, takut dia salah melihat orang yang sedang berbicara itu dan salah mendengar kata kata yang terucap dari mulut Dean tadi.
“Vian, apakah aku memang selemah itu” tanya Dean lagi dengan suara yang benar benar sarat dengan rasa bersalah.
“Dean, jangan pernah berpikir seperti itu” sahut asisten Vian yang bahkan tidak lagi menyebut Dean dengan sebutan ‘Tuan’ lagi.
“Lalu mengapa semua ini terjadi, Vian, mereka semua menggantungkan harapannya padaku. Qiqi sangat yakin mejalani semua ini karena dia percaya aku bisa melindungi
__ADS_1
dirinya. Tapi lihatlah, apa yang terjadi sekarang justru mereka semua yang harus menjadi korban kegagalanku” desis Dean
dengan suara yang lemah.
“Dean, jika kamu menyalahkan dirimu, bukankah kami jauh lebih bersalah lagi, karena kami gagal melaksanakan perintahmu, aku dan Albert, gagal melindungi kalian. Tapi apakah ada gunanya untuk saling menyalahkan saat ini, kurasa tidak ada gunanya. Tidak perlu memusingkan kepala dengan memikirkan siapa yang salah, siapa yang gagal atau siapa yang lemah. Mereka berdua, Daddy Walt dan Qiandra mengorbankan dirinya karena mereka percaya kamu bisa menyelesaikan semua
masalah ini” sahut asisten Vian dengan bijak.
“Bisa menyelesaikan masalah?, hah, bahkan sekarang saja kita telah menemui jalan buntu” desah Dean dengan putus asa.
“Jika kamu putus asa saat ini maka itu berarti kamu menyia nyiakan pengorbanan mereka berdua. Jika kamu menyerah saat ini, berarti kamu benar benar telah mengaku kalah, dan jika demikian maka kamu harus siap untuk kehilangan keduanya” sahut asisten Vian
berusaha membangkitkan semangat Dean lagi.
Dean tercenung mendengar kata kata sahabatnya itu, inilah yang dia perlukan saat ini. Di saat dirinya benar benar terpuruk dalam posisi terendah saat ini, Dean sungguh
mengharapkan dukungan dari sahabat sahabatnya itu. Dean sadar dirinya bukanlah manusia yang sempurna, karena itulah dia selalu menghargai kedua sahabatnya itu yang memang selalu siap mendukung dirinya dalam berbagai situasi.
“Bantu aku, Vian, aku tidak sanggup jika harus kehilangan salah satu saja dari mereka berdua. Aku ….. aku ….” Dean tak sanggup meneruskan kata katanya lagi.
“Dean, kamu tahu kalau kami berdua akan selalu ada di sisimu. Albert akan menjamin keselamatan Daddy Walt, dan sekarang tugasku adalah membantumu menemukan keberadaan Qiandra. Tapi semuanya akan sia sia jika kamu sendiri putus asa dan menyerah saat ini. Kami akan selalu mendukungmu, tapi kamu sendiri harus berdiri tegak untuk menghadapi masalah ini” sahut asisten Vian lagi.
Dean termenung menatap pada sahabatnya itu. Dean sama sekali tidak meragukan kesetiaan kedua sahabatnya itu. Namun, rasa
bersalah begitu besar menguasai dirinya sehingga dia merasa otaknya benar benar
buntu. Hatinya yang begitu rapuh karena rasa bersalah membuatnya seolah kehilangan semangat dan otak cerdasnya.
Dean tetap termenung, bahkan saat semua rekaman baik suara maupun adegan di layar yang ada dihadapannya telah berakhir. Dean menatap semua itu dengan pandangan
kosong, telinganya seperti tidak mendengar pembicaraan yang terekam melalui alat pelacak di tubuh Qiandra saat sebelum semuanya itu dibuang oleh Daniel.
Sikap Dean yang seperti itu membuat asisten Vian merasa khawatir. Dia segera mengambil
phonselnya dan mengetikkan pesan pada dokter Albert untuk memberitahukan keadaan Dean. Tak lama berselang, phonsel asisten Vian bergetar menunjukkanada pesan yang masuk, dan saat dia membukanya ternyata itu pesan dari dokter Albert.
“Dia hanya lelah, tubuh dan batinnya, suruh dia istirahat, atau berikan dia obat tidur dosis rendah. Lakukan tanpa dia ketahui, dia tidak akan mau tutup mata dengan sukarela
kalau tidak diberi obat tidur” balasan pesan dari dokter Albert.
Asisten Vian segera memahami perintah dokter Albert, dia juga mengerti kalau Dean memang benar benar lelah. Diam diam asisten Vian melangkah keluar dari ruangan itu, lalu menuju ke kotak penyimpanan obat yang tersedia di ruang kendali itu. Asisten Vian mengambil sebutir obat tidur dan segelas air. Asisten Vian lalu mencampur obat itu dengan air minum hingga benar benar terlarut.
Setelah itu, asisten Vian membawa gelas itu kembali ke ruang pusat kendali. Disana dia masih melihat Dean yang terpaku dengan tatapan kosong menatap ke arah layar yang masih terus menayangkan keadaan di ballroom setelah kepergian Qiandra. Asisten Vian melangkah mendekati Dean dan menepuk pundak sahabtnya itu dengan lembut.
“Minumlah dulu, kamu perlu sedikit tenaga tambahan” ucap asisten Vian sambil menyerahkan minuman yang sudah dicampur dengan obat tidur itu.
Dan tanpa curiga sedikitpun, Dean langsung mengambil gelas itu dan menegak isinya hingga tandas. Setelah itu, dia menyerahkan gelas itu kembali pada asisten Vian dan
kembali fokus pada layar yang ada di hadapannya.
Namun, tidak berapa lama, Dean merasa matanya semakin berat. Berulang kali dia menggoyang kepalanya untuk membuang rasa kantuk yang semakin hebat mendera dirinya. Tapi, pada akhirnya dia tidak bisa menolaknya, Dean akhirnya terkulai lemas di kursinya.
__ADS_1