
Sementara itu, di tempat yang lain, Presidir Dika segera keluar setelah menemui Qiandra dan Dean. Asisten Dika memang sengaja menemui Qiandra, karena sejujurnya dia merasa sangat khawatir terhadap keselamatan Qiandra. Saat melihat bahwa wanita itu baik baik saja, walaupun masih terlihat lemah, presidir Dika merasa cukup lega.
Sampai saat ini Dika benar benar masih belum mengerti dengan perasaannya pada Qiandra. Dika selalu mencemaskan wanita itu, dan selalu ingin tahu keadaan Qiandra. Bahkan saat Qiandra sedang berada dalam persembunyiannya dulu, Dika selalu memantau keberadaan wanita itu.
Setelah masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu dirinya di lobby rumah sakit, Dika segera mengambil phonselnya. Dika menekan sebuah nomor, dan tanpa menunggu lama sambungan teleponnya langsung diangkat.
“Hallo, Tante Clay, dimana Tante sekarang” sapa Dika setelah mendengar teleponnya tersambung.
“Hallo Dika, tante sekarang ada di pentha house Qiandra, ada apa Nak” sahut suara di seberang sana menyahut Dika.
“Kalau begitu aku akan menemui Tante di sana” sahut Dika.
“Eh, Jangan Nak, Dean sangat protektif, biar Tante saja yang keluar, kamu temui tante di mini market dekat pentha house ini saja ya, tante menuju kesana sekarang” sahut suara itu lagi.
“Baiklah, Tante, bisakah Tante mengatur waktu agar bisa keluar selama beberapa waktu tanpa dicurigai atau diikuti oleh orang lain” tanya Dika lagi.
“Baiklah, akan aku usahakan” sahut suara itu lagi.
“Baik, Tante, sampai bertemu di mini market nanti” ucap Dika lalu mengakhiri panggilan telepon yang dilakukannya menggunakan saluran pribadi. Dika lalu meminta supirnya untuk berhenti di pinggir jalan, dan saat mobil menepi, Dika memberikan uang kepada sopirnya.
“Paman, mohon maaf, aku ada urusan pribadi, Paman naik taksi saja ya, pulang saja, aku meliburkan Paman hari ini” ucap asisten Dika kepada sopirnya.
“Ah, baik, Tuan, tapi uang ini terlalu banyak Tuan, rumah saya juga tidak begitu jauh” sahut sang sopir sopan.
“Tidak apa apa, Paman, anggap saja ini rejeki Paman” sahut asisten Dika seraya menyodorkan beberapa lembar uang pada sopirnya dan disambut oleh sopir itu dengan suka cita. Bagaimana tidak senang, selain mendapatkan uang, dia juga mendapatkan libur selama hampir satu hari, karena hari masih pagi saat ini.
Setelah sopirnya turun, Dika segera beralih ke kursi kemudi dan langsung membawa mobil itu melaju menuju pentha house milik Dean. Saat memasuki komplek apartemen mewah itu, Dika melihat dimana letak mini market yang dimaksud oleh orang yang diteleponnya tadi. Saat dia melihat mini market yang dimaksud, Dika segera memakrkirkan mobilnya di halaman mini market itu.
Dika tidak segera keluar dari dalam mobilnya, dia bahkan sengaja mengatur posisi duduknya agar lebih tersembunyi. Walaupun kaca mobilnya gelap, tapi Dika tetap tidak ingin mengambil resiko ada yang mengenali dirinya. Dika tidak ingin ada yang mengetahui pertemuannya hari ini.
Tidak berselang lama, Dika melihat sebuah taksi berhenti di depan pintu mini market dan saat taksi itu berlalu, Dika bisa melihat siapa yang turun dari taksi itu. “Tante Clay” desis Dika, Dika tidak segera menyusul melainkan membiarkan wanita itu masuk ke dalam mini market itu dulu.
Dika memperhatikan keadaan di sekitarnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti wanita itu. Setelah yakin bahwa wanita itu tidak sedang diikuti, Dika mengambil phonselnya dan segera melakukan panggilan.
“Hallo, Tante Clay, ada aku yang akan menjemputmu di pintu depan mini market, aku memakai mobil hitam” ucap Dika pada seseorang yang ada di panggilan phonselnya.
__ADS_1
“Baik, Nak, aku segera keluar” sahut suara itu yang langsung memutuskan panggilan telepon mereka.
Dika segera bergerak perlahan menuju pintu mini market, dan saat dilihatnya sosok yang dihubunginya tadi sudah keluar, dia segera berhenti di depan pintu mini market itu. Dika membuka kaca mobilnya, “Masuklah, Tante” serunya kepada seorang wanita tua yang tak lain dari Bik Sum itu.
Bik Sum, wanita yang dipanggil Dika dengan panggilan Tante Clay segera masuk ke dalam mobil milik Dika. “Apa semuanya aman, Tante” tanya Dika saat Bik Sum sudah duduk di sampingnya.
“Semoga saja, Nak, karena Tante rasa, asisten Vian cukup curiga dengan pertemuan kita tadi” sahut Bik Sum.
“Ah, maafkan aku yang tanpa sadar tadi menyapa Tante dengan menyebut nama Tante, aku sungguh terkejut melihat keberadaan Tante di sana” sahut Dika.
“Tante juga sangat terkejut, Nak, rasanya Tante hampir tidak percaya bisa melihatmu saat ini, Tante mengira kamu sudah …..” ucap Bik Sum dengan mata yang kembali berlinang air mata.
“Tuhan masih memberikan perlindungannya, Tante, sehingga Dika bisa ada sampai saat ini” sahut Dika dengan wajah sendu. Hatinya kembali merasa pedih saat mengingat peristiwa tragis yang menimpa keluarganya dan merenggut seluruh orang orang yang dikasihinya.
Setelah itu, tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara keduanya, mereka seolah sama sama tenggelam dalam pikiran masing masing. Tanpa berkata kata keduanya ternyata sama sama kembali pada kenangan masa lalu saat berpuluh puluh tahun silam. Sebuah kenangan buruk yang menyebabkan mereka terpisah dan meninggalkan jejak kelam dalam hidup mereka.
Dika membawa Bik Sum ke sebuah mansion yang terletak di pinggiran kota, mansion yang terlihat sangat mewah namun terlindung oleh pagar tinggi. Tembok tinggi ini membuat orang yang melewati mansion itu tidak begitu tertarik, karena tembok itu dibiarkan terlantar dan ditumbuhi oleh semak belukar. Namun, saat gerbang dibuka, Bik Sum sungguh terkejut melihat pemandangan yang terbentang di hadapannya.
Sebuah mansion mewah, dengan halaman luas yang terlihat sangan bersih dan terawat rapi. Bik Sum menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat mansion itu. Bukan hanya karena kemewahannya tetapi desain mansion itu, membuat Bik Sum kembali meneteskan air matanya.
Wanita tua itu masih menutup mulutnya dengan air mata yang masih mengalir dipipinya. Bahkan bahu Bik Sum terguncang hebat karena tangisannya. “Apa Tante ingin masuk sekarang” tanya Dika seraya menggenggam jemari wanita tua itu seolah memberi kekuatan untuknya.
“Tu tunggu dulu, Nak, ini ini terlalu mengejutkan bagiku, aku, aku …....” Bik Sum kembali terisak dengan hebat. Wanita tua itu kembali merasakan sakit yang teramat dalam atas semua kehilangan dan kejadian tragis itu.
Dika segera meraih tubuh wanita tua itu dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Tangannya menepuk lembut punggung Bik Sum seolah berusaha memberi ketenangan pada wanita tua itu. Namun, bukannya tenang, pelukan Dika justru membuat Bik Sum semakin terguncang. Dika sendiri tidak bisa berkata apa apa, karena dia pun sedang bergulat dengan berbagai duka dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Bik Sum bisa sedikit lebih tenang. Wanita tua itu meraih tissue yang ada di mobil Dika dan berusaha membersihkan wajahnya. Namun, air mata masih terus mengalir di mata tuanya yang terlihat sangat berduka. “Maafkan Tante, Nak, ini terlalu mengejutkan, Tante sungguh tidak menyangka akan kembali melihat bangunan ini” ucap Bik Sum diantara isak tangisnya.
“Tidak mengapa, Tante, Dika pun masih sulit menguasai diri setiap kali datang kesini. Sekarang, apakah Tante mau keluar” tanya Dika seraya melepas pelukannya pada Bik Sum.
“Baiklah, Nak, Tante siap sekarang” ucap Bik Sum seraya kembali menghapus air mata di pipinya. Dika segera keluar dari mobilnya dan berlari ke sisi di sebelah Bik Sum, lalu dia membuka pintu untuk Bik Sum.
Bik Sum yang keluar dari mobil langsung dipegang oleh Dika, dan dengan dituntun oleh Dika, keduanya melangkah memasuki mansion mewah itu. Namun, saat akan masuk melewati pintu depan, lutut Bik Sum kembali goyah dan kehilangan kekuatannya. Untung saja Dika masih memegang Bik Sum sehingga dia tidak terjatuh ke lantai.
Dika langsung menuntun Bik Sum menuju ruang tamu mansion mewah itu, dan Bik Sum kembali tercekat saat melihat sebuah foto keluarga yang luar biasa besarnya terpampang di ruang tamu itu. Foto yang menampakkan sepasang suami istri bersama satu orang anak laki laki berumur sekitar sepuluh tahun dan seorang anak perempuan berumur sekitar dua tahun.
__ADS_1
Wajah keempat orang dalam foto itu terlihat tersenyum penuh kebahagiaan. Bik Sum hampir tersungkur saat melihat foto yang begitu menyakitkan baginya. Wajah keluarga yang begitu dicintainya, namun harus pergi dan hancur, yang membuat Bik Sum bahkan enggan untuk mengingatnya kembali karena rasa sakit yang dirasakannya.
Dika segera menuntun Bik Sum untuk duduk di kursi tamu yang ada di ruangan itu, kursi yang posisinya tepat menghadap ke foto keluarga itu. “Kak Queensha …...., aku, aku merindukanmu” desis Bik Sum dalam isakannya.
Yah, foto keluarga itu adalah foto keluarga kecil Dika bersama kedua orang tuanya, Kenrich Hamilton dan Queensha Hamilton. Sementara kedua anak kecil itu adalah Dika kecil dan adiknya Felicia. Foto itu adalah foto terakhir mereka yang diambil sehari sebelum kejadian tragis itu menimpa keluarga mereka. Entah bagaimana Dika bisa menemukan foto itu dan akhirnya bisa terpajang dengan indah di ruang tamu mansion mewah itu.
“Daddy, Mommy dan Feli, mereka bertiga sudah bahagia disana, Tante, saat ini kita hanya bisa mengenang mereka dalam angan dan hati kita” ucap Dika seraya membelai foto keluarganya itu. Air mata akhirnya mengalir di sudut mata laki laki tampan itu. Rasa sesak yang di tahannya sejak tadi, akhirnya tidak bisa lagi dibendungnya.
“Tidak, tidak, bukan mereka bertiga, tapi hanya Kakak dan kakak ipar saja” desis Bik Sum yang seketika membuat kepala Dika berpaling dan menatap Bik Sum dengan kening mengernyit dalam.
“Apa maksudmu, Tante, apa maksudmu bukan mereka bertiga” tanya Dika seraya melangkah mendekati Bik Sum. Dia segera mengambil posisi duduk di hadapan Bik Sum agar dia bisa melihat wajah wanita tua itu.
“Iya, hanya ayah dan ibumu yang menjadi korban, Nak, tapi tidak dengan adik kecilmu, Feliciaku” sahut Bik Sum yang semakin membuat Dika terkejut sekaligus kebingungan.
“Tante, tolong bicara yang jelas, jangan membohongiku dan membuat aku menyimpan sebuah harapan yang akan sangat menyakitkan aku” desis Dika yang semakin tidak karuan perasaannya mendengar penjelasan Bik Sum.
“Benar, Nak, Tante tidak berbohong atau memberi harapan palsu untukmu. Adikmu, Feliciaku, dia selamat, dan sekarang dia sudah dewasa, Nak” sahut Bik Sum.
“Tante, itu, itu sangat tidak mungkin. Aku sendiri yang meninggalkan Feli dalam ruang rahasia itu, dan aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri , bagaimana para bajingan itu membakar tubuh kecil adikku” desis Dika dengan tangan mengepal. Amarahnya kembali tersulut saat mengingat kekejaman yang dilakukan pada keluarganya.
“Kamu memang meninggalkan adikmu saat itu, Nak, namun dia yang sangat ketakutan akhirnya memutuskan untuk menyusul dirimu dan keluar dari ruang rahasia itu. Namun, sayangnya saat dia berusaha mengejarmu, dia terjatuh dan terguling dari tangga sehingga membuatnya kehilangan kesadarannya” ucap Bik Sum sambil menerawang mengingat peristiwa berpuluh tahun yang lalu.
Flash back …...
Clayandra atau yang biasa dipanggil Clay atau Tante Clay oleh Dika kecil dan Felicia adik Dika, saat itu sedang berada di dapur untuk menyiapkan susu untuk kedua keponakannya. Clayandra memang diminta menjadi pengasuh kedua keponakan kecilnya itu, karena baik Kenrich maupun Queensha tidak berani mempercayakan Dika dan Felicia pada pengasuh dan pelayan saja.
Hal itu sangat disetujui oleh Clayandra karena dia juga sangat menyayangi kedua keponakannya itu. Clayandra sendiri baru saja menyelesaikan pendidikannya, dan sementara dia memikirkan ingin bekerja di perusahaan yang mana, dia memilih untuk mengasuh kedua keponakannya terlebih dulu.
Saat sedang menyeduh susu untuk Dika dan Felici, Clayandra dikejutkan dengan bunyi keributan di luar mansion. Dia pun bergegas menuju ke arah sumber suara keributan itu dari arah samping mansion yang agak tersembunyi. Clayandra hampir saja menampakkan dirinya kepada gerombolan orang orang yang membuat keributan itu, namun langkahnya terhenti saat melihat gerombolan orang orang bersenjata yang datang.
Clayandra bahkan segera menyembunyikan diri, saat melihat orang orang itu melangkah ke arah dirinya. Dan ternyata, beberapa orang dari gerombolan bersenjata itu berjaga di depan pintu yang menjadi jalan Clayandra keluar tadi. Hal ini menyebabkan Clayandra tidak dapat kembali masuk ke dalam mansion lagi.
Karena terjebak di luar mansion, akhirnya Clayandra memutuskan untuk melihat apa yang terjadi dan berusaha mengenali orang orang yang datang ke mansion kakaknya itu. Terlihat ada puluhan orang yang datang dengan lima mobil jeep dan sudah mengepung mansion keluarga Hamilton. Clayandra sama sekali tidak bisa mengenali siapa orang orang tersebut, hingga sebuah suara mengejutkan Clayandra.
“Kenrich, keluar kamu, jangan bersembunyi seperti pengecut!!!!!” seru sebuah suara yang sangat dikenali oleh Clayandra dan membuat wanita muda itu tercekat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1