
Qiandra termenung sambil membiarkan air
hangat membuat seluruh tubuhnya terasa makin ringan. “Bagaimana Dean bisa menemukan aku, aku yakin semua pakaianku sudah dibuang oleh Daniel. Lalu bagaimana mereka bisa menemukan jejakku, aku sungguh tidak menyangka kalau Daniel dan Risty bisa merencanakan semua ini. Aku benar benar harus bisa bersikap tenang
menghadapi Daniel, aku tidak bisa menolaknya dengan kasar karena itu pasti bisa memancing emosinya yang pasti akan berbahaya untukku juga” desah Qiandra dalam hati.
Matanya menatap seluruh bagian kamar mandi mewah itu, namun pikirannya terus berkelana merancang berbagai rencana untuk
menghadapi Daniel. Qiandra sangat mengenal Daniel setelah dia bekerja selama tiga tahun bersama laki laki itu. Yah, walaupun selama beberapa saat terakhir Daniel terlihat sangat lembut, namun Qiandra juga tidak bisa percaya begitu saja pada sikap Daniel itu.
Qiandra yakin, sikap Daniel tidak akan bisa
berubah dengan seketika. Kalaupun dia
berubah, itu semua pasti karena dia memang punya niat tersembunyi. Sangat tidak mungkin rasanya seorang Daniel Putra Mahardika bisa berubah seketika. Karena itulah, Qiandra memutuskan harus tetap bersikap waspada terhadap semua kebaikan Daniel.
“Aku harus bisa menguasai diriku dan tidak
terlena dengan semua kelembutan dan kebaikan Daniel. Aku tidak ingin lengah dan membiarkan dirinya mengambil kesempatan. Haish, Dean, kapan kamu akan menjemputku, aku sungguh merindukanmu saat ini, aku hanya ingin bersembunyi dalam pelukanmu” desah Qiandra dalam hatinya.
“Mengapa, mengapa begitu sulit untukku
meraih bahagia, apa aku memang benar pembawa sial” desah Qiandra lagi dengan hati sedih. Baru saja dia menikmati bahagia bersama dengan Charles, lalu tiba tiba Charles direnggut darinya. Dan sekarang, baru saja dia menikmati bahagia bersama dengan Dean, Qiandra harus dihadapkan pada masalah Risty dan Daniel.
“Apa aku memang tidak pantas untuk hidup berdampingan dengan seorang pria yang aku cintai. Dua tahun aku bisa menikmati kebebasan dan bisa hidup bahagia tanpa tekanan dan masalah yang berarti. Dan sekarang, baru beberapa bulan aku menikah, masalah sudah harus hadir dalam hubungan rumah tanggaku. Hah, apa iya aku harus memilih untuk hidup sendiri seumur hidupku agar aku tidak membawa sial bagi laki laki yang kucintai” masih Qiandra asyik berdialog dengan hatinya sendiri.
Qiandra begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil bermain dengan gelembung sabun yang memenuhi seluruh tubuhnya. Qiandra benar benar tidak menyadari keadaan di sekelilingnya, hingga dia dikejutkan oleh
sebuah suara yang begitu lembut menyapa telinganya.
“Qi, astaga, kamu benar benar membuatku panik, cepatlah bersihkan dirimu kamu akan mati kedinginan jika terus berendam” seru Daniel yang ternyata sudah ada dalam kamar
mandi itu.
“Akhhh...... Daniel apa apaan kamu, bagaimana bisa kamu masuk ke sini” pekik Qiandra yang terkejut saat menyadari Daniel sudah masuk kamar mandi.
“Maaf, maafkan aku, Qi, aku mengkhawatirkan dirimu, kamu sudah terlalu lama didalam kamar mandi ini, beberapa kali aku memanggilmu kamu tidak menyahut, sehingga aku menjadi panik dan membuka kunci dengan paksa. Sungguh aku tidak bermaksud apa apa” ujar Daniel yang segera memalingkan tubuhnya saat mendengar kepanikan Qiandra.
“Ya sudah, sekarang sebaiknya kamu segera keluar, aku akan membersihkan diri dulu” ucap Qiandra pada akhirnya. Qiandra sungguh tidak menyadari kalau Daniel telah berulang kali memanggil dirinya, dia terlalu
asyik dengan alam pikirannya.
Daniel bernafas lega saaat mendengar Qiandra memaklumi kepanikannya, dengan patuh laki laki itu segera melangkah meninggalkan kamar mandi mewah itu. Walau Daniel harus setengah mati menahan
gejolak gairah dalam dirinya saat membayangkan tubuh Qiandra di balik busa
sabun yang menutupi tubuh wanita itu di dalam bathup tadi.
“Sabar, sabar, Daniel, kamu harus bisa bersabar jika ingin memenangkan hatinya. Jika hatinya sudah berhasil kamu menangkan
maka semuanya bisa menjadi milikmu. Tapi
jika kamu memaksa menyentuh tubuhnya saat ini, maka jangan harap kamu akan mendapatkan apapun” desah Daniel berusaha menguatkan hatinya sendiri dan menekan gejolak gairah yang muncul dalam dirinya.
Sementara Qiandra sendiri setelah memastikan Daniel benar benar telah meninggalkan kamar mandi, dia segera keluar dari bathup. Qiandra dengan cepat membersihkan sisa busa sabun yang masih melekat di tubuhnya. Qiandra melakukannya dengan cepat karena dia khawatir Daniel akan kembali lagi, selain itu dia juga baru merasakan kedinginan.
Dengan tubuh menggigil, Qiandra secepat kilat meraih jubah mandi yang ada di kamar mandi itu. Dia juga segera mengeringkan
__ADS_1
rambutnya dengan handuk, dan langsung memasang pakaiannya setelah merasa
tubuhnya cukup kering. Qiandra tidak mau
keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi karena dia yakin
Daniel pasti sedang di luar.
Dugaan Qiandra tidak meleset, Daniel memang sedang ada di luar kamar menanti wanita itu keluar. “Sekali lagi aku minta maaf, Qi, aku sungguh tidak bermaksud.....” kata kata Daniel terpotong oleh ucapan Qiandra.
“Sudahlah, jangan dipikirkan, salah aku juga karena terlalu asyik sendiri. Sekarang apa kamu akan mandi juga, atau kita akan langsung sarapan” tanya Qiandra yang merasa perutnya sedikit perih, mungkin karena efek kedinginan.
“Ah, baiklah, ijinkan aku mandi sebentar, lalu kita bisa segera sarapan, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita berdua di balkon” ucap Daniel. Lalu laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara Qiandra masih mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang ada di meja hias. Qiandra kembali hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat peralatan makeup yang ada diatas meja hias itu. Semua perlengkapan itu benar-benar sesuai
dengan kesukaannya juga beberapa parfum yang memang selalu digunakannya dulu.
Saat Qiandra sedang asyik mengeringkan rambutnya, dia melihat bayangan Daniel yang sudah keluar dari kamar mandi. Qiandra bahkan tertegun saat melihat keindahan tubuh laki laki itu yang hanya menutupi tubuh
bagian bawahnya dengan handuk. Tetesan
air mengalir dari rambutnya yang masih basah dan terlihat acak acakan.
Qiandra tertegun melihat kesempurnaan tubuh Daniel, dengan dada bidang yang berbulu dan perut sixpack yang begitu sempurna. Otot otot tubuhnya terlihat begitu kekar dan menonjol dengan sempurna menjadikan tubuh itu seperti pahatan yang sangat sempurna. Rambut Daniel yang basah dan acak acakan membuatnya terlihat jauh lebih macho dibanding yang biasa Qiandra lihat.
“Tubuhku ini milikmu, Qi, kapanpun kamu menginginkannya kamu bisa menyentuhnya. Tak perlu kamu sembunyi sembunyi melihatku seperti itu, kata orang kalau mengintip bisa menyebabkan bintilan lho” goda Daniel pada Qiandra yang sontak membuat wajah wanita itu merona.
“Ehmmm, bisakah kamu segera berpakaian, aku sudah kelaparan” ucap Qiandra yang segera memalingkan wajahnya dan menutupi perasaan kagumnya sendiri.
“As you want, tunggu sebentar, aku akan segera bersiap” ucap Daniel yang segera melangkah menuju walk in closet.
“Mari, kita sarapan dulu” ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Qiandra melangkah menuju balkon kamar mewah itu.
Qiandra kembali tertegun melihat ketampanan Daniel yang hanya mengenakan celana pendek dan baju hem lengan panjang. Bagian lengan baju itu dilipat hingga ke siku dengan beberapa kancing bagian atas yang dibiarkan terbuka. Dan semua itu justru membuat Daniel semakin macho. Namun, Qiandra bisa menguasai kekagumannya dengan cepat, dia tidak ingin merasa malu lagi karena mengagumi laki laki itu.
Qiandra segera melangkah ke arah balkon yang sudah dipersiapkan Daniel untuk tempat mereka berdua menikmati sarapan pagi ini. Qiandra kembali terpukau saat melihat pemandangan yang terbentang dan terlihat dari balkon. Pantai luas dengan hamparan
pasir putih serta lautan luas tidak bertepi yang begitu indah memanjakan mata
wanita itu. “Silahkan duduk, Qi” ucap Daniel seraya menarik sebuah kursi untuk Qiandra.
Qiandra hanya mengangguk, dan dia kembali tertegun saat melihat menu yang disediakan di atas meja. Semua menu itu adalah menu
kesukaannya untuk sarapan, segelas teh hangat dan nasi goreng dengan banyak
sayur. “Daniel....” Qiandra tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Ada apa, Qi, apa ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu, maaf, aku sendiri yang menata semuanya, jadi agak berantakan, aku hanya ingin menyiapkan yang terbaik untukmu” ucap Daniel yang terdengar sedikit khawatir.
“Tidak, tidak, ini sudah jauh lebih dari cukup, terima kasih” ucap Qiandra tanpa ada niat
memuji Daniel, tapi juga tidak ingin mengecewakan laki laki itu. Qiandra sangat menghargai perjuangan Daniel mempersiapkan semua itu, dan Qiandra percaya kalau semua itu memang Daniel yang
melakukannya. Karena Qiandra bisa melihat tatanan meja yang memang sedikit kacau dan bukan merupakan sentuhan
tangan pelayan.
__ADS_1
“Ah, syukurlah kalau begitu, silahkan, Qi, bukankah kamu sudah lapar tadi, hmmm” ucap Daniel masih dengan suara lembut.
Qiandra hanya mengangguk lalu segera menikmati nasi gorengnya. Qiandra berusaha tidak terlalu sering menatap Daniel, karena dia tahu laki laki itu terus memperhatikan dirinya dengan senyum hangat sehagat mentari pagi saat ini. Bagaimanapun Qiandra menolaknya, dia tidak bisa juga membantah kalau sosok Daniel saat ini benar benar sempurna.
“Kenapa kamu selalu menghindar menatapku, Qi, apa ada yang salah dengan wajahku sehingga kamu tidak sudi menatapku” tanya Daniel yang menyadari kalau Qiandra selalu
memalingkan wajahnya.
“Yah, salah, karena wajahmu terlalu tampan” bisik hati Qiandra. “Ah, tidak, aku bukan tidak mau menatapmu, aku hanya lebih suka menikmati pemandangan laut saja” kilahnya dengan cepat tidak ingin Daniel mengetahui isi hatinya.
“Oh, begitu ya, tapi sepertinya kamu dari tadi kau hanya melihat makanamu saja, aku belum melihatmu mengangkat wajahmu untuk melihat pemandangan” goda Daniel yang tahu kalau Qiandra berbohong.
“Aaaa, itu, itu, aku hanya takut ada kotoran dalam makananku” kilah Qiandra lagi dengan gugup, sadar kalau Daniel bisa membaca kebohongannya.
Daniel hanya tersenyum menatap wanita itu, dia sangat tahu kalau tidak ada wanita yang mampu menolak pesonanya, apalagi dalam mode santai seperti ini. “Ya, sudah, lanjutkanlah makanmu, atau kamu mau nambah lagi” ucap Daniel.
Daniel tidak tega menggoda Qiandra terus menerus, dia sudah melihat wanita itu salah tingkah dengan wajah yang terus merona. Daniel tidak ingin Qiandra tidak makan dengan benar hanya karena godaannya. Dia hanya menikmati wajah wanita itu yang
kadang tertutup oleh kibaran rambutnya.
“Pakailah ini, Qi” ucap Daniel sambil menyerahkan sebuah ikat rambut dari dalam kantong celananya.
“Hmmm, apa aku terlihat menjijikkan dengan rambut seperti ini” tanya Qiandra yang menyadari kalau rambutnya memang sedikit berantakan bahkan beberapa helai masuk ke
piringnya.
“Tidak, Qi, aku hanya tidak ingin kamu terganggu dengan sarapanmu, jika kamu mengijinkan aku bersedia mengikat rambutmu” ucap Daniel menawarkan bantuannya.
Qiandra tidak punya pilihan lain, dia tidak mungkin menggunakan tangannya untuk mengikat rambutnya. Sementara kedua tangannya sedang memegang sendok dan garpu. Akhirnya dia mengangguk pasrah menyetujui keinginan Daniel yang ingin
mengikat rambutnya.
Daniel segera berdiri dan melangkah ke belakang kursi Qiandra. Dengan lembut laki laki itu mengumpulkan helaian rambut Qiandra, “Katakan jika ada yang sakit ya, Qi, maklum aku tidak pernah sekalipun melakukan ini” ucapnya seraya mengikat rambut Qiandra dengan penjepit rambut yang dipegannya.
Qiandra hanya berdiam diri, sungguh dia merasa sangat malu saat ini, bagaimana bisa dia membiarkan Daniel sampai mengikat rambutnya. Tanpa Qiandra sadari, Daniel harus kembali berjuang menahan tanganya
untuk tidak menyentuh leher putih jenjang yang terpampang di hadapan matanya
saat ini.
Daniel harus berusaha mati matian mengontrol dirinya agar tangannya tidak bergerak membelai leher Qiandra. Berkali kali Daniel menelan salivanya dengan kasar dan menghembuskan nafas dengan berat. Daniel tidak mau Qiandra mengetahui keadaan
dirinya, karena itu akan membuat wanita itu ketakutan.
Oleh sebab itu, Daniel menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Karena selain menghindari dirinya yang tak mampu menguasai gejolak gairahnya, Daniel juga tidak ingi Qiandra berprasangka buruk pada dirinya.
“Maaf, jika tidak rapi, Qi, setidaknya itu bisa membuatmu makan dengan aman” ucap Daniel pada akhirnya saat dia sudah duduk kembali di kursinya.
“Terima kasih, dan maaf sudah merepotkanmu, aku tidak tahu kalau kita akan makan di dekat pantai tadi” ucap Qiandra yang benar benar merasa malu atas kecerobohannya. Qiandra sadar semua itu terjadi karena dia terlalu sibuk menguasai perasaan hatinya yang kacau balau saat melihat Daniel pagi ini.
“Tidak mengapa, Qi, makanlah, jika kamu mau aku bisa mengajakmu berjalan jalan di pantai ini, mumpung harinya masih pagi dan matahari belum terlalu terik” ucap Daniel masih dengan suara lembut dan senyuman yang membuat wajahnya semakin mempesona.
“Hmmm...” sahut Qiandra sambil mengganggukan kepalanya sedikit. Berjalan keluar dari villa itu jauh lebih baik daripada harus terus tinggal dalam kamar bersama dengan Daniel. Selain itu, Qiandra juga bisa melihat lihat sekitar, siapa tahu ada celah baginya untuk bisa melarikan diri.
“Kamu bisa mengganti gaunmu nanti, Qi, jika kamu merasa kesulitan dengan gaunmu saat ini” ucap Daniel lagi.
Qiandra menyadari pakaiannya sangat tidak cocok untuknya berjalan di pantai, gaun lengan panjang dengan model span di bagian bawahnya. Tapi, Qiandra tidak punya pilihan lain, semua gaun di dalam lemari pakaian itu adalah gaun yang terbuka dan akan mengekspos sebagian tubuhnya.
__ADS_1
“Tidak, aku akan menggunakan pakaian ini saja” ucap Qiandra pada akhirnya, “Apa ada masalah” tanyanya lagi.
“Ah, tidak, tidak, terserah padamu saja” sahut Daniel.