
Walt Zacharias, laki laki paruh baya yang masih terlihat tampan di usianya yang tidak muda lagi, duduk di kursi roda dengan aura yang cukup membuat orang yang ada di
sekitarnya merasa segan bahkan hanya untuk mengangkat kepala. Walt Zacharias memasuki pintu istana dengan disambut oleh semua pelayan dan para bodyguard yang berbaris dari gerbang hingga ke pintu utama.
Walaupun terlihat tidak perduli, namun Walt Zacharias meneliti semua pelayan dan bodyguard yang sedang berbaris menyambut kedatangannya. Tiba tiba dia mengangkat tangannya, membuat kepala pelayan yang sedang mendorong kursi rodanya seketika berhenti. “Angakat kepalamu” ucap Walt Zacharias pada seorang pelayan.
Pelayan yang tidak lain dari Dika itu seketika terkejut, namun dia berusaha mengatasi
keterkejutannya. Perlahan Dika bersimpuh
di samping kursi roda Walt Zacharias dan dengan perlahan pula dia mengangkat
kepalanya. “Maafkan saya, Yang Mulia,
ini pelayan baru, dokter Albert mengatakan kalau pelayan ini yang bertugas di wilayah pribadi Anda untuk menyiapkan segala sesuatu yang mungkin Anda perlukan saat kembali ke istana” ucap kepala pelayan.
“Albert?” desis Walt Zacharias, dia menatap wajah Dika dan seketika keningnya mengkerut, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi sedikit pias dengan tangan mencengkram pegangan kursi rodanya. Kepala pelayan yang melihat perubahan itu cukup terkejut.
“Yang Mulia, ada apa, apa ada yang tidak nyaman yang Anda rasakan” tanya sang kepala pelayan.
“Tidak, aku ingin istirahat saja” ucap Walt Zacharias, yang segera dilaksanakan oleh sang kepala pelayan dengan mendorong kursi roda laki laki paruh baya itu.
Sementara Dika kembali menundukkan kepalanya saat kursi roda itu berlalu dari hadapannya. Dika sempat melihat ekspresi terkejut sekaligus perubahan wajah Walt Zacharias yang seketika menjadi pias. Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak
Dika, satu hal yang diyakini oleh laki laki muda itu, Walt Zacharias mengenal ayahnya karena wajah Dika memang mirip dengan wajah Kenrich Hamilton. Saat menyadari hal itu, tanpa sadar Dika meremas pakaian pelayan yang sedang dikenakannya untuk menenangkan gejolak dalam hatinya.
Sementara Walt Zacharias yang diantar masuk ke dalam kamar pribadinya langsung dibantu oleh kepala pelayan untuk berbaring. “Silahkan beristirahat, Yang Mulia, jika ada yang Anda perlukan saya bersedia di depan” ucapnya seraya membungkuk hormat.
“Jhon, apa Dean pernah ke istana atau pernah bertanya tanya padamu” tanya Walt Zacharias tiba tiba membuat kepala pelayan itu sedikit tersentak.
“Maaf Yang Mulia, sepertinya Putra Mahkota tidak pernah berkunjung ke istana semenjak kejadian malam itu. Beliau juga tidak pernah
__ADS_1
bertanya apapun pada saya” sahut Jhon sang kepala pelayan.
“Hmmm, pelayan baru itu, apa dia memang direkomendasikan oleh Albert secara langsung” tanya Walt Zacharias lagi.
“Sebenarnya, Pangeran yang menyampaikan pada saya, beliau mengatakan kalau ini pesan dari dokter Albert, maafkan saya kalau saya salah” ucap Jhon masih dalam posisi bersimpuh.
“Oh, begitu rupanya, tidak masalahh, Jhon, dia memang memiliki hak untuk itu. Baiklah, sekarang kamu boleh keluar, tolong hubungi Dean, minta dia datang kesini” ucap Walt Zacharias.
“Terima kasih atas pengertian Anda, Yang Mulia, kalau Pangeran, beliau sudah ada di istana sejak tadi pagi bersama dengan Tuan Putri Qiandra, jika Anda berkenan, saya
akan segera memanggil beliau” ucap Jhon lagi.
“Baiklah, segera panggil dia kemari” ucap Walt Zacharias dengan suara pelan namun tegas.
Kepala pelayan Jhon mengangguk, lalu setelah berdiri kemudian membungkukkan badannya, dia melangkah mundur hingga tiga langkah baru berbalik dan meninggalkan kamar megah itu. Walaupun Walt Zacharias tidak menempati kamar utama semenjak istrinya meninggal, namun kamar yang
ditempatinya sekarang tetap merupakan kamar yang tidak kalah mewah.
Dean hanya mengangguk tanpa menjawab dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar Walt Zacharias. “Dad, maafkan aku tidak menyambut kedatanganmu, Qiqi sedikit pusing tadi, tapi sekarang dia sudah baikan dan sudah beristirahat. Dia menyampaikan salam hormat untukmu, dan mohon maaf karena tidak bisa menyambut kedatangan Daddy” ucap Dean yang sudah berada dalam posisi bersimpuh dengan satu lutut menyentuh lantai.
“Berdirilah, Son, kamu sudah menggantikan aku, tidak pantas kamu bersimpuh seperti itu. Mendekatlah dan bantu Daddy bangun, Daddy ingin bicara masalah serius denganmu” ucap Wat Zacharias. Dean segera berdiri tanpa membantah kata kata
ayahnya dan segera membantu sang ayah untuk duduk.
“Dad, istirahatlah dulu, jangan terlalu memikirkan masalah yang berat” ucap Dean.
“Tidak, Son, aku rasa kamu sudah cukup lama mencari tahu, aku tidak tahu alasanmu, tapi kunci semuanya ada padaku” ucap Walt Zacharias membuat kening Dean sedikit
mengernyit. “Jangan katakan kamu tidak
tahu kalau pelayan baru itu putra Hamilton” ucap Walt Zacharias membuat Dean sedikit tersentak.
__ADS_1
“Daddy mengenal Dika” tanya Dean.
“Jadi namanya Dika, apa dia Andika Kenrich Hamilton” tanya daddy Walt yang lagi lagi membuat Dean terkejut, bagaimana sang daddy bisa mengetahui siapa Dika padahal dia baru tiba di istana.
“Benar, Dad, tapi bagaimana Daddy mengenalnya” tanya Dean, walau sebenarnya dia sudah menduga jawabannya.
“Kamu tahu jawabannya Son, sekarang beritahu Daddy mengapa kamu membiarkan dia menyelidiki kembali kasus yang sudah kita tutup dan menjadi rahasia kerajaan” tanya Walt zacharias. Rasanya dia hanya terlelap sebentar, tapi sepertinya begitu banyak hal telah terjadi selama dia pergi.
“Dika kakak kandung Qiandra, Dad” ucap Dean dengan perlahan yang membuat Walt Zacharias tersentak dan terkejut mendengar fakta yang sama sekali tidak diduganya.
“Hah, jadi mereka berdua berhasil selamat, benarkah dia Felicia Kenrich Hamilton” tanya daddy Walt dengan setengah berdesis.
“Iya, Dad, Qiandra Zwetta Aldrich, ternyata adalah Felicia Kenrich Hamilton, adik kandung Andika Kenrich Hamilton, putri kedua Kenrich Hamiltonn” ucap Dean dengan tegas.
Daddy Walt mendesah berat, “Hah, takdir ternyata tidak bisa membiarkan semuanya tetap tersembunyi. Setelah puluhan tahun aku menyembunyikannya, ternyata sekarang semuanya harus dibuka” ucapnya dengan
suara sangat pelan namun masih terdengar oleh Dean.
“Maafkan aku, Dad, aku sungguh tidak tahu, tapi saat ini aku rasa sebaiknya Daddy istirahat saja dulu, kita akan membahas ini setelah Daddy cukup beristirahat” ucap Dean
yang tahu kalau masalah ini memang cukup berat.
“Suruh Dika menghentikan penyelidikannya, dia tidak akan menemukan apapun, jadi jangan membuang tenaganya. Semua kunci rahasia ada padaku, tidak ada yang mengetahuinya selain aku, dan kurasa sekarang saatnya aku menceritakan dan menyerahkan semuanya padamu. Terserah kamu ingin membuka atau tetap menyimpannya dengan rapat seperti yang aku lakukan selama ini” ucap Daddy Walt.
Dean terdiam mendengar kata kata sang Daddy, walau sebenarnya dia sudah menduga kalau sang ayah sudah mengetahui semuanya. Namun, saat sang Daddy menyerahkan semuanya padanya, Dean seketika terdiam. Ini memang menjadi dilema baginya bahkan sejak awal dia sudah mempertimbangkan hal ini.
“Dad, aku sendiri tidak ingin membuka kasus yang sudah diputuskan untuk disimpan dan
dirahasiakan, tapi aku tidak berdaya karena hal ini menyangkut Qiqi, istriku dan juga menyangkut anak yang ada dalam kandungannya” ucap Dean dengan suara
lemah.
__ADS_1