PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

Kembali ke kota asal Qiandra, saat kepergian Qiandra.


Daniel datang ke kantornya pagi-pagi seperti biasanya, dia ingin melihat Qiandra yang pasti sedang beristirahat di ruang perawatan.  Daniel langsung menuju ke ruangan itu, namun dia harus menelan kekecewaan saat tidak menemukan Qiandra disitu.  Perawat yang biasanya merawat Qiandra juga mengatakan kalau Qiandra sama sekali tidak datang ke ruangannya.


Daniel segera berlari menuju ke lift khusus presidir, dia naik ke lantai teratas menuju ke ruangnya.  Daniel khawatir Qiandra tertidur di mejanya seperti hari pertama saat Qiandra lembur.  Namun, Daniel mengernyitkan keningnya saat melihat beberapa paper bag yang berjejer diatas meja Qiandra.  Daniel membuka salah satu paper bag itu, dan dia mengenal pakaian itu adalah pakaian yang pernah dipakai oleh Qiandra.


Perasaan Daniel semakin tidak karuan, dia segera berlari masuk ke ruangannya, dan laki-laki tampan itu kembali terhenyak saat melihat  sebuah amplop yang diletakkan di atas mejanya.  Dengan tangan gemetar, Daniel meraih amplop itu dan membuka isinya.


Hal pertama yang dilihat Daniel adalah black card yang diberikannya untuk Qiandra, hati Daniel semakin dilanda kecemasan.  Dengan berat hati, Daniel perlahan membuka surat yang ada dalam amplop itu, dan kaki Daniel langsung lemas saat membaca surat pengunduran diri Qiandra.


Surat itu terlepas dari tangan Daniel, dia terduduk di kursinya dalam keadaan bingung.  Hingga akhirnya, Daniel tersentak, dia segera meraih phonselnya dan menghubungi asisten Dika.


“Dika, segera ke kantor, Qiandra pergi” seru Daniel, lalu dia menutup phonselnya dan segera berlari keluar ruangannya.  Di luar ruangannya, Daniel bertemu dengan asisten Dika yang baru saja keluar dari lift.


“Tuan, apa maksud Tuan, dengan pergi, pergi kemana dia” tanya asisten Dika yang kebingungan melihat wajah panik Daniel.


“Cek CCTV sekarang” seru Daniel, tanpa banyak bertanya asisten Dika langsung mengakses CCTV kantor untuk melihat apa yang terjadi tadi malam.  Mereka bisa melihat Qiandra  mempersiapkan kepergiannya dan masuk ke dalam kamar Daniel untuk meletakkan surat pengunduran dirinya.  Bahkan Qiandra sempat membungkuk hormat ke arah meja kerja Daniel, sebelum dia pergi meninggalkan ruangan itu.


Mereka juga melihat saat Qiandra keluar melewati pintu belakang kantor, asisten Dika memperjelas plat mobil yang digunakan oleh Qiandra, “Lacak secepatnya” seru Daniel.


“Baik, Tuan” sahut asisten Dika.


“Kerahkan semua anggota dan bodyguard, kapan perlu rajia semua mobil yang sama dengan mobil itu yang ada di kota ini” seru Daniel lagi dengan frustasi.  “Dimana kamu, Qian, mengapa kamu pergi meninggalkan aku, bukannya kemaren kamu sudah begitu baik.  Astaga, kenapa aku tertipu dengan sikap baikmu yang tiba-tiba kemarin, aku terlalu  bahagia bisa kembali dekat denganmu.  Qian, dimana kamu, kembalilah, Sayang, jangan tinggalkan aku” desah Daniel dalam hatinya.


“Baik, Tuan” sahut asisten Dika, dia segera menghubungi semua anggota mafia mereka, juga semua bodyguard.  Asisten Dika mengirim foto Qiandra juga plat mobil yang digunakan oleh Qiandra.  Asisten Dika juga meretas semua CCTV di kota itu, dia bisa menemukan  kalau mobil yang membawa Qiandra bergerak ke luar kota.


“Tuan, sepertinya mobil yang membawa Nona Qiandra pergi ke luar kota” lapor asisten Dika pada Daniel.

__ADS_1


“Shit,  kemana dia, apa kamu bisa melihat siapa orang yang ada dalam mobilnya” tanya Daniel.  Asisten Dika hanya bisa menggeleng lemah dan menundukkan kepalanya.


Daniel kembali terhenyak dikursinya, “Tolong, Dik, temukan Qiandraku, kamu tahu, dia semangatku, aku hanya mau dia” ucap Daniel lemah.


Asisten Dika terkejut mendengar suara lemah Daniel, dia menyangka Daniel akan memarahinya.  Namun, laki-laki itu malah terlihat duduk dengan lesu dengan wajah yang sangat kusut.  Daniel bahkan meminta  tolong pada asisten Dika, kata yang tak pernah terucap dari bibir laki-laki itu selama bertahun-tahun asisten Dika bekerja dengannya.


“Akan saya usahakan dan lakukan yang terbaik, Tuan, harap bersabar dulu, saya yakin pasti ada jejak yang ditinggalkan oleh Nona Qiandra”  ucap asisten Dika berusaha menghibur Daniel yang terlihat sangat frustasi.


“Dean, lacak keberadaannya” seru Daniel saat menyadari kalau ada laki-laki lain yang juga mengejar Qiandra.  “Akan ku bunuh dia jika dia membawa Qiandraku” desis Daniel, wajahnya  tiba-tiba berubah menjadi gelap dengan nafas yang tak beraturan.


“Saya akan segera melacak keberadaan Dean, Tuan” sahut asisten Dika.


“Aku sendiri yang akan mendatanginya” ucap Daniel lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya.


“Tuan, Tuan, harap tenang dulu, tolong jangan panik” seru asisten Dika pada Daniel, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh laki-laki yang sudah dipenuhi dengan amarah itu.  Asisten Dika berlari mengejar Daniel, dan dia sempat masuk ke dalam lift sesaat sebelum pintu lift itu tertutup.


“Lalu, apa kamu mau aku berdiam diri saja, Dik, aku kehilangan permataku, Dik, bagaimana aku bisa tetap tenang” seru Daniel penuh dengan kemarahan.


“Saya mengerti, Tuan, tapi mengamuk di kantor Dean tidak akan memberi jawaban, justru akan memperburuk keadaan” sahut asisten Dika  dengan suara setenang mungkin, walaupun dia cukup khawatir melihat kemarahan juga keputusasaan di mata Daniel.


Asisten Dika tidak pernah melihat Daniel dalam keadaan seperti ini, Daniel seorang laki-laki angkuh yang terbiasa mendapatkan semua yang diinginkannya baik dengan cara baik-baik ataupun dengan cara yang tidak wajar.  Daniel selalu bisa mendapatkan apapun yang dia mau, karena dia sanggup menempuh jalan kasar jika keinginannya dihalangi.


Namun, saat ini Daniel terlihat sangat terpuruk, dia marah, kesal sekaligus juga frustasi.  Asisten Dika tidak pernah menyangka patah hati bisa membuat seorang laki-laki setegar  Daniel menjadi begitu rapuh.  Asisten Dika hanya bisa menatap iba pada laki-laki yang terduduk di lantai lift itu dengan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.


Asisten Dika menekan tombol lift khusus presidir itu kembali ke lantai atas, dia tidak ingin para karyawan melihat kondisi Daniel seperti ini.  Saat tiba di ruangan mereka, Daniel masih tidak bergeming dari duduknya.


“Tuan, sebaiknya Tuan ke ruangan dulu menenangkan diri, aku akan terus menggali semua informasi sekecil apapun untuk menemukan petunjuk keberadaan Nona Qiandra” ucap asisten Dika.  Karena Daniel sama sekali tidak merespon, akhirnya asisten Dika membantu Daniel untuk berdiri dan memapahnya masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Asisten Dika mendudukkan Daniel di sofa yang ada dalam ruang kerja Daniel, lalu dia mengambil segelas air putih untuk Daniel.  “Berikan aku whisky” ucap Daniel menolak  gelas yang diberikan oleh asisten Dika.


“Tapi, Tuan…” asisten Dika tidak meneruskan kata-katanya saat melihat tatapan tajam dari Daniel.  Dia hanya bisa menelan ludahnya kasar, lalu mengambil sebotol minuman keras untuk Daniel.  Namun, sebelum asisten Dika menyerahkan minuman itu, sebuah notifikasi masuk di phonsel Daniel, Daniel meliriknya sekilas.


Sesaat kemudian Daniel terlonjak lalu meraih phonselnya saat melihat yang masuk adalah email dari Qiandra, Daniel segera membuka pesan itu.


Tuan Daniel yang saya hormati,


*Maafkan saya tidak berpamitan secara langsung dengan Anda, saya memutuskan untuk pergi dari kota ini, melupakan semua kenangan pahit yang sata jalani selama dikota ini.  Terima kasih karena Anda sudah mendukung saya selama ini, sudah memberikan begitu banyak bantuan untuk saya. 


Saya sadar saya tidak akan bisa membalas  semua itu.  Maafkan saya yang tidak bisa  memenuhi keinginan dan harapan Anda, maafkan saya yang tidak bisa membalas cinta tulus Anda, maafkan saya atas semua salah dan khilap saya. 


Dan saya pun sudah memaafkan semua yang sempat terjadi di villa itu, saya ingin melupakan semuanya dan memulai hidup  baru.  Saya mohon, ijinkan saya memulai hidup baru, jangan mencari saya.  Jika memang ada jodoh, suatu saat kelak kita akan bertemu tanpa harus dikejar lagi.  Namun, saya menyarankan carilah wanita lain yang jauh lebih baik dari saya, saya hanyalah wanita sisa laki-laki lain, sangat tak pantas berada disisi Anda*.


Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan maafkan saya.


Hormat saya, Qiandra  Zwetta Aldrich.


Phonsel itu langsung terjatuh dari tangan Daniel, airmata mengalir di pipi tegas laki-laki tampan itu.  Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya berguncang menahan isaknya.  Asisten Dika hanya bisa terdiam melihat keadaan Daniel seperti itu.


“Tuan,….” ucap asisten Dika perlahan.


“Terus cari dia, Dik, aku tidak mau kehilangan Qiandra, dia hanya milikku, jika perlu aku akan mengurungnya agar dia hanya hidup bersama  denganku” ucap Daniel dengan suara dingin yang membuat asisten Dika bergidik.


Namun, hingga berhari hari bahkan bulan dan tahun berlalu mereka sama sekali tidak menemukan jejak Qiandra.  Qiandra bagai menghilang ditelan bumi, tidak ada jejak yang ditinggalkannya.  Mereka berhasil menemukan Mang Ijal, namun Mang Ijal pun tidak tahu kemana Qiandra pergi.


Sejak saat itu, Daniel menjadi seorang presidir yang arogan dan dingin, dia tidak segan-segan untuk menghancurkan semua saingannya.  Daniel juga tidak pernah mencari seorang  sekertaris menggantikan posisi Qiandra.  Segala sesuatunya harus ditangani oleh asisten Dika, hingga akhirnya asisten Dika meminta ijin untuk mengangkat seorang sekertaris untuk membantunya.

__ADS_1


__ADS_2