
“Bagaimana keadaan Daddy sekarang, Al” tanya seorang laki laki muda nan tampan kepada laki laki lainnya yang masih menggunakan jas dokternya.
“Belum ada perubahan yang berarti, Dean, usia beliau yang tidak lagi muda membuat kesehatannya sulit untuk pulih seperti sedia kala. Namun, sepertinya beliau juga enggan untuk kembali ke alam nyata, sepertinya beliau begitu menikmati alamnya saat ini” sahut sang dokter yang tak lai dari dokter Albert sahabat Dean.
Tiga orang laki laki muda dengan ketampanan paripurna itu sedang menikmati minuman hangat di cafetaria rumah sakit. Dean, laki laki muda yang bertanya pada dokter Albert tadi, terlihat menghembuskan nafas berat. “Apa maksudmu Daddy menikmati alamnya saat ini?” tanya Dean pada dokter Albert.
Dokter Albert menghirup kopi yang masih mengepulkan asapnya itu, dia menatap sahabat baiknya itu dengan mata sedikit menerawang. “Kondisi daddy sebenarnya sangat stabil, tapi seperti yang aku katakan tadi, beliau terlihat sangat menikmati alamnya saat ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali kali aku dan juga beberapa tenaga medis lain yang merawat beliau melihat kalau beliau mengulas senyum bahagia” sahut dokter Albert.
“Tersenyum?” tanya Dean dengan mata memicing seakan tidak percaya dengan ucapan dokter Albert.
“Yah, tersenyum, hal yang bahkan jarang dilakukannya sejak …...” dkter Albert menghentikan kata katanya dan kembali menatap Dean.
“Sejak kepergian mommy” lanjut Dean dengan hati yang kembali terasa perih saat teringat kembali pada wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
Dokter Albert menganggukkan kepalanya, “Yah, sejak kepergian mommy, aku sendiri bahkan tidak pernah melihat daddy tersenyum, tapi selama beliau berada disini dibawah alam sadarnya, daddy sudah beberapa kali tersenyum, senyum yang menunjukkan kalau dia sangat bahagia” ucap dokter Albert.
Lalu dokter Albert meraih phonselnya dan membuka galeri foto di phonselnya, “Ini beberapa momen yang sempat diambil oleh tim medis, juga rekaman CCTV yang sudah dipotong khusus pada saat beliau tersenyum” lanjutnya lagi seraya menyerahkan phonselnya pada Dean.
Dean menerima phonsel dokter Albert dan menatap foto foto itu dengan seksama. Tanpa sadar sebulir air bening mengalir dari sudut matanya tanpa disadari oleh Dean. Hatinya tiba tiba terasa hangat saat melihat senyum bahagia yang terukir di wajah sang daddy walau dalam keadaan mata terpejam. “Daddy sedang menikmati kebersamaan dengan mommy, senyum ini selalu hadir saat dia sedang bersama mommy” desis Dean.
“Akupun berpikir demikian, hanya itu satu satunya alasan bagi daddy untuk bisa tersenyum” sahut dokter Albert.
Dean menyerahkan kembali phonsel dokter Albert, lalu dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran empuk kursi yang saat ini sedang didudukinya. Dean memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening. Semua persoalan yang dihadapi akhir akhir ini memang cukup berat bagi seorang Dean Walt Zacharias, dimana dirinya hampi kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Daddy sedang menikmati kebersamaan dengan mommy dan itu membuatnya bahagia, apakah itu berarti Daddy sudah tidak ingin lagi kembali ke alam nyata, kembali padaku” desis Dean yang masih terdengar jelas oleh dokter Albert dan asisten Vian yang duduk di dekatnya.
“Kita tidak akan pernah tahu jawaban untuk pertanyaanmu itu, Dean, yang bisa kita lakukan saat ini hanya terus menjaga raga Daddy dan menunggu entah kapan beliau memutuskan akan kembali membuka matanya atau …..” dokter Albert tidak sanggup melanjutkan kata katanya lagi.
“Kamu benar, Al, kita hanya bisa menunggu keputusan Daddy sendiri. Walaupun aku sangat tidak menginginkan Daddy pergi, dan aku masih sangat berharap Daddy tetap bersedia mendampingiku” desah Dean dengan wajah sendu.
Dokter Albert hanya mengangguk pelan menyetujui kata kata Dean, dokter Albert bisa mengerti maksud perkataan sahabatnya itu. Secara tidak langsung Dean memang sudah bisa merelakan kepergian sang Daddy karena dia tahu sang Daddy lebih bahagia di alam sana. Tetapi sebagai manusia biasa, Dean pasti akan merasa sangat berat jika harus kehilangan Daddy Walt, satu satunya orang tuanya yang masih hidup.
Tiba tiba phonsel asisten Vian berbunyi memecah keheningan yang sempat tercipta, membuat semua mata teralih padanya. “Maaf” cicit asisten Vian seraya melihat ke arah phonselnya, namun segera memperlihatkan pada Dean.
“Angkat dan loudspeaker” sahut Dean saat melihat siapa yang menghubungi asisten Vian. Asisten Vian segera mengangkat panggilan itu dan mengubah dalam mode loud speaker.
“Ada apa, langsung saja berbicara, Tuan Dean juga sedang mendengarkanmu” ucap asisten Vian pada orang yang sedang menghubunginya.
“Oh, iya, baik, maaf jika saya mengganggu, saya hanya ingin menginformasikan kalau pengacara William sedang mengurus pembebasan bersyarat Tuan Daniel, bagaimana, apa harus kami cegah atau dibiarkan saja” tanya suara di seberang sana yang ternyata adalah pengacara Dean.
“Memang dia bisa dibebaskan” tanya Dean dengan kening berkerut.
__ADS_1
“Bisa saja, Tuan, tentunya dengan memberikan uang jaminan, Daniel bisa diberi kebebasan bersyarat sambil menunggu masa persidangannya. Namun semua itu tentu saja harus dengan persetujuan dari pihak kita” sahut sang pengacara.
“Lalu bagaimana kalau kita tidak menyetujuinya” tanya Dean lagi.
“Mereka bisa meminta kepada Jaksa dan seterusnya hingga ke jenjang tertinggi, Tuan” sahut sang pengacara.
“Hah, ternyata Dika tetap tidak bisa membiarkan Daniel mendekam dalam penjara” seru dokter Albert.
“Lalu bagaimana, Tuan” tanya sang pengacara lagi.
“Tolak saja, jangan pernah menyetujui permintaan mereka lagi” seru Dean dengan sedikit kesal.
“Apa kita juga akan menghalangi usaha mereka yang lain” tanya pengacara itu lagi.
“Biarkan saja mereka, fokuskan diri kalian pada persidangan nanti, masalah kebebasan laki laki itu biarkan pihak pengadilan yang memutuskannya. Tapi jangan pernah ada persetujuan dari pihak kita, sehingga jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan atas kebebasannya, maka semuanya menjadi tanggung jawab pihak yang membebaskannya” sahut Dean.
“Baik, Tuan, akan kami laksanakan sesuai perintah Anda, terima kasih dan selamat siang” ucap pengacara itu seraya menutup panggilan teleponnya.
“Kenapa kamu tidak membiarkan tim pengacara menghalangi usaha pembebasan yang mereka lakukan” tanya dokter Albert yang sedikit heran dengan keputusan Dean.
“Jika kita menghalangi mereka, maka kita akan menghadapi berbagai bentuk usaha yang akan mereka lakukan. Mereka tidak akan menyerah hanya dengan satu atau dua langkah saja untuk membebaskan laki laki itu. Dan aku tidak mau memusingkan otakku dengan mengurusi hal seperti itu, lebih baik fokus pada persidangannya nanti. Aku tidak akan membiarkan dia menerima keringanan hukuman, dia harus menanggung semua perbuatannya” sahut Dean.
“Yah, kamu benar, selagi Dika masih ada, maka dia pasti akan memperjuangkan kebebasan bos sekaligus saudara angkatnya itu” sahut dokter Albert.
“Ehmmm, sebenarnya memang ada hal yang sedang aku selidiki saat ini, dan ini benar baner sangat mencurigakan. Aku masih belum tahu apakah ada kaitan diantara keduanya atau tidak, semuanya masih dalam tahap penyelidikan, karena itu aku masih belum menyampaikan pada Anda, Tuan” sahut asisten Vian dengan sedikit ragu.
Kening Dean seketika berkerut dalam dengan mata memicing menatap asisten Vian, “Katakan ada apa” desis Dean dengan tajam.
Asisten Vian mendesah sesaat, hal ini cukup sensitif untuk disampaikan. Jika dia salah bicara, bisa saja dia dianggap membuat fitnah yang akan sangat mengecewakan Dean. Namun, karena Dean memaksanya, mau tidak mau asisten Vian harus mengatakan keadaan yang sebenarnya. “Ini tentang Bu Sum dan Dika” ucap asisten Vian yang membuat Dean semakin intens menatap ke arahnya.
“Aha, aku baru ingat, iya, tentang mereka berdua , astaga bagaimana aku bisa melupakan hal itu” seru dokter Albert yang membuat Dean semakin bingung menatap pada keduanya.
“Apa maksud kalian, jelaskan padaku” seru Dean yang merasa semakin penasaran dengan potongan potongan ucapan kedua sahabatnya itu.
“Beberapa hari yang lalu, kamu ingat saat Dika datang kesini ingin menjenguk Qiqi?” tanya dokter Albert memulai ceritanya. Dean sebentar mengernyitkan keningnya, dan setelah mengingatnya, dia mengangguk sekilas.
“Ya, aku ingat, memangnya ada apa, apa ada hal yang mencurigakan selain keanehan kedatangan Dika itu” tanya Dean balik pada dokter Albert.
“Ya, sangat aneh malahan, sebelum masuk ke dalam ruangan Qiqi, Dika bertemu dengan Bu Sum yang baru keluar dari ruangan Qiqi. Dan saat itu, tanpa sadar Dika memanggil Bu Sum dengan sebutan Tante Clay, sedang Bu Sum langsung menyebut nama Dika dengan ragu ragu seolah olah sedang mengingat sesuatu” cerita dokter Albert dengan penuh semangat.
“Apa ada hal yang aneh, bukankah mereka memang sudah saling mengenal karena Qiandra kan sudah lama bersama dengan Bu Sum, dan Dika juga sudah mengenal Qiqi sejak dulu” sahut Dean.
__ADS_1
“Hal itu mungkin saja, tapi panggilan yang disebutkan oleh Dika, Tante Clay, itu tidak pernah aku dengar sebelumnya. Dan sepertinya Bu Sum juga ragu ragu saat mengenali Dika, bahkan untuk memastikan kalau itu benar benar Dika, Bu Sum sampai menyebutkan kelakuan Dika saat masih kecil” sahut dokter Albert lagi.
“Mungkin Bu Sum hanya merasa ragu karena sudah cukup lama tidak bertemu dengan Dika” ucap Dean dengan sedikit ragu.
“Jika memang demikian, mengapa harus mengingat masa kecil Dika, bukannya masa saat Qiqi bekerja sama dengan Dika dulu” sahut dokter Albert lagi menepis semua rasa ragu Dean.
“Apa kalian tidak bertanya apa apa pada mereka” tanya Dean.
“Kami sudah bertanya, dan jawaban Bu Sum cukup mengejutkan bagi kami” sahut dokter Albert.
“Apa jawabannya” tanya Dean semakin penasaran.
“Bu Sum bilang kalau dulu dia sempat menjadi pengasuh Dika saat Dika masih kecil” sahut dokter Albert lagi.
“Hmmm, mungkin saja kan” sahut Dean lagi.
“Tapi, bukankah Bu Sum sudah bersama dengan Qiqi juga sejak Qiqi masih kecil, dan lagi kenapa Dika memanggilnya Tante Clay, dan bukannya Bik Sum, seperti Qiqi menyebut Bu Sum dulu” tanya dokter Albert lagi seolah mengingatkan pada Dean posisi Bu Sum selama ini.
Dean seketika terdiam mendengar kata kata dokter Albert, dia baru tersadar akan hal itu. Dean berusaha mengingat, apa Qiandra pernah memanggil Bu Sum dengan panggilan lain. “Kamu benar, Qiqi sendiri tidak pernah memanggil Bu Sum dengan sebutan lain selain Bik Sum atau Ibu” sahut Dean setelah dia mengingat ingat lagi.
“Nah itu dia yang membuat aku juga merasa heran, bagaimana Vian, apa ada sesuatu yang terlewat olehku” sahut dokter Albert seraya bertanya pada Vian.
Dean juga seketika kembali mengarahkan tatapannya pada asisten Vian. “Sesudah keluar dari rumah sakit ini, tidak berapa jauh Dika menurunkan sopirnya di pinggir jalan, para bodyguard kita sempat melihatnya di luar” ucap asisten Vian membuat dokter Albert dan Dean menatapnya dengan kening berkerut.
“Lalu, apa hubungannya” tanya Dean lagi.
“Bu Sum juga setelah kembali ke pentha house, tidak berapa lama langsung keluar lagi menuju ke mini market” lanjut asisten Vian lagi. Dean dan dokter Albert tidak memberikan tanggapan apa apa, mereka hanya menunggu asisten Vian menyelesaikan ceritanya.
“Setelah mendengar laporan dari bodyguard di mansion, aku meminta mereka untuk mengikuti Bu Sum, maaf, bukan bermaksud lancang dan tidak menghormati beliau, tapi aku merasa ada yang sedikit janggal” lanjut asisten Vian lagi.
“Lalu, apa yang kamu dapatkan” tanya Dean berusaha memahami cerita asisten Vian.
“Bu Sum memang masuk ke dalam mini market itu, tapi tidak berselang lama, dia segera keluar dari dalam mini market itu dan masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang baru terparkir di depan lobby mini market itu. Para bodyguard tidak mengetahui siapa yang berada di dalam mobil mewah itu, mereka hanya mengikuti mobil itu yang membawa Bu Sum ke daerah pinggiran kota. Disana mobil itu masuk ke dalam sebuah tembok yang terlihat sangat tidak terawat, tetapi di jaga dengan ketat di bagian depannya. sehingga para bodyguard tidak mengetahui ada apa di balik tembok itu” lanjut asisten Vian lagi.
“Lalu, apa hubungannya dengan Dika” tanya dokter Albert seolah mengingat awal cerita asisten Vian tadi, yang seketika membuat Dean juga mengangguk samar seolah menyetujui pertanyaan dokter Albert.
“Mobil yang menjemput Bu Sum adalah mobil yang digunakan oleh Dika saat ke rumah sakit ini” sahut asisten Vian yang membuat Dean dan dokter Albert cukup terkejut.
“Mobil yang sama, apa Dika juga ada di dalamnya” tanya Dean dengan penasaran.
“Itu yang belum bisa kami pastikan, karena orang dalam mobil itu sama sekali tidak keluar, dan saat Bu Sum kembali, beliau sudah diantar dengan mobil yang lain lagi” sahut asisten Vian. Pertanyaan seperti inilah yang membuat asisten Vian belum melaporkan pada Dean, karena dia juga belum mengetahui dengan pasti.
__ADS_1
“Jadi, itu yang kamu maksud dengan kamu ragu apakah ada hubungan antara Dika dan Bu Sum” tanya Dean lagi memastikan.
“Ya, Tuan, karena itu pula saya belum melaporkan apa apa pada Anda” sahut asisten Vian lagi.