
“Aku tidak memerlukan penilaianmu apalagi pendapatmu, Daniel, bagiku itu adalah keinginanku dan dengan cara apapun aku akan
memperjuangkannya. Aku tidak akan menyerah dan mundur hanya karena pendapat orang-orang yang hanya bisa melihat saja dan tidak membantuku. Ini hidupku, ini impianku dan aku akan menjalaninya sendiri” sahut Risty.
Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan pemikiran wanita itu. Bagaimana mungkin ada wanita yang sanggup menghalalkan segala cara hanya untuk sebuah ambisi untuk harta dan status sosial. Tetapi
itulah kenyataannya, wanita ini benar-benar sudah tidak perduli lagi bagaimana orang lain menilai dirinya.
“Mengapa dulu kamu meninggalkannya jika ternyata kamu masih mengharapkannya, Risty” ucap Daniel masih dengan nada tak percaya pada sikap wanita itu.
“Aku benci saat wanita tua dan kolot itu begitu mudahnya menguasai semua orang, dan tidak ada seorangpun yang bisa menentangnya,
termasuk Dean. Jadi aku sadar, kalau selama wanita itu hidup maka aku tidak akan bisa memiliki Dean” sahut Risty tanpa rasa bersalah.
“Kenapa tidak cukup dengan kamu membunuhnya saja, mengapa kamu harus menikahi ayah Dean juga” tanya Daniel dengan penasaran pada pola pikir Risty.
“Hah, si tua bangka itu pasti akan mencari wanita lain lagi untuk menggantikan istrinya, lagi pula dia sudah tahu sifatku, maka jika aku
tidak menikah dengannya, dia pasti akan menolakku mentah-mentah untuk menjadi
menantunya” sahut Risty lagi.
“Tapi aku sungguh tidak mengerti bagaimana bisa si Walt Zacharias itu mau menikahi dirimu, sementara dia sangat tahu bagaimana dirimu”
masih dengan rasa penasaran Daniel bertanya pada Risty.
“Ha ha ha, itulah keahlianku, Daniel, kurasa kamu sudah cukup banyak mengetahui hal yang tidak seharusnya kamu ketahui. Tapi setidaknya sekarang kamu tahu bahwa aku
hanya menginginkan Dean, aku tidak perduli siapapun wanita yang ada di sampingnya, aku akan menghancurkan wanita itu. Jadi sekarang, jika kamu ingin melindungi wanita itu, kamu harus mau bekerja sama denganku, atau bersiaplah hadir dalam acara pemakamannya” sinis Risty berbicara sambil menatap jauh ke luar jendela kamar Daniel.
“Jangan coba-coba kamu menyentuh Qiandraku, aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri jika sampai Qiandraku celaka olehmu” desis Daniel dengan tajam.
“Sebenarnya aku tidak berminat untuk mengurusi wanita itu, tapi jika itu sudah menyangkut Dean, maka aku tidak akan ragu untuk melakukan segala cara untuk menghancurkannya. Aku hanya ingin memisahkan keduanya, setelah itu aku sama sekali tidak perduli dengan wanita itu. Bukankah kamu juga menginginkan perpisahan mereka, jadi tidak ada ruginya kan kalau kita
bekerjasama seperti yang aku katakan tadi, kerja sama yang akan saling menguntungkan, bukan” ucap Risty dengan senyum smirk menghias bibir seksinya.
Daniel menatap wanita itu sambil terus berpikir. Sejujurnya Daniel sangat enggan berurusan lagi dengan Risty, dia sangat tahu sifat wanita itu. Daniel tahu kalau Risty hanya ingin memanfaatkan dirinya untuk keuntungan dirinya sendiri. Risty bukanlah tipe wanita yang perduli pada keuntungan orang lain, dia hanya perduli pada ambisinya sendiri.
“Apa rencanamu” desis Daniel pada akhirnya setelah cukup lama Daniel berdiam diri. Daniel
berpikir dia akan memutuskan setelah mendengar apa rencana wanita itu untuk
memisahkan Dean dan Qiandra.
“Daniel, Daniel, jangan coba menipuku, aku tahu kamu tidak percaya padaku. Sekarang apa kamu benar-benar mau bekerja sama denganku” tanya Qiandra sambil mengulurkan
tangannya untuk berjabat tangan dengan Daniel.
Daniel masih terdiam dan berusaha mempertimbangkan keputusannya. Pada akhirnya, Daniel menerima uluran tangan Risty, “Baiklah, aku bersedia untuk bekerja sama
denganmu” ucap Daniel. “Sekarang, katakan apa rencanamu padaku” lanjutnya lagi setelah melepas tangan Risty.
“Ha ha ha, kamu sungguh tidak sabaran, Daniel” kekeh Risty melihat sikap Daniel.
“Jangan coba bermain-main dan menipuku, Risty, kamu tahu apa yang bisa aku lakukan padamu” desis Daniel dengan kesal karena merasa dipermainkan oleh wanita itu.
“Apa kamu pikir aku main-main, Tuan, aku sudah berani datang kesini dan bahkan rela kamu perlakukan dengan keji, apa mungkin aku tidak bersungguh-sungguh. Jadi sekarang justru dirimu lah yang harus membuktikan kesungguhanmu untuk bekerja sama denganku. Aku tidak mau rencanaku gagal
__ADS_1
hanya karena kamu begitu bodoh mau takluk pada perasaanmu” ucap Risty, dia berbalik dan berdiri di hadapan kursi Daniel.
Daniel menatap mata Risty dengan intens, dia berusaha mencari kebohongan di mata cantik wanita itu. “Apa bukti yang kamu inginkan” desis Daniel.
Risty melangkah dengan gemulai dan anggun mendekati Daniel, lalu dia menunduk dan mengukung posisi Daniel dengan meletakkan kedua tangannya di atas kursi Daniel. “Jangan lakukan apapun pada keduanya, sampai saatnya tiba, aku akan memberitahukan kepadamu tentang rencanaku dan apa yang harus dilakukan nanti. Sebelum itu, jangan pernah melakukan tindakan ceroboh seperti yang kamu lakukan kemaren” ucap Risty sambil menelusiri wajah tampan Daniel dengan jari telunjuknya dan berakhir pada pelipis laki-laki itu.
Daniel menepis jari Risty dengan kasar, “Memangnya kamu bisa apa jika aku tidak memenuhi keinginanmu itu, hah” desis Daniel.
Risty tersenyum, lalu berdiri dan memperbaiki pakaiannya, “Maka jangan pernah menyesali apa yang akan terjadi nantinya, dan saranku kamu harus segera menyiapkan pakaian berkabung. Mungkin juga sekaligus dengan makam khusus untuk wanitamu itu, atau kamu
juga mau menyusulnya di dalam makam yang sama, hmmm” sinis Risty sambil terus
merapikan dirinya di hadapan cermin besar dikamar Daniel.
“Keluar dari kamarku sekarang juga, sebelum aku berubah pikiran” sarkas Daniel berusaha menahan kemarahannya. Daniel sangat marah mendengar ancaman yang secara tidak langsung diucapkan oleh Risty.
Namun, Daniel tetap berusaha menahan dirinya untuk tidak menyakiti dan mencaci maki wanita ular itu. Karena selain Daniel lelah berdebat dengan Risty, dia juga berharap bahwa wanita itu benar-benar memiliki rencana yang brilian untuk memisahkan Dean dan Qiandra. Oleh sebab itu, Daniel lebih memilih mengusir Risty dari kamarnya daripada dia harus kehilangan
kesabarannya.
Risty tersenyum smirk, “Tenang saja, Tuan, aku juga tidak berniat untuk bertahan di kamarmu, aku akan pergi, kuharap kamu tidak lupa pada
perjanjian kita, karena konsekuensi jika kamu ingkar akan kamu sesali seumur hidupmu, selamat sore” ucap Risty seraya melangkah dengan anggun meninggalkan kamar Daniel.
Sebelum dia keluar, Risty meraih tasnya yang tergeletak di lantai, “Tunggu kabar dariku pada waktu yang tepat” ucapnya seraya keluar dari
kamar Daniel.
Daniel menatap kepergian wanita itu masih dengan tatapan tajam, terlalu sulit baginya untuk percaya pada Risty lagi. Pengkhianatan wanita itu dulu benar-benar membuat kepercayaan seorang Daniel Putra Mahardika hilang tak bersisa. Sangat sulit untuk bisa percaya kembali apalagi dalam urusan cinta dan perasaan.
Daniel tahu kalau Risty hanya menginginkan harta keluarga Zacharias. Namun yang Daniel masih tidak mengerti bagaimana bisa wanita itu berfikir akan menikahi putra tunggal
“Dasar wanita gila, bagaimana bisa dulu aku jatuh cinta begitu dalam padanya. Aku sungguh tidak menyangka dia sanggup berpikir seperti itu hanya untuk menguasai harta dan
tahta saja. Sebenarnya seberapa besar
kekayaan keluarga Zacharias sampai-sampai Risty begitu tergila-gila pada harta keluarga itu. Kalau hanya karena PT.Zacharias, kurasa kekayaanku tidak akan jauh berbeda dengan mereka, tapi mengapa Risty tetap berusaha mempertahankan posisinya disana. Hmmm, apa ada sesuatu yang terlewat olehku, sepertinya aku harus menyelidiki tentang latar belakang keluarga Zacharias” gumam Daniel.
Sementara itu Risty yang baru saja keluar dari kamar Daniel, melihat asisten Dika yang sedang duduk di meja kerjanya dan sedang asyik dengan pekerjaannya. Risty segera melangkah menuju ke meja kerja asisten Dika. Asisten Dika sama sekali tidak mengangkat kepalanya walaupun Risty telah berhenti di depan mejanya.
“Kamu lihat kan, sampai kapanpun, Daniel masih akan tetap memilih aku daripada kamu, sampah sepertimu tidak pantas untuk menghalangiku lagi. Jadi, aku peringatkan kamu, asisten Dika, jangan pernah lagi menghalangiku jika aku ingin bertemu Daniel” sarkas Risty dengan wajah angkuh pada asisten Dika.
Asisten Dika perlahan mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Risty, “Maaf Nona, ohh bukan Nyonya maksudku, kurasa menjadi sampah jauh lebih berharga daripada kotoran yang dibalur menjadi emas dan
berlagak sebagai permata namun sayangnya sama sekali tidak berharga. Setidaknya sampah pernah memberikan arti bagi
orang lain, tetapi kotoran sampai kapanpun akan tetap dibuang dan dijauhi orang karena kehadirannya hanya akan merusak mata dan penciuman, sekalipun dia berusaha melindungi dirinya dengan tameng emas milik orang lain” sahut asisten Dika dengan nada dalam.
“Kamu……, awas saja kamu, suatu saat kamu akan menangis memohon belas kasihan dariku, dan jika saat itu tiba, maka aku akan melemparkan kamu menjadi makanan an*ing di pinggir jalan” sarkas Risty yang merasa marah dengan sindiran asisten Dika.
“Tidak perlu pusing-pusing memikirkan apalagi mengancamku, Nyonya, kurasa lebih baik Anda memikirkan bagaimana Anda bisa mempertahankan tameng emas Anda, karena jika tameng itu sudah hilang, maka jangankan manusia, bahkan an*ing sekalipun tidak akan mau mendekati Anda” sahut asisten Dika
dengan tenang.
Risty mengepalkan tangannya menahan kekesalannya pada setiap perkataan asisten Dika yang jelas-jelas menghina dirinya. Memang, satu-satunya orang yang bisa
menandingi kemampuan Risty dalam bersilat lidah sampai saat ini hanyalah asisten Dika. Namun, laki-laki muda ini sangat jarang mau berdebat dengan orang lain, apalagi dengan Risty.
__ADS_1
Asisten Dika memang tidak suka menguras energi hanya untuk melayani pembicaraan wanita ular itu. Walaupun dalam setiap kesempatan mereka terlibat dalam perdebatan, Risty selalu kalah dan pergi dengan hati kesal.
Karena itulah, sejak dulu Risty selalu ingin menyingkirkan asisten Dika dari sisi Daniel. Namun, Daniel tdak pernah mau melakukannya, alasan Daniel dulu adalah orang tuanya tidak akan mau mengusir asisten Dika. Karena memang asisten Dika sangat disayangi oleh kedua orang tua Daniel, bahkan Daniel pun dulu sempat merasa iri pada kasih sayang kedua orang tuanya pada asisten Dika.
Namun, saat Daniel melihat kesetiaan dan pengabdian asisten Dika, dia mengerti mengapa kedua orang tuanya begitu menyayangi asisten Dika. Dan, hingga saat ini, asisten Dika adalah satu-satunya orang yang tetap berdiri di sisi Daniel, apapun yang
dihadapi oleh presidir itu.
“Akan kubalas kamu, ingat saja itu, suatu saat nanti, aku pasti akan membalasmu” geram Risty sambil menunjuk wajah asisten Dika penuh kekesalan, dan melangkah pergi meninggalkan asisten Dika.
“Saya tunggu, Nyonya, dan jangan lupa, Anda terlihat sangat cocok dengan pakaian yang diobral di pasar depan sana, saya rasa itu sangat sesuai atau mungkin terlalu tinggi untuk kelas Anda” ucap asisten Dika sedikit
berteriak karena Risty sudah melangkah meninggalkannya.
Risty terkejut mendengar dimana pakaian itu dibeli asisten Dika, kalau bukan karena gengsi, Risty ingin berteriak dan mengamuk. Bagaimana bisa seorang Nyonya Walt Zacharias memakai pakaian obralan, bahkan yang diobral di mall pun tidak akan sudi
dipakainya. Dan ini, baju ini di obral di pasar pinggir jalan, sungguh memalukan sekali.
Risty berbalik menatap asisten Dika lalu mengacungkan jari tengahnya dengan penuh kemarahan. Kemudian dia segera melangkah secepat mungkin menuju ke area parkir
apartemen mewah itu. Di sepanjang jalan,
saat dia berpapasan dengan orang, semua orang menatapnya dengan heran. Bahkan saat ada di dalam lift, seorang lelaki paruh baya memberikan jasnya untuk menutupi bahu Risty yang dibuatnya terbuka dengan cara di robek.
“Sekalipun mengikuti model, setidaknya janganlah memaksakan diri, apalagi merusak pakaian Anda, tampillah sesuai kemampuan Anda” ucap laki-laki paruh baya itu.
“Tampaknya dia tidak berhasil menggaet mangsanya di sini, dia tidak tahu ya kalau semua yang ada di sini bukanlah orang sembarangan, dasar pela*ur miskin” seseorang dibelakang punggung Risty berbisik pada
kawannya. Namun, bisikannya terdengar
oleh Risty dengan sangat jelas karena memang posisi mereka berdekatan.
Risty ingin menjerit dan memaki semua orang itu, tapi dia masih berusaha untuk tetap tenang. Jas yang diberikan laki-laki paruh baya tadi langsung dilemparkannya kembali pada
pemiliknya. Dan saat pintu lift terbuka, Risty segera berlari menuju ke mobil mewahnya dimana sopirnya sudah menunggunya.
“Huh, masih untung ada yang mau berbelas kasihan dan memberinya tumpangan” ucap seseorang dibelakang Risty yang masih sempat didengar oleh wanita itu.
Risty segera masuk dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh sopirnya. Walaupun agak heran dengan penampilan sang Nyonya itu, sopir Risty hanya tutup mulut dan segera
menutup pintu mobil setelah Risty masuk.
“Pulang dengan kecepatan penuh” seru Risty, membuat sang sopir terkejut.
“Baik, Nyonya besar” sahut sopir itu dan segera keluar dari area parkir. Mobil berbelok ke arah
jalan yang berlawanan dengan jalan yang dilalui Risty tadi, membuat kening Risty berkerut.
“Kenapa jalannya beda” seru Risty.
“Ini jalur tercepat untuk kembali ke mansion, Nyonya” sahut sang sopir dengan santun. Risty hanya mendengus kesal dan duduk dengan gelisah. Tiba-tiba Risty melihat ada keramaian didepannya, membuat kening Risty
berkerut.
“Ada apa di depan itu” tanya Risty lagi pada sopirnya.
“Oh itu pasar rakyat, Nyonya, semakin sore akan semakin ramai” sahut sopirnya.
__ADS_1
Mata Risty terbelalak mendengar kata-kata sopirnya, dia ingat apa yang dikatakan oleh asisten Dika tadi. Dan saat sang sopir mengurangi laju mobil mewah itu karena banyaknya orang yang berlalu lalang, Risty kembali terkejut. Terlihat jelas di depan pasar
itu, orang menjual pakaian bukan di etalase, tapi di pinggir jalan. Dan Risty bisa melihat kalau model seperti pakaian yang digunakannya dijual dengan harga paling murah. Risty hanya bisa menggertakkan giginya menahan semua rasa amarah dan kekesalannya pada asisten Dika, “Awas saja kamu, semua ini akan kubalas” desis Risty.