PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TIGA BELAS


__ADS_3

Qiandra menghirup udara pantai dengan leluasa, lalu menghembuskannya perlahan seolah melepaskan beban yang menghimpit


hatinya.  Matanya menatap jauh ke laut


lepas, “Dean, apa yang terjadi denganmu, kepada siapa aku harus bertanya.  Tapi perasaanku mengatakan kamu baik baik


saja, lalu suara tembakan itu..... aku sungguh jelas mendengarnya” desah Qiandra dengan gelisah.


Beberapa kali Qiandra menghembuskan nafasnya dengan berat, gelisah di hatinya benar benar tidak bisa diabaikan begitu


saja.  Namun, walau bagaimanapun Qiandra


harus menutupi semua keglisahannya di hadapan Daniel.   Qiandra takut membuat Daniel menjadi marah dan justru akan membahayakan keselamatan diri Qiandra juga.


“Qi, apa mau disini saja atau mau jalan jalan


ke tempat lain, ada banyak sisi yang indah dari pantai ini” tawar Daniel yang tiba tiba sudah berdiri di samping Qiandra.


Qiandra tersentak dari lamunannya, tanpa sadar secara refleks dia menggeser tubuhnya menjauhi Daniel.  Daniel hanya tersenyum miris menyadari Qiandra masih ketakutan padanya, ada rasa pedih dihatinya tapi dia tetap tersenyum menatap Qiandra.


“Aku akan tetap sabar menunggumu, Qi, aku yakin kamu akan membuka hatimu untukku dan aku akan mampu menghapus nama baji*gan itu dari hatimu” bisik hati Daniel.


“Tidak, aku hanya ingin disini saja” sahut Qiandra pada akhirnya setelah mereka berdua sempat sama sama terdiam.


“Baiklah, aku akan menemanimu di sini, tapi jika kamu berubah pikiran kamu tinggal mengatakannya padaku” sahut Daniel masih dengan suara lembut.


Qiandra hanya diam, dia sedang berusaha memilih dan merangkai kata kata untuk menanyakan keadaan Dean kepada Daniel.  Tapi Qiandra tetap kebingungan, rasa penasarannya sungguh besar namun rasa takutnya membuat wanita itu tidak mampu berkata kata.


“Ada apa, Qi, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan, apakah ada yang ingin kamu tanyakan” tanya Daniel saat melihat sikap Qiandra yang sedikit gelisah dengan sekali sekali melirik ke arah dirinya.


Qiandra terlihat semakin gelisah, namun pada akhirnya dia memutuskan untuk bertanya, walau bagaimana pun rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya.  “Aku ….. aku ….. mhhhhh” Qiandra masih ragu untuk bertanya.


“Katakan saja, Qi, aku akan memenuhi apapun keinginanmu selain dari pergi meninggalkan aku” ucap Daniel, mata birunya menatap lekat kepada wanita cantik itu.


“Mhhhh, boleh aku bertanya sesuatu padamu” tanya Qiandra dengan sedikit gugup.


“Kalau sekedar bertanya, maka tanyakanlah, Qi, aku akan menjawab apapun itu, jangan takut, kamu tahu aku tidak akan bisa marah padamu” sahut Daniel.


Qiandra akhirnya berbalik menghadap ke arah Daniel, mata cantiknya dengan berani menatap mata biru laki laki itu.  “Daniel, aku mohon jawab aku dengan jujur, aku tidak akan bisa tenang jika tidak mengetahui hal ini” ucap Qiandra membuang segala rasa takutnya.


“Apakah ini tentang ….. Dean” tebak Daniel dengan berat hati.


“Maafkan aku, tapi aku sungguh ingin mengetahui keadaannya, se - sebelum kamu membius aku, aku, aku sempat mendengar bunyi tembakan, apa ….. apakah itu Dean” tanya Qiandra dengan terbata bata, dia tidak mampu menyelesaikan kata katanya.


“Hah, aku tahu cepat atau lambat kamu pasti akan menanyakan hal itu, kamu tenang saja, Qi, laki laki itu masih bernafas sampai saat ini.  Tapi aku tidak bisa menjamin keselamatannya jika dia mencoba merebutmu lagi dariku” sahut Daniel dengan sedikit nada mengancam.


Qiandra bernafas lega mendengar jawaban Daniel, namun dia masih merasa penasaran, “Lalu ….. lalu tembakan itu …..” tanya Qiandra lagi dengan ragu ragu.


“Aku memang ingin membunuhnya, tapi rupanya laki laki tua itu berhasil menjadikan dirinya sebagai tameng.  Tapi lain waktu, jangan harap dia lolos dari tanganku” geram Daniel dengan wajah sedikit memerah.

__ADS_1


Qiandra sangat terkejut, dia sangat tahu laki laki tua yang dimaksud oleh Daniel adalah daddy Walt.  Qiandra ingin bertanya lagi, tapi


dia mengurungkan niatnya saat melihat wajah Daniel yang sedikit memerah menahan


amarahnya.  Dia tidak berani bertanya lagi, takut Daniel akan murka dan melampiaskan pada dirinya.


Daniel bisa mengkap ketakutan di wajah Qiandra, sehingga dia harus meghela nafasnya dengan perlahan.  Daniel berusaha menetralkan perasaan marahnya agar tidak membuat Qiandra merasa ketakutan.  Amarah Daniel memang akan cepat tersulut jika


dia sudah membicarakan tentang Dean.


“Qi, maaf jika aku membuatmu ketakutan, aku sungguh tidak bermaksud demikian” ucap Daniel sambil menatap Qiandra dengan intens.  “Kalau begitu aku pamit sebentar untuk mengambil minuman untuk kita berdua, tunggu saja disini” ucap Daniel.


Daniel perlahan berbalik dan melangkah meninggalkan Qiandra, namun baru beberapa langkah dia kembali berbalik menatap punggung Qiandra.  Daniel mendesah dalam hati saat melihat wanita itu bahkan tidak


bergeming dari posisi berdirinya saat itu.  Akhirnya, Daniel kembali berbalik dan mengayunkan langkahnya menuju villa mewah yang terletak tidak jauh di belakang mereka.


Sementara Qiandra, memang tidak memperdulikan keberadaan Daniel, Qiandra bahkan tidak mendengar saat Daniel berpamitan.  Pikiran wanita itu dipenuhi dengan kekhawatiran tentang keadaan ayah mertuanya, daddy Walt.  “Astaga, bagaimana keadaan daddy Walt, mengapa mereka sampai melukai dirinya.  Tapi Daniel tadi mengatakan kalau daddy Walt melakukan itu untuk menjadi tameng Dean.  Artinya mereka memang ingin membunuh Dean sekalipun aku sudah menyerahkan diri” bisik hati Qiandra.


Qiandra kembali mendesah berat, ada penyesalan yang merasuk dalam hatinya saat menyadari kalau pengorbannya ternyata sia sia saja.  “Haish, ternyata semua ini hanya sia sia saja, Daniel tidak sungguh sungguh melakukan ucapannya.  Dia yang mengatakan


bahwa aku harus mengikutinya jika ingin Daniel selamat, tapi ternyata dia tetap


menembaknya” kembali Qiandra berdialog dalam hatinya.


Dalam kegelisahan dan rasa penasarannya tanpa sadar Qiandra mulai melangkahkan kakinya tak tentu arah.  “Jika demikian maka perkataan Daniel benar benar tidak bisa di pegang, dia bisa berubah kapan saja jika dia


mau.  Jika saat ini dia masih bisa menahan diri, maka entah besok lusa, aku tidak tahu apa yang bisa dilakukannya” desah Qiandra pada akhirnya dia memikirkan nasibnya sendiri.


“Aku sungguh tidak berguna,  hidupku hanya menjadi beban bagi orang orang yang aku cintai, Kak Charles dan Dean, mengapa hidupku harus membuat kalian menderita.  Mengapa cintaku hanya mendatangkan petaka bagi orang orang yang mencintaiku.  Dari pada aku harus selalu menanggung derita karena membawa masalah untuk mereka, maka bukankah jauh lebih baik jika aku pergi saja” desis Qiandra dalam hati.


Qiandra begitu tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia bahkan tidak memperhatikan kalau langkahnya sedang terarah menuju ke laut dengan deburan ombak di tengah


keheningan pantai itu.  Qiandra bahkan


tidak merasakan saat kakinya mulai masuk ke dalam air laut, pikirannya yang penuh dengan penyesalan membuatnya benar benar tidak menyadari keadaan di sekitarnya.


“Kak Charles, ku mohon jemput aku, bawa aku pergi bersamamu, aku letih, aku sangat Lelah, Kak, aku tidak akan mampu lagi mengahadapi dan menjalani hidupku, apalagi jika sesuatu


terjadi pada daddy Walt, dan Daniel berhasil menyentuhku.  Aku sungguh bodoh dengan pemikiran bahwa aku mampu menyelesaikan masalah Dean, aku tidak akan mampu lagi menghadapi dirinya sekalipun aku berhasil keluar dari pulau ini” desah Qiandra dengan putus asa.


Antara sadar dan tidak, dalam kepedihan dan keputus asaannya, Qiandra terus melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke lautan yang seakan menyambut dirinya.  Air mata yang mengalir di pipinya bercampur


dengan percikan air laut di wajahnya.  Qiandra terus melangkah seakan benar-benar menyerahkan dirinya dengan pasrah ke dalam pelukan lautan tak bertepi itu.


Sementara Daniel yang awalnya berniat hanya ingin mengambil minuman dingin untuk dirinya dan Qiandra, akhirnya berhenti sebentar di taman yang membatasi villanya dengan pantai.  Daniel mengambil sebatang ro*ok dan mulai menyalakannya, dia menghisap racun itu dengan kuat dan menghembuskan asap beracun itu dengan perlahan.


Daniel masih berusaha menetralkan perasaannya, antara amarah dan rasa menyesal karena sudah membuat Qiandra ketakutan.   “Astaga, Daniel, bagaimana bisa kamu sudah membuat Qiandra ketakutan, bukankah kamu sudah berjanji untuk bersikap baik padanya. Dasar bodoh, lemah, hah, aku harus banyak belajar untuk mengontrol emosiku jika aku ingin memenangkan hati Qiandra” desah Daniel dalam hatinya.


Beberapa kali Daniel menghisap asap nicotine itu dalam dalam hingga memenuhi rongga dadanya.  Daniel bukan seorang pero*ok berat, hanya pada saat saat tertentu dia mengisap benda beracun itu.  Apalagi jika ada asisten Dika, Daniel tidak akan bisa menyentuh benda itu, karena asisten Dika akan segera menegur dan menceramahi dirinya.

__ADS_1


Akhirnya setelah merasa cukup tenang, Daniel mematikan sisa ro*oknya yang masih belum habis separohnya itu.  Daniel segera bergegas


masuk ke dalam villa dan memerintahkan pelayan menyiapkan dua gelas jus buah


untuk dirinya dan Qiandra.


Daniel menerima dua gelas minuman yang diberikan oleh pelayan beserta dengan camilan di dalam sebuah nampan.  Saat melihat tampilan minuman itu dia merasa tidak puas, “Buatlah bentuk hati di gelas ini” serunya pada pelayan.


Pelayan yang mendengar perintah itu segera melaksanakan perintah bosnya itu.  Pelayan mengambil susu coklat dan melukis


bentuk hati di atas jus buah yang ada di dalam gelas.  Pelayan bahkan memberikan dua potong bolu yang bagian atasnya sudah dihiasi dengan lukisan hati dengan inisial nama Daniel dan Qiandra di atasnya.


Daniel tersenyum puas melihat sajian dia atas nampan itu, “Biasakan selalu menyiapkan makanan dan minuman dengan hiasan hati seperti ini” serunya pada pelayan yang bertugas sebagai koki di villa mewah itu.


“Baik, Tuan” sahut pelayan itu.


Daniel segera berbalik dan melangkah dengan hati hati membawa nampan yang ada di tangannya.  Seumur hidup, Daniel tidak pernah melakukan hal ini, sehingga dia cukup merasa kesulitan saat harus melangkah sambil membawa nampan itu.  Para pelayan hanya berani melirik, mereka hanya bersiap kapan saja sang tuan minta tolong.  Mereka tidak berani menawarkan bantuan karena


bisa membuat sang tuan ini merasa tersinggung dan marah.


Walaupun sulit, Daniel tetap tidak menyerah, dia terus melangkah walaupun dengan sangat perlahan.  Jika saja itu bukan Daniel, para pelayan pasti akan tertawa melihat pria gagah nan rupawan itu melangkah dengan sangat hati hati seakan akan jika langkahnya salah dia akan menginjak ranjau.  Tapi siapa yang berani menertawai seorang Daniel, hanya orang orang yang sudah tidak sayang pada nyawanya saja.


Daniel terus melangkah dengan hati hati keluar dari villa dan perlahan melewati taman yang sesaat tadi sempat menjadi tempatnya menenangkan diri.  Daniel tersenyum sendiri saat menyadari tingkahnya, “Astaga, aku benar benar seperti anak anak yang baru jatuh cinta, sehebat ini cintaku padamu, Qi, semoga saja kamu mau membuka hatimu untukku” kekeh Daniel dalam hati.


Daniel tersenyum bahagia, dia merasa yakin kalau Qiandra pasti akan tersentuh hatinya saat melihat apa yang dilakukannya ini.  Wanita mana yang bisa tidak luluh mendapat perlakuan manis dari seorang Daniel Putra Mahardika.  Daniel melangkah dengan pasti menuju tempat dimana tadi dia meninggalkan Qiandra.


Namun, saat tiba di tempat itu, Daniel terkejut karena tidak menemukan Qiandra lagi berdiri di situ.  Daniel melihat ke sekeliling tempat itu, namun dia sama sekali tidak menemukan Qiandra.  “Qi, dimana kamu, lihatlah aku membawa sesuatu untukmu” seru Daniel.


Daniel berulang kali memanggil Qiandra sambil tangannya tetap menggenggam nampan yang ada di tangannya.  Namun, Daniel sama sekali tidak mendengar sahutan dari Qiandra, dia juga tidak menemukan sosok wanita itu di sekeliling tempat itu.


Daniel mengernyitkan keningnya, “Apa Qiandra sudah kembali ke villa, tapi aku tidak berpapasan dengannya.  Lalu kemana dia, apa mungkin Qiandra pergi berkelana sendiri menjelajahi tempat ini” tanya Daniel dalam


hatinya.


Akhirnya, Daniel memutuskan untuk menghubungi para pengawalnya untuk mencari dan menemukan keberadaan Qiandra.  Namun saat salah


satu tangannya sedang berusaha mengambil phonsel di kantongnya untuk menghubungi para pengawalnya, mata tajam seorang Daniel menangkap sekelebat bayangan di laut.


Daniel terkesiap sesaat dan berusaha memastikan pandangannya, dan betapa terkejutnya dia saat menyadari apa yang dilihatnya.  Daniel bisa melihat di kajauhan Qiandra yang sudah berada di dalam laut di antara deburan ombak dengan air laut yang sudah menelan tubuh wanita itu hingga


sebatas dadanya.


“Qiandra…….” seru Daniel dengan kencang namun suaranya hilang terbawa hembusan angin laut yang tiba tiba berhembus lebih kencang.  Nampan dan phonsel yang ada di kedua tangan Daniel terlepas begitu saja,


dan laki laki itu segera berlari secepat kilat menuju ke arah Qiandra.


“Qiandra, Qiandra ……..”Daniel terus berteriak memanggil nama wanita itu, namun selalu saja suaranya hilang dintara debur ombak dan angin pantai.


Daniel berlari dengan segenap kemampuannya, kepanikannya semakin bertambah saat melihat sebuah ombak

__ADS_1


yang cukup besar datang bergulung seakan menyambut tubuh Qiandra.  Daniel tahu, dengan sekali hempasan saja ombak itu akan berhasil membawa tubuh Qiandra.  Daniel semakin panik saat mengingat Qiandra menggunakan gaun yang sudah pasti akan menyulitkan dirinya berenang.


“Qiandraaaaaa………” seru Daniel dengan sekuat tenaga dan segala kepanikannya saat dia belum berhasil meraih tubuh wanita itu, namun ombak sudah berhasil menggulung tubuh Qiandra dan menelannya dengan mudah.


__ADS_2