
“Jadi, Yang Mulia sudah sadar” tanya Dika saat dia kembali menghubungi Dean melalui saluran khusus.
“Benar, sudah seminggu ini, dan sepertinya besok beliau akan kembali ke istana. Bagaimana menurutmu, apakah istana cukup aman untuk daddy?” tanya Dean pada Dika.
“Dari yang aku dengar, mereka sangat menghormati Yang Mulia, dan sepertinya mereka berharap tidak terjadi hal yang buruk pada Yang Mulia, kemungkinan besar mereka khawatir jika kamu menggantikan Yang Mulia dan membongkar semua kasus ini lagi” sahut
Dika.
“Jangan katakan daddyku juga terlibat, Dika” desis Dean dengan perasaan sedikit khawatir.
“Kalau menurut yang aku dengar, Yang Mulia tidak terlibat sama sekali, tapi kemungkinan besar beliau mengetahui semua ini, dan, maaf, berusaha melindungi mereka” ucap Dika dengan ragu.
“Kalau itu aku juga sudah menduganya, orang orang yang terlibat itu sudah mengabdi turun
temurun pada istana, tentu saja daddy menyayangi mereka. Terlepas dari semua kesalahan yang dilakukan orang tua mereka” sahut Dean berusaha memahami pemikiran sang daddy.
“Maafkan kami, Dean, kami tidak ingin membuat kacau dengan mengungkit masa lalu, aku dan Feli hanya ingin mengetahui kebenaran kasus orang tua kami. Aku berjanji tidak akan membongkar semua in ikeluar, aku juga bisa mengerti kalau Yang Mulia ingin melindungi orang orangnya. Tapi, nama baik Hamilton juga harus dipulihkan” ucap Dika.
“Tidak bisakah hanya dengan pemulihan dan pembersihan nama Hamilto saja” ucap Dean mencoba membujuk Dika.
“Kita sudah membicarakan ini, Dean, jika hanya memulihkan nama baik tanpa ada bukti sama saja kami mengakui bahwa ayah kami bersalah sehingga namanya harus dipulihkan
dengan kebaikan hati Yang Mulia. Yang
kami harapkan nama baik Hamilton dipulihkan karena memang tidak bersalah” ucap Dika.
“Bagaimana jika sebaliknya, maaf, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk” ucap Dean.
“Aku rasa kita sudah membicarakan hal tersebut. Untuk saat ini, aku ingin tahu apakah kalian berdua Feli akan kembali ke istana bersama dengan Yang Mulia” tanya Dika menghindar pembahasan terhadap pertanyaan Dean.
Dean menghembuskan nafas berat, dia tahu kalau Dika sedang bverusaha mengalihkan
pembicaraan. Namun, Dean juga tidak bisa
memaksa kakak iparnya itu, “Aku belum tahu, semua tergantung Qiqi, aku akan mengikut kemana saja dia mau, diamana pun Qiqi merasa nyaman maka disitulah kami akan tinggal. Seperti seminggu ini, Qiqi ingin terus mendampingi Daddy, sehingga kami berdua tinggal di rumah sakit, dan baru hari ini bisa kembali ke mansion, itu pun karena daddy yang meminta pada Qiqi” sahut Dean.
“Hah, dia menyayangi Yang Mulia dengan sangat, Feli yang penuh kasih, pasti hatinya
merasa kalau Yang Mulia seperti pengganti Daddy” desah Dika dengan suara sendu.
__ADS_1
“Aku sangat bahagia jika Qiqi bisa menganggap Daddy sebagai daddynya juga” sahut Dean dengan tulus.
“Baiklah, aku akan menanti kehadiran Yang Mulia besok” sahut Dika pada akhirnya kembali mengalihkan pembicaraan yang menguras emosi itu.
“Apa kamu akan tetap berada di sana” tanya Dean.
“Aku tidak akan keluar sebelum berhasil membuktikan kebenaran kasus daddyku” sahut Dika dengan yakin.
“Hmmmm, baiklah, aku akan berusaha mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan daddy, maaf aku belum bisa membicarakan ini sekarang karena kondisi daddy” ucap Dean.
“Tidak masalah, aku juga tidak memaksamu yang akan mengakibatkan kesehatan Yang Mulia menurun. Aku hanya terus menyelidiki
orang orang yang kemungkinan mengetahui semua kasus ini, yang berarti mereka
adalah keturunan para pelaku” sahut Dika sebelum menutup panggilan mereka.
Dean menatap phonselnya dan memastikan Dika sudah menutup panggilan mereka. Lalu seperti biasa, Dean menonaktifkan
phonsel jadul itu dan menyimpannya dalam tempat tersembunyi di laci meja kerjanya. Laki laki itu terpekur sejenak sambil menghela nafas berat beberapa kali, “Mengapa semuanya menjadi serumit
ini” desahnya dalam hati.
ditanda tangani oleh Dean. “Maafkan aku,
Vian” desah Dean dengan rasa bersalah di hatinya.
"Jangan khawatir, Tuan, kami akan menunggu hingga Anda siap bercerita pada kami” sahut
asisten Vian yang ditanggapi Dean dengan anggukan sedikit. Lalu keduanya kembali masuk ke dalam ruang kerja Dean dan membahas masalah perusahaan selama beberapa saat.
“Tolong kamu handle dulu semuanya, Vian, semoga saja semua masalahku bisa segera selesai sehingga aku bisa meninggalkan Qiqi dengan tenang” ucap Dean pada sang sahabat yang juga merangkap sebagai asisten pribadinya itu.
“Baik, Tuan, saya akan berusaha melakukan yang terbaik” sahut asisten Vian. Bukanlah hal yang baru bagi Vian untuk menghandle semua pekerjaan Dean. Dia sudah berulang kali melakukan itu, sejak berbagai masalah yang menerpa sahabat sekaligus atasannya itu. Setelah itu, asisten Vian berdiri dan setelah sedikit membungkuk dia meninggalkan ruang kerja Dean dengan membawa setumpuk berkas yang telah selesai ditanda tangani
oleh Dean.
Dean menghela nafas sejenak, setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya dia melangkah menuju ke kamar utama dimana Qiandra sedang beristirahat. Saat masuk kamar, dia melihat wanita cantik
itu sedang duduk di sofa khusus ibu hamil sambil membaca dengan serius. Dean menghampiri sang istri, lalu mengecup
__ADS_1
lembut keningnya, “Apa yang sedang kamu baca, Honey” tanyanya seraya duduk di
samping Qiandra.
“Hanya novel biasa, aku merasa sedikit bosan karena terus berbaring” ucap Qiandra tanpa
memalingkan wajahnya dari buku yang sedang dibacanya.
“Apa kamu ingin keluar, kalau iya kamu tinggal mengatakannya padaku, aku akan mengantarmu kemana pun kamu ingin” ucap Dean, tangannya membelai lembut rambut wanita yang sangat dicintainya itu.
Qiandra mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya, “Aku tidak ingin pergi kemanapun, Love, aku tidak ingin membuat kalian repot memikirkan keselamatanku. Sebelum semua masalah ini terpecahkan, aku
akan berusaha untuk tetap bersembunyi, semoga dengan cara itu kalian bisa lebih
fokus membongkar semua misteri yang menimpa keluargaku” sahut Qiandra.
Dean tersenyum, dia merasa bangga dengan pengertian yang diberikan oleh wanita yang kini sedang mengandung buah cinta mereka. Jika wanita lain, mungkin akan mengambil kesempatan untuk selalu bermanja pada sang suami yang kaya raya. Berbeda dengan
sang istri, dia lebih mengutamakan kepentingan sang suami dan rela menahan
semua keinginannya sendiri. Tapi Dean
tidak akan membiarkan hal itu terjadi, apa pun yang dihadapi, dia ingin Qiandra tetap menjalani hari harinya dengan bahagia.
“Jangan berpikir demikian, Honey, jika kamu merasa tertekan maka itu akan menjadi masalah yang lebih berat untukku. Kamu tahu, kebahagiaanmu adalah sumber kekuatanku, dengan senyummu aku bisa memecahkan semua masalah dengan kepala dingin dan hati tenang” ucap Dean membuat wajah Qiandra yang putih bersih seketika merona.
“Love, kamu ada ada saja, mana bisa senyumku membuatmu mampu menyelesaikan semua masalah, semua
itu karena memang kamu punya kemampuan untuk menyelesaikannya, aku sangat yakin” sahut Qiandra.
Dean tersenyum lalu dia duduk bersimpuh dihadapan Qiandra, dia membelai perut Qiandra yang sudah membuncit. “Hei Nak, kamu dengar mommymu, dia sungguh kejam, bagaimana bisa dia tidak percaya pada kata kata daddy, apa mommymu tidak sadar bahwa nafas daddy ada pada kalian, jika kalian bahagia maka daddy pun akan bahagia, tapi jika kalian bersedih, maka seperti itu pula perasaan daddy” ucap laki laki tampan itu sambil memeluk perut sang
istri dan memberikan kecupan kecupan kecil.
Qiandra tertawa kecil mendengar tingkah lucu sang suami yang mengadu pada bayi dalam
perutnya. Namun, tak ayal rasa bahagia
menerpa hatinya, sungguh Qiandra tidak bisa bahkan tidak berani membayangkan jika
__ADS_1
harus kehilangan kebahagiaan ini. Qiandra hanya bisa berdoa dalam hati, semoga semuanya berjalan dengan baik baik saja, sehingga dia dan buah hatinya tidak harus berpisah dan kehilangan Dean.