PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN PULUH


__ADS_3

“Jadi, bagaimana menurutmu, apakah sekarang


ini Qiqi sudah cukup mampu menghadapi ular itu” Dean membawa segelas kopi hitam dan duduk di sofa ruang tamu apartemen mewahnya.


Seorang laki-laki muda yang sedang asyik


dengan gadget di tangannya segera menatap presidir tampan itu dengan seksama,


“Maksudmu apa, menghadapi bagaimana” tanya laki-laki itu seraya meletakkan gadget mewahnya di atas meja.


“Kita akan segera melaksanakan pesta


perkenalan Nyonya Muda, tapi kami ingin memastikan kondisi Nyonya Muda dulu, jangan


sampai hal ini memperparah traumanya, karena tidak akan bisa dihindari kalau dia pasti akan bertemu dengan wanita itu” asisten Vian yang memberikan penjelasan kepada laki-laki muda yang tak lain dari dokter Albert itu.


“Jika melihat kondisi Qiqi saat ini, kurasa dia sudah cukup mampu menghadapi ular itu, dari segi kemampuan aku sangat yakin kalau Qiqi jauh berada diatas ular itu, sepanjang kita bisa menjaga tidak ada tindak kekerasan, aku yakin Qiqi mampu menghadapinya” sahut dokter Albert.


“Jangan dengan perkiraan, Al, kamu harus


benar-benar yakin, jangan sampai kita salah langkah dan membuat Nyonya Muda menderita lagi.  Kita tahu bagaimana kemampuan wanita itu dalam memutar balikkan fakta dan mengubah hal yang harusnya menjadi kekuatan berubah jadi kelemahan dan sebaliknya.  Masa lalu Nyonya Muda akan menjadi senjata


utamanya, dan apakah menurutmu Nyonya Muda akan mampu menghadapi orang ini”


ucap asisten Vian sambil menatap dokter Albert dengan intens.


Dokter Albert menghela nafas sesaat, “Trauma yang dialami oleh Qiqi adalah trauma pada kekerasan dan rasa takut kehilangan.  Kalau pada kekerasan, aku rasa kita bisa melindunginya agar tidak ada tindak kekerasan di sana, tapi pada rasa takut kehilangan, hal itu hanya bisa dipastikan oleh Dean” sahut dokter


Albert.


“Aku? dan bagaimana aku memastikan hal


tersebut” tanya Dean yang sejak tadi berdiam diri seraya mengernyitkan kening mendengar kata-kata dokter Albert.


“Yah, kamu, kamu yang bisa memastikan


seberapa besar keyakinan Qiqi pada dirimu, setelah kalian bersama selama beberapa waktu terakhir ini, apakah menurutmu Qiqi sudah benar-benar yakin dan bisa mempercayai dirimu dengan sepenuh hatinya” tegas dokter Albert.


Dean termangu mendengar kata-kata dokter


Albert, karena sejujurnya dia tidak bisa memprediksi sama sekali tentang bagaimana perasaan Qiandra pada dirinya.  Kalau cinta, Dean sangat yakin kalau Qiandra sangat mencintai dirinya, tapi kepercayaan, Dean tidak berani memprediksi hal tersebut.


Dean sangat tahu kalau Qiandra masih kerap


merasa rendah diri jika bersanding dengannya namun selalu berusaha menutupinya.  Dean telah berusaha berulang kali meyakinkan Qiandra bahwa wanita itu lebih dari pantas untuk menjadi pendamping hidupnya, namun sampai saat ini, Dean masih belum bisa


memastikan apakah Qiandra sudah benar-benar yakin.


“Aku siap menghadapinya, tentunya dengan


dukungan dari kalian semua” sebuah suara yang sangat lembut mengejutkan ketiga pria tampan itu.  Serta merta mereka bertiga mengalihkan pandangan dan menatap ke arah sumber suara itu, seketika ketiganya terkejut, namun tak urung Dean mengulurkan tangannya ke arah sumber suara itu.


“Kemarilah, Honey, maaf kami membicarakan


dirimu disini” ucap Dean, presidir tampan itu bahkan berdiri dan segera meraih jemari wanita yang sangat dicintainya yang tak lain adalah Qiandra.  Dean membawa Qiandra untuk duduk tanpa melepaskan pelukannya di pinggang ramping sang istri.


Qiandra terlihat sangat mempesona dengan


rambut bergelombang yang terurai indah dan gaun biru muda yang melekat pas di tubuh indahnya.  Wajahnya terlihat polos tanpa polesan apapun, hanya sedikit pewarna pink natural yang terlihat menghias bibir seksi wanita itu, membuat kecantikan naturalnya terekspos dengan sempurna.


Dokter Albert dan asisten Vian menatap wanita cantik itu tanpa berkedip, mereka selalu terpesona saat melihat Qiandra tampil sederhana seperti itu.  “Jaga mata dan mulut kalian berdua” desis Dean yang merasa kesal melihat kedua sahabatnya menatap istrinya dengan tatapan penuh rasa kagum.


Seperti biasa, asisten Vian segera mengalihkan pandangannya, berbeda dengan dokter Albert yang seperti tidak perduli dengan ucapan Dean.  “Kamu selalu cantik dan mempesona dalam keadaan apapun, Qi” ucap dokter Albert dengan mata tak lepas dari wajah Qiandra.


Dean hampir saja melempar bantalan kursi


pada dokter tampan itu, namun tangannya ditahan oleh Qiandra.  Dengan senyum manisnya, wanita itu menatap dokter Albert, “Terima kasih, Kak Al, kembali pada pembicaraan tadi, aku pastikan aku mampu menghadapinya, asalkan seperti kata Kak Al tadi jangan sampai ada kekerasan lagi.  Sebenarnya ada kekerasan sekalipun, jika kalian ada bersamaku, aku rasa aku bisa


menghadapinya” ucap Qiandra.

__ADS_1


Wanita itu mengalihkan pandangannya dan


menatap suaminya dengan mata penuh harap, Qiandra bahkan menggenggam erat tangan sang suami.  Dean pun menatap wanita itu dengan penuh cinta, “Pasti, Honey, kami pasti akan selalu bersamamu, apapun akan aku lakukan jika itu bisa membuatmu merasa tenang, kamu tahu itu” ucap presidir tampan itu.


Dean meraih bahu istrinya itu dan merengkuhnya dengan erat, bahkan tanpa ragu laki-laki itu mengecup kening sang istri dengan penuh cinta.  Pemandangan yang benar-benar romantis itu membuat dua jiwa jomblo yang menyaksikan hal tersebut meronta-ronta.


“Haish, aku rasa aku harus segera menemukan


pasangan hidupku jika harus menghadapi pemandangan seperti ini setiap hari.  Tapi setidaknya sampai aku menemukan belahan jiwaku, bisakah kamu tidak mempertontonkan hal seperti ini di depanku” keluh dokter Albert tanpa mampu menahan diri.


“Ha ha ha, ternyata hal seperti itu saja sudah bisa menyiksamu, hmmm, bagaimana kalau lebih dari itu” tawa renyah Dean membuat wajah Qiandra memerah.  Qiandra memang masih belum terbiasa dengan perlakuan mesra sang suami yang memang tidak pernah perduli pada waktu tempat.


Bagi Dean, dimanapun dia berada, jika Qiandra ada di sisinya, maka dia tidak akan melepaskan wanita itu dari rengkuhannya.  Dan jika ada hal  yang membuatnya merasa bahagia maka dia akan mengecup kening bahkan bibir istrinya itu tanpa ragu.  Dean tidak perduli pada protes yang selalu diucapkan Qiandra setelah dia melakukan hal itu, baginya omelan Qiandra seperti sebuah lagu merdu yang malah membuatnya bahagia.


“Love…” desis Qiandra melihat suaminya itu


berniat membuktikan kata-katanya pada dokter Albert.


“Ehmmm, Tuan Dean benar, Nyonya, kami semua akan selalu mendukung dan melindungi Anda, tapi kami masih khawatir dengan kata-kata tajam penuh tipu dari wanita itu, kami sungguh tidak bisa memprediksi apa yang akan diucapkannya, terutama, maaf, tentang masa lalu Anda” ucap asisten Vian dengan hati-hati.


“Vian….” desis Dean yang tidak menyangka


asisten Vian berbicara tentang masa lalu Qiandra.


“Tidak masalah, Love, Kak Vian benar, aku


tidak bisa menghapus masa laluku, juga statusku dulu, tapi aku juga punya masa depan yang akan menjadi lebih baik jika aku bisa menerima masa laluku sendiri.  Sampai saat ini, aku sendiri masih belum mengetahui siapa aku sebenarnya, tapi aku tidak akan pernah lagi


malu untuk mengakui semua itu.  Toh, kamu


juga sudah mengetahui semuanya bahkan sebelum kita menikah, Honey, dan kamu tetap menerima aku.  Itu adalah kekuatan bagi diriku untuk menghadapi wanita itu” ucap Qiandra dengan lembut.


Kata-kata Qiandra yang lembut namun cukup


tegas membuat ketiga laki-laki tampan itu merasa lega.  “Hal yang terpenting disini adalah rasa percaya dirimu, Qi, karena hal itu adalah hal yang paling utama yang akan diserangnya.  Aku harap kamu tidak pernah merasa ragu tentang kepantasan dirimu berada dalam posisimu saat ini” ucap dokter Albert.


“Jika kamu merasa ragu, maka tolong ingat


menganggapmu rendah karena masa lalumu.  Bagi kami, kamulah yang terbaik dan satu-satunya wanita yang pantas berada di sisi Dean, yah, walaupun aku juga berharap……” kata-kata dokter Albert terputus saat sebuah bantal mendarat tepat di kepalanya.


“Jangan pernah berpikir apalagi berharap pada Qiqiku, atau aku sendiri yang akan mengkebiri dirimu” seru Dean dengan wajah horor menatap sahabatnya itu.


“Ha ha ha, tak ada salahnya kan berharap,


siapa tahu….” kembali kata-kata dokter Albert dipotong dengan cepat oleh Dean.


“Tidak akan pernah ada siapa tahu, satu-satunya laki-laki yang bisa menjadi pemilik Qiandra hanya Dean Walt Zacharias” seru


Dean.


“Jika memang Nyonya muda merasa siap untuk menghadapi wanita itu, saya rasa kita bisa segera mempersiapkan pesta perkenalan ini, bagaimana Tuan” asisten Vian kembali berbicara menengahi perdebatan absurb Dean dan dokter Albert.


Dean dan dokter Albert segera mengalihkan


tatapan mereka, dan ketiga pria itu semua menatap ke arah Qiandra, seolah semua


keputusan diserahkan pada wanita itu.  “Aku siap kapan saja, tapi semuanya aku serahkan kembali padamu, Love, kapan waktu yang terbaik untuk pelaksanaannya” ucap Qiandra.


Qiandra seorang wanita yang sangat mandiri


dan terbiasa untuk membuat keputuisan-keputusan besar untuk hidupnya juga untuk


usah-usahanya.  Namun, saat ini Qiandra


sangat menyadari kalau dia sudah memiliki suami, sehingga wanita ini belajar perlahan-lahan untuk menyerahkan semua keputusan pada suaminya.


Dean tersenyum bahagia mendengar kata-kata


Qiandra, padahal dia sendiri tidak merasa keberatan jika wanita itu yang membuat keputusan, karena Dean sangat menghargai Qiandra.  Namun, penghargaan wanita itu kepadanya sebagai suami dan kepala rumah tangga membuat Dean merasa bangga sekaligus bahagia karena sehebat apapun istrinya, wanita itu tetap menyerahkan keputusan kepadanya.

__ADS_1


“Baiklah, jika kamu memang merasa tidak ada


masalah dan siap menghadapi iblis itu, Honey, maka kita akan melaksanakan pesta ini dalam dua hari lagi, bagaimana” tanya Dean tetap mengembalikan pada sang istri.


“Siap, bos, as you want” ucap Qiandra sambil mengangkat telapak tangannya dan meletakkan di pelipisnya dengan wajah polos menatap sang suami.


Dean tersenyum melihat tingkah istrinya, dia bahkan mengacak rambut Qiandra dengan lembut dan membawa kepala wanita itu untuk bersandar di dadanya, “Jangan menggodaku dengan wajah seperti itu, Honey, kamu tahu aku tidak akan bisa menahan diri” gumam Dean di telinga Qiandra membuat wanita itu terkikik.


“Astaga, kurasa sebaiknya kami segera


meninggalkan tempat ini sebelum pertunjukan yang lebih vulgar lagi terjadi di depan mata polos kami” keluh dokter Albert yang malah disambut dengan tawa renyah Dean.


“Ha ha ha, untungnya kamu segera menyadari


hal tersebut, jadi apa lagi yang kamu tunggu, heh” seru Dean tanpa ragu pada sahabatnya itu, membuat dokter Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ehmm, maaf Tuan, jadi acaranya fix dua hari lagi ya” asisten Vian seperti biasa selalu menengahi perdebatan Dean dan dokter Albert.


“Ya, tolong segera kamu persiapkan segala


sesuatunya sesuai dengan rencana, jangan sampai ada yang terlewat, jika perlu hubungi bibi untuk memastikan segala sesuatunya sudah sesuai dengan aturan yang seharusnya” ucap Dean dengan tegas.


“Dimana acaranya nanti, Love” tanya Qiandra


yang memang tidak tahu apa-apa tentang konsep acara yang akan dilaksanakan.


“Kamu akan tahu nanti, Honey, ini akan jadi


sesuatu yang istimewa untukmu” sahut Dean sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Tapi setidaknya aku tahu ini acara indoor


atau outdoor, biar aku bisa menyesuaikan gaun yang aku gunakan nanti” ucap Qiandra.


“Oh, maafkan saya, Nyonya, saya lupa menyampaikan kalau gaun Anda sudah dipersiapkan, maaf karena ini sifatnya adat jadi semuanya sudah dipersiapkan sesuai aturan yang berlaku” ucap asisten Vian dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Qiandra.


“Tapi jika kamu sudah punya rancangan sendiri,


kurasa tidak akan ada masalah kalau memang kamu ingin menggunakan gaun hasil karyamu sendiri” ucap Dean, dia tidak ingin Qiandra merasa kecewa karena semua aturan ketat dalam keluarganya.


“Ah, tidak, tidak, Love, aku akan memakai gaun yang sudah dipersiapkan, apa kamu lupa kalau aku sudah pernah mengatakan akan mengikuti semua aturan yang berlaku jika itu menyangkut tradisi keluargamu.  Karena aku yakin setiap


aturan yang sudah dibuat mempunyai maksud dan tujuan yang baik, jadi tidak ada salahnya bukan kalau aku mengikuti aturan itu” ucap Qiandra masih dengan senyum lembut  yang tidak pernah pupus dari bibirnya.


“Tuan Dean benar Nyonya, kalau memang Anda


telah mempersiapkan gaun khusus, maka Anda bisa menggunakannya” ucap asisten Vian yang juga merasa tidak nyaman dengan Qiandra.


“Astaga, Kak Vian, jangan merasa sungkan


begitu, aku sungguh tidak masalah, janganlah kalian berpikir karena aku seorang perancang lalu tidak mau memakai gaun yang bukan rancanganku.  Santai saja, Kak Vian, aku benar-benar tidak masalah memakai gaun apapun” sahut Qiandra  yang bisa melihat dengan jelas kalau ketiga laki-laki itu merasa tidak nyaman dengannya.


“Ya, sudah kalau begitu tidak ada masalah,


tapi sebaiknya, Vian, kamu segera membawa gaun yang akan dikenakan oleh Qiqi, agar dia bisa segera mencobanya dan menyesuaikan segala sesuatunya” ucap Dean menengahi mereka semua.


“Baiklah, Tuan, saya akan segera membawa


gaun yang akan dikenakan Nyonya Muda, sore ini juga” sahut asisten Vian dengan perasaan lega.  Dalam hati laki-laki ini merasa sangat bersyukur karena Qiandra tidak membuatnya kesulitan hanya karena masalah gaun yang akan dikenakan wanita ini.


“Ya, sudah, kalau begitu bagaimana kalau


sekarang kita makan siang bersama saja, kebetulan aku sudah menyiapkan banyak


makanan” ucap Qiandra seraya berdiri.


“Ah, ini yang aku tunggu sejak tadi, makanya aku tak mau pergi” seru dokter Albert sambil mengedipkan matanya pada Dean.  Dean yang mengerti maksud kata-kata dokter Albert hanya tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya.


“Dasar dokter gadungan, untuk membeli

__ADS_1


makanan saja tidak mampu” desis Dean.


“Bukan tidak mampu, Bro, tapi kalau ada yang gratis dan higyenis bukankah itu jauh lebih baik, heh” kekeh dokter Albert  membuat semua orang tersenyum mendengarnya.


__ADS_2