
“Honey, aku ingin membawamu ke kamar utama yang nantinya akan kita berdua tempati nanti” ucap Dean saat dia bersama Qiandra masih berbaring di ranjang big size yang ada di kamar mewah milik Dean.
“Kamar utama?, tapi bukankah itu hanya boleh dimasuki oleh raja dan ratu, lalu bagaimana mungkin kita berdua menempati kamar itu” tanya Qiandra dengan kening berkerut.
“Upacara penobatan sedang dipersiapkan dan akan segera dilaksanakan” ucap Dean.
“Tapi itu penobatan dirimu, Love, bukan aku, jadi kurasa kita tidak bisa menempati kamar
utama” sahut Qiandra. Dalam hati wanita
cantik ini, sebenarnya dia merasa sedikit segan jika harus menempati istana yang begitu besar.
“Tentu saja termasuk penobatan dirimu, Honey, aku lupa mengatakan kalau kamu juga akan sekaligus dinobatkan menjadi ratu” sahut Dean sambil mengecup kening istrinya
dengan penuh kasih.
“Aku?, menjadi ratu?, ta tapi bagaimana mungkin, Love” tanya Qiandra dengan sedikit
terkejut. Sedikit banyak Qiandra tahu kalau tidak semua istri Raja akan menjadi Ratu, ada banyak kriteria yang harus dipenuhi.
“Daddy sudah memutuskan, lagi pula kalau bukan kamu, siapa lagi, Honey, memang kamu mengijinkan aku menikah lagi, hmmm” tanya Dean menggoda wanita cantik yang
masih bersandar di dadanya itu. Sayangnya,
bukan jawaban yang didapatkan oleh Dean tapi pukulan bertubi tubi dari wanita cantik itu.
“Kamu berani mengatakan hal seperti itu, Love, memang kamu sudah membuat rencana, hah, bilang sekarang, agar aku bisa menyiapkan hukuman untukmu, apa kamu siap kehilangan senjata pusakamu itu, hah” seru Qiandra sambil memukul sang suami dengan kesal.
Dean tertawa terbahak bahak melihat tingkah lucu sang istri, “Hei, hei Honey, apa kamu benar benar akan memotong senjata pusakaku, apa kamu yakin bisa hidup tanpa itu, hmmm” tanya Dean semakin menggoda Qiandra.
“Aku tidak perduli, dari pada harus berbagi dengan wanita lain, aku lebih suka
memotongnya” desis Qiandra dengan wajah serius.
__ADS_1
Dean sempat menelan ludah mendengar keseriusan ancaman sang istri, “aku hanya bercanda, Honey, kamu sendiri tahu kalau senjataku tidak akan bereaksi pada wanita lain selain dirimu” ucapnya kemudian sambil mengunci tatapannya pada kedua bola mata
Qiandra.
Qiandra sedikit tersipu mendengar ucapan sang suami, “Iya sekarang, entah di masa mendatang” sahut Qiandra tak mau kalah.
“Jangan pernah meragukan aku, Honey, kamu tahu seberapa besar rasa cintaku padamu” desis Dean dengan tegas kepada Qiandra. Qiandra hanya tersenyum sambil membelai wajah sang suami, dia sama sekali tidak
meragukan Dean.
“Terima kasih, Love, aku sangat tahu seberapa besar cintamu, karena aku juga merasakan hal yang sama” bisik wanita cantik itu dengan lembut di telinga Dean.
Dean menggeram merasakan hembusan nafas sang istri di telinganya, “Honey, jangan menggodaku, kamu tahu aku tidak akan pernah bisa menahan diri” desisnya dengan dada naik turun menahan gelora di dalam tubuhnya.
Qiandra tersenyum, jarinya bahkan dengan perlahan menelusuri dada bidang sang presidir tampan itu. “Aku?, menggodamu?, ah yang benar saja Tuan Dean, apa aku punya kemampuan untuk menaklukkan seorang
presidir dan pemimpin Mahardika, ku rasa aku tidaklah sehebat itu, hmmmm” bisik Qiandra dengan sedikit mendesah.
“Honey .......” geram Dean berusaha mengontrol gairah yang terus merambat menguasai tubuhnya.
gerah sekarang, berendam sekejap tentu akan membuat aku kembali segar, bukan begitu, Yang Mulia” ucapnya seraya membuka gaun yang membalut tubuhnya seraya terus melangkah menuju kamar mandi.
“Fuck, .....” seru Dean lalu melangkah tergesa dan langsung menggendong tubuh sang istri ala bridal style membuat Qiandra sedikit terpekik walaupun dia sudah menduganya. “Kamu sudah berani nakal, Honey, jangan salahkan aku kalau membuatmu tidak bisa bangun besok pagi, kamu harus menerima hukumanmu” desis Dean dengan mata berkabut gairah.
“Ah, aku harap hukuman Yang Mulia sesuai dengan apa yang ada dalam khayalanku” desah Qiandra sambil mengalungkan tangannya di leher sang suami. Mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi dan
menghabiskan waktu yang tidak sebentar di dalam sana.
Sementara itu di kamar Walt Zacharias, laki laki paruh baya itu memanggil sang kepala
pelayannya. Jhon, kepala pelayan raja segera masuk dan bersimpuh di hadapan pembaringan Daddy Walt. “Maafkan hamba, Yang Mulia, ada apa gerangan Anda memanggil hamba, apakah ada sesuatu yang Anda perlukan” tanya Jhon dengan tetap dalam posisi bersimpuh.
“Jhon, aku akan membuka kasus itu” ucap Walt Zacharias tanpa berbasa basi lagi.
__ADS_1
Jhon yang mendengar kata kata Walt Zacharias sedikit tersentak, namun sesaat kemudian dia menarik nafas perlahan, “Terima kasih Anda mau mengatakannya kepada hamba, Yang Mulia, saya juga sangat mengerti kalau cepat atau lambat semuanya pasti harus dibuka, dan saya yakin Anda punya alasan yang kuat dan pertimbangan bijak dalam setiap keputusan Anda” ucapnya pada akhirnya.
“Aku menyampaikan padamu agar kalian bersiap dengan kemungkinan terburuk, apapun konsekuensi dari dibukanya kasus ini. Kalian bisa mempersiapkan diri baik untuk pembelaan maupun untuk menerima akibat dari masa lalu itu. Aku akan tetap berpijak pada kebenaran dan akan berusaha untuk memberi putusan terbaik untuk semua pihak” sahut Walt Zacharias.
Jhon terdiam selama beberapa saat, “Apa kami berhak membuat pembelaan, Yang Mulia” tanya Jhon pada akhirnya.
“Kalian berhak, dalam suatu pengadilan siapa pun berhak untuk mendapatkan pembelaan. Karena itu persiapkanlah segala sesuatunya,
karena kamu sendiri tahu bagaimana posisi kalian dalam kasus ini” ucap Walt Zacharias.
Jhon menganggukkan kepalanya sedikit, “Baiklah, Yang Mulia, kami akan berusaha
melakukan pembelaan” sahutnya lagi.
“Pergilah, Jhon, kalian sementara aku bebas tugaskan agar kalian bisa fokus pada kasus ini. Bawalah mereka semua keluar dari istana, kalian bebas mempersiapkan diri kalian” ucap Walt Zacharias yang tak ayal
membuat tubuh Jhon sedikit mengejang.
Kepala pelayan Jhon sama sekali tidak menyangka kalau Walt Zacharias akan langsung menyuruh mereka keluar dari istana. Namun, Jhon juga tidak bisa membantah, jika titah sudah diberikan, dia hanya bisa melaksanakannya. Karena jika dia membantah maka itu bisa memperberat masalah yang harus dihadapi nantinya.
“Sesuai titah, Anda, Yang Mulia, hari ini juga kami akan berkemas dan keluar dari istana” ucap Jhon seraya kembali berdiri dan membungkuk di hadapan Walt Zacharias. Setelah itu, Jhon melangkah mundur masih
dalam posisi membungkuk hingga sampai ke pintu lalu dia keluar dari kamar Walt
Zacharias.
Kepala pelayan Jhon segera melangkah menuju ke lantai dasar dan langsung mengambil phonselnya dan mengirimkan pesan pada salah satu grup tanpa nama di chatnya. Setelah itu, dia segera melangkah menuju ke bagian belakang istana megah itu, dimana terdapat beberapa bangunan megah
lainnya yang menjadi tempat tinggalnya serta beberapa orang penting lainnya yang bekerja di istana.
Phonsel kepala pelayan Jhon terus bergetar, namun tidak diperdulikannya, dia tetap melengkah menuju tempat tinggalnya. Setibanya disana, dia disambut oleh istrinya yang sedikit heran melihat kepala pelayan
Jhon sudah pulang padahal belum waktunya. Kebingungan istri Jhon semakin besar saat mendengar kata kata yang keluar dari bibir Jhon.
__ADS_1
“Segeralah berkemas bersama anak anak, malam ini juga kita keluar dari istana” ucap kepala pelayan Jhon tanpa memberi penjelasan pada sang istri. Walaupun ada banyak pertanyaan, tapi istrinya menyimpan dalam hati. Wanita itu langsung bergegas menuju ke kamar anak anaknya dan membawa mereka segera berkemas.