
“Saranku sebaiknya dia segera dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap, Nona, agar dia bisa mendapat perawatan yang terbaik” ucap dokter itu dengan wajah pasrah.
“Rencananya, aku memang akan membawanya hari ini, Dok, tapi masih menunggu jadual penerbangan dulu” sahut Qiandra.
“Kita bisa membawanya sekarang juga” sebuah suara bariton yang sangat familiar di telinga Qiandra, mengejutkan mereka semua.
Qiandra ternganga melihat siapa yang berdiri di pintu ruang perawatan Jossie, “Hallo, Qi, bukankah aku sudah bilang, kamu tidak akan bisa bersembunyi dariku” ucap laki-laki tampan nan menawan itu kepada Qiandra. Dia merentangkan tangannya sambil berjalan mendekati Qiandra.
Tanpa sadar Qiandra melangkah mendekati laki-laki itu, dan saat jarak mereka semakin dekat, Qiandra bahkan berlari kecil dan masuk dalam pelukan laki-laki itu. “Dean, bagaimana kamu bisa ada di sini” desis Qiandra dalam pelukan hangat Dean.
“Aku akan selalu ada dimanapun hatiku berada, kamu adalah hatiku, Qi, maka aku pasti akan menemukanmu” bisik Dean sendu di telinga wanita yang sangat dirindukannya itu.
Dokter dan para perawat, juga Ady, semuanya terlihat menganga tak percaya, bagaimana bisa seorang pengusaha nomor satu di dunia, yang menjadi idola semua wanita, datang ke kota kecil mereka. Dan sekarang laki-laki itu dengan begitu mudahnya memeluk sang primadona kota mereka.
Hanya Bik Sum dan dokter Albert yang tersenyum melihat adegan itu, keduanya saling menatap dan menganggukan kepala seakan saling menyapa. Tidak ada suara yang terdengar dalam ruangan itu, saat kedua insan itu tenggelam dalam pelukan penuh kerinduan.
Dean mengecup pucuk kepala Qiandra berulang-ulang, bahagia tak terkira memenuhi seluruh relung hatinya, “Jangan pergi lagi, Qi, atau aku harus mengikatmu disisiku” bisik Dean lembut di telinga Qiandra.
Qiandra mengurai pelukan mereka, lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan itu. Tidak bisa dipungkiri oleh Qiandra, kalau dia merindukan wajah tampan itu, pelukan hangat dan sentuhan laki-laki inilah yang mampu membawa getaran dalam diri seorang Qiandra.
Perlahan Dean menundukkan kepalanya dan menyentuh bibir wanita yang terlihat merah merekah itu, ci*man lembut mendarat di bibir seksi wanita yang sangat dirindukannya. Qiandra menerima ci*man itu, dia bahkan membuka mulutnya dan membalas ci*man hangat sang lelaki.
“Ehmmm….” dokter Albert menyadarkan dua insan yang seakan melupakan kalau sekarang mereka dikelilingi oleh orang-orang yang seakan menikmati sebuah pertunjukan gratis.
Qiandra tersadar dan segera melepaskan ciuman mereka, namun Dean tidak perduli, dia bahkan merengkuh erat pinggang ramping wanita itu. “Ah, maafkan kami, kami sudah terlalu lama tidak bertemu, kekasihku ini sedang mencoba kabur dariku” kekehnya seraya mencubit hidung Qiandra.
Sementara Qiandra, mukanya sudah merah padam, ditambah lagi kata-kata Dean yang menyebutkan bahwa dia adalah kekasih laki-laki itu, semakin membuat Qiandra salah tingkah.
“Jadi, bagaimana, kapan Nona Jossie akan dibawa, agar kami dapat mempersiapkan segala sesuatunya” sahut dokter jaga tadi mengalihkan pembicaraan mereka.
“Al” desis Dean dan segera dipahami oleh dokter Albert.
“Maaf, Dok, saya dokter keluarga mereka, saya mohon ijin memeriksa pasien terlebih dulu” ucap dokter Albert dengan sopan.
__ADS_1
“A-apakah Anda dokter Albert” tanya dokter itu dengan mata terbelalak.
“Benar, Dok” sahut dokter Albert seraya menundukkan kepalanya dengan ramah.
“Astaga, mimpi apa aku semalam, aku sangat mengagumi Anda, ah aku berharap kita punya waktu untuk sekedar makan siang bersama” seru dokter jaga itu dengan penuh antusias.
“Jika memang ada waktu, dengan senang hati saya terima tawaran Anda, tapi sekarang ijinkan saya memeriksa keadaan pasien dulu” ucap dokter Albert.
“Oh, tentu, tentu silahkan, Dok” ucap dokter jaga itu dengan wajah berbinar. Dokter Albert segera melakukan pemeriksaan intensif terhadap kondisi Jossie, “Ini riwayatnya, Dok” ucap dokter jaga itu sambil menyerahkan laporan perkembangan Jossie.
Dokter Albert memeriksa laporan itu dengan seksama, sesaat keningnya berkerut, namun kemudian dia tersenyum, “Anda benar-benar hebat, terima kasih sudah menangani Nona ini sampai saat ini, dan mulai sekarang aku yang akan mengambil alih perawatan Nona ini, apakah boleh” tanya dokter Albert pada dokter jaga itu.
“Saya akan melaporkan kepada direktur rumah sakit ini” jawab dokter jaga itu.
“Nanti aku yang akan memberitahukan Kak Pras” Qiandra tiba-tiba menyela pembicaraan kedua dokter itu. Namun, hal itu membuat laki-laki posesif itu mengernyitkan keningnya dengan wajah sedikit kesal.
Qiandra mengambil phonselnya dan menghubungi nomor seseorang, dia agak kesulitan karena Dean tidak mau melepaskan pinggangnya sama sekali. Qiandra melotot protes pada laki-laki itu, namun sama sekali tidak dihiraukannya.
“Hallo, Kak Pras” sapa Qiandra ramah.
“Hallo Dok, ini aku Dean Walt Zacharias, kekasih Nona Andra, aku mohon ijin untuk membawa adik kekasihku ini keluar kota untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik” ucap Dean tanpa basa basi.
“Oh, begitu ya, baiklah, silahkan saja, apa Anda memerlukan pendampingan Tuan” sahut dokter Pras dengan suara yang sedikit kecewa.
“Tidak perlu, aku sudah membawa dokter pribadiku, dokter Albert” sahut Dean.
“Oh, baiklah kalau begitu, silahkan saja, Tuan” sahut dokter Pras lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dean segera menyerahkan kembali phonsel Qiandra kepada wanita itu, Qiandra hanya bisa melongo melihat tingkah laki-laki itu.
“Al, segera persiapkan Nona itu, aku akan keluar sebentar bersama Qiqiku” ucap Dean lalu dia meraih tangan Qianda dan menggenggamnya erat seraya mengajak wanita itu meninggalkan ruang perawatan itu.
“Astaga, Dean, kamu apa-apaan sich, sejak kapan aku jadi kekasihmu” protes Qiandra saat mereka berdua berjalan dilorong rumah sakit itu.
“Sejak saat ini, Qi” sahut Dean dengan acuh, “Sekarang, bawa aku ke rumahmu” ucapnya lagi tanpa memperdulikan wajah protes wanita yang tangannya digenggam Dean dengan erat.
__ADS_1
Qiandra hanya memutar bola mata dengan malas, “Mau ngapain kamu ke rumahku, kamu tidak akan betah” sahut Qiandra, namun tak urung langkahnya tetap mengikuti langkah Dean.
“Siapa yang bisa memastikan hal itu” sahut Dean. Qiandra hanya mendesah kesal melihat tingkah laki-laki, yang tak bisa dipungkiri memang mebuat hatinya berbunga-bunga.
Qiandra membawa Dean menuju ke mobil sport mewah yang dipakainya tadi, “Wow, ternyata selera wanitaku ini boleh juga” seru Dean, “Hei, aku tidak akan membiarkanmu menyetir lagi, Nona” lanjutnya lagi seraya mengambil kunci kontak dari tangan Qiandra.
Lagi-lagi Qiandra dibuat terkejut oleh sikap laki-laki itu, namun dia segera melangkah ke pintu samping tempat penumpang. Mobil itu segera meluncur meninggalkan area parkir rumah sakit.
Dean membawa mobil itu dengan santai, salah satu tangannya terus menggenggam tangan Qiandra, seolah takut wanita itu tiba-tiba menghilang lagi dari sisinya. Tak jarang Dean mengecup lembut tangan Qiandra dengan penuh kasih, “Qi, aku merindukanmu, aku hampir gila karena memikirkanmu” desahnya pelan.
“Hei, apa kamu tidak takut akan bertemu suamiku saat tiba di rumahku nanti” tanya Qiandra mengalihkan pembicaraan mereka.
Dean menatapnya sekilas, “Aku akan membawamu pergi, dihadapan suamimu pun, aku tidak perduli” sahut Dean.
“Haish, kamu belum tahu saja segalak apa suamiku” ucap Qiandra.
“Cih, sekalipun suamimu galak, aku yakin kamu lebih galak darinya, karena kamu berani menerima ciumanku, bahkan dihadapan orang-orang itu” ucap Dean yang telak membuat wajah Qiandra kembali merona merah, “Apa aku salah, Qi” lanjutnya lagi.
“Ish, dasar…..” ucap Qiandra yang kehabisan kata-kata karena merasa kata-kata Dean yang tidak bisa dibantah sama sekali.
Mobil sport mewah itu berhenti didepan sebuah gerbang, dan seorang penjaga segera membuka gerbang itu saat mengenali mobil yang datang itu, “Nona Andra?” sapa Mang Oby dengan kening berkerut, belum pernah sebelumnya dia melihat Qiandra membawa seorang laki-laki ke rumah ini.
“Aku Dean, Mang, kekasih Nona Andra” ucap Dean memperkenalkan dirinya, membuat Mang Oby melongo.
Qiandra hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, “Mang, kami masuk dulu ya” ucap Qiandra. Mobil itu langsung masuk ke halaman luas rumah sederhana itu, Qiandra menunjukkan letak garasi mobilnya. Dean segera membawa mobil itu masuk ke dalam garasi, dan dia kembali berdecak melihat koleksi mobil Qiandra.
“Tampaknya, kamu sudah cukup sukses disini, Qi” ucap Dean lembut, “Tapi kamu benar-benar hebat bisa menyembunyikan dirimu sampai selama ini” lanjutnya lagi.
Paman Lev dan Bibi Ona segera menyambut kedatangan Qiandra, “Nona…” ucap keduanya bersamaan namun tehenti saat melihat kalau Qiandra tidak datang sendirian.
“Paman, Bibi, kenalkan ini Dean….” belum sempat Qiandra menyelesaikan kata-katanya Dean sudah lebih dulu melanjutkannya.
“Kekasih Nona Andra” ucap Dean dengan tegas. Membuat kedua orang paruh baya itu melongo tidak percaya. Qiandra tidak berkata apa-apa lagi, dia segera melangkah menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
“Duduklah sebentar, Dean, aku akan membersihkan diri dulu” ucap Qiandra lalu melangkah masuk ke kamarnya.