PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

"Saat ini, tindakan Daniel sudah dikategorikan sebagai kriminal berat, kami tidak akan membantah hal itu. Dan dalam hal ini, pihak kami sudah berkomitmen akan membantu semua pihak dalam menyelesaikan kasus ini, termasuk menemukan keberadaan Daniel saat ini" sahut Dika lagi dengan yakin.


"Jadi, kamu benar benar tidak tahu kemana bajingan itu membawa istriku?, bukannya kamu mengetahui semua asset keluarga Mahardika. Artinya kamu pasti bisa menduga kemana bajingan itu kira kira membawa Qiandra, dia tidak mungkin membawanya ke tempat umum kan, pasti dia membawa ke salah satu pulau yang tersembunyi yang tentunya merupakan milik keluarga Mahardika" sahut Dean masih dengan sikap tenang.


"Saya benar benar tidak mengetahuinya, Tuan Dean, tapi kalau tentang asset keluarga Mahardika, memang benar saya mengetahui hampir semuanya" sahut Dika lagi.


"Hampir, apa maksudmu dengan hampir, berarti ada yang tidak kamu ketahui" tanya Dean terus menekan Dika.


"Anda benar Tuan, walau bagaimana pun Anda tahu saya bukanlah bagian dari keluarga ini, nasib saya mungkin tidak jauh beda dengan asisten Vian. Dan saya rasa, Anda juga mengerti seberapa banyak yang bisa saya ketahui sama seperti asisten Vian mengetahui asset keluarga Anda. Sudah pasti ada batasan yang tidak bisa saya lewati hanya untuk mengetahui seberapa banyak asset keluarga Mahardika" sahut Dika masih dengan suara yang tenang.


Dean menatap Dika sekilas, ya, Dean juga tahu kalau Dika adalah anak angkat dalam keluarga Mahardika. Oleh sebab itu, Dika tidak pernah menjadi presidir di PT.Mahardika, walaupun sebenarnya dia jauh lebih layak dibandingkan dengan Daniel. Dan apa yang dikatakan oleh Dika tentang dirinya dan asisten Vian, juga tidak bisa dibantah oleh Dean.


"Hah, ya sudah, sekarang apa kamu tahu pulau mana saja yang menjadi milik keluarga itu, dan aku rasa kamu bisa memprediksi kemana bajingan itu membawa Qiandra. Jangan bilang kamu juga tidak bisa melakukan hal itu" ucap Dean dengan suara sedikit kesal.


"Ada banyak pulau pribadi milik keluarga Mahardika yang saya ketahui, Tuan Dean, jika Anda mau, saya akan memberikan daftarnya" ucap Dika.


"Kalau hanya daftarnya, kami sudah memilikinya, saya ingin mempersingkat waktu dengan bertanya padamu, dimana kira kira bajingan itu membawa dan menyembunyikan istriku" sahut Dean.


"Untuk hal itu, mohon maafkan saya, Tuan Dean, saya benar benar tidak bisa menduganya. Jika saya mengatakan satu lokasi, sementara saya sendiri tidak yakin, saya khawatir itu akan membuat Anda lebih banyak membuang waktu" sahut Dika.


"Maafkan jika saya menyela, Tuan Dika, bagaimana di kepulauan X, apakah keluarga Mahardika mempunyai pulau pribadi di sana" tanya asisten Vian yang sejak awal hanya berdiam diri tiba tiba menyela pembicaraan kedua pria itu.


"Kepulauan X?" tanya Dika dengan kening mengernyit, "Saya rasa keluarga Mahardika tidak punya pulau pribadi di sana, Tuan Vian" lanjutnya lagi setelah beberapa saat berusaha mengingat.


"Tapi jejak helicopter terakhir kami temukan menuju ke kepulauan itu" sahut asisten Vian.


Dika kembali mengernyitkan keningnya dengan dalam, "Sebentar, saya cek dulu, Tuan, saya akan coba cek pengeluaran keluarga Mahardika, khususnya Daniel" ucapnya. Lalu dia mengambil ipad kerjanya dan mulai melakukan beberapa hal disana.


Dean dan asisten Vian hanya berdiam diri melihat Dika yang sedang berkonsentrasi pada benda pipih di tangannya. Mereka berdua saling melirik dan memberikan kode dengan mata mereka, lalu Dean mengambil phonselnya.


"Vian, apa dia bisa dipercaya" tanya Dean melalui phonsel yang ada di tangannya.


Asisten Vian segera merogoh phonsel di kantong celana kain yang dikenakannya setelah melihat kode yang diberikan oleh Dean. "Saya juga tidak tahu, Tuan, tapi kita lihat saja dulu sejauh mana dia bersedia membantu kita" balas asisten Vian setelah membaca pesan dari Dean.


Saat keduanya sedang asyik berbalas pesan, ternyata Dika telah menyelesaikan pekerjaannya. "Tuan, saya tidak tahu jika ada pulau pribadi milik keluarga Mahardika di kepulauan X. Tapi saya menemukan pengeluaran yang cukup besar dari rekening Daniel dua tahun yang lalu. Transfer yang cukup besar untuk rekening milik Franciskus Aldo, sepengetahuan saya, Tuan Aldo adalah pemilik beberapa pulau di kepulauan X" ucap Dika lagi.

__ADS_1


Dean memberikan kode lagi pada asisten Vian, sementara asisten Vian sendiri segera memberikan perintah pada anak buahnya melalui alat komunikasi yang ada di telinganya. "Lalu, apalagi yang kamu temukan" tanya Dean lagi pada Dika.


"Ini juga agak aneh, ada transaksi transfer yang juga besar dengan tujuan rekening atas nama Ronaldo Ballini, dia, bukannya dia arsitek yang rutin mengisi majalah desain interior itu. Apa mungkin Daniel membangun sebuah tempat di luar pengetahuanku. Karena sepengetahuanku, di tahun ini keluarga Mahardika tidak sedang membuat suatu hunian baru" ucap Dika menjelaskan kebingungannya.


"Atau mungkin ada bangunan perusahaan yang sedang dibangun,Tuan" tanya asisten Vian.


"Tidak, kalau memang perusahaan, yang memang setiap tahun kita melakukan pembangunan dan perluasan perusahaan, tapi semuanya pasti dari rekening perusahaan dan bukan rekening pribadi" sahut Dika.


Dean hanya manggut manggut mendengar penjelasan Dika, dia juga mengakui bahwa penjelsan laki laki itu cukup masuk akal. Sementara, asisten Vian sudah melanjutkan hal tersebut pada anak buahnya untuk langsung melakukan penyelidikan terhadap kedua nama yang disebutkan oleh Dika tadi.


"Jadi, apa ada hal lain lagi yang mencurigakan" tanya Dean pada Dika.


"Anda benar, Tuan Dean, setelah transfer ke tuan Aldo, sepertinya memang Daniel melakukan transfer yang cukup besar ke beberapa rekening lainnya. Saya akan mengirimkan data lengkapnya pada asisten Vian, biar bisa diselidiki lebih lanjut. Karena jika diurut lebih lanjut, sepertinya Tuan Daniel memang membeli sebuah pulau dan membangun hunian di pulau itu" sahut Dika dengan mengernyitkan keningnya.


"Apa kamu yakin kalau dia tidak mendaftakannya sebagai asset keluarga Mahardika" tanya Dean lagi memastikan, "Karena kalau dia mendaftarkannya, kita akan lebih mudah melacaknya" lanjutnya lagi.


"Saya yakin, Tuan Dean, saya sangat yakin kalau Daniel tidak mendaftarkan pulau ini sebagai pulau pribadi yang menjadi asset keluarga Mahardika" ucap Dika dengan tegas dan yakin.


"Hmmm, jadi atas nama siapa dia mendaftarkan pulau itu, tidak mungkin kan dia mendaftarkan atas namanya sendiri" sahut Dean dengan kening berkerut juga.


"Mohon maaf, Tuan Dean, sepertinya Tuan Aldo tidak mau bekerja sama. Beliau mengatakan bahwa beberapa pembeli pulau miliknya itu memang tidak ingin di ekspos. Dan dia sudah menyetujui hal tersebut"ucap asisten Vian menyela pembicaraan Dika dan Dean.


"Sudah, Tuan Dika, tetapi beliau tetap tidak mau memberikan daftar nama para pembeli pulau pulau pribadi miliknya" sahut asisten Vian.


"Hubungi pihak kepolisian untuk memberikan tekanan, aku rasa dia tidak akan menolak jika pihak berwajib yang langsung menyuruhnya" ucap Dean dengan wajah dingin. "Secepatnya, Vian" seru Dean lagi dengan tidak sabaran.


"Baik, Tuan" sahut asisten Vian yang segera menghubungi pihak kepolisian dan menyampaikan hal tersebut. "Pihak kepolisian akan segera mendatangi Tuan Aldo, jika dia tidak mau bekerja sama tidak menutup kemungkinan dia akan ditahan karena dianggap mendukung kejahatan Daniel" lanjut asisten Vian.


"Hemm, dia pasti akan segera mengungkapkannya" sahut Dean. "Lalu bagaimana dengan Ronaldo Ballini, apakah dia bisa diajak bekerja sama" tanya Dean lagi.


"Kalau sepengetahuan saya, Ronaldo Ballini adalah arsitek yang membuat beberapa desain interior di sebuah majalah arsitek. Dan kalau saya tidak salah ingat, Nyonya Qiandra sangat menyukai majalah majalah ini. Nyonya Qiandra memiliki koleksi yang cukup lengkap" ucap Dika.


"Memangnya istriku berlangganan majalah itu" tanya Dean dengan kening berkerut. Dean tahu kalau Qiandra memiliki banyak kelebihan, tapi ketertarikan pada dunia arsitektur, sepertinya tidak pernah terdengar.


"Nyonya Qiandra tidak berlangganan, Tuan Dean, tetapi Daniel yang berlangganan majalah ini secara rutin, sejak ......" Dika menjeda sesaat seperti berusaha mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanya Dean dengan penasaran.


"Sejak Nyonya Qiandra menyukai majalah itu, beberapa kali saya dan Daniel melihat Nyonya Qiandra begitu asyik membaca dan menekuni majalah ini. Bahkan pada beberapa kesempatan, Nyonya Qiandra terlihat begitu antusias pada beberapa desain dan yah, memang Daniel menyimpan semua desain yang disukai oleh Nyonya Qiandra" Dika berbicara sambil memandang jauh ke luar jendela, seolah mengingat sebuah kilasan kenangan masa lalu.


Sangat jelas dalam ingatan Dika, pada saat itu Daniel meminta Dika untuk masuk ruangan dengan tenang saat dia tahu Qiandra sedang ada dalam ruangannya. Daniel selalu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Karena Qiandra tidak akan mau berlama lama di dalam ruangan Daniel jika sang pemilik ruangan tidak ada dalam ruangan itu.


Tetapi, pada beberapa kesempatan, mereka memergoki wanita itu menunggu di dalam ruangan Daniel. Pada awalnya, Daniel dan Dika merasa penasaran, dan juga sedikit curiga mengapa Qiandra tiba tiba berdiam diri di dalam ruangan Daniel. Dika yang ingin langsung menyapa dan menghampiri Qiandra langsung ditahan oleh Daniel dengan memberikan kode jari yang diletakkan di mulutnya.


Daniel melangkah perlahan mendekati Qiandra tanpa di sadari oleh wanita itu. Daniel memperhatikan apa yang diperhatikan wanita itu dengan begitu antusiasnya, bahkan Dika bisa melihat sesekali Qiandra mengusap gambar yang ada di majalah itu. Dika juga mendengar Qiandra bergumam sendiri, namun dia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh wanita itu.


Tapi Dika yakin, Daniel yang berdiri tepat di samping wanita itu pasti mendengar apa yang diucapkan oleh Qiandra. Dan hal itu berlangsung cukup lama, karena Dika sendiri merasa cukup lelah terus berdiri disana tanpa melakukan apapun. Sementara Qiandra tetap asyik menelusuri majalah itu, tanpa menyadari kalau Daniel terus memperhatikan dirinya.


Hingga setelah cukup lama, Qiandra akhirnya menutup majalah itu dan tersenyum sendu, "Haish, Qi, Qi, khayalanmu terlalu tinggi, masih bisa hidup, bisa makan dan punya tempat untuk berteduh saja sudah keberuntungan. Kok malah mengkhayal bisa memiliki tempat indah seperti itu. Tapi, bermimpi kan tidak salah, walaupun itu terlalu tinggi setidaknya bisa menjadi penyemangat hidup" ucap Qiandra sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Apakah sudah selesai, Qiandra" tanya Daniel yang berdiri di samping Qiandra dengan sikap seolah tidak tahu apa apa.


Qiandra tersentak dan terkejut saat baru menyadari kalau Daniel ada di sampingnya. Dika bahkan menggelengkan kepalanya dengan tersenyum ketika dia mengingat bagaimana merahnya wajah Qiandra saat baru menyadari keberadaan Daniel.


Bahkan saking terkejutnya, Qiandra juga segera berdiri dan menjatuhkan majalah yang ada di pangkuannya sehingga menimpa meja dengan suara keras. Hal ini semakin membuat wanita itu kembali terlonjak kaget.


Saat mengingat itu, Dika bahkan terkekeh kecil karena melihat betapa lucunya tingkah Qiandra saat itu. Saking tenggelamnya dalam lamunan itu, Dika bahkan tidak menyadari kalau dua pasang mata menatapnya dengan seksama. Dean dan asisten Vian terlihat bingung saat mendengar Dika terkekeh menceritakan tentang Qiandra.


Beberapa saat berlalu, Dika akhirnya menyadari dimana dia berada dan sedikit merasa sungkan saat melihat kedua orang itu menatapnya dengan intens dan kening berkerut. "Ah, maafkan saya, saya hanya masih merasa lucu saja saat mengingat bagaimana wajah terkejut Qiandra, eh maksud saya Nyonya Qiandra ketika mengetahui Daniel ada di sisinya" ucap Dika berusaha menjelaskan pada ke dua laki laki itu.


"Hmmm, jika dugaanku benar, berarti ada kemungkinan dia membangun sesuatu sesuai dengan keinginan istriku itu, apakan mungkin seperti itu" tanya Dean mengalihkan pembicaraan dari pada sekedar membahas kisah masa lalu Qiandra bersama laki laki lain.


Dika menganggukkan kepalanya sedikit, "Mungkin juga, Tuan, jika melihat dari arsitek yang dibayar oleh Daniel ini sama dengan arsitek yang mendesain berbagai interior dalam majalah yang selalu dikoleksi oleh Qiandra" sahut Dika walau agak sedikit ragu.


"Vian, coba kamu hubungi Ronaldo Ballini ini, dan coba cek juga proyek yang ditangani olehnya dalan dua tahun terakhir, cari tahu di lokasi mana saja dia melaksanakan pembangunan" seru Dean pada asisten Vian.


"Baik, Tuan" sahut asisten Vian yang segera memberikan perintah melalui earphone kepada anak buahnya.


Dean hanya menggangguk samar, "Lalu, apa ada lagi petunjuk yang bisa kamu berikan pada kami" tanya Dean lagi pada Dika.


"Untuk sementara ini hanya ini yang bisa saya berikan, Tuan Dean, maaf jika tidak bisa membantu banyak. Dan saya juga mohon maaf karena kami tidak bisa menbantu secara penuh. Karena, saya rasa Anda juga tahu bagaimana kondisi perusahaan kami saat ini. Saya terpaksa harus lebih fokus pada perusahaan dulu, saya sungguh berharap pihak Zacharias tidak menambahkan beban kami" ucap Dika.

__ADS_1


"Untuk urusan perusahaan secara langsung saya tidak akan mengaitkannya dengan Mahardika, tapi masalah Daniel saya harap kalian juga tidak campur tangan, mulai dari penangkapan sampai dengan proses hukumnya nanti" ucap Dean dengan suara dingin.


Dika menarik nafas berat, "Tuan, pihak perusahaan PT.Mahardika memang sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam proses hukum Daniel, tapi sebagai keluarga dari Daniel, saya tidak bisa melepaskan begitu saja. Mohon maafkan saya, Tuan Dean, tapi saya rasa Anda juga bisa mengerti posisi saya, karena satu satunya orang yang bisa diharapkan oleh Daniel saat ini hanya saya" sahut Dika.


__ADS_2