PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DELAPAN PULUH EMPAT


__ADS_3

“Yah, kehangatan itu, kehangatan yang berawal dari kasih sayang yang tulus.  Kamu akan tetap merasakannya bahkan saat itu sudah sangat lama berlalu dan hanya tertinggal dalam kenangan saja” ucap Dika lagi.


Qiandra mengernyitkan keningnya dan menatap Dika berusaha memahami perkataan sang kakak.   “Maksud kakak” tanya Qiandra pada akhirnya.


Dika berpaling dan menatap ke arah Qiandra, “Sama seperti yang kamu rasakan pada Dean, jika memang kasih sayang yang terjalin diantara kalian benar benar tulus, maka kamu akan tetap merasakan kehangatannya walaupun kamu hanya mengingatnya” ucapnya pada sang adik.


Qiandra terdiam mendengar kata kata Dika, “Jika disana ada ketulusan, maka disana pasti ada kejujuran dan kepercayaan.  Jika kamu yakin rasa yang kamu miliki tulus


pada Dean, maka sudah seharusnyalah kamu jujur dan kamu harus percaya padanya.  Karena dia juga pasti menginginkan hal seperti itu dari dirimu” lanjut Dika lagi.


Qiandra termangu mendengar kata kata Dika, “Tapi Kak, bukankah ada begitu banyak orang yang berkhianat saat orang lain sudah bersikap tulus kepadanya.  Buktinya ada begitu banyak rumah tangga yang hancur karena pengkhianatan” sahut Qiandra.


“Kamu benar, Feli, tapi jika kita selalu memandang pada semua kegagalan dan hal hal negatif seperti itu, maka kita tidak akan bisa memulai suatu hubungan yang baik.  Karena jika dalam sebuah hubungan tersimpan keragu raguan dan kecurigaan, maka yakinlah, hubungan itu tidak akan bisa bertahan lama” jawab Dika yang seketika


membuat Qiandra kembali terdiam.


“Saat kamu menyimpan kecurigaan pada pasanganmu, maka saat itu berbagai godaan akan datang menerpamu, yang lama kelamaan akan membuatmu menjadi goyah dan memicu berbagai tuduhan tak berdasar.  Bukankah semua itu akan benar benar


menghancurkan sebuah hubungan?” lanjut Dika lagi.


“Tapi, Kak, masalahnya sekarang aku mempertaruhkan keselamatan kalian” desah Qiandra.  Bagi Qiandra, jika hanya memikirkan dirinya sendiri, maka keputusannya tidak akan sesulit ini.


“Kami justru akan semakin bersedih jika mengetahui kamu hidup dalam sebuah hubungan pura pura tanpa ada kasih sayang yang tulus di dalamnya” sahut Dika.  “Dengar, Feli, kami lebih senang menghadapi bahaya, namun kami bisa mengetahui bagaimana sikap suamimu yang sebenarnya, daripada kami hidup tenang sementara kamu berada dalam kasih sayang yang tidak jelas” lanjut Dika lagi.


“Kakak, .....”desis Qiandra yang tidak menyangka dengan jawaban Dika.  Sebegitu besar kasih sayang mereka untuk dirinya, sampai mereka tidak perduli pada keselamatan mereka sendiri, asalkan Qiandra bahagia.


“Feli, Kakak yakin kamu sudah punya keputusan dalam hatimu, jangan merubah apa yang sudah kamu yakini.  Apa kamu lupa bagaimana kamu bertahan selama ini, kamu selalu bisa membuat keputusan dengan bijak.  Jadi, ikutilah kata hatimu, dan yakinlah bahwa semua akan baik baik saja” ucap Dika

__ADS_1


dengan sorot mata yang begitu lembut menatap Qiandra.


“Aku ..... aku tidak tahu harus berkata apa, Kak, rasanya kata terima kasih tidaklah cukup untuk mengungkapkan betapa beruntungnya aku memiliki keluarga seperti kalian” ucap Qiandra dengan air mata yang kembali


mengalir di pipinya.


Dika kembali melangkah mendekati sang adik, perlahan dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mata di pipi wanita cantik itu.  Dika bersimpuh dihadapan Qiandra, “Kamipun bahagia jika bisa melihatmu bahagia, Feli Sayang, jangan lagi meneteskan air mata duka, berjanjilah kita akan hadapi semua ini bersama dan meraih hari esok


yang lebih baik” ucapnya lalu meraih tubuh Qiandra masuk dalam pelukannya.


Pelukan hangat dari seorang kakak yang Qiandra rasakan, membuat wanita ini semakin terisak.  Air mata yang terus mengalir kembali membasahi kemeja yang digunakan oleh Dika.  “Ah, kasihan kemeja ini, sudah untuk yang kesekian kali harus kembali basah oleh air mata” keluh Dika dengan suara


dibuat sesedih mungkin.


Qiandra segera melepas pelukannya, “Ish, memangnya kakak lebih menyayangi kemeja kakak dari pada diriku.  Ingat lho kakak, aku ini adik satu satunya yang kamu punya” sungut wanita itu sambil menyeka air matanya.


“Kakak ihhh” seru Qiandra.


“Sudah, sudah, maafkan Kakak, sekarang bisakah kamu katakan bagaimana keputusanmu” tanya Dika dengan wajah yang kembali serius.


Qiandra menatap Dika dengan intens, “Apakah Kakak benar benar menyerahkan keputusan kepadaku” tanya Qiandra yang dijawab Dika dengan anggukan penuh keyakinan.  “Kakak bisa saja membantah kalau Kakak merasa keberatan” lanjut Qiandra lagi.


“Katakan saja, Feli, jangan terlalu berbelit belit, hmmmm, kakak akan mengikuti apapun keputusanmu” ucap Dika dengan yakin.


Qiandra menarik nafas sejenak, “Aku rasa aku memang harus berbicara dengan Dean terlebih dahulu, dan jika kakak berkenan aku ingin mengundang dia ke mansion ini.  Tentunya dengan semua persyaratan seperti yang dikatakan Paman Chris tadi.  Setelah aku berbicara dengan Dean, aku berharap


kalian semua juga mau berbicara dan menjelaskan semuanya dengan terperinici”

__ADS_1


ucap Qiandra.


Dika menganggukkan kepalanya, dari awal Dika memang sudah menduga bahwa Qiandra pasti ingin membawa Dean ke mansion.  Karena itu, sebenarnya Dika sudah


mempersiapkan segala sesuatunya agar kehadiran Dean tidak menjadi masalah untuk


mereka di kemudian hari.


“Maaf jika keputusanku tidak sesuai dengan harapan kakak dan terlalu beresiko membahayakan keselamatan kita semua, jika kakak punya solusi lain, aku siap mempertimbangkannya” ucap Qiandra sedikit khawatir.


“Tidak masalah, Feli, sudah kakak bilang kan apapun keputusanmu, kakak akan terima.  Jangan memikirkan resikonya, karena semua resiko akan kita hadapi bersama sama” ucap


Dika sambil menggenggam jemari Qiandra dengan erat seolah berusaha meyakinkan


Qiandra bahwa dia menyetujui keputusan sang adik.


“Kak, ....” desis Qiandra.


“Jangan pernah merasa ragu, Feli, kita akan laksanakan semua keputusanmu.  Apapun yang terjadi nanti jangan pernah kamu menyalahkan dirimu sendiri.  Keputusanmu adalah keputusan kita bersama, jadi kita semua akan bersama sama menghadapinya sebagai keluarga tanpa berusaha mencari siapa yang salah dan siapa yang paling benar” lagi Dika berusaha meyakinkan Qiandra.


Dika sangat tahu kebimbangan yang dirasakan oleh Qiandra adalah karena memikirkan mereka yang sekarang sudah diketahui sebagai keluarganya.  Dika juga menyadari kalau dia membiarkan Qiandra terus dalam perasaan itu, maka masalah ini tidak akan pernah selesai.  Apapun keputusan yang dipilih, Dika sangat tahu kalau semuanya jelas ada resikonya.


Namun, menghadapi semua resiko dengan bersama sama dalam ikatan sebuah keluarga, bukankah jauh lebih baik dari pada hanya membiarkan satu orang menjadi korban untuk melindungi yang lain.   Bagi Dika sendiri, keselamatn Qiandra diatas segalanya.  Dika tidak perduli kalaupun


harus menempuh bahaya, asalkan bisa menyelamatkan sang adik yang sekarang


sedang mengandung itu.

__ADS_1


Kebersamaan mereka sebagai sebuah keluarga setelah bertahun tahun terpisah, sudah sangat terasa.  Ikatan itu semakin erat terjalin saat mereka menghadapi masalah seperti sekarang ini.  Rasa ingin saling melindungi membuat mereka semakin kuat dan bisa lebih tenang menghadapi setiap masalah dan resiko dari setiap keputusan yang dibuat.


__ADS_2