
Pagi itu, sebuah mobil mewah memasuki halaman mansion Qiandra dan Dean. Petugas keamanan yang bersiaga di pos keamanan sejenak menghentikan mobil mewah itu. Namun, saat dia melihat wanita paruh baya yang berada dalam mobil itu, dia segera membungkukkan badannya dan membuka gerbang tinggi mansion yang melindungi mansion itu dari luar.
Di beranda mansion, terlihat sang nyonya rumah yang masih duduk di kursi rodanya menatap mobil itu dengan wajah berseri. Di belakang sang Nyonya Rumah, terlihat sang tuan rumah yang juga menatap mobil mewah itu dengan kening sedikit berkerut, namun dia segera menormalkan wajahnya yang penuh tanda tanya itu saat melihat penumpang mobil itu keluar.
Seorang bodyguard segera menghampiri mobil mewah itu, dan saat sang pengemudi keluar beserta dengan penumpangnya, bodyguard ini menerima kunci mobil itu. Bodyguard tadi segera membawa mobil mewah itu berlalu menuju ke tempat parkir khusus untuk tamu yang terletak lumayan jauh karena luasnya halaman mansion mewah itu.
Empat orang yang telah keluar dari mobil mewah itu segera melangkah menaiki tangga menuju ke kedua tuan rumah yang sudah menunggu kedatangan mereka. “Zanetttt ….” seru sang Nyonya Muda yang ingin segera berdiri dan berlari memeluk tamu tamunya itu. Namun, dia urung bergerak saat merasakan sebuah tangan sedikit menekan bahunya.
“Kak Qiqi, akhirnya aku bisa bertemu dengamu” seru Zanetta kepada Qiandra, sang Nyonya Rumah. Jika dalam keadaan biasa, Zanetta ingin langsung berlari dan memeluk Qiandra dengan penuh kerinduan. Namun hal itu urung dilakukannya saat melihat laki laki yang berdiri di belakang Qiandra dan memegang bahu sang kakak.
Berbeda dengan Zanetta, yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat melihat Qiandra secara langsung. Delicia yang ikut serta saat itu malah berusaha bersembunyi di belakang Bu Sum. Delicia sebenarnya menolak untuk ikut, karena peristiwa kemaren. Namun, Bu Sum terus mendesaknya dan memastikan kalau Dean pasti sudah berangkat ke kantor saat mereka tiba di mansion itu.
Namun, dugaan Bu Sum ternyata salah besar, karena Dean sudah pasti tidak akan bisa meninggalkan istrinya sebelum dia bertemu langsung dengan Bu Sum. Hal tersebut otomatis membuat Delicia harus berhadapan langsung dengan Dean. Padahal sebenarnya Delicia sangat ingin bertemu dengan Dean, secara dia juga mengidolakan presidir tampan yang menjadi pujaan kaum hawa itu.
Namun, kejadian kemaren benar benar membuatnya tidak berani mengangkat wajahnya di hadapan Dean. Rasa malunya jauh lebih besar dari keinginanya untuk menatap langsung wajah tampan sang idola yang saat ini sedang tersenyum ke arah mereka.
“Hei, Deli, jangan bilang kamu tidak merindukan kakakmu ini” seru Qiandra sambil terkekeh geli melihat tingkah Delicia.
“A aku juga merindukanmu, Kak” ucap Delicia dengan terbata.
“Ha ha ha, kemarilah, aku sangat ingin memelukmu” goda Qiandra yang sengaja memancing Delicia agar mendekat kepadanya.
“Oh, astaga kak Qiqi, kenapa kamu kejam padaku” keluh Delicia yang tanpa sadar diucapkannya secara langsung, membuat semua yang hadir di situ tergelak termasuk Dean.
“Kemarilah, adik kecil, mengapa hanya menggoda kakak iparmu saat jauh” seru Dean ikut menggoda Delicia dan otomatis membuat gadis cantik itu hampir meleleh mendengar suara merdu sang idola menyapa dirinya. Lagi lagi tanpa sadar dia mengangkat wajahnya dan menatap Dean dengan mata terpesona.
“Woiii, hati hati matamu, ingat ini kakak iparmu” seru Zanetta yang segera menyadarkan Delicia dan membuatnya kembali menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam.
“Sudah, sudah jangan terus menerus menggoda Deli, nanti dia nangis lho” ucap Qiandra yang justru kembali mengundang tawa yang lainnya. “Paman Chris, selamat datang, maaf aku belum sempat menyapa Paman secara langsung” lanjut Qiandra menyapa laki laki paruh baya yang saat itu hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Qiandra bahkan berdiri perlahan dan meraih tangan laki laki itu dan menciumnya dengan penuh hormat
“Tidak mengapa, Qi, Paman juga minta maaf belum sempat menyapamu secara langsung, bagaimana keadaanmu sekarang” tanya Chris sambil menepuk lembut punggung Qiandra.
“Seperti yang paman lihat, aku cukup baik, hanya saja dokter memang meminta aku untuk mengurangi aktifitasku” sahut Qiandra, “Ah, perkenalkan ini suamiku, Dean Walt Zacharias, Love, ini Paman Chris, suami Ibu, dan ini kedua putrinya yang tertua Zanetta dan yang tergila gila padamu itu namanya Delicia” ucap Qiandra membuat Delicia seketika mengangkat wajahnya dengan mata membulat menatap Qiandra.
__ADS_1
“Salam kenal Paman, Zanetta dan Delicia, terima kasih mau berkunjung ke sini, mari kita masuk ke dalam saja” ucap Dean dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Mereka semua menggangguk lalu melangkah masuk ke dalam mansion mewah itu dengan didahului oleh tuan rumah.
Saat semuanya sudah masuk, Zanetta sempat bertahan di luar karena ada yang menghubungi phonselnya. Setelah dia memasukkan phonselnya kembali dalam tas, Zanetta tetap melangkah masuk ke dalam mansion mewah itu. Tanpa sadar, dia terus melangkah dan menabrak seseorang yang sepertinya juga sedang terburu buru masuk ke dalam mansion.
“Aaaa, …..” seru Zanetta terkejut sampai sampai tas tangannya terjatuh dari tangannya. Zanetta mengira pantatnya sudah akan mendarat dengan mulus diatas lantai marmer, sehingga dia memejamkan matanya menunggu rasa sakitnya. Namun setelah beberapa saat, dia merasa tubuhnya justru melayang.
Zanetta perlahan membuka matanya dan langsung bertemu dengan sepasang bola mata elang dari wajah yang terlihat sangat tampan. Sejenak kedua orang itu terpaku dalam posisi sang laki laki memeluk pinggang Zanetta dengan erat. Keduanya seperti tenggelam dalam pesona masing masing sehingga melupakan beberapa pasang mata yang menyaksikan adegan romantis mereka.
“Ehmmmm, Vian, ….” Dean segera menyadarkan laki laki tersebut yang tak lain dari asisten Vian. Asisten Vian dan Zanetta benar benar terkejut dengan sapaan dari Dean, sehingga otomatis keduanya saling melepaskan diri.
Akibatnya, Zanetta kembali hampir jatuh ke lantai. Beruntungnya asisten Vian cukup sigap dan kembali merengkuh pinggang ramping wanita cantik itu. Namun, sekarang asisten Vian segera melepaskan pinggang Zanetta saat merasakan wanita itu sudah bisa berdiri dengan baik. “Ma maafkan saya, Nona, saya sungguh tidak sengaja” ucap asisten Vian sambil membungkukkan badannya.
“Saya yang seharusnya minta maaf, Tuan, karena saya kurang berhati hati, dan terima kasih karena telah dua kali menolong saya sehingga tidak jatuh ke lantai” sahut Zanetta dengan santun.
Deg, suara merdu itu benar benar menyentuh hati seorang asisten Vian, membuatnya lagi lagi terpana menatap wajah cantik dengan lesung pipt itu. “Astaga, Vian, sampai kapan kamu akan berdiri di situ dan menghalangi tamu masuk ke dalam rumah” seru Dean yang lagi lagi menyadarkan asisten Vian.
“Oh, I iya, Tuan maafkan saya, silahkan masuk, Nona” ucap asisten Vian seraya mempersilahkan Zanetta masuk ke dalam ruang tamu mansion.
“Ehmmm, Kak Vian, perkenalkan ini Zanetta anak tertua Ibu, dan ini Delicia adiknya. Dan yang itu Paman Chris, kamu harus benar benar bisa merebut hatinya kalau ingin mendapatkan putrinya” kekeh Qiandra.
Seandainya itu bukan sang Nyonya Muda, sudah pasti Vian akan memarahinya setidaknya akan mendelik dengan tajam. Berhubung yang menggodanya adalah sang Nyonya Muda dengan pawangnya berdiri tegak di sampingnya, asisten Vian tidak bisa berbuat apa apa. Asisten Vian hanya bisa membungkukkan badannya dan memberi hormat, “Salam kenal semuanya, dan maafkan atas kekacauan kecil tadi” ucap asisten Vian dengan santun.
“Ada apa Vian, kenapa kamu terburu buru tadi” tanya Dean yang melihat asisten Vian memang setengah berlari masuk ke mansion tadi sehingga menyebabkan kecelakaan kecil itu.
“Ah, maafkan saya Tuan, ada sedikit masalah di perusahaan, detilnya sudah saya kirimkan ke phonsel, Anda, jika berkenan dewan direksi menanti kehadiran Anda pagi ini” ucap asisten Vian yang teringat akan tujuannya datang pagi pagi ke mansion mewah itu.
Dean segera membuka phonselnya dan keningnya mengerut tajam, “Honey, ….” ucapnya setelah menyimpan kembali phonselnya.
“Pergilah, Love, disini sudah ada paman dan ibu, juga saudara saudaraku, tidak perlu mengkhawatirkan aku” ucap Qiandra yang segera mengerti kalau sang suami harus segera kembali ke perusahaan.
“Paman, mohon maafkan aku karena tidak bisa menjamu kalian, silahkan nikmati semuanya, dan tolong anggap saja sebagai rumah sendiri” ucap Dean dengan perasaan sedikit tidak enak karena harus meninggalkan keluarga Qiandra yang baru saja berkunjung ke mansionnya.
“Tidak mengapa, Tuan, jangan khawatirkan kami, silahkan menyelesaikan pekerjaan Anda” ucap Chris.
__ADS_1
“Ah, bisakah Anda memanggilku seperti Anda memanggil Qiqi, Paman” tanya Dean yang tahu kalau Chris pasti segan memanggilnya ‘Nak’.
“Baiklah, Nak, tentu saja aku bisa, maaf jika terdengar lancang” ucap Chris dengan senyum bijak di wajahnya.
“Terima kasih, Paman, kalau begitu aku permisi dulu untuk bersiap siap” ucap Dean, kemudian dia bersimpuh di hadapan kursi roda Qiandra, “Honey, aku berangkat dulu ya, jaga diri dan ingat akan keberadaannya, jangan sampai lupa” ucapnya pada Qiandra seraya mengelus perut rata sang istri, “Jaga mommymu ya sayang” lanjutnya lagi lalu mengecup perut Qiandra dan terakhir mengecup kening Qiandra dengan penuh kasih.
Semua perlakuan lembut Dean pada Qiandra tidak luput dari perhatian semua orang yang ada dalam ruangan itu. Jika bagi asisten Vian dan Bu Sum hal itu sudah biasa, berbeda bagi Chris dan kedua putrinya. Mereka benar benar merasa kagum melihat bagaimana laki laki sehebat Dean Walt Zacharias bisa memperlakukan istrinya dengan begitu lembut.
Mereka semua terkagum kagum, hingga Dean yang diikuti oleh asisten Vian meninggalkan ruang tamu mewah itu. Asisten Vian sempat melirik Zanetta sesaat ketika dia melewati wanita cantik itu. Tanpa sengaja, mata keduanya kembali saling bertemu dan seketika membuat wajah keduanya bersemu.
“Vian, bisakah kamu konsentrasi pada langkahmu, kamu bisa celaka kalau matamu tidak singkron dengan arah kakimu” tegur Dean saat sang asisten hampir saja menabrak dirinya.
“Ahhh, ba baiklah, Tuan maafkan saya” sahut asisten Vian yang cukup terkejut dengan teguran Dean.
“Apa kamu benar benar jatuh cinta pada pandangan pertama, Vian” tanya Dean dengan tiba tiba sambil terus melangkah menuju kamar utamanya.
“Hah, apa, Tuan” tanya asisten Vian yang masih belum bisa fokus.
“Astaga, Vian, tolong konsentrasi lah dulu, kalau masalah Zanetta, aku yakin Qiqi akan dengan sukacita mendekatkan kalian berdua” seru Dean dengan sedikit kesal pada asisten Vian.
“Eh, maksudnya Tuan” tanya asisten Vian yang malah semakin kebingungan dengan arah pembicaraan Dean.
“Ah, sudahlah, sekarang kamu siapkan saja semua berkas yang ada di mejaku, aku akan bersiap siap sebentar” ucap Dean yang merasa malas berbicara dengan sang asisten yang tiba tiba saja menjadi lelet pagi ini. “Bersyukur saja kamu tidak ada Al, coba kalau ada dia, bisa bisa kamu menangis darah karena digodanya” kekeh Dean saat melihat asisten Vian yang sedang berusaha berkonsentrasi dengan setumpuk berkas di atas meja Dean.
Dean sendiri merasa cukup bahagia saat melihat asisten Vian menunjukkan rasa ketertarikannya pada wanita. Karena selama bersahabat dengan asisten Vian, Dean sama sekali tidak pernah melihat atau mendengar sekalipun kalau sang asisten ini tertarik pada wanita.
Bahkan Dean dan dokter Albert berulang kali berusaha mengatur asisten Vian untuk bertemu dengan banyak wanita cantik. Namun, semuanya sama sekali tidak membuat asisten tampan itu tertarik sama sekali. Jadi, sempat Dean berpikir kalau asisten Vian memiliki sedikit kelaian yang membuatnya sempat sedikit takut.
Untungnya, dokter Albert meluruskan hal tersebut. Dokter Albert sangat tahu, kalau asisten Vian sangat loyal dengan keluarga Zacharisa. Jika pun dia belum tertarik pada seorang wanita, itu semua karena dalam otaknya hanya ada masalah pekerjaan dan pekerjaan saja.
Sejak saat itu, Dean dan dokter Albert tidak lagi berusaha menjodoh jodohkan asisten Vian. Karena menurut dokter Albert ada saatnya nanti, asisten Vian akan jatuh pada pesona seorang wanita. Dan jika hal itu terjadi, maka asisten Vian akan benar benar tidak teralihkan lagi dari wanita itu.
Dean cukup merasa tenang saat menyadari kalau sang asisten telah tertarik dengan adik angkat istrinya sendiri. Dean merasa tidak akan ada kesulitan untuk mendekatkan keduanya nanti, jika asisten Vian benar benar menyukai Zanetta. Dean juga sangat yakin kalau Qiandra pasti akan menyetujuinya, secara tadi saja sang istri sudah begitu gencar menggoda asisten Vian dan Zanette.
__ADS_1
Dean akhirnya kembali fokus untuk mempersiapkan dirinya berangkat menuju ke kantor pusat PT. Zacharias. Kantor yang sudah lebih dari satu bulan ini tidak pernah didatanginya karena berbagai masalah yang menimpa dirinya dan juga Qiandra termasuk sang daddy, Walt Zacharias. Dean sadar kalau dia benar benar telah begitu banyak mengabaikan tanggung jawabnya selama ini.
Karena itu, kehadiran keluarga Qiandra benar benar menenangkan dirinya. Karena dengan kehadiran keluarga angkat sang istri, Dean bisa fokus pada perusahaan dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul selama dirinya tidak begitu aktif. Setelah segala sesuatu dirasa siap, Dean dan asisten Vian kembali turun ke lantai bawah untuk berpamitan sekaligus berangkat ke kantor.