
Qiandra meneteskan aimata saat melihat kondisi Jossie, hatinya terasa perih dan penuh dengan rasa bersalah, “Maafkan kakak, Jos, kamu jadi mengalami semua ini karena kakak yang terlalu lemah menghadapimu, harusnya
kakak lebih menjagamu dan menyadari bahaya dari semua hobbymu ini” desah Qiandra.
Bik Sum menepuk bahu Qiandra dengan lembut, “Jangan menyalahkan dirimu atas kejadian ini, Nak, terkadang memang harus ada yang terjadi untuk memberikan kita pembelajaran dari setiap fase kehidupan yang kita jalani, demikian pula kejadian ini, semoga saja ini bisa menjadi pembelajaran yang berarti bagi Jossie” ucapnya berusaha menenangkan Qiandra.
“Tapi Bu, Jossie masih muda, jiwanya masih labil, harusnya aku sebagai kakaknya bisa lebih tegas dengan semua keinginannya itu” ucap Qiandra dengan suara berat.
“Kalau kamu selalu mengekangnya, jiwa muda Jossie suatu saat pasti akan berontak, apa yang kamu lakukan sudah benar, Nak, tidak ada yang menyalahkanmu. Karena sebenarnya di arena itu, Jossie harusnya benar-benar aman, tapi sepertinya dia memang perlu belajar akan arti bahaya” sahut Bik Sum lagi.
Qiandra hanya terdiam, dalam hatinya, dia sama sekali tidak menyalahkan Jossie atas semua kejadian itu. Qiandra hanya berharap Jossie bisa memetik pelajaran, demikian pula dirinya, dari kecelakaan itu. Qiandra menatap wajah pucat Jossie, lalu dia membelai rambut gadis cantik itu dengan penuh kasih.
“Bangunlah, Sayang, kami semua menantikanmu membuka matamu kembali, kami rindu canda dan tawamu” desis Qiandra di telinga Jossie membuat Bik Sum yang mendengarnya tak mampu menahan airmatanya.
Bik Sum semakin menyayangi Qiandra, wanita luar biasa yang mau menganggap dirinya sebagai ibu. Dan sekarang, dengan penuh kasih Qiandra mau menjaga gadis yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Padahal, bisa saja Qiandra menyuruh dan membayar orang lain untuk menjaga dan mengurus Jossie, mengingat semua kesibukannya. Namun, Qiandra tetap setia mendampingi gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu.
“Honey, apa kamu mau bicara dengan Albert sekarang” tanya Dean, dia tidak ingin melihat Qiandra terus menerus bersedih melihat keadaan Jossie.
“Apakah dokter Albert sudah bisa ditemui, love” tanya Qiandra.
“Dari tadi dia sudah menunggumu, honey, juga dengan dokter yang menangani Jossie” sahut Dean dengan senyum lembutnya.
“Ah, baiklah kalau begitu” Qiandra segera berdiri, lalu dia menghampiri Bik Sum, “Bu, aku menemui dokter dulu ya, untuk mengetahui keadaan Jossie lebih jauh lagi” Qiandra pamit pada Bik Sum, dan dibalas anggukan kepala wanita tua itu.
Dean meraih tangan Qiandra dan menggandengnya dengan penuh kasih, “Tenanglah, honey, pasti ada jalan keluarnya” ucapnya menenangkan hati Qiandra.
“Semoga saja, love” sahut Qiandra.
Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan tempat dokter Albert dan dokter yang menangani operasi Jossie sudah menunggu kehadiran Qiandra. “Maafkan saya sudah membuat Anda berdua menunggu, dan terima kasih banyak atas usaha yang sudah dilakukan untuk menyelamatkan adikku” ucap Qiandra seraya membungkukkan badannya ke arah kedua dokter itu.
__ADS_1
Dokter Albert segera berdiri, “Jangan sungkan, Nona, sudah menjadi kewajiban kami, mari silahkan duduk dulu, dokter Jimmy akan menjelaskan kondisi Nona Jossie secara lengkap” ucap dokter Albert.
Dean menuntun Qiandra agar duduk di sofa yang ada di ruangan itu, dan dengan posesif dia tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Qiandra, “Jadi, sekarang tolong jelaskan dengan terperinci mengenai keadaan
adik kami itu” ucapnya dengan suara tegas.
Dokter Jimmy segera berdiri dan menghampiri ketiga orang itu, “Keadaan Nona Jossie cukup stabil, tubuhnya cukup fit sehingga kami tidak menemui kesulitan yang berarti saat melakukan tindakan. Saat ini Nona Jossie masih belum sadarkan diri karena memang masih berada di bawah pengaruh obat bius. Secara medis, tidak ada yang berbahaya, artinya Nona Jossie harusnya akan segera sadar jika pengaruh obat biusnya telah habis. Yang paling parah justru pada kaki kirinya, mungkin karena terjatuh dan tertimpa motornya, menyebabkan kaki kiri Nona Jossie mengalami patah dan kemungkinan sulit untuk dipulihkan” ucapnya dengan suara yang berat.
“Maksud Anda, bagaimana Dok” tanya Qiandra dengan hati cemas.
Dokter Jimmy mendesah berat, “Kemungkinan besar Nona Jossie akan mengalami kelumpuhan di kaki kirinya” sahut dokter Jimmy, membuat Qiandra menarik nafas berat.
“Apa tidak ada alternative penyembuhan lain untuknya” tanya Qiandra lagi.
“Kami sudah memasang pen di kaki Nona Jossie, sekarang kesembuhannya tergantung pada niat Nona Jossie sendiri” sahut dokter Albert.
“Maksudnya, Dok” tanya Qiandra lagi.
“Hah, baiklah, setidaknya masih ada peluang untuk adik saya bisa berjalan dengan normal lagi” sahut Qiandra, ada sedikit perasaan lega dalam hatinya mendengar penjelasan dari kedua dokter itu.
“Tentu saja, honey, kita akan melakukan semua usaha pengobatan agar adikmu bisa kembali berjalan normal sepeti biasanya” ucap Dean.
Qiandra mengganggukkan kepalanya, “Baiklah, kalau begitu Dok, kami permisi kembali ke ruangan lagi, sekali lagi terima kasih banyak” ucap Qiandra dengan sopan dan membungkukkan badannya, membuat kedua dokter itu merasa canggung karena ada Dean disitu.
“Al, bereskan semua administrasinya” ucap Dean seraya menyerahkan satu black card dan meletakkannya di meja untuk dokter Albert.
“Tidak, tidak, love, jangan lakukan itu, aku yang akan membayar semua biaya perawatan Jossie, kami sudah banyak merepotkan kalian” ucap Qiandra, dia mengambil black card itu dan mengembalikannya pada Dean.
“Honey….” Dean ingin protes, tapi saat dia melihat mata penuh permohonan Qiandra, dia akhirnya mengalah. Dean sama sekali tidak mau memaksakan apapun pada wanita ini, dia tahu harga diri Qiandra tidak akan membuat wanita ini mau menerima pemberiaan orang lain dengan begitu mudah.
__ADS_1
Dean dan Qiandra meninggalkan ruang dokter dan kembali menuju ke ruang perawatan Jossie, “Honey, mengapa kamu tidak mau menerima bantuanku” tanya Dean dengan suara pelan.
“Bukan aku tidak mau, love, tapi selagi aku masih mampu, aku akan menyelesaikannya sendiri, aku sungguh tidak ingin dianggap memanfaatkan dirimu. Biaya pesawat kami hingga ke sini saja, belum bisa aku bayar, apalagi kalau harus ditambah dengan biaya perawatan Jossie, bisa-bisa aku bangkrut” kekeh Qiandra berusaha mencairkan suasana.
Dean merengkuh pinggang Qiandra, dia menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya, “Honey, jangan pernah berpikir membayar semua yang telah aku lakukan untukmu, karena aku tidak pernah memperhitungkan semua itu, apapun yang aku lakukan untukmu, aku lakukan dengan cinta dan hanya cintamulah yang aku harapkan” ucapnya dengan tegas, mata elang laki-laki itu mengunci manik kecoklatan Qiandra.
“Terima kasih, love, aku sangat menghargai semua itu, sekarang bolehkah kita kembali ke ruangan dulu” ucap Qiandra, dia merasa tidak nyaman jika ada yang melihat posisi keduanya saat itu, sehingga dia tidak mau membantah perkataan Dean.
Dean mengangguk, dan kembali menggenggam tangan Qiandra untuk melangkah kembali ke ruang perawatan Jossie. Setibanya disana, mereka melihat Bik Sum tertidur disamping bed tempat Jossie berbaring. Qiandra segera menghampiri wanita tua itu, lalu dia menepuk lembut punggung wanita itu.
“Bu, bangunlah” ucap Qiandra dengan lembut, saat Bik Sum terbangun, dia terkejut melihat Qiandra dan Dean yang sudah ada dalam ruangan itu.
“Eh, Ibu ketiduran rupanya” ucap Bik Sum.
“Bu, pergilah beristirahat ke hotel, kamar untuk Ibu sudah disiapkan” ucap Qiandra lembut.
“Benar, Bu, nanti Bryan akan mengantar Ibu ke kamar Ibu” sahut Dean, yang membuat Qiandra dan Bik Sum terkejut karena Dean mau memanggil Bik Sum dengan sebutan Ibu juga.
“Tuan….” ucap Bik Sum dengan suara bergetar, kalau Qiandra memanggil dia Ibu, Bik Sum sudah biasa, tapi kalau Dean, rasanya sangat tidak pantas.
“Ibu buat Qiqi berarti juga Ibu untukku, jadi mulai sekarang jangan lagi memanggilku Tuan ya, Bu, panggillah aku seperti Ibu memanggil Qiqi” ucap Dean, membuat Bik Sum kebingungan, namun saat melihat Qiandra mengganggukkan kepalanya, Bik Sum hanya bisa pasrah.
“Ba-baiklah, Tu- eh Nak, maafkan kalau ibu terlalu lancang” ucap Bik Sum masih dengan rasa sungkan.
“Terima kasih Bu, mau menganggap aku sebagai anakmu juga, karena aku juga sudah tidak punya ibu” sahut Dean dengan suara sendu.
Qiandra terkejut mendengar kata-kata Dean, “Benarkah kamu sudah tidak punya ibu, love” tanya Qiandra dengan penasaran.
“Benar, Honey, makam yang sering aku kunjungi dan membuat aku selalu bertemu denganmu adalah makam mamahku” sahut Dean.
__ADS_1
Qiandra hanya terdiam, dia baru menyadari begitu banyak hal yang tidak diketahuinya tentang kehidupan Dean. Sementara, Dean mengetahui semua seluk beluk kehidupannya, tidak ada satupun yang luput dari perhatian laki-laki itu. Qiandra merasa malu dengan kenyataan bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Dean.