PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

Dean kembali membawa istrinya masuk ke dalam mobil mewah mereka, beberapa orang petugas keamanan yang memang bertugas menjaga mansion itu, membungkuk ke arah keduanya.  Qiandra menatap orang-orang itu, “Love, berapa banyak orang yang kamu


pekerjakan disini” tanya Qiandra saat dia telah masuk ke dalam mobil.


“Aku juga tidak tahu ada berapa tepatnya, Honey, semuanya diatur oleh Vian” sahut Dean.  Qiandra hanya mengangguk mendengar jawaban suaminya.  “Memangnya kenapa, Honey” tanya Dean.


“Kamu pasti menghabiskan banyak uang untuk membayar mereka selama dua tahun ini, Love, padahal harga mansion itu saja sudah sangat mahal, ditambah lagi gaji para pekerja itu, astaga, bagaimana bisa kamu melakukan


semua ini padahal kamu belum tahu dimana keberadaanku” ucap Qiandra dengan perlahan.


“Ha ha ha, jadi itu yang kamu pikirkan, Honey, semua uang itu tidak sebanding dengan besarnya rasa cintaku padamu.  Aku bahkan bisa menyerahkan seluruh hartaku padamu, asalkan aku bisa bersama denganmu terus” sahut Dean dengan mata jenaka.


“Ish, tentu saja kamu mau menyerahkannya, lha, kamu selalu bersama denganku, tentu saja semuanya juga tetap jadi milikmu” cibir Qiandra


yang menyadari kalau suaminya ingin mengerjai dirinya.


“Ha ha ha, ternyata kamu masih menyadarinya ya” Dean tertawa renyah, tangannya mengacak rambut sang istri dengan bahagia.  “Tapi, aku serius, Honey, untukmu, aku sanggup mengorbankan segalanya, sekalipun pada waktu itu aku memang belum tahu dimana keberadaanmu, tapi pada saat itu aku sudah bisa merasa barsyukur karena kehadiranmu sudah membuatku kembali memiliki semangat untuk meraih bahagiaku” ucapnya dengan lembut.


“Gombal di siang bolong” cibir Qiandra.


“Hmmmm, apa kamu mau aku menggombal saat malam, Honey, aku tak bisa, karena malam hari aku benar-benar sibuk” sahut Dean.


“Sibuk? memangnya apa kesibukanmu, apa kamu akan lembur di kantor” tanya Qiandra dengan wajah serius.


“Betul, aku memang akan lembur, tapi tidak di kantor melainkan dikamar tidur, aku akan sibuk bercinta dengan seorang wanita seksi


yang sudah menjadi istriku, yang……” Dean tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena jari lentik sang istri sudah bergerak mencubit pinggangnya.


“Love…..” seru Qiandra dengan wajah merah padam, dia masih saja merasa malu jika harus membahas masalah urusan ranjang walaupun dengan suaminya sendiri dan hanya mereka berdua.


“Awwww…. ampun, Honey, mengapa kamu mencubitku, astaga cubitanmu benar-benar pedih ini, aduh perutku sampai tersa sakit sekali” keluh Dean dengan wajah dibuat sangat kesakitan.


“Ish, lebay…” cibir Qiandra membuat sang suami kembali tertawa melihat wajah istrinya yang masih menyisakan rona kemerahan.


“Salahku dimana, Honey, apa salah yang aku katakan tadi, benar kan, kalau malam….” kembali Dean tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena seruan  Qiandra yang memotong ucapan laki-laki itu.


“Loveeee…..” seru Qiandra, tangannya kembali terulur ingin mencubit suamiya, namun tangannya segera ditangkap oleh Dean.


“Oke, oke, ampun, ampun, Honey” kekeh Dean masih dengan sisa tawanya, dia malah menarik tangan istrinya dan mengecupnya dengan lembut.  “Mengapa kamu masih merasa malu jika kita membicarakan masalah ranjang, bukankah kita hanya berdua saja sekarang, atau kamu ingin…..”


“Sekarang kita mau kemana, Love” ucap Qiandra memotong kata-kata suaminya yang dia yakini pasti akan kembali membahas urusan ranjang.


Dean tersenyum, “Sebuah tempat khusus untukmu, Honey, sebuah tempat yang aku harap dapat membuatmu menikmati hidupmu tanpa berpangku tangan” sahutnya dengan wajah berbinar.  Tidak berapa lama, mobil mewah itu masuk ke halaman sebuah bangunan  yang sangat megah, dengan design yang sangat cantik.


Qiandra berdecak kagum melihat bangunan yang berada tepat di pusat pertokoan yang ada di pusat kota metropolitan itu.  Dean membawa Qiandra turun dari mobil, lalu dia merengkuh pinggang istrinya dengan erat dan membawa wanita itu masuk ke dalam bangunan itu.


Di pintu masuk mereka disambut oleh beberapa orang yang sepertinya adalah karyawan yang bekerja di gedung megah itu.  “Selamat datang, Tuan, Nyonya” sapa mereka dengan ramah.  Dean tidak merespon mereka, dia terus berlalu dengan wajah datarnya, berbeda dengan  Qiandra yang membalas sapaan itu dengan


tersenyum.


“Love, ini tempat siapa” tanya Qiandra matanya menatap ke sekeliling ruangan yang masih terlihat kosong, hanya diisi dengan beberapa


etalase yang juga masih kosong.  Dean


tidak menjawab pertanyaan sang istri, dia hnya tersenyum penuh misteri, dia malah membawa Qiandra menuju ke lantai dua bangunan megah itu.

__ADS_1


Dean membawa Qiandra masuk ke dalam salah satu ruangan yang terlihat paling besar dengan pintu besar.  Saat masuk ke dalam ruangan itu, Qiandra benar-benar terkejut saat melihat  foto mereka berdua terpajang di salah satu dinding ruangan mewah itu.


Qiandra menatap isi ruangan itu, ternyata ruangan itu telah diisi dengan berbagai perlengkapan untuk mendesign pakaian.  “Love….” desis Qiandra menatap suaminya


dengan mata membesar.


“Ya, Honey, ini adalah butikmu, aku telah menyuruh Vian dan Albert mempersiapkan ini jauh-jauh hari.  Aku tahu, kamu sangat suka mendesign pakaian, bahkan dengan kemampuanmu itu kamu bisa memulai usahamu dulu.  Sebenarnya aku tidak ingin membiarkan kamu bekerja, tapi aku juga tahu,


kamu tidak akan betah jika hanya berdiam diri saja.  Tapi aku tetap tidak ingin kamu terlalu


sibuk, jadi aku juga sudah mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantumu”


jelas Dean dengan wajah berbinar.


“Love…., ini….., astaga…..” Qiandra tidak mampu berkata-kata lagi, dia hanya berbalik dan memeluk suaminya dengan erat, “Terima kasih


banyak, Love”  ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


“Apa kamu menyukainya, Honey” bisik Dean, dia memeluk tubuh istrinya dengan erat  seraya mengecup pucuk kepala wanita itu.


“Sangat, Love, aku sangat menyukainya, ini luar biasa sekali” seru Qiandra, dia mendongak menatap wajah suaminya dengan mata


berbinar.


“Tapi ini tidak gratis, Honey” ucap Dean dengan senyum devilnya.


“Maksudmu…” tanya Qiandra dengan kening berkerut, dia memandang wajah suaminya dengan curiga.  Dia ingin melepaskan pelukannya, namun  Dean jsutru semakin mempererat pelukannya.


“Kamu harus membayarnya dengan mendesign baju untuk suamimu ini, karena mulai sekarang, aku hanya akan memakai baju hasil karyamu” ucap Dean, membuat Qiandra tersenyum bahagia.


“Dan yang kedua, kamu harus membayarnya dengan mengulang yang semalam kamu lakukan” desah Dean dengan sensual di telinga Qiandra.


“Loveee….” seru Qiandra, tangannya memukul punggung sang suami dengan perlahan, wajahnya sudah seperti tomat masak.  Dia sungguh tidak menyagka kalau Dean akan


kembali mengungkit hal tersebut.


Dean tidak memperdulikan seruan istrinya, laki-laki itu malah mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas meja.  Perlahan Dean mengangkat wajah cantik istrinya yang terlihat semakin cantik dengan rona merah menghiasi wajahnya.


Dean langsung menyambar bibir seksi Qiandra, membuat wanita itu cukup terkejut.  Namun, sesaat kemudian, Qiandra malah mengalungkan tangannya di leher suaminya dan membalas ciuman lembut dari laki-laki itu.  Ciuman yang awalnya hanya ciuman lembut, semakin lama semakin panas dan dipenuhi


gairah.


Dean kembali mengangkat tubuh istrinya yang masih bergelayut seperti koala, dengan tanpa melepaskan pertautan bibir mereka.  Dean membawa tubuh istrinya masuk kedalam sebuah kamar yang ada dalam ruangan itu, kamar itu ternyata sebuah kamar khusus untuk


beristirahat.  Karena di dalam kamar itu


tersedia tempat  tidur dan juga beberapa


perlengkapan lainnya.


Dean membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan, masih dengan ciuman yang tidak terlepas.  Tangan Dean mulai menyentuh titik-titik sensitif di tubuh istrinya, membuat wanita itu tidak mampu menahan ******* sensual dari bibirnya.  *******-******* yang justru semakin membakar gairah laki-laki  yang sudah melepaskan kemejanya itu.


Mesin pendingin yang ada di kamar itu seakan tidak memberikan pengaruh apa-apa pada dua tubuh polos yang sedang bersimbah peluh.  ******* demi ******* yang keluar dari mulut keduanya seolah saling berlomba untuk mencapai satu titik kepuasan.  Hingga beberapa jam kemudian, kedua insan yang bergumul hebat itu terkulai karena kelelahan dan rasa puas yang tiada tara.


Qiandra berbaring di pelukan suaminya dengan nafas yang masih memburu, sementara sang suami membelai lembut rambut istrinya dengan wajah bahagia.  “Aku mencintaimu, Nyonya Dean, sangat mencintaimu, apapun akan aku lakukan untuk membahagiakanmu” bisik Dean pada wanita yang terlihat memejamkan matanya.

__ADS_1


Perlahan Qiandra membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya, tangannya terulur dan membelai wajah itu, “Aku lebih mencintaimu, Love, segalanya aku tinggalkan hanya untuk bisa hidup bersamamu, terima kasih untuk cintamu dan untuk segalanya” ucapnya.


“Terima kasih, Honey, hanya aku saja yang akan menjagamu, membahagiakanmu dan aku pula yang akan membuatmu memberiku keturunan, keturunan kita” ucap Dean.


“Berdoa saja, Honey, semoga kita segera diberi kepercayaan untuk mendapatkan keturunan”  jawab Qiandra.  Wanita inipun sangat merindukan kehadiran buah hati di tengah kebahagiaan mereka berdua.  Walaupun ada terselip sedikit khawatir dalam hatinya jika teringat pengalamnanya dulu saat kehilangan bayinya.


“Aku yakin, kita akan segera mendapatkannya, Honey, bukankah kita sudah berusaha siang dan malam, hmmmm” bisik Dean di telinga istrinya, membuat wanita itu memukul dada suaminya dengan perlahan.


“Love, apa kamu keberatan jika aku ingin memeriksakan  rahimku” tanya Qiandra tiba-tiba membuat Dean mengernyitkan keningnya.


“Memangnya ada apa, Honey” tanya Dean dengan wajah bertanya-tanya.  Qiandra menarik nafas sejenak lalu dia menatap mata suaminya yang memang sedang menatap ke arahnya


dengan intens.


“Saat aku dan kak Charles mengalami kecelakaan, aku sedang hamil muda, dan akibat kecelakaan itu, selain kepergian kak Charles, aku juga harus kehilangan bayiku.  Dan sejak saat itu, aku belum pernah memeriksakan kondisi rahimku, aku terlalu trauma bahkan


hanya membayangkannya saja” jelas Qiandra, air mata terlihat menggenang di pelupuk matanya.


Dean tersenyum menatap istrinya, dia mengerti ketakutan wanita itu, “Aku akan mengantar dan akan menemanimu menjalani pemeriksaan, Honey, aku akan menghubungi Albert, agar dia mempersiapkan segala sesuatunya di rumah


sakit” ucapnya.  Dean menyeka bulir bening yang perlahan turun di sudut mata istrinya.


“Terima kasih atas pengertianmu, Love, emmmm dan seandainya hal buruk terjadi, apakah kamu…..” Qiandra tidak menyelesaikan kata-katanya, jari telunjuk Dean menutup bibirnya dengan lembut.


“Jangan membuat prediksi dan pemikiran-pemikiran yang hanya akan membuat kita sakit hati, Honey, tetaplah optimis, bahwa segala sesuatunya pasti baik-baik saja.   Dan apapun yang terjadi, kamu tahu itu tidak akan mengubah apapun dalam hubungan kita, cinta


kita tidak akan goyah oleh apapun juga” Dean meyakinkan wanita itu, dan berusaha membuang kekhawatiran yang akan tercipta di benak Qiandra.


Qiandra tersenyum bahagia, “Terima kasih, Love” ucapnya seraya kembali memeluk suaminya dengan erat.   Sejujurnya, sebagai seorang wanita, Qiandra juga merasakan kekhawatiran kalau sampai dia tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya.  Namun, jawaban Dean cukup melegakan hati


Qiandra, walaupun  masih ada ragu dalam


hatinya.


“Hei, kamu sudah terlalu banyak berterima kasih hari ini, Honey” kekeh Dean, dia mengecup kening istrinya dengan lembut.


“Ya, dan sekarang aku akan berterima kasih lagi, jika suamiku yang tampan ini mau memberiku makan, karena kurasa semua energiku sekarang sudah terkuras dan aku sangat kelaparan” keluh Qiandra dengan wajah


merengut manja.


“Ha ha ha, tentu saja istriku, maafkan suamimu ini yang membuatmu kelaparan”  Dean tertawa


melihat wajah lucu istrinya, lalu dengan tiba-tiba dia mengangkat tubuh wanita


itu, membuat Qiandra menjerit.


“Love, kamu mau apa” seru Qiandra dengan terkejut.


“Apa kamu mau makan tanpa membersihkan diri dulu, Honey” tanya Dean dengan menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi yang juga tersedia di situ.


“Jangan macam-macam lagi, Love, aku benar-benar lapar sekarang” sahut  Qiandra.


“Siapa juga yang mau macam-macam, Honey, atau kamu masih mau ya hmmm” sahut Dean menggoda istrinya.


“Ish, mana ada begitu, kan biasanya kamu….” Qiandra terdiam saat suaminya menciumnya dengan lembut.

__ADS_1


“Jangan terlalu diungkit, Honey, atau aku akan berubah pikiran”desis Dean membuat Qiandra segera menutup mulutnya.  Keduanya segera membersihkan diri dengan cepat dan berganti dengan pakaian yang ternyata sudah tersedia dalam lemari pakaian di kamar itu.


__ADS_2