PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS SEMBILAN PULUH ENAM


__ADS_3

“Dean, segera ke rumah sakit” seru dokter Albert saat Dean mengangkat sambungan teleponnya.  Dean yang saat itu sedang menghadapi pekerjaannya benar benar terkejut.


“Apa yang terjadi” seru Dean, “Aku dan Qiqi baru saja tiba di mansion” seru Dean dengan


sedikit panik.  Dean dan Qiandra memang


baru saja tiba di mansion setelah keduanya menjenguk daddy Walt.  Saat ini Qiandra sendiri baru saja beristirahat sehingga Dean bisa meninggalkannya sejenak untuk kembali


menyelesaikan pekerjaan kantornya.  Dean


melirik sang istri yang terlihat sudah terlelap melewati jendela kaca pembatas antara ruang kerjanya dan kamar tidur mereka.


Dean memang sengaja sedikit merombak kamar utama itu dan membuat ruang kerja khusus yang terhubung langsung dengan kamar tidur mereka.  Dean akan bekerja disana saat Qiandra beristirahat, sementara itu Dean juga bisa tetap memperhatikan Qiandra.  Laki laki tampan itu benar benar tidak melepaskan pengawasannya


sedikitpun dari sang istri.


Dean hanya akan meninggalkan Qiandra jika ada Clayandra dan Chris yang menjaga wanita hamil itu.  Bahkan kepada kedua sahabatnya saja, Dean baru meninggalkan sang istri jika keadaannya mendesak.  Oleh sebab itu, Dean kebingungan apa yang


harus dia lakukan saat ini.  Dean tidak


bisa begitu saja meninggalkan Qiandra tanpa orang orang yang bisa menjaganya.


“Kondisi daddy tiba tiba menurun, aku tidak bisa menjelaskan sekarang aku harus segera


menangani daddy” sahut dokter Albert seraya menutup panggilan telepon itu.


“Shit,.... ****.....” seru Dean dalam kebimbangannya, namun akhirnya dia melangkah dengan perlahan mendekati Qiandra dan membangunkan wanita itu dengan lembut.  Dean memutuskan lebih baik membawa Qiandra daripada meninggalkan wanita itu dengan berbagai resiko.  Dean hanya khawatir ada yang akan memanfaatkan kepanikan mereka saat ini, karena itu dia lebih memilih bersikap


tenang dan membangunkan sang istri.


Qiandra terkejut saat merasakan sentuhan di pipinya, rasa kantuk masih membuat matanya enggan terbuka, hingga dia mendengar suara lembut sang suami, “Honey, maafkan aku membangunkanmu, tapi kita harus kembali ke rumah sakit” bisik Dean seraya mengecup lembut kening sang istri.


Mendengar kata kata suaminya, mata Qiandra seketika terbuka lebar, “Apa yang terjadi, Love” tanya wanita itu masih dengan mata berat.


“Aku tidak tahu, Al hanya meminta kita segera ke rumah sakit” ucap Dean menyembunyikan apa yang sudah disampaikan dokter Albert.  Mendengar hal itu, Qiandra segera bangun namun ditahan oleh sang suami,


“Jangan terburu buru, Honey, ingat kandunganmu” ucapnya yang dijawab Qiandra dengan anggukan kepala.


Qiandra hanya membasuh wajahnya setelah itu langsung berganti pakaian.  Saat dia keluar dari walk in closet, dia melihat Dean sudah menunggunya dengan tenang.  Namun, Qiandra bisa melihat kecemasan yang disembunyikan laki laki itu dibalik mata elangnya.  “Aku siap, Love” ucap Qiandra.

__ADS_1


Dean mengulurkan tangannya lalu meraih jemari istrinya, “Maafkan aku mengganggu istirahatmu, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kamu sendirian, aku takut ada yang memanfaatkan situasi ini” ucap Dean dengan lembut.


“Jangan khawatir, Love, aku dan anak kita baik baik saja, justru aku akan marah jika kamu tidak mengajakku” ucap Qiandra berusaha menanangkan sang suami.  Dean hanya mengangguk sekilas lalu segera membawa Qiandra keluar dari kamar itu.


Saat keduanya tiba di rumah sakit, terlihat seorang dokter yang sudah berumur menyongsong keduanya.  “Tuan dan Nyonya sudah ditunggu oleh dokter Albert di ruangan Yang Mulia” ucap dokter itu yang langsung membawa keduanya masuk kedalam rumah sakit.


Dean dan Qiandra sedikit merasa heran saat melihat mereka dibawa ke arah berlawanan dari tempat Daddy Walt biasanya dirawat.  Namun, mereka tetap melangkah mengikuti dokter paruh baya itu, hingga akhirnya mereka


tiba di sebuah ruang rawat VVIP.  Dokter


itu juga langsung membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Dean dan Qiandra


masuk ke dalam ruangan itu.


Betapa terkejutnya Dean dan Qiandra saat melihat sang daddy tersenyum ke arah mereka berdua, “Kemarilah anak anakku” ucap daddy Walt dengan suara yang sangat


pelan.  Disana juga ada dokter Albert


yang selalu siaga memantau kondisi daddy Walt.


“Dad, ......” desis Dean dengan hati mengharu biru, sementara Qiandra hanya bisa tersenyum dengan air mata bahagia mengalir di pipinya.  “Terima kasih sudah kembali” lanjut Dean seraya memeluk laki laki yang


“Ah, mengapa kamu yang memelukku, aku ingin memeluk menantuku” ucap sang Daddy tanpa membalas kata kata Dean, membuat Dean segera melepaskan pelukannya.


Qiandra yang mendengar sang Daddy menyebut dirinya datang mendekat dan menunduk hormat kepada laki laki itu.  Karena memang begitulah aturannya dalam kerajaan, sang raja tidak boleh dipeluk dengan


sembarangan kecuali oleh anak dan sang ratu.  “Oh, apakah tidur panjang membuatku menjadi tidak pantas merasakan pelukanmu, Sayang?” rajuk daddy Walt yang membuat Qiandra tersentak, “Kemarilah” ucap Daddy Walt lagi seraya merentangkan tanggannya pada Qiandra.


Qiandra melangkah mendekati daddy Walt sambil melirik ke arah Dean yang memberikan anggukan kepala kepadanya.  Qiandra lalu perlahan memeluk laki laki paruh baya dengan ketampanan yang sama dengan sang suami.  “Terima kasih masih berada di keluarga ini, Nak, terima kasih pula untuk semua pengorbananmu” bisik daddy Walt saat Qiandra berada dalam pelukannya.


“Maafkan aku, Dad, aku sudah menjadi penyebab daddy menderita begini” ucap Qiandra penuh sesal, membuat daddy Walt seketika melepaskan pelukan mereka.


“Tidak, tidak, Nak, justru kamu telah berhasil menyelesaikan konflik ini dengan luar biasa,


aku sangat berterima kasih padamu” ucap daddy Walt sambil memegang kedua bahu


Qiandra.


“Dad, jangan membuat istriku kelelahan, kamu membaut anak kami merasa tidak nyaman” desis Dean yang merasa kasihan karena Qiandra harus tetap dalam posisi membungkuk ke arah daddy Walt.

__ADS_1


Daddy Walt terlihat sedikit terkejut, “Apa katamu, apakah .....” laki laki paruh baya itu


tidak melanjutkan kata katanya, dia menatap Qiandra dan Dean dengan bergantian.


Qiandra tersenyum pada sang ayah mertua, “Benar, Dad, aku sedang mengandung saat ini” ucapnya dengan suara lembut yang seketika mengukir senyum bahagia di wajah daddy Walt yang masih terlihat pucat.


“Ah, ini berita yang sangat membahagiakan, pantas saja mommymu menyuruhku kembali, katanya ada hal penting yang belum aku selesaikan” ucap daddy Walt dengan senyum


bahagia.  Dean mendesah berat, saat dia


akan membuka mulut, dokter Albert menggeleng pelan membuat Dean kembali


terdiam.  Dokter Albert hanya menduga


kalau Dean punya masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh daddy Walt.  Namun, dokter Albert tidak akan membiarkan kesehatan daddy Walt terganggu karena memikirkan masalah yang berat.


“Baiklah, saya rasa sekarang saatnya daddy harus kembali beristirahat, daddy sudah banyak berbicara dari tadi, kondisi daddy masih belum fit sepenuhnya” ucap dokter


Albert.


“Sebenarnya aku belum puas, tapi baiklah, aku akan mengikuti perintah Anda, Dok” ucap daddy Walt yang tidak ingin menyulitkan dokter Albert.  Karena jika daddy Walt menolak, maka dokter Albert sama sekali tidak bisa menentangnya.  Hanya dokter Albert saja yang berani menegur daddy Walt demi kesehatannya, dan hanya pada dokter itu saja daddy Walt mau menurut tanpa


bantahan.


“Baiklah, Dad, jika begitu kami akan keluar dulu, istirahatlah dan terima kasih sudah kembali pada kami” ucap Dean pada sang daddy.  Daddy Walt hanya tersenyum seraya menepuk bahu Dean sebelum kembali


meraih jemari Qiandra.


“Terima kasih, Nak, terima kasih untuk semua pengorbananmu, dan terima kasih sudah memberi orang tua ini hadiah terbaik saat aku membuka mata” ucapnya dengan lembut


sambil menepuk jemari Qiandra.  Qiandra


hanya tersenyum lalu sedikit menekuk kakinya dan memberi penghormatan pada


daddy Walt.


Setelah itu, sepasang suami istri itu melangkah meninggalkan ruangan daddy Walt.  Dean ingin membawa Qiandra kembali ke mansion, namun wanita hamil itu tidak ingin berjauhan dengan sang daddy.  Akhirnya, dokter Albert menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk keduanya yang terletak berdampingan dengan kamar daddy


Walt.

__ADS_1


__ADS_2