
“Love, kumohon bisakah aku menghadiri rapat besok sendiri saja, kamu beristirahatlah di rumah. Atau kamu bisa meninjau beberapa lokasi yang sedang kita bangun, jadi aku bisa mendapatkan masukan tentang hal apa saja yang harus diperbaiki” Qiandra menatap wajah Dean dengan wajah memohon, saat mereka berdua dalam perjalanan pulang kembali dari kantor Qiandra.
Bukan tanpa alasan, Qiandra berharap Dean tidak mendampinginya terus menerus. Sikap posesif laki-laki itu benar-benar membuat Qiandra hampir tidak bisa bergerak, apalagi jika sudah berada di tengah para koleganya yang memang kebanyakan adalah para lelaki muda.
Qiandra juga menyadari kalau tidak sedikit dari koleganya yang memang berusaha mendekati dirinya. Namun, keberadaan Dean membuat sebagian besar dari mereka segera menjaga jarak, walaupun masih ada yang tidak perduli. Dan hal ini benar-benar membuat Qiandra merasa tidak bisa bebas bernegosiasi dengan para koleganya.
Dean memang tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, bahkan dia selalu memperlakukan Qiandra seperti seorang ratu. Namun, dia tidak akan pernah membiarkan Qiandra berdiri dekat dengan para koleganya, apalagi jika itu laki-laki muda. Dean langsung menempatkan dirinya sepeti benteng tinggi disamping Qiandra, dengan tangan kokohnya yang tidak pernah lepas dari pinggang sang kekasih.
Sudah berulang kali Qiandra mengajukan protes pada sikap posesif sang kekasih. Dean hanya menjawab dengan santai bahwa dia tidak suka melihat mata nakal para lelaki itu saat menatap Qiandra. Dan Dean ingin mereka semua tahu bahwa Qiandra bukan lagi wanita single yang bisa mereka harapkan lagi.
“Honey, kamu tahu kan jawaban ku, kalau kamu mau mendengar pendapatku tentang pembangunan yang sedang di lakukan, bukankah kita berdua bisa pergi meninjaunya bersama-sama” sahut Dean dengan santai.
“Tapi, Love, pekerjaanku disini sangat banyak, aku nggak punya waktu kalau harus pergi meninjau ke lapangan. Biasanya hal itu dilakukan oleh Jossie, jadi aku mohon bantulah aku” ucap Qiandra dengan wajah memelas.
“Jika pekerjaanmu disini begitu banyak, maka aku akan membantumu menyelesaikannya, sehingga kamu punya kesempatan untuk meninjau ke lapangan” sahut Dean masih dengan nada santai.
“Love….” Qiandra ingin kembali mengajukan protes.
Dean merengkuh tubuh sang kekasih dan memeluknya dengan erat, “Kamu tahu, Honey, aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, bersamamu, jadi aku tidak akan membiarkan kamu sendiri lagi, sekarang ini biarkan semua
orang tahu, bahwa dimana ada Qiandra maka disitu akan ada Dean Walt Zacharias” bisiknya dengan lembut di telinga Qiandra.
Qiandra hanya bisa menarik nafas berat, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Dean benar-benar tidak perduli dengan alasan apapun yang diajukan oleh Qiandra. Laki-laki itu tidak mau meninggalkan Qiandra walau hanya sebentar. Dalam setiap kesempatan, Dean akan selalu menempel di sisi Qiandra, kemanapun dan dimanapun Qiandra berada.
“Nak, didalam ada tamu, mereka sudah menunggu sejak tadi siang” Bik Sum yang menyambut kedatangan Qiandra dan Dean memberitahukan kepada wanita cantik itu saat Qiandra dan Dean tiba di rumahnya.
“Tamu?, mengapa ibu tidak mengabariku dari tadi” tanya Qiandra yang merasa heran, karena biasanya jika ada yang bertamu ke rumahnya, Bik Sum selalu mengabari Qiandra.
“Mereka tidak mau mengganggu pekerjaanmu, Nak” sahut Bik Sum.
“Siapa mereka Bu, apa ibu mengenal mereka” tanya Qiandra.
“Kalau yang satunya dokter Albert, tapi kalau yang dua orang, ibu tidak kenal, Nak” sahut Bik Sum.
__ADS_1
“Sudahlah, Honey, sebaiknya kita membersihkan diri dulu, Bu, bisakah minta tolong menyiapkan makan malam, juga kamar untuk mereka” tanya Dean yang baru masuk ke dalam rumah.
“Kamar?, memang mereka akan menginap disini, Love, apa kamu mengenal mereka, atau mereka tamumu” tanya Qiandra dengan heran.
“Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir, sekarang ayo kita membesihkan diri dulu, setelah itu, kamu dandan yang cantik ya” ucap Dean dengan senyum penuh misteri.
Qiandra kembali menatap Dean dengan kebingungan yang besar, dia ingin langsung menemui tamunya itu. Namun, Dean dengan cepat menarik tangan Qiandra dan menuntunnya masuk ke dalam kamarnya. “Pergilah membersihkan dirimu dulu, Honey” ucap laki-laki tampan itu.
Qiandra tak punya pilihan lain, dia melihat Dean sudah mulai membuka pakaiannya, jadi Qiandra memilih lebih cepat masuk ke kamar mandi. Mereka berdua memang tinggal dalam satu kamar, karena Dean selalu menolak tinggal di kamar lain, sekalipun itu bersebelahan dengan kamar Qiandra. Presidir tampan itu, sanggup tidur di depan kamar Qiandra, jika wanita itu tak mengijinkannya masuk ke kamar Qiandra.
Qiandra membersihkan diri dengan cepat, dan saat di keluar, dia melihat Dean yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk, sedang berbicara melalui phonselnya. Qiandra hanya memberikan kode untuk Dean dan masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Dean yang melihat Qiandra sudah selesai, segera mengakhiri panggilan teleponnya, dia menyusul Qiandra masuk ke ruang ganti.
“Kuharap, malam ini akan menjadi awal kebahagiaan kita, Honey” uca Dean dengan lembut, dia merengkuh tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.
“Love, sebenarnya ada apa sich” tanya Qiandra yang semakin terheran-heran dengan sikap Dean.
“Tolong siapkan bajuku, ya, Honey, kita berdua harus menghadiri acara istimewa nanti” ucap Dean masih penuh dengan misteri. Qiandra benar-benar kebingungan, tapi dia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, dia hanya mengangguk lalu mulai menyiapkan pakaian Dean.
Qiandra mengikuti permintaan Dean, dia menggunakan salah satu gaun terbaiknya, yang memang dirancang couple dengan setelan jas yang akan dipakai Dean. Qiandra juga memberikan sedikit riasan pada wajahnya, dan menata rambutnya dengan memberikan sedikit asesoris.
“Terima kasih, Love, itu pakaianmu sudah aku siapkan, kebetulan ini baru selesai, hasil rancanganku sendiri, semoga tidak mengecewakanmu” ucap Qiandra dengan senyum manisnya.
“Tidak ada yang akan mengecewakan aku, Honey, jika itu berasal darimu, pasti semuanya sempurna” sahut Dean dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan. Sang presidir itu melangkah mengambil pakaian yang telah disiapkan oleh Qiandra. Saat dia akan mengenakan kemejanya, Qiandra menghampirinya dan membantu sang kekasih memakai pakaiannya.
“Terima kasih, Honey, pakaian ini terasa sangat nyaman dan sangat mewah, kamu tahu seleraku rupanya” ucap Dean dengan bangga. Pakaian yang disiapkan oleh Qiandra melekat dengan pas di tubuh atletis pria tampan itu.
“Syukurlah kalau kamu menyukainya, Love, apa kita sekarang sudah boleh menemui tamu misterius itu” tanya Qiandra dengan senyumnya.
“Tentu saja, Honey, tapi sebelumnya, apakah boleh aku mendapatkan vitaminku” tanya Dean dengan senyum smirknya.
“Ish, Love, kamu akan merusak makeupku nanti” kilah Qiandra yang sangat mengerti pada maksud Dean. Namun belum sempat Qiandra berlalu, Dean sudah menarik pinggang sang kekasih,dan tanpa aba-aba, lelaki itu ******* bibir seksi sang kekasih dengan penuh cinta dan kelembutan.
Qiandra menyambut ciuman mesra sang kekasih dengan mata terpejam, dia tak pernah mampu menolak kelembutan seorang Dean. Beberapa saat kemudian, Dean perlahan mengurai pelukannya, “Kurasa kita harus pergi sekarang, Honey, sebelum aku menjadi khilap” ucapnya seraya menyeka bibir sang kekasih dengan lembut.
__ADS_1
Mereka berdua melangkah keluar dari kamar itu dengan bergandengan tangan, mata Qiandra membulat saat melihat di ruang keluarga sudah menunggu tiga orang pria. Dua diantaranya yang terlihat masih muda, sangat dikenal oleh Qiandra, namun laki-laki paruh baya yang juga ada di ruangan itu membuat kening Qiandra berkerut.
“Selamat malam, maafkan kami membuat Anda semua menunggu begitu lama” ucap Qiandra menyapa tamu-tamu yang sudah berdiri saat melihat kedatangan mereka berdua.
“Dokter Albert, asisten Vian, dan Tuan….” Qiandra menatap laki-laki paruh baya itu dengan mata bertanya-tanya.
“Aku, Walt Zacharias, Nona” ucap laki-laki paruh baya itu dengan senyum lembutnya. Namun, jawaban laki-laki itu membuat Qiandra ternganga, dia menutup mulutnya dan menatap Dean dengan tatapan tak percaya.
“Benar, Honey, ini daddyku, Walt Zacharias” sahut Dean dengan santai, lalu dia melangkah menghampiri sang ayah dan memeluknya dengan hangat, “Terima kasih, sudah mau datang kesini, Dad” ucap Dean dengan bahagia. Lalu dia menarik tangan Qiandra dan membawanya ke hadapan sang ayah, “Ini Qiandra, Dad, calon menantumu” ucapnya dengan bangga.
Qiandra menghampiri laki-laki paruh baya itu, lalu membungkukkan badannya dengan penuh hormat, “Maafkan saya yang tidak mengenali Anda, Tuan” ucapnya dengan penuh rasa bersalah.
“Ha ha ha, jangan sungkan, Nona, atau bolehkah aku memanggilmu Nak, ah, aku sudah lama menunggu saat-saat ini” ucap Daddy Walt dengan senyum bahagia.
“Tentu saja, Tuan, aku akan sangat bangga sekali jika Anda berkenan memanggilku demikian” ucap Qiandra dengan tulus.
“Jika demikian, maka jangalah kamu memanggilku dengan sebutan tuan lagi, Nak, panggillah aku seperti Dean memanggilku” ucap Daddy Walt.
“Ba-baik Tu, eh, Dad” ucap Qiandra masih sedikit kaku. “Silahkan duduk, Dad, dokter Albert dan asisten Vian, sekali lagi saya mohon maaf, karena membuat Anda semua menunggu begitu lama. Tidak ada yang memberitahukan kehadiran Anda kepada saya, saya justru baru tahu saat pulang tadi” lanjut Qiandra lagi.
“Jangan khawatir, Nona, memang kami sengaja tidak mengabari Anda, Tuan Dean ingin ini menjadi kejutan untuk Anda” sahut asisten Vian.
Qiandra menatap Dean dengan wajah yang sulit diartikan, “Honey, aku memang sengaja membuat kejutan untukmu, dan kurasa sekaranglah saatnya bagimu untuk mengetahui tujuan kehadiran Daddy Walt jauh-jauh datang kemari” sahut Dean, dia meraih tangan Qiandra dan mengecupnya dengan lembut.
“Memang, apa tujuan Daddy Walt, maaf kalau saya lancang, Dad, saya benar-benar bingung dengan semua ini” ucap Qiandra masih dengan wajah penuh tanda tanya.
“Tidak mengapa, Nak, tapi sebelumnya, apakah kamu punya wali yang bisa mendampingimu” tanya Daddy Walt dengan lembut.
“Ada, sebentar aku panggil dulu” ucap Qiandra, lalu dia berdiri dan melangkah menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Bik Sum, Jossie dan dokter Jimmy, “Bu, Jossie, dokter Jimmy, bisakah kalian menemaniku menemui para tamu itu” tanya Qiandra.
“Kami menemanimu, Nak, memangnya ada apa” tanya Bik Sum.
“Aku juga tidak tahu, Bu, laki-laki paruh baya itu adalah ayahnya Dean, dan beliau memintaku untuk membawa waliku menemui beliau” sahut Qiandra.
__ADS_1
“Tapi, Nak, apa ibu layak, ibu kan cuma….” Bik Sum belum sempat menyelesaikan kata-katanya, sudah dipotong oleh Qiandra.
“Bu, sudah berapa kali aku katakan, ibu adalah ibuku, jangan pernah berpikir macam-macam lagi” ucap Qiandra dengan tegas. Bik Sum hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat, wanita tua itu memang bersedia menjadi ibu bagi Qiandra, namun jika harus mendampingi Qiandra menghadapi orang-orang besar seperti ini, Bik Sum merasa sangat tak pantas.