PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH EMPAT


__ADS_3

“Love, ayolah, buka pintunya sebentar, aku tidak akan kemana-mana” Qiandra berusaha membujuk Dean agar mau membuka pintu.


“Haish, mengapa selalu saja datang di waktu yang tidak tepat” desis Dean, namun akhirnya dia tetap melangkah menuju ke arah pintu depan.  Dean membuka pintu sedikit dan melihat ternyata memang dokter Albert dan asisten Vian yang datang dengan membawa


barang-barang milik mereka berdua.


Dean akhirnya membuka pintu, “Masuk, dan letakkan saja barang-barang itu di situ” serunya dengan wajah kesal.  Asisten Vian segera masuk dan membawa barang-barang itu, Dean memperhatikan asisten Vian dengan seksama  karena ingin segera mengusir asisten Vian.  Namun, dia tidak memperhatikan dokter Albert yang baru masuk setelah asisten Vian.  Dokter Albert  tidak memperdulikan asisten Vian dan Dean, dia malah mengendus dengan kening berkerut.


Tanpa di duga, dokter Albert melangkah menuju ke arah dapur, dimana Qiandra masih berada disana dengan hanya mengenakan kemeja Dean.  Dean sendiri masih fokus pada asisten Vian yang sedang menyusun barang-barang Qiandra, hingga dia terkejut mendengar jeritan Qiandra.


“Aaaaa….” seru Qiandra yang terkejut melihat kemunculan dokter Albert, dia sangat malu karena berada dalam kondisi yang benar-benar  menggoda akibat perbuatan Dean.  Dokter Albert juga terkejut, namun dengan refleks dia segera berpaling dan membelakangi Qiandra.


“Maafkan saya, Nyonya, saya hanya mencium aroma yang sangat sedap, saya lupa kalau di sini sudah ada Anda” ucap dokter Albert, wajah dokter tampan itu menjadi merah padam, antara malu juga kagum dengan pemandangan yang sempat dilihatnya.


“Tutup mata kalian, kamu dan kamu juga Vian, awas kalian kalau berani mengintip” seru Dean yang berlari menuju ke arah dapur dan


mendatangi Qiandra.  Asisten Vian yang tidak tahu apa-apa langsung menutup matanya mengikuti perintah Dean , walaupun dia merasa kebingungan.


Dean segera meraih tubuh istrinya yang meringkuk dan menyembunyikan dirinya di dekat meja makan.  Dean bergegas menggendong istrinya dan langsung membawa Qiandra masuk ke dalam kamar, kemudian membaringkan wanita itu di tempat tidur mereka.


“Maafkan aku, Honey, aku tidak menyangka Albert langsung ke dapur” ucap Dean dengan wajah sendu dia mengecup kening istrinya.  Dean merasa sangat bersalah atas perbuatan


sahabatnya itu, Dean tahu, Qiandra pasti merasa sangat malu.


“Jangan berkata begitu, Love, aku baik-baik saja, aku hanya terkejut melihat dokter Albert datang, sementara aku dalam pakaian seperti ini” ucap Qiandra, dia juga merasa tidak enak hati, jika karena dia, Dean sampai memarahi kedua sahabatnya.    Qiandra memang benar-benar merasa terkejut , tapi dia juga mengerti kalau kedua sahabat suaminya belum terbiasa dengan keberadaan dirinya.


Qiandra cukup terkejut mendengar Dean membentak kedua sahabatnya tadi, dia tidak menyangka kalau suaminya begitu panik.  Walaupun Qiandra tahu, kalau suaminya


melakukan hal itu pasti karena mengkhawatirkan dirinya.  Dia menyentuh tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat, “Pergilah, temui mereka, aku akan berganti pakaian  dulu” ucapnya dengan lembut, Qiandra tetap berusaha meyakinkan suaminya bahwa dia baik-baik saja.


“Kamu yakin?” tanya Dean, sejujurnya dia merasa berat meninggalkan istrinya setelah kejadian  itu, namun petanyaannya  dijawab


Qiandra dengan anggukan kepala yang tegas.


“Persilahkan mereka untuk makan dulu, aku memang sudah masak cukup banyak tadi” ucap Qiandra lagi, masih dengan senyum menghias wajahnya.  Wanita ini ingin agar suaminya benar-benar percaya dan yakin kalau dia baik-baik saja.


“Honey….” Dean sebenarnya tidak ingin sahabat -sahabatnya itu berlama-lama disitu, dia masih ingin sendiri bersama dengan istrinya.


“Sttt, hari masih sore, kita masih punya banyak waktu” ucap Qiandra  seraya mengecup bibir suaminya dengan lembut.  Dia tahu kalau Dean pasti sangat tidak sabar melanjutkan apa yang sempat mereka lakukan tadi namun tertunda karena kehadiran kedua sahabatnya.


“Hah, baiklah, tapi kamu tidak perlu keluar jika kamu masih merasa tidak nyaman” ucap Dean, dia segera turun dari tempat tidur, “Aku akan


membawa tas pakaianmu, tunggulah sebentar” lanjutnya seraya melangkah keluar dari kamar utama.  Tak berselang lama, Dean kembali dengan membawa tas pakaian Qiandra dan meletakkannya di ruang  ganti.


“Terima kasih, Love” Qiandra bangun dan melangkah mendekati suaminya masuk ke dalam ruang ganti.


“Nyonya, sebenarnya aku sangat tidak rela kamu berganti pakaian” desis Dean seraya merangkul pinggang istrinya, penampilan sang istri saat itu benar-benar membuat gairah Dean sulit dikendalikan.


“Pergilah, Love, aku akan memakai baju manapun yang kamu sukai nanti” desah Qiandra dengan manja dan berusaha membujuk suaminya, namun tangannya mendorong lembut tubuh suaminya.


“Honey, kamu……” Dean menggeram menahan gairahnya melihat sikap manja istrinya itu, namun akhirnya dia menghela nafas pasrah  dan melangkah juga keluar dari ruang ganti


itu, lalu keluar dari kamar utama untuk menemui kedua sahabatnya.


Qiandra tersenyum melihat kepergian suaminya, lalu dia mulai membuka tas pakaiannya.  Qiandra mengatur gaun-gaun dan perlengkapan pribadinya di bagian yang kosong dalam ruangan itu.  Kemudian dia mengganti kemeja Dean dan memakai salah satu gaun yang biasa di gunakannya di rumah.


Sementara di ruang makan, asisten Vian menatap dokter Albert dengan kening berkeut, dia masih merasa kebingungan, “Sebenarnya ada apa” tanya asisten Vian pada dokter Albert, setelah Dean belalu dari ruangan itu.


“Mana aku tahu kalau mereka berdua hampir melakukannya disini, tapi yang satu ini benar-benar mantap” ucap dokter Albert seraya

__ADS_1


mengacungkan kedua jari jempolnya, seraya bersiul.  “Kalau Nenek sihir itu, kalah jauh dech”


lanjutnya lagi sambil menggelengkan kepalanya


“Maksudmu apanya yang mantap” asisten Vian masih belum mengerti maksud perkataan dokter Albert.  Asisten Vian memang terus menutup mata hingga dokter Albert menyuruhnya membuka mata setelah Dean dan Qiandra berlalu.  Sehingga asisten Vian benar-benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya


sudah terjadi.


“Istri bos, benar-benar ….” dokter Albert bersiul, namun tiba-tiba sebuah bantal sofa melayang dan mengenai punggungnya, membuat kedua


orang itu terkejut.


“Awas kalau kamu berani membicarakan Qiqiku” seru Dean dengan wajah kesal, sebenarnya dia sangat jengkel dengan kedua sahabatnya, tapi dia juga menyadari kalau itu juga karena kelalaiannya.


Asisten Vian cukup terkejut karena Dean masuk dengan tiba-tiba dan langsung berseru pada dokter Albert.  Tapi dokter Albert malah tertawa


terbahak-bahak, “Pantas saja kamu hampir tidak bisa lepas darinya, ternyata benar-benar wow” ucap dokter Albert  tanpa perduli mata Dean yang membulat seakan ingin menelannya


hidup-hidup.


“Haish, seandainya orang lain, sudah ku congkel matamu” geram Dean, namun dia sangat tahu watak kedua sahabatnya itu, jadi dia hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati.  Lagi pula Dean ingat pesan Qiandra, dia tidak ingin mengecewakan istrinya lagi.  Akhirnya dia duduk, “Makanlah, Qiqi sudah


memasak cukup banyak, dan dia meminta aku untuk memberi makan kalian” ucapnya.


“Nah, begitu donk, itu yang aku tunggu dari tadi” ucap dokter Albert dengan wajah sumringah, karena sebenarnya sejak tadi dia sudah merasa lapar melihat makanan yang ada di atas meja.  Dokter Albert  segera mengambil peralatan makannya dan mengisinya hingga penuh.


“Astaga, Al, kamu berapa hari tidak makan” seru Dean melihat porsi makanan sahabatnya itu.


“Aroma masakan ini sudah membuatku benar-benar kelaparan, hei, Vian, kalau kamu tidak berminat, aku bisa saja menghabiskannya” seru


dokter Albert pada asisten Vian yang masih berdiri takjub melihat tingkah dokter Albert.  Bagaimana tidak heran, baru saja tuan rumah membentaknya, tapi dokter Albert bisa dengan santainya menikmati makanan bahkan dengan porsi luar biasa.


“Makanlah, Vian, jangan perdulikan dokter ini” ucap Dean, dia tahu kalau asisten Vian tidak akan makan, jika tidak dipersilahkan.   Dan benar saja, asisten Vian segera mengambil peralatan makannya dan mengisinya dengan beberapa makanan yang ada di atas meja makan besar itu.


tandas.


“Heeee, selain lapar, makanan ini benar-benar nikmat, menunya modern tapi rasa tradisional tetap melekat, ah, aku jadi merindukan pulang kampung dan merasakan masakan ibu” ucap dokter Albert.


“Al benar, masakan ini memang luar biasa, aku tidak pernah makan sampai sebanyak ini, Nona Qiandra memang hebat sekali” sahut asisten


Vian.


“Terima kasih atas pujiannya asisten Vian, syukurlah kalau kalian berdua bisa menikmati masakan sederhana ini” tiba-tiba suara seorang


wanita mengejutkan ketiga orang pria tampan itu.  Ketiganya serempak menoleh ke arah sumber suara itu.


“Honey….” Dean segera melangkah menghampiri Qiandra yang baru masuk ke dalam ruang makan itu.


“Nyonya…” dokter Albert dan asisten Vian segera berdiri dan membungkuk dengan hormat.


“Terima kasih untuk makan malam istimewa ini, dan sekali lagi aku minta maaf untuk….” dokter Albert menundukkan kepalanya merasa


canggung dengan Qiandra.


“Jangan pikirkan hal itu, dok, lupakan saja” ucap  Qiandra, “Tapi bisakah kalian tidak


memanggilku Nyonya, rasanya aneh sekali” lanjutnya lagi.


“Tidak bisa, Honey, mulai dari merekalah orang akan tahu kalau kamu adalah Nyonya Dean Walt Zacharias” Dean langsung menegaskan jawaban untuk dokter Albert dan asisten Vian.

__ADS_1


“Haish, baiklah, tapi kalau tidak di hadapan orang banyak, bolehkan mereka memanggil namaku saja” Qiandra masih berusaha bernego dengan suaminya.


“Honey…..” Dean menatap sang istri yang sudah mulai memasang wajah sendunya.


“Ah, baiklah, Qi, bolehkah aku memanggilmu begitu” dokter Albert segera menengahi perdebatan pengantin baru itu.


“Tentu saja, Dok” sahut Qiandra dengan cepat.


“Kalau begitu, aku harap kamu juga tidak lagi memanggilku dokter, panggil saja aku Al, dan dia bisa kamu panggil Vian saja.  Tapi jangan harap dia akan memanggil namamu, Qi” ucap dokter Albert sambil mengarahkan pandangannya pada asisten Vian.  “Kecuali suamimu itu yang menyuruhnya langsung” lanjutnya lagi.


Qiandra kembali menatap wajah suaminya, “Love…..” bisiknya dengan wajah memohon.


Dean menarik nafas menahan kekesalannya, “Terserah dia saja, Honey, bagaimana dia merasa enak memanggilmu” ucapnya kemudian.


“Saya akan tetap memanggil Anda dengan sebutan Nyonya Dean” sahut asisten Vian dengan mantap.


“Ya, sudah kalau begitu, aku akan memanggil kalian dengan sebutan Kak Al dan Kak Vian, bagaimana” tanya Qianda dengan senyum manisnya.


“Ha, mantap, aku suka mendengarnya” sahut dokter Albert membuat Dean memutar bola matanya dengan kesal.


“Baiklah kalau begitu, sekarang kalau kalian sudah selesai, aku akan membereskan ini” ucap Qiandra, dia melihat semua piring kosong yang ada di atas meja.  Qiandra ingin


membersihkannya agar para tamunya dapat leluasa berbincang, namun  asisten Vian segera mencegahnya.


“Biarkan kami yang membersihkannya, Nyonya, anggap saja sebagai ucapan terima kasih kami atas makan malam istimewa ini” ucap asisten


Vian.


“Tapi….” Qiandra merasa canggung kalau membiarkan kedua pria tampan itu membereskan meja makan.


“Biarkan saja, Honey, mereka sudah biasa melakukan itu” Dean menengahi mereka.


“Hah, baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan minuman untuk kalian, dan jangan menolak” ucap Qiandra, dia melihat kalau kedua pria itu ingin menolaknya.  Asisten Vian dan dokter Albert  hanya menganggukkan


kepala, lalu keduanya segera membereskan meja makan, bahkan mereka juga membersihkan bekas Qiandra memasak.


Sementara Qiandra menyajikan minuman dan juga camilan untuk mereka, “Maaf ya, cuman ini yang ada di lemari es, lain kali aku akan membuat camilan sehat untuk kita” ucap Qiandra sambil meletakkan minuman di atas meja makan yang sudah dibersihkan.


“Tidak apa-apa, Nyonya, ini saja sudah lebih dari cukup” ucap asisten Vian.  Kedua orang pria itu terlihat sangat trampil merapikan semua barang-barang bekas mereka makan.  Hingga dalam sekejap, dapur itu benar-benar


terlihat bersih.


“Wow, cepat sekali kalian bekerja” ucap Qiandra dengan takjub.


“Sudah kubilang, Honey, mereka sudah biasa” sahut Dean yang cukup lama berdiam diri.


“Baiklah, Nyonya, sekarang kami pamit dulu, kembali ke kamar kami” asisten Vian sudah bersiap untuk pergi, dia bisa mengerti tatapan mata mengusir dari sang tuan rumah.


“Eh, tapi kalian belum minum” seru Qiandra.


“Ah, kami akan membawanya ke kamar, Qi,  tentunya kalau kamu tidak keberatan” sahut


dokter Albert.


“Hmm, baiklah kalau begitu, silahkan saja Kak Al, dan terima kasih ya, kalian sudah repot-repot membereskan dapur ini” Qiandra  akhirnya mengalah, dia juga bisa melihat mata


sang suami yang terlihat sangat tajam pada kedua sahabatnya itu.


Asisten Vian dan Dokter Albert segera mengambil minuman yang disediakan Qiandra, lalu mereka langsung pamit untuk kembali ke kamar mereka.  Dean mengantarkan kedua sahabatnya hingga ke pintu keluar.

__ADS_1


“Bro, apa ada rencana untuk rumah besar” tanya dokter Albert  tiba-tiba pada Dean, saat mereka melangkah menuju pintu keluar.


“Maksudmu apa,  Al, kamu tahu aku tidak akan membiarkan iblis itu berdekatan dengan Qiqi” sahut Dean dengan ketus.


__ADS_2