PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS ENAM PULUH SATU


__ADS_3

“Bu, aku mau minta pendapat ibu, aku sudah cukup lama meninggalkan perusahaan Kak Andra, tapi keadaan Kak Andra saat ini juga sedang tidak baik baik saja.  Lalu aku harus bagaimana, Bu” Jossie bersimpuh di kaki Bu Sum sambil menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita paruh baya itu.


Bu Sum tersenyum dan membelai rambut Jossie dengan penuh kasih, “Ibu tidak bisa memutuskan apa apa, Nak, sebaiknya kamu bicarakan saja dengan kakakmu, aku yakin Andra pasti bisa memberikan keputusan terbaik untukmu.  Lagi pula, ini kan sudah menjadi perusahaan milik kalian berdua, jadi bicarakanlah baik baik dengan Andra” ucap Bu Sum.


“Tapi, Kak Andra kan masih belum sehat, Bu, aku tidak tega mengganggu pikirannya dengan urusan perusahaan.  Lagi pula aku yakin kalau Kak Dean tidak akan mengijinkan aku membicarakan hal hal yang akan membuat Kak Andra berpikir berat” sahut Jossie.


“Jossie, kalau begitu kamu bisa minta ijin dulu pada Nak Dean, ibu yakin kalau hanya sekedar membicarakan masalah ini, Nak Dean pasti akan mengijinkan kamu” masih Bu Sum berbicara dengan lembut pada Jossie.


“Hah, baiklah, kalau menurut Ibu tidak masalah, aku akan meminta ijin pada Kak Dean, walaupun sebenarnya aku agak takut juga menghadapi Kak Dean” ucap Jossie dengan suara pasrah.


“Takut?, memangnya kamu takut kenapa?, apa Nak Dea pernah memarahimu” tanya Bu Sum dengan kening berkerut.


“Memarahi sich tidak, tapi, apa Ibu tidak melihat wajah dinginnya itu, auranya benar benar membuat jantungku hampir berhenti berdetak.  Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana Kak Andra bisa jatuh cinta padanya, kalau masalah tampan sich memang banget, tapi …..” Jossie berhenti bicara saat Bu Sum langsung memotong kata katanya.


“Jossie!” sentak Bu Sum, membuat Jossie berhenti berbicara dan mengangkat wajahnya menatap wajah Bu Sum.  “Jangan mengata ngatai kakak kakakmu seperti itu, Nak Dean mungkin memang bersikap seperti itu di hadapan orang lain, tapi bersama Andra, apa kamu tidak melihat bagaimana perubahannya” ucap Bu Sum masih dengan senyuman di wajahnya.


“Huh, ya iyalah, kalau sudah bersama Kak Andra, Kak Dean memang terlihat berbeda sekali, Kak Dean benar benar menjadi laki laki yang begitu memuja Kak Andra” sahut Jossie seraya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Begitulah Nak Dean, dia tahu pesonanya begitu kuat, dan dia tidak menebarkannya kemana mana, hanya kepada wanita yang dicintainya saja dia memperlihatkan hal itu” ucap Bu Sum.


“Aku berharap mereka berdua akan selalu bahagia dan hidup bersama selamanya, ya Bu, kasihan Kak Andra, sudah terlalu banyak kepahitan hidup yang dijalaninya” ucap Jossie penuh harap.


Bu Sum terdiam mendengar ucapan Jossie, “Ah, entah apalagi yang akan dialami oleh Feli, aku sungguh hanya bisa berharap kebahagiaan bisa mengiringi langkahnya, terlalu banyak sakit yang sudah dialaminya.  Semoga saja Dika bisa membuat keputusan terbaik untuk Felicia, sebab jika salah membuat keputusan, pasti akan membuat Felicia terluka lagi” desah Bu Sum dalam hatinya.


Jossie menatap wanita paruh baya itu, dia mengernyitkan keningnya saat melihat Bu Sum terdiam.  Bahkan mata wanita paruh baya itu terlihat menerawang jauh, seakan jiwanya sedang berkelana dan sama sekali tidak mendengar ucapan Jossie.  Padahal biasanya jika Jossie mendoakan kebahagiaan Andra sang ibu akan langsung mengamini.


“Bu, ibu, ibu …….” Jossie berusaha melambai lambaikan tangannya di hadapan wajah Bu Sum namun sama sekali tidak di respon oleh wanita itu.  Hingga akhirnya Jossie menepuk lembut pangkuan Bu Sum berusaha mengembalikan kesadaran wanita paruh baya itu.  “Bu, Ibu, ada apa Bu, kenapa Ibu terdiam, apa Ibu baik baik saja” tanya Jossie dengan sedikit khawatir.

__ADS_1


Bu Sum tersentak, lalu segera mengembalikan kesdarannya dan menatap Jossie dengan senyum lembutnya.  “Ibu baik baik saja, Nak, jangan khawatirkan ibu” ucapnya.


“Tapi mengapa ibu tiba tiba terdiam, apa ada masalah, Bu, atau apa ada kata kataku yang salah” cecar Jossie yang masih penasaran dengan sikap Bu Sum.


Bu Sum tersenyum seraya menggelengkan kepalanya perlahan, “Tidak Nak, tidak ada yang salah, Ibu hanya teringat pada perjalanan kehidupan kakakmu, Andra, kamu benar sekali, sudah banyak jalan berat yang dilaluinya, semoga dia tidak merasakan lagi penderitaan, kita hanya bisa berharap dia akan bisa menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan.  Walaupun kita tidak tahu, jalan bagaimana yang masih harus dipilihnya, semoga saja dia  bisa menentukan pilihan terbaik untuk menjalani hidupnya”


Jossie menatap Bu Sum, sebenarnya dalam hati wanita muda ini masih tidak percaya dengan jawaban Bu Sum.  Jossie bisa melihat kalau ada kegelisahan yang sedang disembunyikan oleh wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya itu.  Namun, Jossie juga tidak ingin mendesak Bu Sum lebih jauh lagi, sehingga dia lebih memilih berdiam diri saja.


“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, sekarang lebih baik kamu bersiap siap saja dan temui Nak Dean, mintalah ijin padanya terlebih dulu sebelum kamu menemui Andra, Ibu yakin dia tidak akan mempersulit dirimu” lanjut Bu Sum.  Bu Sum bisa melihat kalau wanita muda itu masih meragukan kata katanya.


Jossie mendesah sesaat, “Baiklah, Bu, tapi apa ibu yakin kalau semua baik baik saja, atau apakah ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan denganku, atau apa ibu merasa keberatan dengan rencanaku ini, katakan saja bu, aku akan mendengarkan” ucapnya tanpa bisa menahan rasa penasarannya.


Bu Sum tersenyum, dia tahu akan sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari Jossie.  Wanita ini sama seperti Qiandra, sangat pandai membaca ekspresi wajah orang lain.  Tapi, Bu Sum juga tidak mungkin mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya, sehingga Bu Sum harus memutar otaknya untuk memberi alasan yang masuk akal untuk Jossie.


“Ibu sama sekali tidak keberatan dengan rencanamu, Nak, tapi ibu hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakan hal ini untukmu” ucap Bu Sum pada akhirnya.


“Nak, sebenarnya ibu tidak tahu bagaimana baiknya, ibu menyayangi kamu sama seperti ibu menyayangi Andra, tapi saat ini, ibu harap kamu mau mengerti dan mau memaafkan ibu” ucap Bu Sum dengan wajah tertunduk lesu.


“Hei, apa maksud kata kata ibu, aku mohon, Bu, bicaralah yang jelas” ucap Jossie yang malah semakin bingung mendengar jawaban Bu Sum.


Bu Sum menarik nafas berat sesaat, lalu melanjutkan kata katanya, “Maafkan ibu, Jos, karena ibu tidak bisa meninggalkan Andra saat ini, Ibu sangat mengkhawatirkan kondisinya, ibu tidak bisa ikut kamu pulang, Ibu harap kamu mau mengerti, Nak” ucap wanita paruh baya itu dengan suara sendu.


Jossie mengernyitkan keningnya sesaat dan menatap Bu Sum dengan tatapan tidak percaya, “Ibu mohon, Jos, bukan karena ibu tidak menyayangimu, tapi kamu sendiri melihat kondisi kakakmu kan” lanju Bu Sum karena melihat tatapan Jossie.


Jossie menggelengkan kepalanya, “Hah, tentu saja aku mengerti kalau masalah itu, Bu, aku sendiri juga tidak akan mengijinkan ibu untuk ikut denganku.  Bagaimana mungkin aku memaksa ibu ikut denganku sementara Kak Andra masih dalam keadaan seperti ini.  Aku bahkan berpikir akan jauh lebih baik jika ibu tetap tinggal bersama dengan Kak Andra, sekalipun dia sudah bisa pulang dan sehat.  Masa kehamilan bukanlah masa yang mudah untuk seorang wanita, apalagi untuk Kak Andra yang sudah beberapa kali mengalami trauma.  Yah, walaupun disisinya akan ada Kak Dean, tapi aku yakin Kak Dean tidak akan bisa  selalu siap sedia disampingnya” ucap Jossie.


Sebenarnya, bukan masalah bagi Jossie kalau Bu Sum tidak bisa kembali bersama dengannya.  Jossie sendiri tahu kalau Bu Sum pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Qiandra.  Jossie saja merasa berat meninggalkan kakaknya itu, namun dia juga harus memikirkan keadaan perusahaan mereka.  Perusahaan yang telah dipercayakan oleh Qiandra untuknya, untuk masa depannya, karena Jossie tahu Qiandra tidak akan lagi menggantungkan hidupnya pada perusahaan kecil mereka itu.

__ADS_1


Jossie sangat tahu kalau perusahaan mereka hanya senilai salah satu cabang terkecil dari perusahaan milik Dean.  Namun, bukan berarti Jossie bisa sembarangan dengan perusahaan kecil mereka, karena perusahaan itu juga yang akan menjadi jaminan masa depannya.  Jossie tahu kalau Qiandra memang memberikan perusahaan itu untuknya, dan dia telah berjanji akan mengelola perusahaan itu dengan sebaik mungkin.


Bu Sum tersenyum mendengar jawaban Jossie, “Hah, semoga saja Jossie bisa percaya pada kata kataku, agar dia tidak lagi terus menerus mencecar diriku dengan pertanyaan pertanyaan lainnya” desah wanita paruh baya itu dalam hatinya.  “Ah, terima kasih, Nak, terima kasih atas pengertianmu.  Sebenarnya Ibu memang berencana akan menetap disini, bukan hanya untuk Qiandra, tapi ibu memang ingin kembali pada keluarga ibu.  Kamu dan Qiandra sudah cukup dewasa, dan ibu juga merasa kalau kalian sudah bisa menjalani hidup kalian sendiri.  Ibu ingin menikmati hari tua ibu bersama dengan anak cucu ibu sendiri” lanjut Bu Sum lagi.


Hal ini memang sejujurnya sudah lama ingin dilakukan oleh Bu Sum atau Clayandra.  Sejak pernikahan Qiandra, dia sebenarnya merasa bahwa tugasnya sudah selesai, mengantar wanita itu ke pintu kebahagiaannya.  Saat itu, Bu Sum memang sudah merencanakan akan mengubur semua cerita masa lalu Qiandra, dan membiarkan wanita itu hidup dalam bahagia tanpa bayang bayang masa lalu.  Bu Sum sangat yakin kalau Dean akan bisa membahagiakan Qiandra, demikian pula keluarga Dean yang begitu menerima Qiandra dengan tangan terbuka.  Sehingga Bu Sum merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi.


Namun, segalanya berubah drastis saat Bu Sum mengetahui kalau Dika masih hidup.  Walaupun sampai saat ini Bu Sum masih belum tahu apa keputusan Dika.  Tapi Bu Sum sangat yakin kalau Dika tidak akan bisa membiarkan Qiandra melupakan masa lalunya yang artinya juga melupakan diri Dika sebagai kakak kandungnya.


Kakak mana yang bisa rela membiarkan adik kandungnya, saudaranya satu satunya yang masih ada tidak mengenal dirinya.  Bahkan jika hingga saat ini Dika masih belum mengatakan tentang hubungannya dengan Qiandra, sudah merupakan hal yang luar biasa bagi Bu Sum.  Dan Bu Sum tahu kalau semua itu dilakukan oleh Dika tentu karena dia mempertimbangkan kesehatan Qiandra saat ini.


Namun jika Qiandra sudah pulih dan sudah sehat, Bu Sum sungguh tidak tahu bagaimana cara Dika menyampaikan hal itu pada Qiandra.  Dan entah bagaimana reaksi wanita itu saat dia mengetahui kenyataan ini.  Kalau hanya masalah kenyataan bahwa Dika adalah kakak kandungnya, tentu akan menjadi berita bahagia untuk Qiandra.  Tapi, bagaimana reaksinya saat mengetahui hubungan antara peristiwa buruk yang menimpa keluarganya dengan keluarga suaminya itu.


Hal inilah yang membuat Bu Sum semakin membulatkan tekadnya untuk tetap berada bersama dengan Qiandra.  Bu Sum yakin ini akan menjadi masa yang sangat berat bagi wanita itu, dan Bu Sum merasa wajib berada disamping Qiandra untuk menghadapi semua itu.


Selama ini Bu Sum masih bertahan bersama dengan Jossie hanya untuk menghargai permintaan Qiandra.  Dan Bu Sum memang sudah menunggu saat Qiandra melaksanakan resepsi pernikahannya, maka Bu Sum akan menyampaikan pada Qiandra dan Jossie  untuk mengundurkan diri dan kembali pada keluarganya.


“Ah, seperti itu rupanya, baiklah Bu, jika memang itu keputusan ibu, aku sangat menghargainya, dan maafkan juga aku, Bu, karena sudah menahan Ibu sekian lama sehingga ibu harus berpisah dari keluarga Ibu.  Dan terima kasih banyak sudah mau menjadi ibuku selama ini, kuharap ibu tetap tidak melupakan aku dan tetap mau menjadi ibuku” ucap Jossie dengan wajah sendu.


Jossie sangat sadar kalau memang selama ini Bu Sum hanya berniat melayani Qiandra saja dan bukan dirinya.  Jossie tidak merasa sakit hati, wanita muda ini justru merasa bersyukur, setidaknya dia sempat merasakan kasih sayang seorang ibu dari Bu Sum.  Wanita paruh baya itu memang selalu tulus mengasihi dirinya dan Qiandra.  Jossie bisa merasakan ketulusan dan kebaikan hati Bu Sum pada dirinya.


Karena itulah, Jossie benar benar merasa bersalah saat menyadari kalau dirinya telah menuntut terlalu banyak dari wanita paruh baya itu.  Bagi Jossie apa yang diberikan oleh Bu Sum selama ini untuknya sudah lebih dari cukup.  Wanita itu telah menerima dirinya sebagai anak dan mau menjadi ibu yang penuh kasih bagi Jossie.


“Kamu berkata apa, Nak, selamanya kamu tetap anakku, dan bagiku itu tidak akan pernah berubah.  Sekalipun kita terpisah oleh jarak, tapi kita tetap terikat dalam hubungan kekeluargaan.  Ibu mohon, jangan pernah berhenti menerima ibu sebagai orang tuamu, karena itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi ibu, bisa memiliki anak seperti dirimu” ucap Bu Sum dengan tulus.


“Terima kasih, Bu, terima kasih untuk semua yang sudah ibu berikan untukku, kasih sayang yang tiada ternilai harganya.  Dan maafkan aku karena masih belum mampu memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk ibu” ucap Jossie dengan mata yang mulai basah.


Bu Sum segera menarik tubuh wanita muda itu untuk masuk dalam pelukannya.  Kedua wanita beda usia itu saling berpelukan dengan penuh kasih.  Ada haru dan juga bahagia serta kesedihan yang mengisi relung hati keduanya.  Bu Sum tersenyum bahagia, setidaknya saat ini Jossie tidak lagi penasaran dengan sikapnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2