
"Sepertinya begitu, Tuan, dan saat ini Dika sudah dalam perjalanan menuju ke sini" sahut asisten Vian yang membuat Dean semakin merasa heran.
"Vian, apa kamu tahu alasan sebenarnya mengapa Dika sampai terlihat sangat antusias seperti ini. Kalau hanya karena kekhawatirannya pada keadaan PT.Mahardika, aku rasa dia tidak sampai seperti ini" tanya Dean yang tidak bisa menyembunyikan lagi rasa herannya.
"Anda benar, Tuan, saya juga merasa heran mengapa Dika terlihat sangat antusias sekali saat saya meminta dia untuk bertemu dengan Anda. Saya bahkan belum menyampaikan ancaman apapun kepadanya, dia langsung menyanggupi pertemuan ini dan bahkan langsung berangkat menuju ke tempat ini. Terus terang saya juga merasa bingung,Tuan, tapi saya rasa semuanya akan terjawab nanti saat Tuan sudah bertemu dengan dia" sahut asisten Vian.
"Hmmmm, kamu benar Vian, aku harus mencari tahu alasan Dika menjadi begitu antusias. Tidak mungkin jika dia ingin mengkhianati sahabatnya itu, secara mereka berdua sudah bersahabat sekian lama. Dan Dika juga sudah menjadi seperti malaikat pelindung untuk baji*gan itu" ucap Dean.
Asisten Vian memegang alat komonikasi yang ada di telinganya, sepertinya sedang mendengarkan sesuatu. "Tuan, Dika sudah ada di depan, di ruang mana Anda ingin bertemu dengannya" tanya asisten Vian seraya melaporkan kedatangan Dika.
"Di ruang kerja depan saja, Vian" sahut Dean. Dean memang masih menempati mansion mewah yang menjadi tempat acara pesta perkenalan Qiandra. Mansion mewah itu sebenarnya merupakan mansion hadiah untuk Qiandra, namun sayangnya belum sempat Dean memberikan pada Qiandra, wanita cantik itu sudah terlanjur di culik oleh Daniel.
Di mansion mewah itu memang sudah dipersiapkan beberapa ruang kerja untuk Dean. Ada ruang kerja pribadi yang hanya bisa dimasuki oleh Dean sendiri, kemudian ada ruang kerja khusus untuknya dan kedua sahabatnya. Dan ruang kerja depan yang dimaksud oleh Dean adalah ruang kerja yang dipersiapkan untuk Dean menerima rekan kerja jika dia berada di mansion mewah ini.
Asisten Vian mengangguk mengerti dan segera memberikan perintah melalui alat komonikasi yang menempel di telinganya. "Tuan, Dika sudah diarahkan menuju ke ruang kerja. Apa Tuan akan kesana sekarang" tanya asisten Vian. Karena saat ini Dean memang berada di lantai dua mansion yang terdiri dari tiga lantai ini.
"Ya, aku akan berangkat kesana sekarang" sahut Dean.
"Maaf, Tuan, apa Anda akan berbicara secara pribadi, atau ......" belum sempat asisten Vian menyelesaikan kata katanya sudah dipotong langsung oleh Dean.
"Kamu ikut aku, Vian, kamu harus sambil berkoordinasi dengan tim di lapangan terkait info apa saja yang akan diberikan oleh Dika nanti" ucap Dean memotong pembicaraan asisten Vian.
"Baik, Tuan" sahut asisten Vian yang segera menyusul langkah Dean meninggalkan ruangan tempat presidir tampan itu beristirahat.
Kedua pria tampan itu melangkah menuju pintu lift yang ada di depan ruangan mereka. Tidak berselang lama keduanya sudah sampai di lantai satu mansion mewah itu dan langsung melangkah menuju ke ruang kerja yang terletak di bagian depan mansion itu.
Saat masuk ke dalam ruang kerja itu, Dean melihat Dika yang sudah duduk menunggunya di sana. Dika segera berdiri saat melihat Dean memasuki ruangan itu.
“Maaf membuat Anda menunggu, Tuan Dika" ucap Dean dengan suara berat dan tegas.
"Tidak masalah, Tuan Dean" sahut Dika dengan suara yang tak kalah berat, seraya menganggukkan kepalanya sedikit ke arah Dean dan asisten Vian.
"Silahkan duduk, Tuan Dika" ucap Dean seraya melangkah menuju salah satu kursi tamu yang ada di ruangan itu.
"Terima kasih" sahut Dika yang kembali mendaratkan bokongnya di kursi yang sempat ia duduki tadi. Sementara asisten Vian tetap berdiri di samping Dean seperti biasanya.
__ADS_1
"Sebelum memulai pembicaraan kita, saya mengucapkan selamat kepada Anda, Tuan Dika, atas penetapan jabatan Anda sebagai CEO di PT.Mahardika" ucap Dean membuka percakapan mereka yang terlihat sama sama canggung.
"Terima kasih, Tuan Dean, tapi saya rasa Anda tahu sendiri alasan penyerahan jabatan ini untuk saya" sahut Dika dengan nada merendah.
"Apapun alasannya, saya yakin dewan komisaris tidak akan memilih dengan sembarangan, saya percaya Anda dipilih karena memang kredibilitas dan kemampuan Anda yang mumpuni" ucap Dean dengan tulus.
Sekian lama bersaing dengan PT.Mahardika, sedikit banyak Dean juga tahu bagaimana gesitnya seorang Dika sebagai asisten Daniel. Bahkan terkadang Dean berpikir mengapa bukan Dika saja yang menjadi pimpinan perusahaan besar itu, karena Daniel yang memang kurang fokus pada perusahaan. Dean juga menyadari kalau Daniel baru fokus jika itu sudah dalam kancah persaingan dengan dirinya.
"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Dean, saya hanya berharap bisa menyelamatkan PT.Mahardika dan ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya di bawah perusahaan ini, dari krisis yang saat ini melanda PT.Mahardika" sahut Dika masih tetap merendah.
"Jadi, apakah itu alasanmu begitu antusias untuk bertemu denganku hari ini, Tuan Dika" tanya Dean.
"Salah satunya, Tuan, tapi ada alasan lain lagi" sahut Dika membuat Dean dan asisten Vian mengernyitkan kening.
"Alasan lain?, apa maksudmu, Tuan Dika" tanya Dean dengan kening berkerut, "Jangan bilang kamu akan mengkhianati bos brengsekmu itu" tanya Dean dengan rasa penasaran.
Dika hanya tersenyum mendengar kata kata Dean, Dika sangat tahu mengapa Dean sampai mengata ngatai Daniel seperti itu. Selain karena persaingan mereka selama bertahun tahun, lelaki mana pun pasti akan sangat marah saat istrinya diculik oleh laki laki lain.
"Aku juga ingin menyelamatkan Nona Qiandra" sahut Dika dengan suara tegas mengejutkan Dean dan asisten Vian.
"Saya tidak membantah itu, Tuan Dean, saya memang yang selalu membantu Tuan Daniel dalam berbagai usahanya merebut hati Nona Qiandra ...." belum selesai Dika berbicara sudah dipotong oleh Dean.
"Nyonya, Tuan Dika, Qiandra sudah bukan lagi Nona, tapi Nyonya Qiandra Zacharias" ucap Dean menegaskan status sang istri.
"Baik, maafkan saya, Tuan Dean, memang benar saya yang selalu membantu Tuan Daniel, termasuk pada peristiwa naas beberapa tahun yang lalu. Namun, peristiwa itu juga membawa penyesalan dalam diri saya selama bertahun tahun, sehingga saya merasa harus melindungi No.. eh, maaf, Nyonya Qiandra" lanjut Dika lagi.
"Harus melindungi?, apa maksud Anda, Tuan Dika, kalau hanya rasa bersalah, maka Anda tidak seharusnya merasa berkewajiban melindungi istriku, karena Anda tidak ada hubungan apapun dengannya" ucap Dean yang tiba tiba merasa cemburu dengan kata kata Dika.
Dika kembali tersenyum kecil, dia tahu dari kata katanya kalau Dean sekarang sedang cemburu. "Seperti itulah adanya, Tuan Dean, selama beberapa tahun terakhir sejak kepergian Nyonya Qiandra, saya sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Nyonya Qiandra" sahut Dika dengan tenang.
"Apa?, jadi kamu sudah tahu sejak lama, tapi mengapa bosmu tidak segera mengejar Qiandra" tanya Dean yang cukup terkejut mendengar kalau ternyata Dika sudah mengetahui kepergian dan tempat Qiandra bersembunyi selama dua tahun yang lalu.
"Benar, Tuan Dean, aku sudah mengetahuinya. Aku bahkan sudah mengetahui sejak kepergian Nyonya Qiandra, karena aku memang mengutus seseorang untuk mengikutinya dan memastikan dia benar benar tersembunyi dari Daniel" sahut Dika yang semakin membuat Dean bingung.
"Tapi mengapa?, apa jangan jangan kamu juga menyukai istriku" tanya Dean kembali dalam mode cemburu.
__ADS_1
Dika mendesah sesaat, sejenak dia memejamkan matanya sebelum kemudian menjawab pertanyaan dan rasa bingung Dean. "Jangan menanyakan alasannya pada saya, Tuan Dean, karena saya sendiri tidak tahu apa alasan saya merasa selalu harus melindungi Nyonya Qiandra. Jika Tuan berpikir saya mencintai Nyonya Qiandra, Anda salah besar. Walaupun pada awalnya saya berpikir demikian, tapi saya tidak pernah merasa takut kehilangan Nyonya Qiandra, kehilangan dalam artian jika dia dimiliki oleh laki laki lain. Bahkan saat mengetahui bahwa Anda sudah berhasil mempersunting Nyonya Qiandra, saya malah merasa sangat lega. Entahlah, saya malah merasa beban saya untuk menjaga Nyonya Qiandra sudah lepas" ucap Dika panjang lebar.
"Kamu benar benar membuat aku bingung" desis Dean yang tidak lagi menggunakan kata kata formal dengan Dika.
"Maafkan jika penjelasan saya kurang memuaskan bagi Anda, Tuan Dean. Karena saya sendiri terkadang merasa bingung mengapa saya merasa seperti ini, merasa seolah saya bertanggung jawab untuk keselamatan Nyonya Qiandra. Tapi semua itu terasa benar benar menjadi hal wajib dan saya tidak bisa mengabaikannya sama sekali. Dan sekarang, saat Daniel kembali berulah dengan menculik Nyonya Qiandra, saya benar benar terkejut. Saya sama sekali tidak menduga kalau Daniel akan melakukan hal segila dan sememalukan seperti ini" ucap Dika lagi.
"Jangan bilang semua ceritamu tadi hanya kamu buat untuk membuatku yakin bahwa kamu benar benar tidak mengetahui rencana baji*gan itu" desis Dean.
"Saya mengatakan kebenarannya, Tuan Dean, saya sendiri dikirimnya ke lokasi yang sangat jauh dari kota ini. Saya saja baru mengetahui kejadian ini karena diberitahukan oleh William, asisten saya yang waktu itu masih menjadi pengacara PT.Mahardika, saat itu saya sedang meeting dan terpaksa harus mengakhiri meeting dengan cepat agar bisa secepatnya kembali ke kota ini" sahut Dika berusaha meyakinkan Dean.
Dean mengernyitkan kening dan menatap laki laki itu dengan mata tajam, Dean berusaha memastikan apakah Dika memang mengatakan kebenarannya. Namun, saat dia melihat benar benar ada kesungguhan dan kejujuran terlihat memancar dari manik mata laki laki muda itu. Dean mendesah sesaat berusaha menolak kenyataan bahwa Dika memang tidak mengetahui semua rencana bos gilanya itu.
"Baiklah, aku akan berusaha menerima perkataanmu sebagai sebuah kejujuran. Jadi, bagaimana sekarang, apa yang ingin kamu sampaikan padaku sehingga kamu terlihat begitu antusias untuk bertemu denganku" tanya Dean dengan tatapan yang tak lepas dari Dika, seolah berusaha mengintimidasi laki laki itu.
Dika menghela nafas sesaat, sebelum memulai ucapannya, "Hal pertama saya menyampaikan permohonan kepada pihak Anda, saya berharap Anda tidak mengaitkan perbuatan Daniel dengan PT.Mahardika, karena seperti saya katakan dalam konfrensi pers saya beberapa saat yang lalu, semua yang dilakukan Daniel adalah tanggung jawabnya secara pribadi dan tidak ada kaitannya dengan perusahaan" ucap Dika dengan tegas.
"Bagaimana kamu bisa melepaskan tanggung jawab sementara saat itu terjadi, bajingan itu memang masih menjabat sebagai presidir PT.Mahardika. Jadi, tidak bisa begitu saja kalian melepaskan tanggung jawab" sahut Dean dengan tenang seolah tanpa beban.
"Saya mengerti Tuan, tapi saya mengharapkan kebijaksanaan Anda dalam menyikapi hal ini" sahut Dika.
"Kenapa kamu begitu perduli, apa memang benar kamu memang sangat mengharapkan posisi presidir PT.Mahardika, lalu berlagak seolah kamu adalah pahlawan yang berhasil menyelamatkan perusahaan" tanya Dean dengan nada sedikit sinis.
Dika hanya tersenyum menanggapi tuduhan dari Dean, "Jika saja saya tidak berhutang budi pada keluarga Mahardika, saya sudah akan pergi sejak mendengar berita ini. Selain itu, saya juga memikirkan nasib ribuan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Saya akan semakin merasa bersalah jika membiarkan mereka yang bahkan tidak tahu apa apa harus menanggung akibat perbuatan pimpinannya. Tapi, jika perusahaan Anda bersedia menampung semua karyawan PT.Mahardika, maka saya tidak akan perduli pada apapun yang akan Anda lakukan pada PT.Mahardika" sahut Dika dengan tegas.
Dean tertegun mendengar jawaban dari Dika, sang presidir baru dari perusahaan yang selama ini selalu menjadi saingan utama bagi PT.Zacharias. Dean tidak menyangka jika laki laki muda itu mempunyai niat yang begitu mulia, bukan untuk kepentingan dirinya pribadi, tapi lebih pada keselamatan karyawannya.
"Sebenarnya, aku tidak punya kewajiban untuk memenuhi permintaanmu itu. Karena walau bagaimanapun, PT.Mahardika tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja atas semua yang sudah diperbuat oleh presidirnya sendiri" sahut Dean masih berusaha menguji hati seoran Dika.
"Saya tidak mengatakan kalau kami akan lepas tanggung jawab, Tuan, pihak perusahaan telah bersepakat untuk membantu meringankan beban pihak pihak yang dirugikan dalam kejadian itu. Baik secara materi maupun moril, jika ada yang berdampak pada trauma secara psikis. Kami bersedia membantu tanpa batas, apapun yang bisa kami lakukan. Dan ini semua, bukan semata mata karena peristiwa ini terjadi akibat perbuatan presidir kami, tetapi dalam berbagai bencana lain pun, pihak kami tidak akan segan untuk mengulurkan bantuan" sahut Dika lagi.
"Tetapi khusus untuk kasus ini kami siap membantu berapa pun yang diperlukan, sepanjang masih dalam batas kewajaran dan bisa dipertanggung jawabkan" lanjut Dika lagi.
"Apakah kalian juga akan membantu untuk menemukan istriku, walaupun itu berarti kalian akan mengkhianati atasanmu sendiri" tanya Dean dengan sedikit penekanan pada kata mengkhianati.
"Saat ini, tindakan Daniel sudah dikategorikan sebagai kriminal berat, kami tidak akan membantah hal itu. Dan dalam hal ini, pihak kami sudah berkomitmen akan membantu semua pihak dalam menyelesaikan kasus ini, termasuk menemukan keberadaan Daniel saat ini" sahut Dika lagi dengan yakin.
__ADS_1
"Jadi, kamu benar benar tidak tahu kemana bajingan itu membawa istriku?, bukannya kamu mengetahui semua asset keluarga Mahardika. Artinya kamu pasti bisa menduga kemana bajingan itu kira kira membawa Qiandra, dia tidak mungkin membawanya ke tempat umum kan, pasti dia membawa ke salah satu pulau yang tersembunyi yang tentunya merupakan milik keluarga Mahardika" sahut Dean masih dengan sikap tenang.