
Berulang kali Dean menghubungi nomor phonsel Qiandra, namun selalu saja tidak bisa tersambung. Hingga akhirnya phonsel Qiandra benar-benar tidak bisa dihubungi lagi. Ada perasaan khawatir dihati Dean, seharian ini Qiandra sama sekali tidak membalas pesannya. Jangankan dibalas, dibuka pun tidak, sepertinya Qiandra memang tidak memegang phonselnya.
Dengan ragu-ragu, Dean mendatangi kantor pusat PT. Mahardika, dia mengenakan masker dan kacamata besar agar orang tidak mengenalinya. Dean mendekati security yang berjaga didepan kantor itu, “Selamat sore, Pak, mohon maaf saya mau bertanya, apa Nona Qiandra masih ada di kantor, ada paket yang harus saya serahkan padanya” ucap Dean pada security itu.
“Oh, Nona Qiandra, sepertinya tadi pagi dia langsung berangkat bersama dengan presidir, dan mereka belum kembali lagi ke kantor hingga saat ini. Bapak bisa menitipkan paket itu pada kami, nanti kami yang akan menyampaikannya untuk nona Qiandra” sahut security itu.
“Oh, begitu rupanya, oke dech, biar besok saja saya kembali lagi, paketnya harus diserahkan langsung pada Nona Qiandra” ucap Dean dengan nada sedikit kecewa. Lalu dia pergi meninggalkan kantor pusat PT.Mahardika itu.
Sesampainya di mobil mewahnya, Dean termenung, “Kemana Daniel membawa Qiandra hingga seharian penuh, pertemuan apa yang memerlukan waktu seharian penuh” desis Dean dalam hatinya. dia mengambil phonselnya lalu menghubungi asisten Vian.
“Vian, coba lacak posisi phonsel Qiandra” seru Dean, lalu memutuskan sambungan teleponnya. tak berapa lama dia menerima sebuah notifikasi pesan dari asisten Vian, “Inikan villa di luar kota, pertemuan apa yang dilakukan Daniel dan Qiandra di sebuah villa” gumam Dean.
Saat Dean sedang bertanya-tanya dia kembali meneripa sebuah pesan, kali ini berasal dari nomor yang tidak dikenal. Dean membuka pesan itu yang ternyata sebuah rekaman CCTV. Dan betapa terkejutnya Dean saat melihat apa yang ada dalam rekaman itu.
Dean menggertakkan giginya, wajahnya merah padam, “Ternyata kamu tidak berbeda dengan ja*ang lainnya, mengapa aku begitu bodoh menempatkan hatiku padamu” sarkasnya dengan penuh kemarahan. Dean bahkan beberapa kali memukul setir mobilnya, dia mengacak rambutnya dengan frustasi.
Dean mengambil phonselnya, dan meneruskan video itu kepada Qiandra disertai dengan berbagai sumpah serapah. Belum puas dia hanya menuliskan kemarahannya, Dean bahkan merekam ucapan kasarnya dan berbagai umpatan pada Qiandra, lalu mengirimkannya pada wanita itu.
“Mengapa, mengapa Qi, kamu begitu polos, aku sungguh tak menyangka pandainya kamu bersandiwara” seru Dean dengan frustasi. Dean akhirnya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak memperdulikan saat dirinya beberapa kali hampir saja celaka.
Dean memarkirkan mobilnya dengan asal di basement apartemen yang ditempatinya, dia melangkah keluar dari mobilnya dalam keadaan yang sangat kacau. “Vian, bawa minuman sebanyak mungkin ke apartemen” serunya pada asisten Vian.
Asisten Vian segera menghubungi Albert, “Aku tidak tahu ada masalah apa padanya, tapi dia memesan minuman yang banyak” ucap asisten Vian pada dokter Albert.
__ADS_1
“Okey, aku akan segera menyusul ke apartemen” sahut dokter Albert yang memang sangat hapal dengan kelakuan Dean jika sedang menghadapi masalah.
Dokter Albert dan asisten Vian tiba bersamaan di basement apartemen mewah itu, mereka berdua turun dan melihat mobil Dean yang terparkir dengan sembarangan. Keduanya bergegas menuju ke lift khusus yang membawa mereka berdua langsung ke lantai paling atas.
Dokter Albert dan asisten Vian terkejut bukan main saat melihat pentahouse mewah itu sudah berubah seperti kapal pecah. Mereka lebih terkejut lagi saat melihat Dean yang terduduk di lantai dalam keadaan setengah sadar.
“Dean, ada apa denganmu” seru dokter Albert, dia mendekati Dean dengan penuh rasa khawatir.
“Semua wanita itu ternyata ja*ang, dan murahan, bodohnya aku yang begitu mudah mempercayai wajah polosnya” racau Dean dalam mabuknya.
“Apa maksudmu Dean” seru asisten Vian mendekati Dean, dia berusaha memapah tubuh laki-laki tampan itu.
“Hik hik hik, Qiqi, mengapa, mengapa kamu seperti itu, aku begitu percaya padamu, Qiqi, aku cinta kamu” tiba-tiba Dean terisak, namun sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak, “Hei, kalian berdua, lihatlah aku, aku Dean Walt Zacharias, seorang presidir sukses, ternyata begitu mudah dibodohi oleh makhluk yang bernama wanita, dasar ja*ang mura*an kamu Qi” serunya lagi.
Dokter Albert memperhatikan video itu dengan seksama, “Hei, jangan bilang kamu tertarik juga pada ja*ang itu, Al, kamu pasti tidak akan mampu membayarnya” seru Dean yang melihat dokter Albert memperhatikan video itu dengan seksama.
“Dia dijebak, aku yakin, Qiandra berada dibawah pengaruh obat perangsang” ucap dokter Albert setelah memperhatikan dengan seksama video itu.
“Hah, kamu masih saja mau dibodohi wajah polosnya itu, Al, jangan bilang kamu juga terpesona padanya” seru Dean.
“Dean, kamu bisa memperhatikan video ini dengan sungguh-sungguh, video ini sudah di potong pada beberapa bagiannya, dan laki-laki ini, dia berbicara dengan suara yang keras agar bisa jelas terdengar. Ini sangat jelas sebuah jebakan, aku justru mengkhawatirkan keadaan Qiandra saat ini, jika dia sudah lepas dari pengaruh obat itu” ucap dokter Albert menjelaskan dengan panjang lebar.
Sayangnya, semua penjelasan dokter Albert tidak didengar oleh Dean, karena laki-laki itu sudah terlelap dalam keadaan masih menggumam tak jelas. “Bantu aku membawanya ke kamar, Al, kurasa dia tidak akan bisa menerima penjelasan apapun saat ini” ucap asisten Vian pada dokter Albert.
__ADS_1
“Kamu benar, Vian, ayo kita bawa dia ke kamar, biar dia beristirahat dulu, mudah-mudahan besok pagi dia bisa lebih tenang” sahut dokter Albert. Mereka berdua segera mengangkat tubuh Dean dan membawanya masuk kedalam kamar utama pentahouse itu.
Dokter Albert membantu mengganti pakaian Dean, lalu dia menyelimuti tubuh laki-laki itu. kemudian dia menyusul asisten Vian yang sedang membersihkan ruang tamu yang berantakan. mereka berdua memang selalu seperti itu saat Dean menghadapi masalah, mereka tidak ingin ada orang yang mengetahui kalau Dean dalam masalah, terutama keluarga Dean.
Oleh sebab itu, mereka tidak mau meminta pelayan membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Dean. Kedua pemuda tampan itu, tidak segan-segan membereskan segala sesuatunya, hingga ruangan itu benar-benar bersih.
Di tempat lain, Daniel terus berusaha membujuk Qiandra agar mau ikut ke mansionnya, namun Qiandra bersikukuh kembali ke mansion Dean. Akhirnya, Daniel terpaksa mengalah, saat Qiandra mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Daniel membawanya ke mansion Daniel.
Setibanya di mansion Dean, Daniel enggan untuk turun, dia tidak mau bertemu dengan Dean. Qiandra tidak menghiraukan Daniel, dia segera turun dari mobil mewah itu dan berlari masuk ke dalam mansion Dean.
Mang Ijal yang sedang berjaga bersama dengan security mansion itu terkejut melihat Qiandra pulang selarut itu. Ditambah lagi, Qiandra sama sekali tidak menyapanya, bahkan wanita itu berlari masuk ke dalam mansion. Mang Ijal mendatangi Bik Sum dan memberitahukan keadaan Qiandra, mendengar hal itu, Bik Sum segera menyusul Qiandra.
Sesampainya di kamar Qiandra, betapa terkejutnya Bik Sum saat melihat wanita itu meringkuk dilantai dan menangis tersedu-sedu. Bik Sum segera menghampiri Qiandra dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih. “Ada apa Nyonya, mengapa Anda seperti ini” tanya Bik Sum lembut.
Qiandra memeluk Bik Sum dan kembali menumpahkan tangisnya di bahu perempuan tua itu, “Qi kotor sekarang, Bik, sangat kotor, Qi janda mu*ahan, Bik” seru Qiandra dalam isaknya.
“Nyonya jangan berkata seperti itu, Bibik tahu Nyonya bukan wanita seperti itu” Bik Sum berusaha menenangkan Qiandra dengan kata-kata lembut. Dia bahkan menepuk punggung Qiandra dengan penuh kasih, “Tenangkanlah dirimu, Nyonya, menangis tidak akan menyelesaikan masalah” lanjutnya lagi.
Perlahan Qiandra akhirnya bisa tenang, “Bik, apa Dean sudah datang” tanya Qiandra setelah dia merasa sedikit tenang.
“Belum, Nyonya” sahut Bik Sum.
“Astaga, dia pasti menunggu dan mencari-cari aku” desis Qiandra, dia segera meraih phonselnya. Qiandra melihat ada begitu banyak panggilan dari Dean, dan saat dia membuka pesan-pesan dari Dean, tiba-tiba tubuh Qiandra menegang. Tanpa sadar jarinya menekan tombol play pada rekaman suara yang dikirim Dean.
__ADS_1
*“Dasar ja*ang, aku tak meyangka wajah polosmu, juga sandiwaramu benar-benar sempurna, sebegitu mudahnya kau menipuku, wanita mura*an, bang*at kamu Qi, memangnya berapa laki-laki itu membayarmu hingga kamu memberikan begitu saja tubuhmu padanya, apa kamu pikir aku tidak mampu membayarmu lebih mahal darinya, katakan berapa yang kamu mau, aku akan melemparkannya ke wajah busukmu itu, atau kamu memberikanya dengan sukarela agar jabatanmu bisa tetap bertahan, wanita tak tahu malu sepertimu pantas saja dilempar oleh mertuanya sendiri, ternyata kamu memang ular berbisa. Aku sungguh tak menyangka bisa sebegitu mudahnya terpedaya oleh ja*ang mura*an sepertimu” *