
"Aku datang ke sini bukan untuk kembali ke perusahaan, Dika, tapi aku datang ke sini untuk memastikan kamu menerima tanggung jawab yang dibebankan oleh Daniel padamu. Jadi, jangan pernah berkelit dari tugas dan tanggung jawab yang sudah dimandatkan padamu" ucap Daddy Putra dengan tegas.
Daddy Putra sangat tahu dan sangat mengenal Dika, dia sangat tahu kalau Dika tidak akan mudah menerima jabatan itu. Karena itulah dia menyempatkan diri untuk datang ke perusahaan, hanya untuk memastikan Dika tidak menolak jabatan presidir itu. Karena jika orang lain berlomba mendapatkan jabatan itu, maka Dika adalah satu satunya orang yang tidak menginginkannya.
Daddy Putra sangat tahu dedikasi Dika pada Daniel, dan dia juga yakin kalau Dika tidak akan mudah menerima jabatan itu. Sejak Dika masuk ke dalam ruangan rapat dan memilih tetap duduk di tempatnya dan bukannya di kursi presidir, Daddy Putra semakin yakin kalau Dika akan menolak jabatan itu.
"Tapi, Tuan ......" sahut asisten Dika masih berusaha mencari alasan.
"Tidak ada bantahan lagi, Dika, surat Daniel sudah sangat jelas dan sah menurut hukum. Termasuk penyerahan tiga puluh persen saham perusahaan, ditambah dengan saham yang kamu miliki sebanyak lima persen, membuat kamu menjadi satu satunya orang yang berhak menggantikan Daniel. Tidak hanya untuk saat ini, tapi seterusnya, karena saham kepemilikanmu bahkan lebih besar dari saham milik Daniel" sahut Daddy Putra dengan suara tegas dan lantang.
"Kami semua setuju, Tuan Dika, apa yang dikatakan oleh Tuan Putra itu benar adanya. Selain Anda sebagai pemilik saham terbesar di PT.Mahardika, Anda juga yang paling tahu segala sesuatu tentang perusahaan ini. Hanya Anda lah yang bisa kami harapkan untuk menghadapi semua kekacauan ini" sahut salah satu anggota dewan komisaris yang cukup senior.
Daddy Putra tiba tiba berdiri menghadap ke arah asisten Dika, "Saya atas nama pribadi dan atas nama putra saya, memohon maaf yang sebesar besarnya atas semua kekacauan ini, Tuan Dika, dan saya juga memohon dengan sangat agar Anda bersedia mengambil alih perusahaan ini, tanpa batas waktu" ucap Daddy Putra seraya membungkuk ke arah asisten Dika.
"Dad, jangan seperti ini" seru asisten Dika yang cukup terkejut melihat Daddy Putra membungkuk hormat dengan memohon kepadanya. "Dad, aku akan tetap berusaha menyelematkan perusahaan, tanpa harus menggantika posisi Daniel. Jadi, tidak perlu daddy bersikap seperti itu" ucap asisten Dika dengan perasaan tidak menentu.
"Tuan Dika, Anda tidak akan bisa maksimal menyelamatkan perusahaan tanpa menduduki jabatan presidir. Anda tahu sendiri, kalau semua keputusan ada di tangan presidir. Jadi apapun keputusan Anda nanti, akan tidak dianggap jika Anda belum menjadi presidir" sahut Daddy Putra lagi.
Asisten Dika mendesah berat, dia tidak bisa memungkiri kalau apa yang dikatakan oleh sang daddy itu benar adanya. Asisten Dika sangat tahu kalau semua keputusan memang harus diverifikasi oleh presidir. "Tapi, Dad ...." Asisten Dika masih berusaha menolak, entah mengapa dia merasa sangat tidak layak untuk menggantikan Daniel.
Asisten Dika merasa seolah dirinya mengambil kesempatan dalam kesempitan jika dia mengambil alih perusahaan saat ini. Memang dia tidak berniat membiarkan perusahaan sampai kolaps, asisten Dika sudah merancang berbagai rencana untuk menyelamatkan perusahaan. Dan semua itu sudah dipikirkannya tanpa memikirkan jabatan sebagai presidir.
"Ya, sudah, kalau begitu kita langsung voting saja, bagi yang setuju Tuan Dika menggantikan posisi Daniel sebagai presidir, mohon mengangkat tangan" ucap Daddy Putra memutuskan kata kata asisten Dika.
Dan saat itu juga semua tangan para anggota dewan itu terangkat ke atas sebagai pernyataan persetujuan mereka. Asisten Dika hanya bisa menatap pasrah semua itu, dia tidak mungkin juga harus menentang daddy Putra di tengan semua peserta rapat.
"Maafkan aku, Daniel, aku berjanji aku akan mengembalikan semuanya padamu jika keadaan sudah kondusif" desis asisten Dika penuh dengan rasa bersalah pada Daniel.
"Baiklah, karena semuanya sudah sepakat, maka kita bisa segera melakukan penandatanganan berita acara pengalihan jabatan presidir dari Daniel Putra Mahardika kepatda Dika" suara daddy Putra kembali memecah pikiran asisten Dika yang masih bergumul dalam hatinya.
Sekertaris Risha segera mengedarkan berita acara serah terima yang langsung ditanda tangani oleh seluruh peserta rapat. Hasil itu langsung disahkan oleh pengacara William dan diserahkan kepada daddy Putra. Daddy Putra mengamati surat pengalihan itu sejenak, terlihat laki laki tua itu menghembuskan nafas pelan. Dan asisten Dika menangkap duka di wajah sang daddy yang masih berusaha ditutupinya.
Setelah memeriksa sebentar dan merasa semuanya sudah lengkap, daddy Putra segera berdiri, "Mohon Anda maju ke depan Tuan Dika" ucap sang daddy dengan suara berat namun tetap tegas.
__ADS_1
Dengan berat hati akhirnya asisten Dika maju ke depan dan berdiri di hadapan daddy Putra, "Hari ini, dengan resmi aku menyerahkan perusahaan ini kepada Dika, yang akan menjadi presidir di perusahaan ini dengan semua hak juga kewajiban yang melekat dalam jabatan ini. Dan dengan ini juga aku melepaskan Daniel Putra Mahardika dari jabatan presidir PT.Mahardika sampai batas waktu yang tidak ditentukan" ucap daddy Putra.
Daddy Putra menyerahkan berkas serah terima itu kepada asisten Dika yang disambut dengan berat hati oleh laki laki muda itu. "Silahkan, Tuan Dika, sampaikan sambutan pertama Anda" ucap Daddy Putra setelah menjabat tangan asisten Dika dan menepuk pundaknya dengan lembut.
Walau berat hati, tapi asisten Dika tahu dia tidak bisa menolak lagi, "Terima kasih untuk semua kepercayaan yang diberikan pada saya, semoga saya bisa mengemban tanggung jawab ini, dan saya mengharapkan dukungan dan sikap kooperatif dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah perusahaan saat ini. Satu hal yang ingin saya tegaskan, jangan sampai ada pemberitaan yang menyebutkan Daniel telah menyerahkan semua ini. Penyerahan posisi presidir sepenuhnya harus atas hasil keputusan dewan komisaris yang terhormat" ucap asisten Dika yang secara otomatis membuktikan kalau dia menerima tugas itu.
Semua peserta rapat terdiam mendengar kata kata asisten Dika. "Dan saya harap tidak ada yang mencari ketenaran dari semua kejadian ini dengan membuka mulut tentang hal yang tidak bermutu di hadapan pencari berita. Sebab jika ada kesalahan dalam memberikan statement oleh orang dalam, maka akan bisa saja akan semakin memperburuk keadaan. Jadi, sekali lagi saya harap semua pihak bisa menahan diri dan tidak mengatakan apapun pada media" ucap asisten Dika dengan tegas.
Semua peserta rapat menganggukkan kepala menyetujui permintaan Dika, "Kami bersedia dan akan melaksanakannya, Presidir" sahut seluruh peserta rapat secara bersamaan.
Saat mendengar sebutan presidir dari para peserta rapat menimbulkan suatu rasa bersalah dalam hati Dika. Entahlah, dia tetap merasa dirinya seolah mengkhianati Daniel karena dia mengambil posisi itu dari sang sahabat. Walaupun sebenarnya, Daniel sendiri telah menyerahkan jabatan itu kepadanya. Tapi tetap saja hati Dika merasa bersalah kepada Daniel.
"Baik, terima kasih untuk dukungan dan keparcayaan Anda semuanya, mohon dukungan doa agar perusahaan kita bisa melewati masalah ini dengan baik, rapat saya tutup" ucap Dika dengan tegas.
Bukan hal baru bagi Dika untuk memimpin sebuah pertemuan, karena sejak dulu dia juga sudah sering menghandle berbagai pertemuan saat Daniel tidak bisa hadir. Disamping itu, Dika memang sudah memimpin beberapa perusahaan, baik perusahaan pemberian Daddy Putra, juga perusahaan milik keluarganya yang telah direbutnya kembali dari Lee.
Yang membuat Dika merasa agak canggung adalah karena posisinya yang mau tidak mau harus menggantikan Daniel saat ini. Rasa ragu dan rasa bersalah terus menerus menggelayut dalam hati laki laki tampan itu.
Namun, dia juga sadar kalau dia harus melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya.
"Aku akan menyusul ke ruangan Anda, Tuan Dika" sahut Daddy Putra yang bisa menangkap keinginan putra angkatnya ini.
"Hmm ......" sahut Dika seraya mengangguk lalu melangkah meninggalkan ruang rapat itu dan diikuti oleh pengacara William dan sekertaris Risha.
Dika melangkah menuju ke ruangannya sendiri, namun ditahan oleh pengacara William, "Tuan, ruangan Anda di sebelah sana" ucap pengacara William menunjuk satu ruangan lain yang ada di lantai itu. Memang hanya ruangan Daniel dan Dika saja yang ada di lantai tertinggi kantor PT. Mahardika itu.
"Tidak, Will, aku akan tetap berada diruangan ini, biar alihkan tulisannya saja ke sini. Aku tidak akan mengganggu ruangan Daniel, karena cepat atau lambat dia pasti dan harus kembali ke sini" sahut Dika.
"Itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, Dika" tiba tiba suara Daddy Putra mengejutkan ketiganya, membuat mereka segera menoleh ke arah sumber suara itu.
"Dad, ....." ucap Dika menatap ke arah sang Daddy.
"Tuan, ....." sapa pengacara William dan sekertaris Risha secara bersamaan, "Kami permisi dulu, Tuan Dika" ucap pengacara William yang dijawab dengan anggukan kepala Dika.
__ADS_1
"Silahkan masuk, Dad" ucap Dika seraya memasuki ruangannya yang sudah di buka oleh sekertaris Risha. Sementara, pengacara William melangkah menuju ke sofa khusus tamu yang ada di dekat meja sekertaris.
Daddy Putra hanya mengangguk kecil, lalu dia melangkah mengikuti Dika, "Mengapa kamu tidak menempati ruangan presidir, Dika, apakah terlalu berat bagimu menerima tugas ini" tanya Daddy Putra saat sudah duduk di sofa tamu yang ada di ruangan Dika.
"Maafkan aku, Dad, aku tidak menolak tugas ini, Daddy tahu kesetiaan dan dedikasiku bukan" sahut Dika yang juga duduk di hadapan Daddy Putra.
"Lalu mengapa kamu terlihat sangat enggan bahkan menolak jabatan sebagai presidir" tanya Daddy Putra lagi.
Dika hanya mendesah pelan, lalu dia berdiri dan mengambil dua botol air mineral dan meletakkan salah satunya di hadapan daddy Putra. "Silahkan minum, Dad" ucapnya seraya membuka botol minuman yang ada di tangannya lalu menegak minuman itu hingga tandas.
"Ada apa, Dika, ceritakan pada Daddy" tanya Daddy Putra masih menuntut jawaban dari Dika.
"Dad, Anda tahu persahabatan aku dan Daniel, keterikatan kami jauh lebih erat dari sebuah persaudaraan. Daniel selalu ada di saat saat tersulit yang aku hadapi demikian pula sebaliknya. Tolong menolong dan saling membantu adalah hal yang wajar bagi kami berdua dan hal yang wajib bagiku untuk selalu berada di sisi Daniel. Jadi, apapun keadaan aku atau pun Daniel, salah atau pun benar kami tetap harus saling menolong" ucap Dika lagi.
"Lalu apa masalahnya, anggap saja saat ini kamu sedang membantu Daniel" ucap Daddy Putra lagi.
"Jabatan itu yang jadi masalahnya, Dad, aku sangat tahu dan sangat sadar bahwa itu milik Daniel, dan dia pun sudah berjuang sangat keras untuk membawa PT. Mahardika hingga berada pada titik ini" sahut Dika lagi.
"Maksudmu jabatan presidir itu" tanya Daddy Putra lagi.
"Benar, Dad, aku merasa seperti merebut hak Daniel, dan aku merasa seperti seorang pengkhianat. Aku berani bersumpah, Dad, aku benar benar tidak menginginkan jabatan itu, aku tetap akan menyelamatkan perusahaan ini bagaimana pun caranya tanpa harus menggantikan posisi Daniel. Hanya Daniel yang berhak pada posisi presidir karena dialah satu satunya pewaris Mahardika, Dad" desis Dika lagi.
"Kamu salah, Dika, bukan karena Daniel putraku satu satunya maka dia berhak untuk jabatan presidir. Jabatan ini tidak ada hubungannya dengan kekerabatan. Memang benar kalau perusahaan ini adalah perusaahaan milik keluarga Mahardika, tapi yang berhak menjadi presidir disini tidak mutlak hanya keturunan Mahardika. Daniel memegang jabatan ini selama sekian tahun karena dia memang kompeten untuk itu. Tapi sekarang, dia sudah benar benar tidak kompeten, dia sanggup mengabaikan perusahaan dan nasib ribuaan karyawan PT. Mahardika hanya untuk kepentingan pribadinya. Jadi, Daniel sama sekali tidak berhak untuk menjadi presidir lagi, Dika" jelas Daddy Putra panjang lebar.
"Daniel hanya sedang khilaf dan salah arah, Dad, aku yakin saat dia menyadari kesalahannya dia akan kembali lagi, Dad" sahut Dika masih berusaha membela Daniel.
"Mungkin saja, Dika, tapi itu tidak akan mudah, dia menyentuh keluarga Zacharias bahkan menyebabkan Walt saat ini masih dalam keadaan kritis. Jadi, kalaupun Daniel menyadari kesalahannya, dia tetap harus menghadapi ancaman hukuman yang pasti dilayangkan oleh keluarga Zacharias" sahut daddy Putra lagi.
"Masalah hukuman, memang benar Daniel akan menghadapinya, Dad, tapi kita tidak akan membiarkannya. Dan jika mungkin, aku sendiri yang akan menggantikan Daniel menjalani hukumannya" sahut Dika dengan yakin. Dika sudah biasa menyelesaikan semua masalah Daniel, bahkan beberapa kali harus mendekam di penjara demi melindungi Daniel.
"Ini tidak akan mudah, Dika, Daniel sudah tampil secara langsung dihadapan orang banyak. Dan kamu juga tidak bisa terus menerus melindunginya, Dika, daddy tidak terima. Biarkan Daniel belajar menanggung akibat dari perbuatannya. Dan lagi, lawan yang akan kita hadapi bukanlah lawan yang mudah" sahut daddy Putra.
"Sesulit apapun akan kita hadapi, Dad" sahut Dika dengan yakin.
__ADS_1
"Keluarga Zacharias adalah keluarga bangsawan utama yang merupakan keluarga kerajaan pemimpin negri ini dulu, jadi kekuatan mereka tidak bisa dianggap sepele, Dika" sahut Daddy Putra lagi.