PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS ENAM PULUH TUJUH


__ADS_3

“Love, pergilah, selesaikan pekerjaanmu, kasihan kak Vian harus selalu bolak balik dari kantor dan ke sini.  Aku mengkhawatirkan kesehatan Kak Vian, kalau kamu terus menerus memaksanya bekerja keras” ucap Qiandra berusaha membujuk suaminya, Dean Walt Zacharias, agar mau pergi ke perusahaannya.


Medengar kata kata Qiandra, Dean segera melangkah mendekati wanita yang sangat dikasihinya itu, “Kalau kamu tidak dalam keadaan begini, Honey, aku pasti akan sangat marah” ucapnya dengan suara agak dingin.


Kening Qiandra seketika mengernyit bingung, “Marah?, marah kenapa, Love, memangnya ada kata kataku yang salah ya” tanya Qiandra dengan rasa heran.


“Ckkk, menurutmu apa wajar seorang istri mengkhawatirkan laki laki lain selain suaminya, dan lebih parah lagi wanita itu mengemukakan kekhawatirannya itu kepada suaminya” decak Dean tanpa menutupi kekesalannya.


Qiandra ternganga mendengar ucapan sang suami, “Oh, astaga Love, masa kamu cemburu sama Kk Vian, jangan aneh aneh dech” rungut Qiandra setelah memahami kalau sang suami kesal karena dia mengatakan khawatir dengan kesehatan asisten Vian.


“Aku tidak cemburu, Honey, tapi apa logis menurutmu kalau seorang istri memaksa suami pergi dari rumah hanya karena dia merasa khawatir pada keselamatan laki laki lain.  Lagian semua itu kan sudah menjadi konsekuensi pekerjaan Vian” Dean tetap dengan kekesalannya.  Namun, tak urung presidir tampan itu tetap membawa gelas susu untuk ibu hamil yang saat ini benar benar merengut kesal.


“Lalu aku harus mengatakan apa lagi, Love, agar kamu mau berangkat ke perusahaan” desah Qiandra yang sudah kehabisan alasan untuk membujuk sang suami.


Sudah satu minggu setelah kepulangan Qiandra dari rumah sakit, tapi Dean tetap bersikukuh menyelesaikan pekerjaannya dari rumah.  Bukan tanpa alasan Qiandra berusaha membujuk sang suami untuk kembali turun dan bekerja di perusahaannya.  Qiandra benar benar merasa kasihan melihat asisten Vian yang sudah seperti setrikaan saja karena harus bolak balik kantor dan mansion itu.


Asisten Vian sendiri tidak pernah mengeluh pada Qiandra, namun Qiandra bisa melihat jelas wajah lelah laki laki itu.  Selain itu, dokter Albert yang secara rutin memeriksa keadaan Qiandra juga meminta secara tidak langsung pada Qiandra agar membujuk Dean.  Dokter Albert juga merasa iba dengan kesibukan asisten Vian yang justru berkali kali lipat karena harus bolak balik kantor dan mansion.


“Honey, jangan memikirkan hal yang tidak perlu memberatkan pikiranmu, aku akan selalu ada disini mendampingi dirimu.  Aku tidak bisa mempercayakan kamu pada pelayan saja saat kondisimu seperti ini” ucap Dean sambil membelai lembut kepala sang istri.


Qiandra mendesah pelan, lalu meraih gelas susu yang diberikan Dean dan meminumnya sampai habis.  “Love, bukankah Kak Al sendiri sudah mengatakan kalau keadaanku sudah baik baik saja.  Jadi tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan bukan” ucap Qiandra seraya kembali menyerahkan gelas susu yang sudah kosong itu.


“Al memang mengatakan kalau kamu sudah cukup sehat, tapi aku sungguh sungguh tidak bisa mempercayakan kamu hanya pada pelayan, Honey” sahut Dean tetap kukuh dengan pendiriannya.


“Kan Ibu selalu siap kembali ke sini, Love, beliau bilang beliau siap menemani aku kalau memang kamu sedang sibuk” ucap Qiandra masih berusaha mencari celah.  Bu Sum memang telah minta ijin kembali ke rumahnya karena melihat Dean yang hampir hampir tidak pernah meninggalkan Qiandra sendirian.  Laki laki itu bahkan menyiapkan meja kerja khusus di dalam kamar pribadi mereka hanya agar dia bisa selalu memantau kedaan sang istri.


Dean menghembuskan nafasnya berat, laki laki itu merasa heran dengan sang istri.  Jika wanita lain sedang dalam keadaan seperti Qiandra, pasti akan merengek meminta suaminya tetap berada di sisinya.  Kalaupun mereka membiarkan suaminya pergi, itu hanya karena sang suami harus mencari nafkah.


Berbeda jauh dengan Qiandra istrinya, yang justru selalu berusaha terus terusan memaksa suaminya meninggalkan dirinya.  Padahal, mereka sama sekali tidak ada masalah ekonomi, semata hanya karena pekerjaan dan perusahaan saja.  Disamping itu, Qiandra juga tidak pernah meminta apapun pada Dean seperti yang dilakukan oleh wanita hamil lainnya.


Padahal, Dean tidak tahu kalau berbagai makanan unik yang dibawa pelayan kepada Qiandra adalah atas pesanan wanita itu.  Yah, Dean memang menggaji beberapa koki ternama hanya untuk melayani Qiandra.  Sehingga apapun makanan yang diinginkan oleh ibu hamil itu akan selalu tersedia dengan mudah bahkan dalam keadaan segar.


Hal itulah yang membuat Qiandra tidak pernah meminta apa apa pada Dean.  dia hanya tinggal menekan teleponnya yang menghubungkannya dengan kepala pelayan untuk mengatakan apapun yang diinginkannya.  Disamping itu, Qiandra juga tidak ingin membuat sang suami harus repot mengurus dirinya.


Qiandra, wanita yang terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.  Merupakan hal yang aneh bagi dirinya jika hanya untuk hal hal kecil dia harus selalu meminta pada Dean.  Sementara dia bisa melihat sendiri bagaimana kesibukan laki laki itu, yang bahkan sering tidak sempat makan karena harus ikut berbagai rapat online.

__ADS_1


“Hah, baiklah, Honey, dari pada kamu terus menerus merasa khawatir, aku akan mengikuti keinginanmu.  Aku akan mulai turun ke kantor besok pagi, tapi aku hanya akan setengah hari saja, sisanya aku akan tetap bekerja dari rumah.  Dan aku juga harus memastikan kalau ibu benar benar akan menemanimu, karena hanya beliau saja yang aku percaya” ucap Dean akhirnya mengalah dengan kemauan Qiandra.


Walaupun berat hati, Dean tetap bersedia mengikuti keinginan Qiandra karena dia tidak ingin membuat sang istri merasa khawatir.  Disamping itu, Dean juga sebenarnya memang harus segera kembali ke perusahaan, karena walau bagaimana pun, dia juga tidak bisa membiarkan asisten Vian terus menerus mewakili dirinya.


Qiandra tersenyum bahagia mendengar jawaban Dean, “Tentu saja, Love, Ibu pasti akan segera kesini jika aku memintanya” ucap Qiandra dengan wajah berseri.  Qiandra bisa bernafas lega saat mendengar Dean pada akhirnya mau kembali bekerja di kantornya, yah,  walaupun hanya setengah hari saja.  Tapi, Qiandra tahu kalau Dean tidak akan bisa hanya setengah hari saat kesibukan menuntut dirinya bekerja satu hari di kantor.


Qiandra sudah sangat siap dengan konsekuensi kalau suaminya akan kesulitan membagi waktu antara kantor dan dirinya.  Qiandra sungguh tidak ingin menjadi beban dan merepotkan Dean, sepanjang tidak ada hal yang terlalu urgent.


“Semua aku lakukan hanya untukmu, Honey, aku sungguh tidak mau membuatmu merasa khawatir.  Aku hanya ingin kamu menjalani masa kehamilanmu dengan pikiran tenang.  Jadi, aku harap kamu tidak menyembunyikan apapun yang menjadi beban pikiranmu, aku harap kamu mau selalu berbagi denganku”ucap Dean dengan bersungguh sungguh.


“Tentu saja, Love, memangnya dengan siapa lagi aku akan berbagi keluh kesahku selain dengan dirimu" ucap Qiandra yang berusaha menenangkan hati suaminya.  Qiandra takut kalau Dean akan berubah pikiran jika dia salah bicara.


“Ya, sudah sekarang coba kamu hubungi Ibu, dan pastikan dia bisa kembali menemanimu” ucap Dean sambil menyerahkan phonsel Qiandra pada wanita itu.  Qiandra meraih phonselnya dan menghubungi nomor Bu Sum.


“Hallo, Bu, maaf mengganggu ibu” ucap Qiandra menyapa Bu Sum saat mendengar panggilannya tersambung.


“Hallo, Nak, tidak mengapa, ada apa Nak, apa ada masalah” tanya Bu Sum dengan suara yang sedikit khawatir.


“Siapa Mah?” sebuah suara terdengar di belakang bu Sum.


“Ini Fe …, eh, maksud mamah Qiandra, sayang” ucap Bu Sum yang hampir kelepasan menyebut nama asli Qiandra.  Qiandra sempat mengernyitkan keningnya saat mendengar Bu Sum hampir salah menyebut namanya.


“Benar Nak, ini Zanet” sahut Bu Sum.


“Hai, Zanet ….” sapa Qiandra sambil melambaikan tangannya pada putri tertua Bu Sum.


“Hai Kak Qiqi, maafin Zanet ya karena belum sempat menjenguk kakak saat kakak di rumah sakit” ucap wanita cantik itu dengan suara penuh penyesalan.


Qiandra tersenyum pada wanita itu, “Sebenarnya aku kesal pada kalian bertiga, adik macam apa kalian yang bahkan tidak pernah mengunjungiku.  Padahal berapa jauh sich jarak dari rumah sampai ke sini, kalian benar benar saudara yang jahat" sungut Qiandra dengan wajah merengut.


“Oh astaga, lihat wajah Kak Qiqi, Mah, coba saja aku dekat pasti sudah ku cubit pipinya itu” bukannya menanggapi omelan Qiandra, Zanetta malah mentertawakan wajah lucu Qiandra yang sedang merengut.


“Aku heran bagaimana seorang sehebat dan setampan Dean Walt Zacharias bisa jatuh cinta padamu, Kak, padahal kalau dia bertemu denganku lebih dulu, aku yakin dia akan tergila gila padaku” tiba tiba Delicia ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.


Dean yang mendengar namanya disebut, juga mendengar keseruan pembicaraan Qiandra dengan para wanita yang diduganya adalah anak anak Bu Sum, hanya bisa tersenyum.  Lalu, tiba tiba dia duduk dan memeluk Qiandra dari belakang wanita itu.

__ADS_1


Kehadiran Dean yang tiba tiba di layar phonsel membuat Bu Sum, Zanetta dan Delicia benar benar terkejut.  Apalagi Delicia yang sudah sempat mengatakan kalau Dean akan jatuh cinta dengannya jika saja Dean bertemu dirinya lebih dulu.


Delicia segera menghindar dari layar kamera karena merasa malu dengan Dean.  Qiandra malah tertawa terbahak bahak melihat adiknya itu tiba tiba tidak terlihat lagi.  “Ha ha ha, kemana kamu Deli, ayo perlihatkan wajahmu siapa tahu suamiku bisa benar benar jatuh cinta padamu” seru Qiandra masih dengan tertawa hingga air matanya keluar dari matanya.


“Dah Mamah, Kak Qiqi, Deli tiba tiba ada urusan penting, Deli pergi dulu ya” hanya terdengar suara Delicia yang benar benar pergi karena malu.


Qiandra kembali tertawa, “Dasar Deli, benar benar nggak pernah berubah” kekeh Qiandra lagi.  Tawa Qiandra terhenti saat merasakan pelukan erat di perutnya.  “Ehm, Zanet, perkenalkan ini Dean, dan Love ini Zanetta, anak tertua Ibu” ucap Qiandra memperkenalkan Dean pada Zanetta.


“Selamat siang, Tuan Dean, maaf saya masih belum menyapa Anda secara langsung” ucap Zanetta yang tiba tiba bersikap formal saat menyapa Dean, membuat Qiandra kembali tersenyum.


“Salam kenal Nona zanetta, maaf juga karena saya belum sempat menyapa keluarga Ibu” ucap Dean dengan senyum yang mampu meruntuhkan hati wanita manapun yang melihatnya.  Zanetta terpaku menatap senyuman di wajah seorang Dean Walt Zacharias, hingga sang ibu menyikut perutnya dan membuatnya salah tingkah.


Zanetta benar benar terpana dan terkejut melihat Dean benar benar tersenyum, karena selama ini Zanetta tidak pernah melihat laki laki itu tersenyum.  Yah, Zanetta memang hanya melihat di layar kaca, namun wajah Dean selalu terlihat dingin dan angkuh.  Tapi sekarang, laki laki itu tersenyum saat menyapa dirinya, benar benar luar biasa.


“Ngomong ngomong ada apa kamu menghubungi ibu, Nak” tanya Bu Sum mengalihkan pembicaraan karena dia tahu Zanetta sudah terlanjur merasa salah tingkah.


“Ah, iya Bu, Dean mulai besok akan kembali ke perusahaan, jadi, bisakah ibu menemaniku, karena Dean tidak akan mau pergi jika bukan ibu yang menemani aku” ucap Qiandra.


“Oh begitu rupanya, baiklah, ibu akan kesana besok pagi” sahut bu Sum.


“Hei Zanet, tidak bisakah kamu meluangkan waktumu untuk menjenguk kakakmu ini” ucap Qiandra lagi pada sang adik yang masih terlihat sedikit segan.


“Ah, ten …. tentu saja Kak, aku akan mengantar mamah besok ke tempatmu, sekalian aku ingin menjenguk kakak juga” ucap Zanetta dengan sedikit gugup karena Dean ternyata belum meninggalkan Qiandra.


“Hmmm, baiklah kalau begitu, aku tunggu kedatangan kalian besok, dah ibu, Zanet, awas kalau kamu ingkar ya” ucap Qiandra seraya memutuskan panggilan videonya.


“Itu putri ibu ya Honey, memang ibu memiliki berapa orang anak” tanya Dean sambil meletakkan dagunya di bahu Qiandra, tangan kekar laki laki itu masih memeluk lembut perut sang istri.


“Iya, Love, itu putri kandung Ibu, Ibu memiliki dua orang putri dan satu orang putra, yang tertua itu tadi Zanetta, lalu yang kedua yang tadi langsung pergi Delicia dan si bungsu Abellard” sahut Qiandra dengan wajah sedikit sendu.


“Hei kenapa kamu terlihat bersedih” tanya Dean saat melihat wajah istrinya yang tiba tiba berubah menjadi sendu.


“Hah, aku terkadang merasa sangat bersalah pada mereka, demi mengikuti aku, Ibu seringkali harus meninggalkan mereka” ucap Qiandra.


“Memang sejak kapan kalian berpisah, maksudku sejak kapan ibu selalu mengikutimu” tanya Dean lagi yang merasa perlu mengetahui sejauh mana hubungan Qiandra dan keluarga Bu Sum.  Walaupun sebenarnya Dean sudah tahu secara garis besar, namun dia juga ingin tahu detil hubungan unik Bu Sum dan Qiandra.

__ADS_1


“Ibu telah mengikut aku sejak kematian Kak Charles, saat itu aku benar benar ingin pergi meninggalkan mansion yang diberikan Kak Charles untukku itu karena tidak tahan dengan sikap keluarga Kak Charles.  Tapi, tuntutan mereka agar aku memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai bentuk tanggung jawabku yang telah membuat mereka kehilangan Kak Charles membuatku terpaksa bertahan.  Saat itulah, ibu memutuskan untuk mengikuti aku, sampai saat aku memutuskan pergi dari kota ini, beliau tetap setia mendampingi aku” kenang Qiandra lagi.


“Tapi, kamu sendiri sejak kapan mengenal ibu dan keluarganya, kalian terlihat cukup akrab” tanya Dean lagi.


__ADS_2