
“Hentikan semua basa basimu, Risty, aku bukan Daniel yang bisa kamu pancing dengan kemolekan tubuhmu. Jika dulu aku jatuh, kamu
sendiri tahu kalau itu karena jebakanmu dengan minuman laknat itu. Jika dalam keadaan sadar kamu tahu, aku tidak pernah sekalipun tergoda pada semua kelakuan bejatmu” ucap Walt Zacharias masih dengan sikap tenang.
Walt Zacharias tidak menolak perlakuan Risty terhadap dirinya, karena dia memang tidak ingin melakukan kekerasan terhadap wanita itu. Dia membiarkan Risty melakukan apapun yang diinginkannya, namun sama sekali tidak memberikan respon seperti yang diharapkan Risty.
“Dad, jangan terus menahan dirimu, aku janji akan memberikan pelayanan terbaik hari ini. Ayolah, aku sangat merindukan belaianmu, aku
masih ingat kedahsyatanmu pada waktu itu. Please, Dad, setidaknya berilah aku belas kasihanmu, atau apa aku sudah tidak menarik lagi bagimu, hmmm” desah Risty dengan suara memelas namun terdengar sangat manja.
“Apa kamu merasa dirimu pernah menarik
bagiku, Risty, tidak pernah, tidak pernah sekalipun aku tertarik padamu, apapun yang ada pada dirimu sangat jauh berada dibawah ratuku dulu. Tidak ada satu hal pun pada dirimu yang bisa menarik perhatianku dari dulu apalagi sekarang. Jadi, tidak perlu kamu berusaha dan membuang energimu untuk menggodaku, karena sampai kapanpun itu tidak akan berhasil” ucap Walt Zacharias dengan tenang.
Wajah tampan yang diwarisi oleh Dean dari
sang ayah ini terlihat tetap menawan sekalipun telah dikikis usia. Bahkan wajah itu semakin terlihat berkharisma seiring bertambahnya usia dan terlihat semakin bijaksana. Terbukti saat ini, wajah Walt Zacharias tetap tenang menghadapi godaan dan sentuhan dari wanita yang tak lain dari istrinya sendiri.
Bahkan laki-laki paruh baya itu tetap dapat
berbicara dengan tenang tanpa ekspresi marah ataupun terbakar oleh gairah pada kemolekan tubuh wanita yang hampir tidak tertutupi oleh pakaiannya. Walt Zacharias benar-benar tidak tergoda, bahkan sebenarnya laki-laki ini merasa sangat jijik pada sikap Risty saat ini. Namun, dia tetap bisa bersikap bijaksana dengan tidak menghina ataupun mengusir wanita itu.
“Dad, mengapa kamu begitu kejam padaku, apa
kamu masih tidak mau memaafkan diriku, tidak bisakah kamu melupakan masa lalu itu. Aku sungguh ingin memulai langkah baru bersamamu, mungkin memang kita memulai semua ini dengan kesalahan, tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki kan, Dad?”desah Risty dengan suara merajuk manja.
“Jika aku tidak memaafkan dirimu, maka aku
tidak akan bisa menikmati sisa hidupku. Aku sudah lama memaafkan dirimu, Risty, tapi bukan berarti aku bisa menerima dirimu. Karena sejak dulu dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerima wanita sepertimu untuk berada disisiku” ucap Walt Zacharias.
“Dad, please, terima aku, aku siap berubah
sesuai dengan semua yang kamu inginkan, tolonglah, bantu aku untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku ingin menjadi pendamping yang pantas dan layak berdiri disisimu, jadi kumohon ajari aku, Dad” gumam Risty, kini suaranya terdengar sedikit
terisak.
Walt Zacharias menatap wanita itu dengan
senyum bijaksana, perlahan dia mendorong tubuh Risty dan menuntunnya untuk duduk di kursi sofa mewah yang ada di ruangan itu. “Risty, jika kamu memang ingin berubah, maka
mulailah dari dirimu sendiri. Karena jika kamu sudah bisa merubah sikap dan pola pikirmu menjadi lebih baik, maka dengan sendirinya yang lain akan mengikuti. Jadi, tidak perlu kamu menghabiskan energimu hanya untuk membujuk aku untuk bisa menerima dirimu” sahut Walt Zacharias seraya duduk di sofa yang berseberangan dengan Risty.
“Jika aku benar-benar berubah, apakah kamu
akan menerima aku dengan sepenuhnya, Dad, jika demikian maka aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperbaiki segala sesuatunya” ucap Risty masih dengan suara sedikit serak menahan tangisnya.
Walt Zacharias tersenyum mendengar kata-kata Risty yang begitu manis dan menyentuh hati. Namun, Walt Zacharias bukanlah anak kemarin sore yang bisa ditipu dengan semua sandiwara wanita ular seperti Risty. Laki-laki paruh baya itu sangat tahu kalau Risty tidaklah bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
“Jika kamu ingin berubah, jangan jadikan orang lain sebagai alasan untukmu berubah, karena jika kamu mengandalkan orang lain maka kamu tidak akan bisa berubah dengan baik. Karena setiap orang punya keinginan dan kepentingan yang berbeda, jadi jika kamu berubah untuk orang lain, kamu tidak akan bisa melakukan apapun. Berubahlah sesuai dengan keinginan hatimu, itu jauh lebih mudah bagimu” ucap Walt
Zacharias dengan bijaksana.
“Tapi aku perlu bimbingan, tidakkah kamu
__ADS_1
bersedia membimbing aku, Dad, dan menunjukkan arah yang baik untukku” sahut
Risty dengan nada sendu.
“Ikuti saja kata hatimu, mulailah dari dirimu sendiri, kamu sudah sangat dewasa dan sangat tahu membedakan yang baik dan yang buruk. Tunjukkanlah kesungguhanmu untuk menjadi lebih baik, mulailah dari hal-hal kecil, seperti
caramu berbusana, etikamu dan ketaatan pada aturan yang ada” ucap Walt Zacharias masih dengan suara tenang tanpa emosi sama sekali.
“Jadi, kamu benar-benar tidak mau membantuku, Dad” ucap Risty masih berusaha membujuk Walt Zacharias.
“Jika kamu memerlukan bantuan, ada tim ahli
dalam mansion ini yang bisa membantumu, mereka bisa membimbingmu untuk melatih
tata krama, etika bahkan sikap yang baik sesuai dengan posisimu saat ini” sahut Walt Zacharias masih tetap bersikap tenang.
“Tapi aku memerlukan dukungan darimu, Dad,
sebagai penyemangat bagiku, kamu sendiri tahu ini tidaklah mudah bagiku” desah Risty masih berusaha mempengaruhi Walt Zacharias.
“Semua dukungan akan mengalir untukmu, jika
kamu bersungguh-sungguh dengan keinginanmu. Kamu tahu, semua orang di dalam mansion ini akan mendukungmu, jika kamu ingin menjadi lebih baik lagi. Jadi,
tidak perlu ragu jika hanya masalah dukungan, tidak ada yang tidak mendukung jika hal itu mengarah pada kebaikan. Namun, jika sebaliknya, maka kamu juga akan melihat akibatnya” sahut Walt Zacharias.
“Dad, aku sudah berusaha dan belajar untuk
di atas meja Walt Zacharias.
Walt Zacharias menatap undangan itu,
keningnya sedikit berkerut, “Apa hubungannya dengan undangan Dean” tanya Walt Zacharias.
“Lihatlah, Dad, mereka melangkahi aku, bukankah aturannya akulah yang seharusnya melakasanakan acara ini. Tapi, yah sudahlah, aku sedang berusaha mengontrol rasa kecewaku dengan tidak memarahi mereka, walau sebenarnya aku sangat kesal pada mereka” ucap Risty dengan wajah merengut kesal.
“Tidak ada yang dilangkahi dalam hal ini Risty, mereka sangat bisa dan sangat wajar melakukan hal itu. Justru kamulah yang tidak berhak mengadakan acara ini, karena yang berhak adalah ratuku” sahut Walt Zacharias.
“Apa maksudmu, Dad, bukankah pelaksanaan
pesta perkenalan itu adalah tugas dan kewajibanku sebagai istrimu dan juga ratu
disini” desis Risty menahan gejolak amarah dalam suaranya.
“Risty itu adalah hak sebagai ratu, kamu
memang istriku, tapi maaf, kamu bukanlah ratu dalam mansion ini. Aturannya jelas, selama aku berkuasa dan belum melimpahkan kuasaku pada siapapun, maka wanita yang menjadi ratu adalah istriku, tetapi status sebagai istriku tidak akan menjamin bisa menjadi ratu. Karena hanya wanita yang memenuhi kriteria saja yang bisa menjadi ratu. Oleh sebab itu, posisi ratu tetap kosong sejak istriku meninggal dunia. Jadi, Dean dan Qiandra berhak melaksanakan upacara ini karena memang tidak ada ratu yang bisa melaksanakannya, dan lagi mereka telah mengantongi restu dariku” ucap Walt Zacharias dengan Panjang lebar.
“Dad, bagaimana bisa kamu menjadikan aku sebagai istrimu tapi tidak membiarkan aku menjadi ratumu, kriteria mana yang tidak bisa
aku penuhi” Risty mati-matian menahan gejolak amarah dalam dirinya.
“Semua kriteria, Risty, tidak ada satu kriteria pun yang bisa kamu penuhi. Jika kamu ingin tahu apa saja kriteria untuk menjadi seorang ratu, kamu bisa memintanya dari Jhon, dia akan menyerahkan daftar lengkap untukmu” sahut Walt Zacharias dengan tenang, walaupun dia tahu Risty sedang dilanda kemarahan.
__ADS_1
Risty benar-benar kesal dan marah mendengar
semua kata-kata Walt Zacharias, semua rencana yang sudah disusunnya tiba-tiba
menjadi kacau karenan kenyataan yang diucapkan oleh suaminya itu. Risty sungguh tidak pernah menyangka bahwa dirinya ternyata tidak dianggap sebagai ratu dalam istana megah itu. Selama ini Risty berpikir, dialah ratu karena dia adalah istri sah dan satu-satunya dari Walt Zacharias.
“Mengapa kamu tidak pernah mengatakan hal
ini selama bertahun-tahun kepadaku” desis Risty diantara semua emosi yang saat ini seolah ingin meledak.
“Aku tidak pernah tahu kalau kamu ingin
menjadi ratu, aku kira status sebagai istriku saja sudah cukup bagimu, bukankah kamu sudah menikmati semua fasilitas yang ada tanpa batasan dan limit. Aku tidak mengerti jika kamu masih menginginkan status sebagai ratu, tidakkah kamu tahu bahwa dalam status sebagai ratu ada banyak batasan yang akan mengikat dirimu dengan berbagai tanggung
jawab. Aku rasa kamu tidak mungkin mau
mengubah tempat kunjunganmu dari diskotik menjadi rumah panti, dari pesta pora menjadi pesta amal. Dan penampilanmu, apakah kamu mau mengubah penampilan seperti ini dengan gaun-gaun yang sesuai untuk seorang ratu” sahut Walt Zacharias.
Risty menatap Walt Zacharias dengan penuh kekesalan, bagaimana bisa suaminya itu dengan santai bisa mengatakan kalau dirinya tidak mengharapkan menjadi ratu. Wanita mana yang mau hanya menjadi istri saja
sementara dia bisa menjadi ratu. “Dad,
apa kamu anggap hal ini hanya seperti lelucon saja, sehingga kamu bisa berbicara dengan begitu santai. Kamu tahu kalau menjadi ratu itu adalah hak aku sebagai istrimu, entah memenuhi kriteria atau tidak, yang pasti aku adalah istrimu. Jika aku tidak memenuhi kriteria, lalu untuk apa aku menjadi istrimu” seru Risty dengan nada sedikit tinggi.
Walt Zacharias menatap wanita itu dengan intens, “Risty, aku harap kamu tidak lupa tentang alasan aku bersedia menikah denganmu, sama sekali bukan karena kamu memenuhi kriteria. Jadi, jangan menjadi besar
kepala dengan posisimu saat ini, karena kamu tahu alasan kamu bisa menempati posisi ini, tentunya selain karena jebakan yang kamu buat itu” sahut Walt Zacharias dengan sedikit penekanan pada akhir kalimatnya.
“Apapun alasan kamu menikah denganku, statusku tetap adalah sebagai istrimu, entah memenuhi kriteria atau tidak, status sebagai ratu tetap adalah hak aku sebagai istrimu” sahut Risty dengan nada tinggi. Wanita ini
benar-benar tidak bisa lagi menahan kemarahannya dalam menghadapi sikap santai
suaminya dalam menyikapi keinginannya.
“Tampaknya kamu benar-benar tidak memahami setiap perkataanku tadi, Risty, sayang sekali, sepengetahuanku kamu punya otak yang cukup cerdas, tapi ternyata kemewahan yang kamu nikmati selama ini sudah membuat otakmu buntu. Baiklah, sekali lagi aku tegaskan untukmu, menjadi ratu bukan hanya sekedar gelar, tapi ada tanggung jawab besar di dalamnya yang harus dilaksanakan. Jika ratu tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka wajib dia mengundurkan diri, tapi jika dari awal sudah bisa dilihat dia tidak akan mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, seperti KAMU, jadi untuk apa bersusah payah mengangkatnya menjadi ratu, hanya akan membuat seluruh trah kerajaan dipermalukan oleh sikapnya itu, apa kamu paham” sahut Walt Zacharias dengan lebih tegas lagi.
Risty benar-benar marah dengan ucapan dari laki-laki yang tak lain dari suaminya sendiri. Jika saja itu bukan Walt Zacharias, Risty sudah pasti akan mengeluarkan caci maki yang kasar. Namun, karena ini adalah Walt Zacharias, sang raja, maka Risty berusaha untuk menenangkan diri. Beberapa kali wanita itu menarik nafas untuk mengontrol emosinya yang benar-benar ingin meledak.
“Hah, baiklah, Dad, jika memang hanya begitu nilai diriku dimatamu, aku sadar siapa diriku, aku bukanlah wanita dari kalangan darah bangsawan. Memang aku hanyalah wanita biasa yang sangat beruntung karena bisa
menjadi istrimu dan menikmati semua fasilitas mewah darimu. Maafkan aku jika punya harapan terlalu tinggi dan lupa tentang dari mana aku berasal” ucap Risty dengan memasang wajah sendu dan menundukkan kepalanya.
“Risty, Risty, kamu sudah terlalu lama terlena dalam kemewahan sehingga kamu lupa belajar tentang keluarga ini. Kami tidak pernah memilih dari kalangan mana wanita yang akan masuk dalam keluarga kami, jika kamu membaca sejarah keluarga ini. Kami hanya memilih dan menilai wanita yang benar-benar bisa melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya seperti ibuku dan juga ibu Dean. Kamu bisa mencari tahu asal usul mereka, dan tidak hanya itu kamu juga bisa mempelajari bagaimana mereka bisa layak menjadi seorang ratu” Walt Zacharias tersenyum melihat sandiwara wanita itu.
“Baiklah, Dad, aku akan mencoba mulai belajar sesuai yang kamu minta, semoga saja suatu saat aku layak untuk mendapatkan posisi ratu” sahut Risty dengan suara lemah.
“Bukan aku yang meminta, Risty, tapi ambisimu itu yang menuntutmu harus bisa karena ambisimu yang begitu besar. Aku hanya berharap kamu bisa memenuhi ambisimu itu” ucap Walt Zacharias dengan sedikit senyum di wajahnya.
Walt Zacharias sangat tahu kalau Risty tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah mampu mengubah dirinya menjadi sosok yang layak untuk menjadi seorang ratu. Karena yang wanita itu bisa hanyalah menikmati kemewahan saja, jadi kalaupun dia bisa itu hanya karena ambisinya saja. Dan Walt Zacharias sangat yakin, hal itu tidak akan bertahan lama.
“Baiklah, Dad, tapi setidaknya, walaupun aku bukan seorang ratu dalam keluarga ini, aku harap kamu mau mengabulkan satu permohonanku, aku sangat berharap padamu, sebab hanya kamu yang dapat mengabulkannya” ucap Risty dengan wajah memelas.
__ADS_1