
Pagi itu, Qiandra bersama dengan Dean dalam satu mobil mewah dan diikuti oleh Jossie dan dokter Jimmy di mobil mewah lainnya, sedang dalam perjalanan menujuu ke kantor. Dean memang tidak pernah mau berada satu mobil dengan orang lain jika dia sedang bersama
Qiandra. Baginya, setiap waktu yang bisa
dihabiskannya dengan istrinya ini, maka dia tidak akan membiarkan ada orang lain yang mengganggu mereka.
Di mobil mewah lainnya, Jossie dan dokter Jimmy sedang terlibat dalam pembeicaraan yang serius. “Kak Immy, bagaimana ini, Kak Andra akan menyerahkan perusahaan padaku.
Aku merasa aku masih jauh dari mampu untuk mengelola perusahaan sebesar ini. Selama ini aku selalu terbiasa di bawah bayang-bayang Kak Andra, aku hanya melaksanakan perintah nya saja, aku tidak pernah membuat keputusan apapun” Jossie benar-benar berada dalam
kebimbangan.
“Si, aku sangat yakin kalau mereka berdua adalah orang-orang yang mampu menilai dengan bijaksana. Bukan sembarang keputusan yang mereka buat, dan lagi keputusan ini dibuat oleh dua orang presidir hebat, bagaimana bisa kamu meragukan penilaian mereka” dokter Jimmy berusaha memberikan semangat pada Jossie yang sedang merasa ragu.
“Tapi, kak Immy, Kak Andra melakukan itu hanya karena akulah satu-satunya yang selalu bersama dengannya selama ini, bukan karena kemampuanku” Jossie masih merasa sangat tidak pantas untuk menggantikan Qiandra.
“Si, apa kamu pikir selama setahun ini Kak Andra mempekerjakan kamu hanya karena merasa kasihan, kalau Kak Andra merasa kamu
tidak mampu, aku yakin sudah sejak lama dia mencari orang lain untuk membantunya. Sekarang aku tanya padamu, pernahkah kamu mengecewakan Kak Andra selama kamu bekerja, atau pernahkah kamu melakukan kesalahan yang fatal” tanya dokter Jimmy.
Jossie terdiam, lalu perlahan dia menggelengkan kepalanya. Memang selama bekerja dengan Qiandra, Jossie tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Bahkan menurut Qiandra, semua yang dikerjakan
oleh Jossie selalu sempurna.
Kedua mobil mewah itu tiba di kantor pusat PT. Chaenqi, mereka berempat langsung masuk ke dalam lift khusus presidir dan menuju ke
lantai teratas gedung itu. Didalam ruangan Qiandra, sebelum Qiandra berbicara, Jossie sudah terlebih dulu bertanya.
“Kak Andra, apa kakak yakin akan meninggalkan semua ini padaku, kakak tahu kemampuanku, selama ini aku hanya mengikuti perintah Kak Andra. Aku sungguh tidak yakin bisa menjalankan perusahaan sebaik Kak Andra” Jossie yang masih duduk di kursi roda menatap Qiandra dengan wajah sendu.
Kalau boleh, Jossie memang tidak ingin Qiandra pergi meninggalkan kota kecil itu. Bukan hanya karena masalah perusahaan, namun, Jossie juga sangat menyayangi Qiandra, berat baginya berpisah dengan wanita cantik yang telah menolong kehidupannya itu.
“Jos, justru karena aku tahu kemampuan kamu, makanya aku berani meninggalkan perusahaan padamu. Kamu sudah bertahun-tahun berada di sisiku, dan entah kamu menyadarinya
atau tidak, ada begitu banyak hal dalam perusahaan ini yang merupakan hasil
pemikiranmu. Aku hanya memberi masukan
saja dan polesan akhir, namun kamu selalu berpikir semua itu bisa berhasil karena aku” Qiandra memegang kedua bahu Jossie dan berusaha meyakinkan Jossie.
Jossie menarik nafas berat, “Memang seperti itu kenyataannya, Kak, aku cuma bisa punya ide, tapi aku tidak punya kemampuan untuk
merealisasikannya. Hanya Kak Andra yang
bisa menyempurnakan setiap ide-ide itu” sahut Jossie.
“Itu karena kamu kurang berlatih saja, Joss, yakinlah kamu mampu. Tahukah kamu, aku malah sering bisa menyempurnakan idemu justru dengan mendengar ocehanmu. Kamu punya kemampuan, tapi kamu terlalu merasa rendah diri, sehingga kamu tidak mempercayai kemampuanmu sendiri” sahut Qiandra.
Jossie menatap Qiandra dengan mata tak percaya, “Apa benar seperti itu, Kak” tanyanya dengan ragu setelah mendengar perkataan Qiandra.
Qiandra tersenyum, lalu dia duduk di samping Dean yang segera merengkuh bahu istrinya dengan penuh kasih, “Terserah kamu mau percaya atau tidak, Joss, banyak ide yang aku dapatkan justru hanya dengan mendengar
__ADS_1
saja. Kamu tahu, aku tidak terlalu banyak bicara saat bertemu kolega kita. Aku lebih suka mendengar pembicaraan mereka, dan dari situlah aku bisa mendapatkan ide tentang apa yang mereka inginkan” Qiandra menjelaskan kepada Jossie tentang semua yang telah diputuskannya selama ini.
“Nyonyaku ini benar sekali, Joss, Jimmy, jika kita ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh kolega kita, maka kita harus belajar
mendengarkan mereka, dan bukan memaksakan ide-ide kita. Aku tidak tahu bagaimana istriku ini bisa mengetahui hal ini, bahkan mampu melakukannya. Tidak heran kalau dia mampu membuat perusahaan ini berkembang dengan pesat” Dean memberikan saran pada Jossie sekaligus mengagumi kemampuan Qiandra.
“Kurasa kami harus banyak belajar, Kak, kemampuan kami masih jauh dibawah kalian” Jimmy ikut berbicara sambil menggenggam dengan erat tangan Jossie.
“Jimmy, aku tahu kemampuanmu, kamu hanya perlu mengatasi traumamu pada kegagalan orang tuamu. Kolaborasi kalian berdua pasti bisa menjalankan perusahaan ini bahkan
membuatnya lebih berkembang lagi” Dean menatap Jossie dan Jimmy dengan intens.
Dean memang telah meminta Vian menyelidiki kehidupan Jimmy atas permintaan Qiandra. Qiandra tidak ingin Jossie dipermainkan oleh seorang laki-laki. Dia sangat menjaga adik angkatnya itu dan selalu berusaha melindunginya.
Karena itulah Dean mengetahui kalau Jimmy sebenarnya putra tunggal seorang pengusaha yang pernah cukup sukses. Namun, karena sebuah konspirasi, ayah Jimmy jatuh bangkrut dan bahkan hampir dipenjara. Karena itulah, Jimmy tidak ingin lagi terjun dalam dunia bisnis, walaupun sebenarnya dia sangat menyukainya. Jimmy sempat membuka sebuah perusahaan kecil dan saat usahanya mulai berkembang, dia harus terkena imbas kebangkrutan ayahnya. Dan Jimmy harus merelakan perusahaannya untuk
menyelamatkan ayahnya dari penjara.
Jossie menatap Jimmy dengan tatapan penuh tanda tanya, “Aku akan menceritakan semuanya padamu, Si, maaf jika aku masih menutupinya hingga saat ini” ucap Jimmy yang menyadari arti tatapan Jossie.
“Karena itulah, aku percaya kalian berdua pasti bisa menjalankan perusahaan ini. Jangan
khawatir, Joss, aku selalu siap, kami selalu siap, jika kalian membutuhkan saran dan pendapat. Jangan pernah ragu untuk menceritakan masalah apapun yang kalian hadapi dalam menjalankan perusahaan ini” Qiandra kembali meyakinkan Jossie.
“Tapi, Kak…” Jossie masih merasa ragu menerima tanggung jawab yang begitu besar itu.
“Yakinlah, Joss, kamu pasti mampu, lagipula, apa kamu tidak mengijinkan aku membawa kakakmu ini, apa kamu mau kami harus tinggal terpisah” Dean menatap Jossie dengan mata elangnya, membuat wanita mungil itu bergidik.
“Joss, aku telah menandatangani pembagian saham perusahaan ini, aku menyerahkan empat puluh lima persen saham atas namamu. Itu semua karena aku yakin, kamu bisa
melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, kalian berdua pasti mampu” ucap Qiandra dengan tegas.
“Apa?, Kak Andra, apa itu tidak terlalu berlebihan, tidak perlu kakak sampai membagi saham untukku, penghasilanku sekarang saja sudah sangat besar” Jossie benar-benar
terkejut mendengar Qiandra sudah membagi saham perusahaan untuknya.
“Aku sudah lama ingin melakukan ini, Joss, kamu adikku satu-satunya, dan kamulah yang selalu berdiri disampingku selama ini, membangun perusahaan ini dari yang bukan apa-apa hingga bisa seperti sekarang ini” sahut
Qiandra.
“Tapi, Kak….”Jossie masih sulit menerima pemberiaan Qiandra.
“Dengan empat puluh lima persen saham perusahaan atas nama Jossie, itu artinya Jossie adalah pemilik kedua perusahaan ini. Jadi, semua keputusan dan tanggung jawab atas perusahaan ini ada di tangan Jossie. Kami harap, kalian berdua bisa menjaga kepercayaan ini, dan ingat semuanya dilakukan dengan pertimbangan dan keyakinan bahwa kalian mampu. Jadi, jangan lagi pernah merasa tidak mampu dan tidak percaya diri” ucap Dean dengan tegas, membuat Jossie dan Jimmy tidak berkutik lagi.
“Ya sudah, kurasa sekarang waktunya kita ke ruang rapat, aku akan mengumumkan semua ini kepada seluruh karyawan kita” Qiandra memecah kecanggungan yang terjadi pada kedua orang muda itu setelah mereka mendengar Dean berbicara.
“Baik, Kak, terima kasih untuk kepercayaan ini” ucap Jossie pada akhinya, walaupun berat, wanita ini merasa cukup bersyukur karena Qiandra memberinya kepercayaan yang besar.
Dean menggandeng tangan Qiandra dan melangkah menuju ruang rapat diikuti oleh Jimmy yang mendorong kursi roda Jossie. Di ruang pertemuan, terlihat seluruh karyawan
PT.Chaenqi sudah berkumpul dan menanti kehadiran keempat orang itu.
__ADS_1
Qiandra membuka acara pertemuan itu, dan menyampaikan tujuan pertemuan itu dilaksanakan. Kecantikan dan kecerdasan serta kemampuan seorang Qiandra, membuat semua peserta rapat terkagum-kagum. Ditambah lagi aura besar Dean Walt Zacharias yang selalu berada di sisi Qiandra, membuat semua peserta pertemuan itu benar-benar kagum.
Qiandra menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan kepada Jossie, wanita cantik ini juga mengumumkan penyerahan empat puluh lima persen saham perusahaan kepada Jossie. Tidak ada yang merasa keberatan dengan hal tersebut, karena semua itu memang hak Qiandra sepenuhnya. Disamping itu, semua orang juga tahu bagaimana Jossie selalu berdiri di samping Qiandra selama ini. Sehingga bukanlah hal yang aneh jika Qiandra
membuat keputusan seperti itu.
Sementara Dean, seperti biasa, sama sekali tidak mencampuri urusan Qiandra di tengah pertemuan seperti ini. Presidir tampan itu hanya duduk di samping istrinya dengan mata elang yang menatap tajam semua peserta pertemuan. Hal ini membuat tak satu orangpun berani menatap wajah cantik yang
sedang berbicara dengan anggun di depan itu secara langsung, apalagi mengagumi seperti yang dulu sering mereka lakukan.
Tatapan mengintimidasi seorang Dean Walt Zacharias cukup membuat setiap laki-laki yang pernah begitu mengagumi Qiandra hanya berani melirik wanita cantik itu. Jika ada yang
berani menatap wajah Qiandra secara langsung dan bahkan mengaguminya, maka harus bersiap menerima tatapan mata elang yang seakan mampu menerkam mangsanya.
Setelah menandatangani berkas-berkas serah terima, Qiandra memeluk Jossie dengan penuh keharuan. Kedua wanita cantik itu tenggelam dalam perasaan masing-masing. Tak bisa dipungkiri, perpisahan ini terasa berat bagi keduanya, karena kebersamaan mereka selama dua tahun ini. Mereka berdua sudah menjadi sahabat dan saudara juga rekan kerja yang solid.
Semua orang bertepuk tangan, bahkan ada beberapa diantara mereka yang meneteskan air mata. Semua karyawan di perusahaan itu, sangat mengenal Qiandra, seorang wanita luar biasa yang tak pernah bersikap sombong dan selalu ringan tangan. Mereka semua mengagumi dan mencintai sang presidir cantik mereka ini, dan kepergiannya tentu saja membuat semua karyawan merasa kehilangan.
“Dan saat ini juga, saya pamit undur diri dari kawan-kawan semuanya, terima kasih sudah mendukung saya dan perusahaan selama ini. Saya harap dukungan kalian tidak berubah
bahkan lebih lagi saat adikku, Jossie, memimpin perusahaan ini. Dan terakhir, maafkan saya untuk semua kesalahan, baik perbuatan maupun kata-kata saya yang mungkin sudah menyinggung kawan-kawan semuanya” Qiandra menutup pertemuan itu dengan permohonan maaf kepada semua karyawannya. Wanita Cantik itu bahkan berdiri dan membungkukkan badannya kepada semua orang.
Sikap sang presidir cantik ini, membuat semua peserta pertemuan itu segera berdiri seraya membungkukkan badan juga kearahnya. Isak tangis pun pecah dan tak bisa lagi
disembunyikan, yang menunjukkan betapa para karyawan perusahaan itu sangat menyayangi Qiandra.
“Semoga Anda bahagia selalu, Nona, dan mohon jangan lupakan kami yang selalu merindukanmu disini, kami hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkah Anda, bagi kami, Anda adalah atasan sekaligus sahabat terbaik kami. Maafkan juga untuk semua sikap maupun kata-kata yang mungkin menyinggung perasaan Anda” salah satu
peserta rapat yang juga merupakan sekertaris Qiandra, berdiri di hadapan wanita cantik itu.
Mata Dean membulat saat melihat laki-laki muda yang menjadi sekertaris Qiandra itu berbicara. “Ish, bagaimana bisa dia mengatakan selalu merindukan istriku” desisnya dalam hati. Namun,laki-laki tampan itu, berusaha tetap tenang, karena ini memang acara khusus sang istri.
“Terima kasih, Andre, tetaplah bekerja dengan baik dan dukunglah Jossie seperti kamu ada disampingku selama ini” sahut Qiandra dengan
senyum lembutnya, membuat Dean menarik nafas berat.
Akhirnya, setelah Qiandra menjabat tangan semua orang dalam ruangan rapat itu, Qiandra dan Dean serta diikuti oleh Jossie dan Jimmy
meninggalkan ruangan itu. Mereka berempat kembali ke ruang kerja utama, tempat Qiandra selama ini bekerja.
“Pakailah ruangan ini untuk kamu bekerja, Jos” ucap Qiandra sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian ruangan tempat dia berjuang selama ini.
Jossie tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak, Kak, aku tidak akan memakai ruanganmu, ruangan ini akan kubiarkan tetap seperti ini. Ini adalah ruang kerjamu, dan aku sungguh tidak ingin menghilangkan semua jejakmu disini. Setidaknya, hal itu bisa mengobati kerinduanku
padamu” ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Baiklah, terserah padamu saja, tapi jika kamu berubah pikiran dan ingin memakai ruangan ini, jangan pernah ragu, ya” Qiandra menatap
Jossie, dia juga berusaha menhan air matanya.
“Honey, sebaiknya kita kembali sekarang, untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan kita besok” Dean menyela pembicaraan kedua wanita itu. Dean tidak ingin melihat Qiandra terus menerus larut dalam suasana sendu itu.
__ADS_1