
Dean, menuntun Qiandra menuju ke ruang kerja utama, langkah keduanya begitu perlahan. Saat mereka masuk ke dalam ruang kerja, terlihat Daniel, Dika, daddy Walt juga Clayandra dan Chris sudah berada dalam
ruangan itu. Dean langsung menuntun Qiandra ke tempat duduk khusus ibu hamil yang memang sudah disediakan dalam ruang mewah itu.
“Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini, aku mempersilahkan ratuku untuk menyampaikan beberapa hal penting yang menjadi tujuan berkumpulnya kita saat ini” ucap Dean saat dia sudah duduk dengan nyaman di samping Qiandra.
Qiandra tersenyum kepada sang suami, “Terima kasih, Love, dan terima kasih untuk kalian semua yang ada di sini, maaf jika saya terpaksa menahan kalian sesaat, karena masih ada hal yang belum tuntas dan mengganjal di hati saya” ucap Qiandra membuat semua orang menatapnya dengan intens.
“Feli, apa tidak sebaiknya di tunda saja, kamu sudah terlihat cukup lelah setelah acara tadi,
beristirahatlah” ucap Dika yang merasa sedikit khawatir dengan kondisi adiknya itu.
“Tidak, Kak, aku memang sedikit lelah, tapi aku tidak akan bisa beristirahat kalau semuanya belum di selesaikan malam ini” ucap Qiandra.
“Baiklah, sekarang katakan saja apa yang ingin kamu katakan, Nak, jangan mengulur waktu lagi, agar kamu bisa segera beristirahat” Clayandra turut memberikan saran.
Qiandra menarik nafas sesaat sebelum akhirnya mulai berbicara, “Sebenarnya, ada tujuan utama saya mengundang Tuan Daniel malam ini, saya memang ingin berdamai dengan masa lalu, itu benar, saya tidak ingin lagi menyimpan sakit hati dan dendam untuk
masa lalu yang sudah saya jalani. Oleh
sebab itu, saya sudah memikirkan dengan panjang lebar dan membuat keputusan,
yang saya harap bisa diterima oleh semua pihak dengan lapang dada. Saya juga meminta maaf jika nantinya keputusanku ini tidak bisa sesuai dengan ekspetasi kalian semua, tapi saya sungguh berharap ini menjadi yang terbaik untuk kita” ucap Qiandra.
Dean menggenggam tangan sang istri dengan erat seolah menyalurkan semangat untuk wanita yang sangat dicintainya itu. “Lanjutkan, Honey” bisiknya dengan lembut.
__ADS_1
Qiandra mengangguk dan membalas genggaman sang suami dengan tak kalah erat. “Aku memutuskan untuk memaafkan Tuan Daniel, untuk semua yang sudah dia lakukan di masa lalu, terhadapku, kak Charles dan anak kami” ucap Qiandra. Sejenak wanita hamil itu berhenti, seolah berusaha menguasai dirinya agar tidak terlarut dalam
suasana hatinya sendiri.
“Semua maaf itu aku berikan karena cinta yang diberikan oleh suamiku untukku yang tanpa batas, sehingga aku bisa merasakan arti dicintai yang sesungguhnya. Oleh sebab itu aku bisa mengerti dan menerima semua yang sudah diperbuat oleh Tuan Daniel kepadaku, terima kasih untuk cinta yang begitu besar untukku dan maafkan aku yang tidak bisa membalas cinta itu dengan semestinya” ucap Qiandra lagi.
Sementara semua orang dalam ruangan itu terlihat cukup terkejut dengan keputusan Qiandra, namun tidak ada yang berkata kata. “Namun, ....” Qiandra kembali melanjutkan kata katanya.
“Namun, semua yang sudah dilakukan oleh Tuan Daniel tidak hanya menjadikan aku saja sebagai korbannya. Suamiku sudah mengingatkan padaku, bahwa jika semua yang terjadi adalah jalan untukku meraih kebahagiaan, tapi ada korban lain yang harus diperhatikan oleh Tuan Daniel” lanjut Qiandra.
Semua orang terlihat sedang berpikir mendengar kata kata Qiandra terkecuali Dean. Dean akhirnya mengerti tujuan pembicaraan sang istri. “Keluarga Kak Charles, ayah, ibu dan adik perempuan Kak Charles, mereka adalah korban dari kehilangan Kak Charles, karena mereka menggantungkan hidupnya pada Kak Charles” lanjut Qiandra lagi yang membuat semua orang mulai memahami arah pembicaraan wanita itu.
“Oleh sebab itu, aku memberikan maaf kepada Tuan Daniel, tapi aku juga menuntut Tuan Daniel untuk mencari keberadaan keluarga Kak Charles dan menggantikan posisi Kak Charles untuk menjamin kehidupan ketiga orang ini. Selain itu, aku juga menyerahkan semua keputusan terhadap perbuatan Tuan Daniel kepada pihak keluarga Kak Charles. Jadi, jika mereka ingin menuntut, maka aku akan mendukung mereka demikian pula sebaliknya. Apapun tuntutan mereka aku akan mendukungnya, karena sekali lagi, mereka adalah korban yang sesungguhnya” ucap Qiandra.
Semua orang terlihat menampilkan reaksi wajah yang berbeda. Jika Dika, Clayandra dan Chris terlihat menganggukkan kepala menyetujui perkataan Qiandra. Berbeda dengan Daniel dan Daddy Walt yang terlihat cukup terkejut dengan keputusan Qiandra. Sementara Dean, refleks mengangkat dan
“Itu keputusan yang luar biasa, Honey, aku setuju denganmu dan aku mendukung keputusan ini” ucap Dean tanpa ragu memuji sang istri.
Daniel yang pada awalnya cukup terkejut, akhirnya berdiri dengan yakin, “Baiklah, aku menerima keputusan ini, semua adalah tanggung jawabku. Terima kasih Yang Mulia Ratu mau memaafkan aku, aku akan melaksanakan keputusan Yang Mulia, aku akan mencari keluarga Charles dan akan menjamin kehidupan mereka. Aku juga akan mengakui semua kesalahanku pada mereka, dan aku siap menerima apapun tuntutan mereka sebagai konsekuensi dari kesalahanku di masa lalu” ucap laki laki tampan itu dengan tegas.
Semua orang bernafas lega mendengar kata kata Daniel, mereka sempat khawatir saat melihat laki laki itu berdiri. Namun, setelah
mendengar bahwa Daniel menerima keputusan Qiandra dan bahkan bersedia
melaksanakan keinginan wanita itu, mereka semua bisa tersenyum. Dean sendiri terlihat cukup puas dengan semua keputusan sang istri serta penerimaan Daniel.
__ADS_1
“Baiklah, semua sudah diputuskan, tapi sekali lagi, sekalipun istriku sudah memberi maaf, aku tetap tidak memberikan ijin untuk anda bertemu dan berada di sekitar istriku. Aku harap anda bisa mengerti hal ini, untuk menghindari hal hal yang tidak dinginkan termasuk berbagai prasangka yang mungkin beredar di luar sana” ucap Dean.
Kata kata sang raja kali ini mau tidak mau mengundang senyum yang berusaha di tahan oleh semua orang termasuk Daniel. Kalau bukan raja yang mengatakan hal tersebut, sudah tentu semua orang akan tertawa mendengar alasan tak masuk akal yang disampaikan oleh Dean sebagai alasan agar Daniel tidak berada di dekat Qiandra lagi.
“Tentu saja, Yang Mulia, saya akan melaksanakan titah anda, dan saya juga memohon tolong jaga dia, apapun yang terjadi, kumohon jangan membuat air matanya yang sangat berharga itu jatuh di pipinya” ucap Daniel tanpa ragu.
Sesaat rona merah menghiasi wajah Dean, terlihat jelas kalau sang raja sedang berusaha menguasai emosinya. Dika hanya bisa melongo mendengar kata kata Daniel, tanpa sadar dia menepuk jidatnya sendiri, “Haish,
kenapa juga harus ada acara menitipkan pesan semacam itu” rungut Dika dalam hati.
“Masa depan dan kebahagiaan istriku adalah urusan dan tanggung jawabku sebagai suaminya, tanpa harus anda meminta, aku juga tidak akan membiarkan air matanya mengalir. Cukuplah sudah semua derita yang dialaminya di masa lalu, karena di masa depan hanya ada kebahagiaan yang akan dinikmatinya” ucap Dean dengan rahang mengeras.
“Hmmm, baiklah jika demikian aku pegang kata kata anda Yang Mulia, semoga kebahagian selalu mengiringi kalian” ucap Daniel. “Sekarang saya rasa sudah waktunya saya mohon diri, jika Yang Mulia berdua berkenan, saya pamit undur diri” ucap Daniel seraya berdiri dan sedikit menundukkan kepala ke arah Dean dan Qiandra.
Dean menatap Qiandra seolah bertanya melalui matanya apakah sang istri sudah selesai. Saat Qiandra menganggukkan kepalanya, barulah Dean kembali menatap Daniel, “Silahkan” ucapnya pada akhirnya. Daniel kemudian melangkah meninggalkan
ruangan itu diiringi oleh Dika yang mengantar Daniel hingga ke pintu keluar.
“Aku harap semuanya benar benar bisa kamu selesaikan, dan jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama” ucap Dika sambil menepuk bahu Daniel.
“Pasti sahabat, aku akan memenuhi semua permintaan Qiqi, dan aku yakin kamu sendiri tahu apa yang menjadi alasannya. Tapi jangan khawatir, sekarang aku benar benar sudah mengikhlaskan dirinya dan aku benar
benar tulus mendoakan kebahagiaannya” ucap Daniel sebelum akhirnya melangkah
meninggalkan istana megah itu.
__ADS_1
Dika hanya bisa menggelengkan kepala, “Astaga, seperti itu akibatnya kalau sudah terlalu dalam mencintai, hah, ini yang membuat aku harus berpikir ribuan kali untuk
menentukan dan menjatuhkan pilihan untuk mencari pendamping hidup” keluhnya saat menatap mobil yang membawa Daniel perlahan meninggalkan halaman istana.