
Pagi itu, Dean dan Qiandra benar-benar terkejut saat mereka tiba di bandara, ternyata bandara sudah dipenuhi oleh warga kota kecil itu. Mereka semua ingin melepas kepergian Qiandra, bagi mereka Qiandra sepeti dewi yang membawa kebeuntungan bagi kota mereka.
Sebagian besar dari warga yang hadir adalah oang-orang yang telah banyak dibantu oleh Qiandra. Mereka merasa begitu berat melepaskan wanita yang selama ini telah
banyak membantu mengembangkan kota kecil mereka sehingga menjadi maju seperti sekarang ini. Dan hal itu pulalah yang
menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat kota itu bisa meningkat, baik
karena mereka bekerja di perusahaan Qiandra, maupun karena dampak berkembangnya
wisata di kota kecil itu.
Dean dan Qiandra melangkah memasuki bandara, tangan Dean menggenggam tangan sang istri dengan erat, seakan takut wanita itu menghilang diantara kerumunan semua orang. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan mereka berdua.
“Tuan…” Qiandra terkejut melihat laki-laki yang merupakan pemimpin kota itu juga hadir disana.
“Nona Qiandra, Tuan Dean, maafkan jika kami mengganggu perjalanan Anda berdua. Saya mewakili warga kota ini, ingin menyampaikan ucapan terima kasih untuk Nona Qiandra. Nona telah begitu banyak membangun kota ini
sehingga kota ini menjadi maju seperti saat ini. Kami tidak bisa membalas kebaikan Nona, kami hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan selalu mengiringi setiap langkah Nona Qiandra” ucap laki-laki paruh baya itu.
“Ah, terima kasih banyak, Tuan, juga untuk semua yang hadir disini, saya juga berterima kasih, karena Anda semua mau menerima saya, dan bahkan mendukung saya selama ini. Terima kasih untuk doa Anda semua, itu sangatlah berarti untuk saya, dan saya juga
berdoa semoga kota ini bisa semakin berkembang. Saya yakin kalian semua pasti mampu membawa kota ini menjadi lebih maju
lagi” ucap Qiandra.
Seorang gadis kecil datang mendekati Qiandra dengan membawa bunga mawar putih yang sudah dirangkai menjadi sebuah kalung. Qiandra segera duduk di hadapan gadis kecil
itu, dan gadis itu segera mengalungkan bunga itu di leher Qiandra.
“Terima kasih, Nona kecil” ucap Qiandra seraya memeluk gadis kecil itu dengan erat.
Qiandra kembali berdiri dan membungkukkan badannya kepada semua orang. Tangannya melambai dengan senyum manis yang selalu menghias bibirnya. Sementara, laki-laki yang ada disampingnya hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi seperti kebiasaan seorang Dean saat berhadapan dengan orang banyak.
Kedua sejoli itu kembali melanjutkan langkah mereka, dan di sepanjang jalan, Qiandra harus menerima begitu banyak mawar putih yang
diberikan oleh warga kota itu. Asisten Vian yang berjalan dibelakang keduanya, segera mengambil sebagian besar bunga mawar itu dari Qiandra.
“Sepertinya mereka telah menganggapmu sebagai pahlawan di kota ini, Honey, mereka sangat memujamu. Pantas saja kamu begitu betah bersembunyi disini” ucap Dean saat
keduanya sedang berjalan menuju jet pribadi milik Dean.
“Kota ini sangat terbelakang saat aku datang kesini dua tahun yang lalu. Oleh sebab itu, aku bisa mengembangkan berbagai jenis usaha disini, terutama di bidang pariwisata. Sehingga, kota ini perlahan-lahan bisa mulai berkembang” sahut Qiandra.
“Kurasa kamu pasti mampu membuatnya lebih maju lagi, jika kamu mau membuka kerjasama dengan pihak luar” sahut Dean.
Qiandra hanya tersenyum, “Kamu tahu alasanku, Love, tapi sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi Jossie dan Jimmy. Meraka bisa mengembangkan perusahaan itu dan juga kota ini dan membuka cabang serta kerja sama dengan pihak luar” sahutnya.
Saat berada di tangga peswat, Qiandra kembali berbalik dan melambaikan tangannya kepada semua oang yang masih menatap kepergiannya. Qiandra juga kembali membugkukkan badannya, setelah itu dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara itu. Wanita itu menarik nafas berat, ada haru yang perlahan terselip di hatinya, saat dia teringat pemandangan pertama yang dia lihat ketika tiba di kota kecil ini.
Dean menggenggam erat tangan istrinya, “Honey…..” bisiknya dengan lembut.
__ADS_1
Qiandra hanya membalas dengan senyuman sendu, membuat Dean segera merangkul pinggang ramping sang istri, dia berusaha meyakinkan wanita itu, bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja. Lalu keduanya melangkah menaiki tangga pesawat mewah itu, dan saat
keduaanya sudah masuk, asisten Vian segera menyusul mereka.
Dean membawa Qiandra duduk pada salah satu kursi dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. “Jangan bersedih, kita bisa selalu mengunjungi kota ini, kapan saja kamu mau, Honey” bisiknya dengan lembut seraya mengecup kening wanita yang begitu dicintainya itu.
“Aku tidak bersedih. Love, tapi walau bagaimana pun, kota ini dan orang-orang yang ada disini telah begitu banyak membantu aku dalam saat-saat sulitku. Rasanya memang cukup berat meninggalkan semuanya, tapi aku sangat sadar, hidup adalah untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku, jadi, aku akan melangkah bersamamu, disisimu” ucap Qiandra.
“Terima kasih, Honey…” ucap Dean dengan bahagia. Presidir tampan itu sangat bahagia sekaligus bangga karena dia bisa membawa kembali wanita yang begitu dicintainya itu, untuk kembali bersamanya.
“Selamat datang kembali Tuan, Nona, apakah sekarang kita sudah bisa berangkat” pilot peswat itu menyapa kedua sejoli itu.
“Iya, kita bisa berangkat sekarang” sahut Dean dengan suara tegas.
“Baik, kalau begitu, selamat menikmati perjalanan ini, dan kamar Anda juga sudah dipersiapkan, jika Anda bedua merasa lelah, saya permisi dulu” ucap sang pilot, lalu dia kembali dan meninggalkan kedua sejoli itu.
“Bagaimana, Honey, apa kamu mau beristirahat di kamar sekarang” tanya Dean dengan lembut kepada sang istri.
“Sebenarnya memang aku sangat lelah, Love, tapi aku ingin menikmati pemandangan kota kecil ini dulu. Aku yakin akan sangat lama baru bisa kembali ke kota ini” sahut Qiandra. Wanita itu menatap ke arah jendela kaca yang kebetulan memang berada di dekatnya.
“Baiklah, kalau begitu, kamu bisa mengatakan padaku jika kamu sudah merasa ingin beristirahat” ucap Dean. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan istrinya itu, Dean bisa melihat sendiri bagaimana Qiandra diperlakukan oleh oang-orang di kota itu. Jadi, bukanlah hal yang mengherankan jika Qiandra begitu menyayangi kota kecil itu.
Dean mengambil tabletnya dan mulai memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah cukup lama ditinggalkannya. Saat dia sedang tenggelam dalam pekerjaannya, Dean dikejutkan dengan sebuah sentuhan di bahunya. Laki-laki itu tersenyum saat melihat kepala Qiandra yang sedang mengantuk namun
berusaha tetap tegak.
Dean meletakkan tabletnya, dan dengan perlahan dia mengangkat tubuh istrinya. Qiandra yang sedang berusaha menahan kantuknya, cukup terkejut saat merasakan tubuhnya melayang. Namun, dia segera tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Dean.
“Maafkan aku, Love, aku tidak bermaksud mengganggumu” bisik Qiandra seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dean hanya tersenyum, dia membawa Qiandra masuk ke dalam kamar pribadinya dan membaringkan wanita itu dengan perlahan.
menemanimu disini” ucapnya dengan lembut sambil membelai wajah istrinya.
“Terima kasih, Love, tapi kamu tidak perlu menemaniku, selesaikan saja pekerjaanmu, aku akan beristirahat sebentar” ucap Qiandra.
Dean tersenyum, dia segera mengambil tempat di samping Qiandra, kemudian dia menarik tubuh wanita itu untuk masuk dalam pelukannya. “Aku tidak akan membiarkanmu
sendirian lagi, Honey, dimanapun aku bisa, maka aku akan selalu ada di sisimu. Sekarang, tidurlah dan jangan memikirkan apapun, semalam bukankah kamu belum sempat tidur nyenyak, hmm” ucapnya.
Qiandra hanya tersenyum dalam pelukan suaminya, dia tidak mungkin lupa dengan apa yang mereka berdua lakukan semalam. Pergulatan panjang yang bahkan baru berakhir
saat hari telah menjelang subuh. Tanpa sadar, Qiandra mengelus dada bidang suaminya yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus tempatnya
menyembunyikan wajahnya.
“Honey, jika kamu terus melakukan itu, maka jangan salahkan jika kali inipun kamu tidak bisa terlelap lagi” desis Dean saat merasakan
sentuhan sang istri yang mulai membangunkan sesuatu di bagian bawah tubuhnya.
Qiandra segera menghentikan pergerakan tangannya, saat merasakan senjata sang suami mulai bereaksi, “Jangan macam-macam, Love, kita sedang berada dalam pesawat” desisnya.
“Hmmm, itu justru menjadi tantangannya, Honey, bukankah kita belum pernah melakukannya didalam pesawat. Aku yakin sensasinya pasti akan berbeda, bagaimana, apa kamu siap” bisik Dean, tangannya mulai menelusuri tubuh istrinya.
__ADS_1
Qiandra mencubit tangan Dean dengan lembut, “Love, please, aku benar-benar lelah, ijinkan aku beristirahat, ya” ucapnya dengan sendu.
“Haish, jangan memasang wajah seperti itu, Nyonya, kamu tahu aku tidak akan bisa menolak permohonanmu dengan wajah seperti itu” ucap Dean seraya mencubit hidung mancung istrinya. “Sekarang, tidurlah, atau aku tidak bisa memenuhi permintaanmu” lanjutnya
lagi, lalu dia menarik kembali kepala Qiandra untuk masuk dalam pelukannya.
“Terima kasih, Love, untuk segalanya” ucap Qiandra, perlahan dia kembali menutup matanya. Tidak memerlukan waktu yang lama, wanita itu sudah tenggelam dalam mimpinya. Dean tersenyum saat merasakan hembusan nafas yang beraturan dari istrinya, menunjukkan kalau wanita itu sudah larut dalam tidurnya.
“Qiqi, kamu harus kuat, kamu harus mampu menghadapi semuanya dengan bijak bukan dengan emosi dan keputusan sesaat” sebuah suara mengejutkan Qiandra. Suara yang sangat familiar di telinganya dan yang begitu dirindukannya.
“Kak Charles….” desis Qiandra, saat dia akan berlari ke arah laki-laki yang terlihat samakin tampan itu, Qiandra merasakan kalau kakinya
seperti dipenuhi oleh beban yang sangat berat.
“Jangan biarkan masa lalu terulang kembali, Qi, pertahankan apa yang sudah seharusnya
kamu miliki, kebahagiaanmu, jangan biarkan masa lalu merenggutnya darimu” ucap
Charles dengan senyum khasnya. Lalu,
perlahan tubuh laki-laki itu bergerak menjauhi Qiandra, sementara Qiandra sama sekali tidak mampu menggerakkan kakinya untuk mengejar laki-laki itu.
“Tunggu, apa maksudmu, Kak Charles, tunggu, Kak…..Kak Charles” seru Qiandra. Tiba-tiba
tubuhnya diguncang dengan lembut, dan saat Qiandra membuka matanya dia terkejut melihat wajah Dean yang menatapnya dengan khawatir.
“Ada apa, Honey, mengapa kamu terlihat pucat, apa kamu bermimpi buruk” tanya Dean dengan wajah cemas. Dean mengambil botol
air mineral, lalu dia membantu Qiandra untuk duduk dan menyerahkan botol itu untuk Qiandra. “Minumlah dulu, Honey, tenangkan dirimu” ucapnya.
Qiandra mengambil minuman itu dan meminum hingga separuh botol itu, lalu dia menyerahkannya kembali pada Dean, “Terima kasih, Love” ujarnya.
Dean meletakkan botol itu kembali ke atas nakas, lalu dia membelai rambut Qiandra dengan penuh kasih, “Sekarang, maukah kamu menceitakan mimpimu, Honey” ucapnya.
Qiandra mendesah sesaat, jemarinya meraih jemari sang suami dan menggenggamnya dengan erat, seolah mencari kekuatan dari genggaman hangat tangan Dean. “Aku bermimpi melihat Kak Charles…” desisnya, dia menatap mata sang suami.
Dean menarik nafas berat, ada cemburu terselip dihatinya, “Kamu masih merindukannya….” desis Dean dengan wajah sendu.
“Tidak, bukan begitu, Love, kali ini Kak Charles datang dan seolah memberikan peringatan padaku. Dan entah mengapa hatiku tiba-tiba merasa cemas, seakan ada bahaya yang sedang mengintai” ucap Qiandra.
Dean menarik nafas dengan berat, “Tenangkan lah hatimu, Honey, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, aku akan menjagamu
dan akan melindungimu, apapun yang terjadi, percayalah padaku” ucap Dean berusaha meyakinkan istrinya.
Qiandra tersenyum sendu, “Aku percaya padamu, Love, maafkan aku terlalu terbawa perasaanku” kemudian wanita itu bangun dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya. Qiandra berusaha menenangkan hati suaminya, karena dia tahu, laki-laki itu sedang cemburu.
Qiandra menyembunyikan kekhawatirannya dalam hati, dia tidak ingin menyakiti hati Dean. Qiandra yakin, Charles datang dan memberikan peringatan untuknya akan apa yang nanti
dihadapinya. Namun, Qiandra juga sangat
menghagai suaminya, dan dia tidak ingin membuat Dean merasa kecewa, jika dia
__ADS_1
tidak mempercayai laki-laki itu.
"Terima kasih, Kak, kamu masih perduli padaku dan mau mengingatkan aku. Aku akan berusaha semampuku untuk mempertahankan kebahagiaan ini" bisik hati Qiandra.