
Qiandra tercengang menatap lemari yang berjejer di dalam ruang walk in closet. Semua lemari itu terisi penuh dengan perlengkapan pria dan wanita. Perlengkapan pria, Qiandra yakini adalah barang-barang milik Dean, tapi perlengkapan wanita yang ada disitu benar-benar membuat Qiandra menggeleng tak percaya.
“Semua itu disiapkan untukmu, Qi, tidurmu sangat lelap, hingga kamu tak menyadari saat para pelayan menata semu itu di lemari” ucap Dean mengejutkan Qiandra.
“Tapi, tapi Dean, semua ini terlalu berlebihan untukku” sahut Qiandra, dia melihat semua barang brended yang berjajar di lemari itu mulai dari berbagai gaun, baju-baju, tas, sepatu hingga aneka jam tangan cantik. Dan Qiandra bukanlah orang yang tidak kenal fashion, dia sangat tahu semua itu barang brended.
“Hanya yang terbaik, untuk wanita terbaik, Qi, ayo bergegaslah, atau kamu akan melewatkan sunset nantinya” ucap Dean dengan senyum manisnya, “Aku tunggu diluar, Qi” lanjutnya lagi, lalu melangkah meninggalkan Qiandra yang masih tercengang melihat semua yang ada didepan matanya.
Qiandra akhirnya memilih satu gaun dengan model tanpa lengan dan leher sedikit rendah, gaun itu melekat pas di tubuh Qiandra dengan bagian bawahnya yang lebar dan diatas lutut. Gaun berwarna putih dengan corak bunga-bunga kecil itu terlihat sangat cantik ditubuh Qiandra. Qiandra melengkapi penampilannya dengan flat shoes warna senada dan sebuah kaca mata hitam.
Qiandra melangkah keluar walk in closet, dan saat matanya bertemu dengan mata Dean, Qiandra kembali menunduk malu. “Kamu cantik sekali, Qi, rasanya aku tak rela membawamu keluar dari kamar ini, aku ingin hanya aku yang menikmati kecantikanmu” bisik Dean yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Qiandra.
“Ish, kamu apaan sich, Dean, gombal banget, memangnya aku ini anak abg, yang bisa kamu gombalin” kekeh Qiandra, namun tak urung wajahnya merona, dan tanpa dia sadari hatinya berbunga mendengar pujian Dean.
“Terserah kamu menganggapku gombal, Qi, tapi aku berkata dengan setulus hati dan jujur apa adanya, baiklah, Tuan Putri, ijinkan hambamu ini menemanimu menikmati sore ini” ucap Dean seraya mengulurkan tangannya pada Qiandra.
“Apaan sich, Dean” sahut Qiandra, namun dia tetap meraih tangan Dean, mereka berdua melangkah meninggalkan kamar itu dengan tangan saling bertaut. Saat melewati ruang keluarga, meraka berpapasan dengan asisten Vian, Qiandra ingin melepaskan tangannya dari tangan Dean, tapi laki-laki itu justru semakin erat menggenggam tangannya.
“Selamat sore, Nona Qiandra, bagaimana keadaan Anda” sapa asisten Vian.
“Sore, Tuan Vian, aku baik-baik saja, terima kasih ya dan maaf kembali merepotkan” ucap Qiandra lembut.
__ADS_1
“”Ah, syukurlah, jangan sungkan Nona, silahkan lanjutkan Nona” ucap asisten Vian yang segera mempersilahkan pasangan itu lewat, asisten Vian merasa tak enak hati saat melihat mata tajam Dean melirik kearahnya.
Qiandra hanya tersenyum manis pada asisten Vian, lalu melangkah cepat mengikuti Dean yang sudah sedikit menarik tangannya. Mereka berdua keluar dari mansion mewah itu dan langsung bertemu dengan hamparan pasir putih yang sangat halus.
Qiandra berdecak kagum melihat pemandangan yang terhampar dihadapannya, dia membungkuk dan melepaskan alas kakinya, lalu menentengnya dengan santai. Dean yang melihat tingkah wanita itu segera mengikutinya, dia juga melepaskan alas kakinya lalu meletakkannya begitu saja. Dean juga meraih alas kaki Qiandra dan meletakkannya di pasir putih itu.
Qiandra tersenyum pada Dean, “Terima kasih, ya” ucapnya lembut. “Astaga, mengapa dia begitu mempesona, tubuhnya sangat macho, dengan otot sixpack itu dan bulu-bulu hitam didadanya, ugh, mengapa dia sangat seksi” desis hati Qiandra yang melihat penampilan Dean.
Dean hanya memakai celana pendek dan kemeja yang dilepas kancingnya sehingga memperlihatkan perut sixpack dan dada bidangnya. Lengan kemejanya sengaja digulung, membuat otot-otot lengan Dean terpampang nyata dan membuatnya terlihat semakin menggoda.
“Hei, apakah mata dibalik kacamata itu sedang menikmati pantai atau menikmati yang lain” kekeh Dean saat menyadari arah tatapan mata Qiandra.
“Ich, apaan sich, ya jelaslah aku sedang menikmati keindahan pemandangan laut ini” sahut Qiandra dengan muka merah padam karena malu, perbuatannya diketahui oleh Dean.
Qiandra hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Dean. Mereka berdua duduk dihamparan pasir putih yang sangat halus. mereka berdua menikmati keindahan saat matahari perlahan mulai merangkak kembali ke paraduannya. Qiandra begitu terpesona hingga dia tidak menyadari kalau Dean telah duduk dibelakang punggungnya dengan menempatkan Qiandra diantara kedua kakinya yang ditekuk.
Dean menarik lembut tubuh Qiandra untuk bersandar didadanya, Qiandra terkejut saat menyadari posisi keduanya. Namun, Qiandra kembali tak kuasa menolak sentuhan Dean, rasa nyaman yang tiba-tiba menggulung dalam hatinya membuatnya pasrah dan bersandar dengan nyaman dalam pelukan Dean.
Saat sang raja siang sudah tenggelam dan hanya menyisakan semburat merah, Dean berbisik lembut ditelinga Qiandra, “Qi, aku sangat, sangat mencintai kamu, kumohon, ijinkan aku mengisi sisi hatimu yang masih kosong. Aku tahu, kamu begitu mencintai Charles, dan seluruh ruang hatimu hanya terisi namanya, tapi sekarang, kumohon ijinkan aku mengisi setidaknya sudut hatimu. Berikanlah aku kesempatan untuk membuktikan bahwa perasaan cintaku ini padamu”
Qiandra terdiam mendengar kata-kata Dean, dalam hati sebenarnya dia sangat bahagia. Karena memang tak bisa dipungkiri pesona luar biasa seorang Dean, tidak akan bisa dengan mudah ditolak oleh wanita manapun. Namun, Qiandra kembali menyadari keadaan dirinya, Qiandra merasa tak pantas bersanding dengan Dean.
__ADS_1
“Dean, kumohon, pikirkanlah semuanya kembali, aku sungguh tak pantas untukmu, kamu bintang diatas langitku yang hanya debu di atas tanah kotor. Jangan merendahkan dirimu dengan perasaan sesaat pada wanita sepertiku” desah Qiandra, dalam hati dia hanya bisa menangis.
“Qi, mengapa kamu selalu berpikiran seperti itu, tidak ada kata tak pantas untukmu, kamu bahkan sangat pantas dan sudah seharusnya berada disisiku. Dan jangan pernah mengatakan rasaku ini rasa sesaat, karena rasa ini adalah rasa yang sesungguhnya dan bukan rasa sesaat. Aku pernah merasakan ini dulu, dan aku sangat menyadari kalau ini bukanlah rasa sesaat, Qi” desah Dean.
“Dean, aku tidak tahu bagaiaman harus mengatakannya padamu, seperti kataku tadi, hanya wanita bodoh yang tidak menginginkanmu, termasuk aku, tapi, siapa aku, Dean, dan semua ini terasa terlalu cepat untukku. Dean, kumohon, mengertilah aku sudah pernah merasakan kehilangan, dan itu sangat menyakitkan. Aku sungguh tak ingin hal itu terulang lagi, sakitnya masih terasa bahkan setelah bertahun-tahun” desah Qiandra.
Tanpa sadar wanita itui larut dalam perasaan sakitnya yang membuatnya merasa nyaman saat bersandar di dada Dean. Sehingga Qiandra semakin menyandarkan dirinya tanpa ragu lagi di dada bidang lelaki itu.
“Qi, aku tidak memaksamu, tapi setidaknya ijinkan aku untuk membuktikan semua rasa cintaku ini kepadamu, beri aku kesempatan, Qi” ucap Dean dengan nada memohon.
Qiandra menarik nafas berat, dia merasakan tiba-tiba dadanya terasa sesak, pertentangan dalam dirinya membuat wanita itu memejamkan matanya, berusaha menepis semua beban hidupnya. Rasa yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, dia tahu itu rasa apa, tapi terlalu sulit baginya untuk membiarkan rasa itu tumbuh. Luka dan sakit dari masa lalunya membuat Qiandra harus berpikir berkali-kali untuk memulai suatu hubungan yang baru.
Tidak sedikit laki-laki tampan dan mapan yang berusaha mendekati Qiandra, karena wanita ini selain memiliki fisik yang sempurna, cantik, energik dan cerdas. Hal ini menyebabkan banyak lelaki yang mengenalnya jatuh cinta padanya. Tak jarang para lelaki itu nekad melamar Qiandra, walaupun mereka mengetahui status Qiandra sebagai seorang janda.
Namun, Qiandra benar-benar menutup hatinya, dia tidak pernah tergoda sedikitpun dengan semua rayuan dan sikap manis para lelaki itu. Qiandra tidak pernah merasakan ada getaran dalam dadanya saat dia bersama lelaki manapun, hanya Charles yang mampu membuat hatinya bergetar.
Dan saat ini, Qiandra menyadari kalau hatinya bergetar justru saat dia bersama dengan Dean. Ada rasa nyaman dan bahagia saat dia merasakan sentuhan dan genggaman tangan laki-laki ini. Bahkan saat ini, Qiandra
merasakan sangat nyaman berada dalam pelukan Dean.
“Dean, aku tak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi jujur aku bisa merasakan bahagia saat bersamamu. Hanya saja, kurasa ini terlalu cepat untuk kita, jadi, apakah kamu keberatan jika aku memintamu untuk menjalani semua ini dulu. Kita jalani semuanya, tanpa harus ada ikatan diantara kita, setidaknya kita bisa saling mengenal terlebih dulu. Aku sungguh tidak ingin membuat keputusan dengan cepat untuk sesuatu yang sangat besar dalam hidupku. Kuharap, kamu mau mengerti maksudku ini” ucap Qiandra dengan lembut.
__ADS_1
“Hmmm, baiklah aku setuju denganmu, Qi, kita akan jalani ini dengan perlahan, tapi aku ingin kamu tahu, bahwa rasa cintaku padamu sungguh-sungguh dan tulus dari dalam hatiku. Dan aku akan menantikan sampai kapanpun kamu siap menerima kehadiranku, Qi” akhirnya Dean terpaksa harus mengikuti keinginan Qiandra.