
“Honey, honey…..bukalah matamu” sebuah
suara tiba-tiba mengejutkan Qiandra dan membuatnya perlahan membuka matanya.
“Love…..” desis Qiandra, lalu dia segera
bangun dan memeluk tubuh Dean dengan erat. Dean membelai punggung Qiandra dengan lembut.
“Tenanglah, Honey, tenanglah” bisik Dean
ditelinga Qiandra berusaha memberikan ketenangan pada wanita itu. Qiandra terisak dengan tertahan, rasa sakit itu kembali menerpanya, perih yang sangat dalam. Beberapa saat kemudian, Qiandra menyadari
kalau sikapnya bisa melukai hati suaminya, sehingga dia perlahan berusaha menenangkan dirinya.
Qiandra perlahan melepaskan pelukannya pada
tubuh Dean, dan dia segera menyadari kalau di dalam ruangan itu juga ada orang lain. “Maaf.. maafkan saya” ucapnya seraya menundukkan wajahnya dan menyembunyikan wajahnya yang merona dan memerah.
“Bukan salahmu, Qi, suamimu itu yang memang
sengaja mencuri kesempatan” ucap dokter Albert memecah keheningan semua orang. Dean menatap sahabatnya itu dengan kesal, walaupun dia tahu maksud dokter Albert.
“Silahkan duduk kembali, Nyonya” dokter Tirta mempersilahkan Qiandra kembali duduk. Qiandra segera menuruti perkataan dokter Tirta, dia kembali duduk di kursinya. Sementara Dean tetap berdiri disampingnya dengan menggenggam erat jemari Qiandra.
“A-apa masih belum selesai, Dok” tanya
Qiandra, karena sejujurnya dia tidak ingin lagi mengingat kembali semua kejadian itu.
“Nyonya, apa Anda sudah mengingat semuanya” tanya dokter Tirta dengan perlahan. Qiandra menatap dokter Tirta, lalu dia menggangguk dengan perlahan. “Apakah Anda bisa menceritakannya kembali dalam keadaan sadar seperti ini” kembali dokter Tirta bertanya pada Qiandra.
“A-ku bisa, Dok, tapi aku tidak mampu kalau
harus kembali menceritakannya sekarang” desis Qiandra. Rasa takut, khawatir dan juga kesedihan yang sangat dalam, membuat Qiandra merasa tidak mampu lagi kalau harus kembali mengingat semuanya.
Dokter Tirta tersenyum, “Tidak, tidak
perlu, Nyonya, Anda tidak perlu mengulang cerita itu lagi sekarang” sahut dokter Tirta, dia sangat menyadari perasaan Qiandra saat ini.
“Lalu, sekarang bagaimana, apa yang harus
dilakukan lagi” tanya Dean dengan tidak sabar. Dia merasa sangat iba pada Qiandra, apa yang dialami wanita itu benar-benar membuat Dean terkejut.
“Untuk saat ini tidak ada yang harus dilakukan lagi, saya rasa kalau Nyonya sudah bisa mengingat kembali semuanya, maka Nyonya dan Tuan bisa mulai melakukan therapy sendiri” sahut dokter Tirta.
“Therapi sendiri, maksudnya” tanya Dean
dengan kening berkerut dan sedikit kesal.
“Love….” Qiandra berusaha menenangkan
suaminya yang terlihat sedikit kesal dengan jawaban dokter Tirta.
“Mulai sekarang, Nyonya bisa perlahan belajar menceritakan semuanya pada Tuan dalam keadaan sadar. Dengan sering berbagi cerita, maka Nyonya perlahan-lahan akan bisa menerima masa lalunya. Seiring dengan itu, Nyonya juga dapat mulai memupuk rasa kepercayaan pada Tuan, sehingga trauma itu perlahan akan bisa diatasi saat rasa aman dan
tumbuhnya kepercayaan pada orang-orang di sekeliling Nyonya” dokter Tirta menjelaskan dengan panjang lebar.
“Apa maksudmu mengatakan kalau istriku
belum mempercayai aku” desis Dean dengan sedikit penekanan. Laki-laki itu merasa tidak terima jika ada yang mengatakan kalau Qiandra belum percaya padanya.
Dokter Tirta tersenyum, dia sudah tahu sikap posesif sang presidir tampan ini, “Kepercayaan disini lebih pada rasa aman dan percaya bahwa semua yang telah terjadi di masa lalu itu tidak terulang lagi. Rasa takut kehilangan yang
dirasakan oleh Nyonya, bukanlah rasa takut Anda akan meninggalkan dia, tetapi rasa takut kehilangan nyawa Anda, Tuan. Cinta yang begitu besar dalam diri Nyonya, membuat Nyonya benar-benar khawatir kematian akan memisahkannya lagi dengan Anda” jawab dokter Tirta dengan tenang.
Mendengar kata-kata dokter Tirta, Qiandra
menggenggam tangan Dean dengan erat, seolah membenarkan apa yang dikatakan oleh
dokter Tirta. Dean merasakan genggaman
kuat Qiandra, dia segera merengkuh bahu istrinya dan mengecup pucuk kepalanya
dengan lembut.
“Jadi, bagaimana caranya, dok” tanya Qiandra
__ADS_1
dengan wajah sedikit pias.
“Seperti yang saya katakan tadi, Nyonya harus sering berbagi cerita masa lalu Anda dengan Tuan Dean. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk Anda, Nyonya, karena Anda sedang hamil, Anda berada pada kondisi yang kurang
lebih sama dengan masa itu. Jadi, Anda bisa belajar memupuk kepercayaan pada Tuan dengan perlahan melakukan apa yang sudah Anda lakukan di hari itu, pergi memeriksakan kandungan Anda bersama dengan Tuan. Tapi, tolong jangan dipaksakan jika masih belum siap, karena akan berdampak tidak baik pada kondisi psikis Anda” kembali dokter Tirta memberikan penjelasan panjang lebar.
“Baiklah, Dok, saya mengerti, terima kasih
banyak untuk waktu dan pejelasan Anda, Dok, sekarang, bolehkah saya mohon ijin, saya merasa sangat lelah” ucap Qiandra, wajahnya memang terlihat sedikit pucat.
“Oh, tentu saja, Nyonya, ini memang sangat
melelahkan bagi Anda, silahkan” ucap dokter Tirta, laki-laki paruh baya itu segera berdiri dan membungkukkan badannya.
Qiandra tersenyum, dia segera berdiri, namun tubuhnya terlihat sedikit goyah. Dean segera meraih tubuh istrinya dan mengangkatnya ala bridal style. Ketiga pria yang ada dalam
ruangan itu segera menundukkan kepala saat keduanya keluar dari ruangan itu.
“Dok, apa Qiandra tidak perlu diberi penenang, mengigat semua yang sudah dilaluinya hari ini” tanya dokter Albert setelah Dean dan Qiandra keluar dari ruangan itu
“Kita lihat saja perkembangannya, jika Nyonya bisa tidur dengan lelap, maka tidak perlu diberikan penenang. Kecuali kalau Nyonya tidak bisa beristirahat, barulah kita bisa memberinya penenang dalam dosis kecil” sahut dokter Tirta.
“Apakah menurut Anda, Nyonya akan bisa tidur lelap” tanya asisten Vian yang juga merasa penasaran.
“Kemungkinan besar Nyonya bisa melakukannya, dia sudah mengeluarkan semuanya, walaupun melelahkan, tapi sebagian besar beban di hatinya sudah berkurang. Hanya tolong sampaikan pada Tuan Dean, dalam
beberapa hari ke depan, jangan meninggalkan Nyonya sendirian. Setidaknya, harus ada seseorang yang selalu ada bersamanya untuk menjaganya dari kemungkinan yang tidak kita inginkan” ucap dokter Tirta.
“Maksud Anda, Dok” tanya asisten Vian lagi
dengan kening berkerut. Bagi Dean tentu
hal itu yang diinginkan laki-laki itu, tapi bagi asisten Vian itu bencana. Karena, hal itu berarti semua pekerjaan di kantor harus tetap ditangani olehnya sendiri.
“Sebelum Nyonya bisa mulai berbagi cerita
masa lalunya dengan orang lain, dalam hal ini dengan Tuan Dean, traumanya bisa saja muncul tiba-tiba, mengingat kondisinya saat ini yang hampir sama dengan kondisinya saat musibah itu terjadi” sahut dokter Tirta.
“Apa harus Tuan Dean yang selalu
“Tidak, tidak harus, yang penting selalu
ada orang bersama Nyonya, sehingga ada yang bisa segera membantunya jika trauma itu tiba-tiba menyerangnya” sahut dokter Tirta lagi.
“Haish, sudahlah Vian, terima saja nasibmu,
apa kamu kira Dean akan mengijinkan orang lain mendampingi Qiandra” seru dokter Albert. Dokter Albert sangat paham mengapa asisten Vian bertanya panjang lebar. Asisten Vian hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia mendesah sesaat.
Tiba-tiba dokter Albert merasakan phonselnya bergetar, dia segera mengangkatnya, “Ya, ada apa” tanya dokter Albert saat melihat siapa yang menghubunginya.
“Suruh Vian segera menyelidiki semuanya, dan pastikan cerita Qiandra tidak keluar dari
ruangan itu, kita belum tahu tujuan orang-orang itu” ternyata orang yang menghubungi dokter Albert adalah Dean.
“Baiklah, bagaimana keadaan Qiandra sekarang” tanya dokter Albert.
“Dia sudah terlelap, tapi aku tidak bisa meninggalkannya, dia masih memeluk lenganku dengan erat” desis Dean.
“Jangan tinggalkan Nyonya, Tuan, itu artinya Nyonya sedang berusaha membangun kepercayaannya, tetaplah disisinya” dokter Tirta menyela pembicaraan keduanya, karena dia mendengar penjelasan Dean melalui phonsel dokter Albert.
“Baiklah” sahut Dean lalu menutup sambungan teleponnya.
“Apakah itu artinya, Qiandra akan baik-baik saja, Dok” tanya dokter Albert.
“Sepertinya begitu, baiklah, saya akan permisi dulu” dokter Tirta berdiri dan mengumpulkan peralatannya. “Saran saya, jika memang memungkinkan, Tuan Dean harus sebanyak mungkin berada di sisi Nyonya Qiandra, karena saat ini sepertinya hanya Tuan Dean satu-satunya orang yang dipercayainya. Itupun, Nyonya Qiandra masih berusaha meletakkan kepercayaannya, rasa khawatir dan ketakutan akan masa lalunya membuat Nyonya Qiandra sangat takut kehilangan” ucapnya saat semua peralatannya telah terkumpul dalam tasnya.
“Dok, tolong katakan dengan jujur pada kami, sebenarnya bagaimana perasaan Qiandra pada Dean” dokter Albert tiba-tiba bertanya pada dokter Tirta, membuat dokter Tirta mengangkat wajahnya dan mengerutkan keningnya menatap pada rekan kerja sekaligus atasannya itu.
“Apa maksud Anda, Dok” tanya dokter Tirta pada dokter Albert.
“Walaupun saya tidak terlalu memahami bidang Anda, tapi dari semua penjelasan Anda, saya rasa masih ada sesuatu yang belum Anda sampaikan karena segan dengan Dean” sahut dokter Albert dengan tatapan menyelidik pada dokter Tirta.
Dokter Tirta menghembuskan nafasnya
perlahan, “Maafkan saya, tapi saya menjaga perasaan keduanya, sehingga tidak mungkin saya mengatakan semuanya” sahutnya dengan wajah lesu.
__ADS_1
“Katakanlah, kami akan memegang rahasia ini, setidaknya kami bisa mengetahui jika suatu saat ada masalah diantara keduanya” asisten Vian ikut merasa penasaran.
“Aku harap ini benar-benar tidak merusak
hubungan keduanya” dokter Tirta menarik nafas sejenak, “Sebenarnya Nyonya Qiandra belum sepenuhnya memberikan hatinya pada Tuan Dean, rasa takut kehilangan membuatnya belum siap membiarkan hatinya mencintai Tuan Dean dengan sepenuhnya, karena itulah, Nyonya Qiandra belum mempercayai Tuan Dean. Ditambah lagi, maaf, status Nyonya Qiandra, membuatnya, dalam hati kecilnya masih tidak percaya pada kesungguhan Tuan Dean” lanjutnya dengan panjang lebar.
“Jadi, maksud Anda, Nyonya Qiandra tidak
mencintai Tuan Dean” tanya asisten Vian dengan wajah terkejut.
“Bukan tidak mencintai, tapi belum sepenuhnya, Nyonya Qiandra hanya perlu waktu lebih lama untuk meyakinkan hatinya bahwa Tuan Dean benar-benar mencintai dirinya dan dia tidak akan kehilangan lagi” sahut dokter Tirta dengan tegas.
“Apakah karena Charles, atau mungkin ada
laki-laki lain” dokter Albert memberikan pertanyaan yang cukup mengejutkan.
Dokter Tirta tersenyum, “Tidak, Dok, sama
sekali bukan karena orang lain, tapi memang itu semacam perlindungan diri Nyonya Qiandra untuk menghindari rasa sakit hati yang terlalu besar. Dari yang saya lihat, memang hanya ada dua orang laki-laki dalam hatinya, hanya Charles dan Tuan Dean” sahutnya.
“Apa itu artinya Nyonya Qiandra masih
mencintai Charles melebihi Tuan Dean” tanya asisten Vian lagi.
“Tidak, Tuan, menurut saya, justru sekarang
posisi Charles sudah mulai bergeser. Saya yakin, jika Tuan Dean bisa terus mendampingi dan meyakinkan Nyonya Qiandra, maka tidak akan perlu waktu lama bagi Nyonya Qiandra untuk meletakkan seluruh hatinya pada Tuan Dean” sahut dokter Tirta lagi.
“Hmmm, baiklah Dok, terimakasih sudah
menjelaskan semuanya pada kami, dan akan saya sampaikan pesan Anda pada Dean, Dok, sekali lagi terima kasih banyak untuk waktu Anda” jawab dokter Albert.
“Jangan lupakan pesan Tuan Dean tadi” desis
asisten Vian dengan tajam dan nada sedikit mengancam kepada dokter Tirta.
Dokter Tirta tersenyum, “Nyawa saya sebagai taruhannya, Tuan, tidak hanya Nyonya Qiandra, bahkan semua rahasia pasien lain pun akan kami jaga dengan nyawa kami, itu sudah menjadi kode etik kami” sahutnya, “Saya permisi dulu, jika ada yang ingin dikonsultasikan lagi, saya siap” lanjut
dokter Tirta lagi, lalu dia berdiri dan membungkukkan badannya pada dokter Albert dan asisten Vian.
“Baiklah, Dok, mari saya akan mengantar
Anda” ucap dokter Albert, dia segera berdiri dan membuka pintu kamar untuk dokter Tirta. Setelah mengantar dokter Tirta hingga ke mobilnya, dokter Albert kembali menemui asisten Vian yang masih berkutat memperhatikan cerita Qiandra di layar laptopnya.
“Apa ada yang kamu curigai” tanya dokter
Albet pada asisten Vian. Asisten Vian
mendesah, lalu menggelengkan kepalanya.
“Entahlah, kita benar-benar harus menyelidiki masa lalu Nyonya dan juga Charles, agar kita bisa mengetahui siap musuh mereka, dan siapa yang begitu ingin mencelakai Charles atau mencelakai keduanya” sahut asisten Vian.
“Ini bukanlah pekerjaan yang sulit kan untuk mereka” ucap dokter Albert. Mereka yang dimaksudkan oleh dokter Albert adalah tim investigasi kerajaan yang masih bekerja sampai saat ini pada Dean.
“Seharusnya begitu, kecuali ada kekuatan
besar yang berusaha menutupinya” sahut asisten Vian.
“Kekuatan besar, memangnya ada kekuatan
besar yang tidak bisa mereka tembus” tanya dokter Albert lagi.
“Ada, dan memang kita selalu menghindar
berurusan dengan mereka sama seperti mereka juga tidak ingin berurusan dengan
kita” sahut asisten Vian, dia berdiri dan menatap jauh keluar jendela ruangan itu.
“Haish, aku kira tidak ada di dunia ini yang tidak bisa mereka tembus, mengingat semua kemampuan dan juga fasilitas teknologi yang mereka miliki saat ini. Lalu, siapa orang-orang yang cukup hebat ini” tanya dokter Albert dengan wajah penasaran. Dia melangkah dan
berdiri di samping asisten Vian.
“Mafia” desis asisten Vian yang membuat
dokter Albert tersentak dengan wajah yang benar-benar terkejut.
__ADS_1