
“Yang Mulia siapa, Tante, berkhianat apa” tanya Dika dengan rasa penasaran sekaligus ketegangan melingkupi dirinya.
“Yang Mulia Zac, hanya itu yang disebutkan oleh daddymu dan Lee saat mereka berbicara di malam tragis itu, kalau tidak salah Lee menyebarkan fitnah bahwa daddymu yang sudah mendukung pihak pemerintah untuk menggeser keluarga kerajaan. Hanya itu yang aku tahu dan aku dengar, Nak, tapi jika kamu ingin tahu lebih banyak, kamu bisa menemui Chris dan dokter Freddy. Aku yakin mereka sangat tahu masalah yang sebenarnya, hanya saja mereka tidak pernah mau menceritakannya padaku, dan aku juga tidak mau perduli” ucap Tante Clay.
Dika tersentak mendengar penjelasan Tante Clay, kedua lututnya tiba tiba menjadi goyah dan tidak mampu menyangga tubuhnya. “Astaga, mengapa semuanya menjadi seperti ini” desis Dika seraya meremas rambutnya dengan kuat.
“Ada apa Dika, apa ada masalah” tanya Tante Clay dengan wajah khawatir saat melihat Dika duduk sambil menekuk kedua lututnya.
“Tante, mengapa Tante membiarkan semua ini terjadi” desis Dika dengan suara serak menahan sesak dalam hatinya.
“Membiarkan apanya, Nak, hei, ada apa jangan membuat Tante menjadi bingung, Nak” ucap Tante Clay yang juga ikut duduk bersimpuh di hadapan Dika. Wanita paruh baya itu menggengam jemari Dika dengan mata penuh tanya.
“Yang Mulia Zac atau Yang Mulia Zacharias adalah kakek dari Dean Walt Zacharias, suami Qiandra” desis Dika dengan suara pelan dan bibir bergetar namun seperti petir yang menyambar di telinga Tante Clay. Wanita itu bahkan langsung terduduk saat mendengar kata kata Dika.
“Tidak, tidak mungkin, ta tapi Chris dan dokter Freddy tidak pernah mencegah hal ini, karena itulah aku tidak pernah merasa curiga” ucap Tante Clay dengan suara bergetar. Ait mata bahkan meleleh di pipinya yang mulai keriput.
“Aku tidak tahu apa alasan mereka, Tante, tapi rasanya aku tidak percaya kalau mereka tidak mengetahui siapa Dean. Ah, mengapa Feliciaku harus mengalami hal ini, mengapa takdir harus membawanya untuk bersanding dengan laki laki yang keluarganya telah membunuh keluarga kami dengan keji” keluh Dika. Laki laki tampan itu merasakan sedih yang teramat dalam hingga dia tidak mampu menahan air matanya.
Dika tahu kalau Qiandra sangat mencintai Dean, dan bahkan saat ini keduanya sedang berbahagia dengan kehadiran buah hati mereka dalam rahim Qiandra. Jadi, bagaimana Dika bisa memisahkan keduanya, atau bagaimana Dika bisa membiarkan kebahagiaan keduanya. Apa mungkin Dika tidak membuka semua kenyataan yang ada kepada Qiandra selamanya. Dika benar benar merasa kepalanya hampir pecah memikirkan semua itu.
“Lalu, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Nak, apa kita akan membiarkan mereka, tapi apa tidak bahaya, Nak, aku takut jika suatu saat mereka mengetahui siapa Qiandra sebenarnya” ucap Tante Clay dengan bibir bergetar karena rasa takut yang tiba tiba menyerangnya.
“Aku, aku tidak tahu, Tante, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa sekarang” jawab Dika sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah.
“Hah, baiklah, Nak, mari kita pikirkan semua ini perlahan lahan. Lagi pula kondisi Qiandra saat ini sangat lemah akibat peristiwa penculikan itu” akhirnya Tante Clay tidak lagi mendesak Dika. “Aku akan menanyakan hal ini pada Chris nanti, aku juga tidak percaya kalau dia tidak tahu siapa Dean” lanjut Tante Clay lagi.
Dika hanya menggangguk samar, “Beri aku waktu untuk berpikir, Tante, dan mungkin nanti aku juga harus bertemu dengan Paman Chris dan dokter Freddy. Untuk sementara ini, tolong sembunyikan semua kenyataan ini, sampai aku bisa membuat keputusan” ucap Dika dengan suara lemah.
“Baiklah, Nak, jika demikian bisakah Tante kembali sekarang, Tante khawatir mereka kehilangan Tante” ucap Tante Clay.
“Hmm, baiklah, Tante, tapi maafkan kalau aku tidak bisa mengantar Tante, aku akan menyuruh sopir untuk mengantar Tante, maafkan aku, kondisi pikiranku saat ini sedang sangat kacau” ucap Dika.
Tante Clay tersenyum lalu dia mengulurkan tangannya dan membelai kepala Dika, “Berpikirlah dengan tenang, Nak, yang pasti, Tante sangat bahagia karena mengetahui bahwa kamu masih hidup dan sudah tumbuh menjadi seorang yang luar biasa saat ini. Kalau begitu, Tante permisi sekarang ya” ucap Tante Clay seraya berdiri perlahan, Dika pun segera berdiri dan membantu wanita itu untuk berdiri.
__ADS_1
Dika kemudian memerintahkan salah seorang pelayan untuk mengantar Tante Clay dengan mobil yang lain dari yang digunakannya tadi. Dika menatap kepergian Tante Clay dengan tatapan sendu, “Daddy, Mommy, apa yang harus Dika lakukan, Dika tidak mungkin merusak kebahagiaan Feli, tapi Dika juga tidak bisa menyembunyikan semua kenyataan ini dari Feli” bisik hati Dika.
Dika kembali masuk ke dalam ruang tamu mewahnya, matanya kembali menatap foto besar keluarganya. “Aku telah membuatnya menjadi korban pelecehan dulu dan membuatnya begitu menderita. Bagaimana mungkin aku akan membuatnya menderita lagi dan merebut kebahagiaannya lagi” desis Dika seraya menyentuh wajah Felicia kecil, “Aku merindukanmu adik kecil” bisiknya dengan suara sendu.
Dika begitu merindukan adiknya itu, sayangnya, saat Dika sudah mengetahui keberadaan sang adik dia tidak bisa begitu saja menemuinya. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum dia memperkenalkan dirinya sebagai kakak dari Qiandra atau Felicia. Tidak hanya masalah keamanan dan keselamatan, tapi masa lalu keduanya juga menjadi hal yang menyulitkan Dika untuk bertemu dengan Qiandra.
“Daniel, ….” desis Dika, tiba tiba dia teringat pada saudara angkatnya itu saat dia mengingat kalau dia dan Qiandra dipertemukan oleh Daniel. “Apa yang harus aku lakukan pada Daniel, aku tahu dia telah melecehkan Felicia, tapi semua itu dilakukannya karena dia begitu mencintai Felicia, atau apa aku harus menyatukan keduanya. Aku yakin Felicia akan aman jika dia hidup bersama dengan Daniel” monolog Dika dalam hatinya sendiri.
Entah mengapa tiba tiba saja terbersit dalam pikirannya untuk kembali berjuang mempersatukan Daniel dan Qiandra. Walaupun Dika tahu kalau Qiandra tidak pernah mencintai Daniel dan hanya mencintai Dean, tapi dengan kenyataan yang ada sekarang ini, Dika berharap Qiandra akan berubah pikiran. Daniel dan Qiandra adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidup Dika, tentu akan sangat menyenangkan bila keduanya bisa bersatu.
Mendapatkan ide seperti itu, Dika segera mengambil kunci mobilnya dan segera melangkah keluar dari mansion mewah itu. Dika membawa mobil mewahnya menuju ke kantor polisi, dimana saat ini Daniel sedang ditahan. Dika masuk ke dalam kantor polisi dan segera meminta untuk bertemu dengan Daniel.
Tanpa perlu menunggu terlalu lama, Dika sudah melihat Daniel dalam kondisi yang benar benar memprihatinkan. Wajah laki laki itu terlihat sangat berantakan, dengan rambut yang dibiarkan begitu saja. Bahkan pakaian tahanan yang menempel di tubuh tegapnya juga terlihat kusam dan kusut.
“Terima kasih masih mau mengingat aku, Bro” sapa Daniel pada Dika.
“Tuan, jangan berkata seperti itu, tidak akan mungkin aku melupakan Anda” ucap Dika masih dengan sikap formalnya seperti biasa saat berhadapan dengan Daniel.
“Haish, bahkan di saat aku sudah seperti ini kamu tetap juga tidak mau menganggap aku saudaramu. Dika, sekarang kamulah tuannya, bukan lagi aku, ayolah, setidaknya jangan panggil aku tuan lagi” Daniel mencak mencak karena Dika tetap bersikap formal padanya.
“Jika kamu tetap memanggilku Tuan maka aku tidak akan pernah menemui dirimu lagi, karena itu artinya kamu memang tidak pernah mau menganggap aku sebagai saudaramu” ancam Daniel seraya berdiri.
“Ba baiklah, baiklah Daniel, sudah, sekarang kamu puas” ucap Dika saat melihat Daniel tersenyum mendengar dia tidak lagi memanggil Daniel dengan sebutan Tuan.
“Itu jauh lebih baik, okey sekarang ada khabar apa kamu datang kesini” ucap Daniel masih dengan senyum penuh kemenangan. Dika mengernyitkan keningnya saat melihat Daniel tersenyum hanya karena berhasil membuat Dika mengubah panggilannya. Padahal setahu Dika, Daniel adalah orang yang sangat jarang tersenyum.
“Kamu terlihat baik baik saja” tanya Dika yang tidak bisa menahan rasa herannya.
“Apa menurutmu berada di penjara itu akan membuatku terlihat buruk, tentu saja tidak, dan ya seperti yang kamu lihat, saat ini aku baik baik saja” ucap Daniel dengan tenang dan suara yang terdengar begitu lepas.
“Ada apa, Daniel, aku melihatmu menjadi sosok yang berbeda” tanya Dika lagi.
“Berbeda?, apakah saat ini aku terlihat lebih buruk dari sebelumnya” tanya Daniel lagi.
__ADS_1
“Mmmm, tidak, kurasa kamu sekarang terlihat lebih bebas dan tidak ragu berekspresi” sahut Dika dengan jujur.
Daniel tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu, “Kamu memang paling mengenal diriku, Dika, baru beberapa saat kita bertemu kamu sudah bisa mengehatui perubahan diriku” ucap Daniel. “Dan kamu lagi lagi benar aku merasa lebih bebas sekarang, sekalipun aku berada dalam penjara ini, tapi aku merasa hatiku seperti begitu tenang dan tanpa beban” lanjutnya lagi.
“Apa maksudmu” tanya Dika lagi masih tidak mengerti dengan kata kata Daniel.
Daniel menarik nafas sebentar, “Sekarang semua orang pasti sedang menghujat diriku, jadi bagaimana pun aku bersikap, mereka semua tetaplah membenci diriku. Jadi, aku merasa sekarang aku bisa bebas berekspresi tanpa harus bersikap yang dibuat buat hanya untuk menjaga image di hadapan orang lain. Karena sekalipun sekarang aku bersikap seperti dulu, semua orang tetap akan menilai aku buruk” ucap Daniel.
Dika tertegun mendengar jawaban Daniel, “Apa selama ini kamu merasa begitu tertekan” tanya Dika.
“Tertekan sich tidak, karena memang itu sudah aku jalani selama puluhan tahun, jadi yah seperti rutinitas yang seolah menjadi jati diriku. Kamu tahu menjaga nama baik Mahardika sudah menjadi tanggung jawabku sejak aku lahir ke dunia ini. Dan saat aku tidak bisa melakukan hal itu dan tidak perlu memikirkan hal itu lagi, barulah aku merasa benar benar bebas” ucap Daniel.
“Tapi kamu tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja, Daniel. Kamu harus tetap melanjutkan tugasmu, aku akan segera mengeluarkan kamu dari sini dan aku akan menyerahkan kembali posisi presidir PT.Mahardika untukmu. Kamu tahu aku sama sekali tidak berhak berada di posisi ini, semua aku lakukan dan aku terima karena kamu dan daddy Putra” ucap Dika.
“Ha ha ha, kamu kejam Dika, baru juga beberapa hari aku bersantai kamu sudah mau kembali memenjarakan aku. Sudahlah, tidak perlu repot repot mengeluarkan aku dari sini, nikmati saja posisimu itu dulu. Aku masih ingin bersantai disini” ucap Daniel dengan tawa lebarnya.
“Tidak bisa, Daniel, kamu tahu ada banyak hal yang harus kita selesaikan, tidak hanya masalah perusahaan tapi juga masalah lain termasuk masalah Qiandra. Kali ini aku memerlukan pertolonganmu lagi dan aku harap kamu tidak menolak aku” ucap Dika dengan wajah serius.
“Apa maksudmu” tanya Daniel dengan kening berkerut, “Qiandra sekarang ini sudah bukan urusan ku lagi, dia sudah bahagia dengan suaminya, Dean, dan aku pun saat ini sedang berusaha untuk merelakannya” lanjutnya lagi.
“Ini berkaitan dengan masa laluku dan Qiandra” ucap Dika lagi yang membuat Daniel tiba tiba tertegun.
‘Apa maksudmu” tanya Daniel lagi.
“Ini tentang kebenaran hubungan antara aku dan Qiandra” ucap Dika masih tidak mau berterus terang pada Daniel.
Daniel menghela nafasnya sesaat, “Jika yang kamu maksud hubungan darah, aku sudah mengetahuinya sejak beberapa tahun terakhir” sahut Daniel.
“Apa?, ja jadi kamu sudah tahu, ta tapi mengapa kamu tidak mengatakannya padaku” tanya Dika dengan suara sedikit keras membuat para penjaga di situ melirik ke arah mereka berdua.
Daniel meraih pena yang ada di kantong Dika, kemudian dia menuliskan beberapa angka disitu. “Pergilah ke mansionku, didalam lemari penyimpanan ada brankas tersembunyi, bukalah, dan kamu akan mengetahui semuanya. Aku mencatat semua kejadian disana, kamu bisa mempelajarinya, setelah itu, kamu bisa menentukan sendiri apa yang akan kamu lakukan baik terhadapku maupun terhadap Qiandra” ucap Daniel dengan suara datar.
Dika menatap Daniel dengan tatapan penuh tanya, “Aku tidak bisa menjelaskan semunya padamu disini, karena itu aku meminta kamu untuk membuka semua bukti dan mempelajari sendiri. Aku tidak akan membela diri, atau menyalahkan siapa pun, aku menyerahkan semua keputusan di tanganmu. Dan ingat jangan membuat keputusan hanya karena balas budi, karena jika begitu, kamu pasti akan membuat keputusan yang salah” ucap Daniel lagi.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Daniel lalu segera berdiri, “Setelah kamu mengetahui semuanya, kamu tidak harus datang menjenguk aku lagi, jangan khawatirkan aku, aku baik baik saja, dan aku juga tidak akan menyalahkan dirimu. Balas budimu untukku dan juga untuk keluarga kami sudah sangat berlebihan Dika, sekarang lakukanlah apapun yang menurutmu baik. Baik untukmu, untukku, untuk Qiandra dan untuk semua orang yang kita kasihi”ucap Daniel samvil menepuk lembut bahu Dika, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Dika.
Dika benar benar kehilangan kata katanya mendengar semua ucapan Daniel. Sungguh, dia tidak mengerti, bagaimana bisa Daniel sepertinya sudah mengetahui kalau Qiandra adalah saudaranya. Tapi mengapa Daniel tidak pernah mengatakan apa apa padanya. Dan semua kata kata Daniel tadi benar benar membuat Dika termangu, sebenarnya apalagi yang disembunyikan oleh Daniel selain tentang hubungan darah Dika dan Qiandra.