
Saat hari mulai gelap, serombongan mobil meninggalkan istana Zacharias. Mobil mobil mewah yang bergerak dengan beriringan itu membuat semua orang merasa heran. Namun, tidak ada satupun yang berani bertanya ataupun berspekulasi. Suasana istana seketika menjadi sedikit tegang, tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi ataupun apa yang akan terjadi esok hari.
Dika juga menyaksikan semua itu, dia melihat dengan teliti orang orang yang bergerak
meninggalkan istana. Dika sedikit
mengernyitkan keningnya saat dia menyadari bahwa orang orang itu adalah orang
orang yang di duga keturunan dari orang orang yang terlibat dalam kasus yang
menimpa keluarga Dika.
“Ada apa, mengapa Dean tidak memberitahukan apapun padaku, mengapa mereka tiba tiba meninggalkan istana beserta dengan keluarga dan barang barang mereka” bisik hati Dika. Namun, sama seperti pelayan lainnya, Dika juga tidak berani bertindak gegabah, dia masih menunggu reaksi Dean sambil tetap memantau keadaan. Hal utama yang menjadi prioritasnya saat ini adalah keselamatan Felicia.
Dean sendiri yang menyaksikan hal itu dari balkon kamarnya sedikit mengernyitkan keningnya. Dean memang tidak tahu siapa saja yang terlibat, sehingga dia juga tidak tahu siapa saja keturunan yang masih ada di
istana. Dean kembali masuk ke kamarnya,
dan saat melihat sang istri sudah terlelap karena kelelahan, laki laki tampan itu tersenyum tipis.
“Istirahatlah, Honey” bisik Dean yang hanya ditanggapi Qiandra dengan sedikit menggeliat. Dean mengecup kening wanita cantik itu, lalu memperbaiki selimutnya. Setelah yakin sang istri sudah merasa nyaman, barulah dia mengambil jubah tidurnya dan melangkah keluar dari kamar yang ditempatinya bersama dengan Qiandra.
Dean melangkah menuju kamar sang daddy yang memang berada satu lantai dengan kamarnya. Dean sedikit mengernyit saat melihat pelayan yang berdiri di depan kamar ayahnya. Karena biasanya, selalu kepala pelayan Jhon yang berdiri disitu. “Kemana Jhon” Dean bertanya pada pelayan itu.
Pelayan itu segara membungkuk di hadapan Dean, “Kepala pelayan Jhon baru saja meninggalkan istana, Pangeran” ucap pelayan itu masih dalam posisi membungkuk. Dean sedikit terkejut mendengar jawaban pelayan itu.
“Sampaika pada Yang Mulia aku ingin menghadap” ucap Dean pada akhirnya. Dean tidak ingin bertanya pada pelayan itu, karena dia tahu pelayan itu juga tidak mengetahui alasan kepergian kepala pelayan Jhon. Dean sangat yakin hanya sang daddy yang bisa menjawab semuanya.
Saat sedang menunggu, Dean melihat Dika yang berdiri tidak jauh darinya namun tidak
__ADS_1
bergerak mendekatinya. Dean hanya sedikit menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya memberikan kode pada Dika. Dean yakin, kakak iparnya itu pasti ingin bertanya padanya tentang apa yang terjadi. Oleh sebab itu, Dean memberikan kode yang
mengatakan kalau dirinya juga tidak tahu apa apa.
Tidak lama berselang sang pelayan tadi keluar dan mempersilahkan Dean untuk masuk, sementara Dika sudah menghilang. Dean menghembuskan nafas berat, lalu perlahan masuk ke dalam kamar sang daddy. Saat melihat Dean masuk ke dalam kamarnya, Walt Zacharias memberikan kode pada pelayan yang selalu berada dalam ruangannya untuk keluar, membuat pelayan itu segera membungkuk dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Dean bersimpuh di hadapan sang daddy dengan satu lututnya menyentuh lantai. “Aku sudah memerintahkan mereka semua untuk
keluar, Nak, jadi kamu bisa lebih leluasa bergerak di dalam istana. Daddy harap, kamu membawa istrimu untuk menempati istana ini tanpa rasa khawatir lagi” ucap daddy Walt bahkan sebelum Dean bertanya.
Dean terdiam sesaat, “Aku akan membicarakannya dengan Qiqi, Dad, walau bagaimanapun, aku ingin dia merasa nyaman dimanapun dia ingin tinggal, aku harus menjaga suasana hatinya, apalagi saat ini dia sedang mengandung buah cinta kami” sahut Dean dengan berat hati.
Dean tahu keinginan sang daddy adalah titah untuknya, tapi Dean juga tidak bisa
mengabaikan perasaan Qiandra begitu saja. Sementara Dean tahu, kalau Qiandra sangat senang tinggal di mansion yang dihadiahkannya untuk wanita itu. Dean benar
Daddy Walt mengangguk sekilas, “Yah, bicarakanlah dengan Qiandra, daddy benar benar berharap kalian bersedia kembali ke istana lagi, kalau bukan kalian siapa lagi
yang akan menempati istana ini. Semua
keluarga tidak akan ada yang berani dan memang tidak seharusnya mereka
menempati istana ini walaupun aku mengijinkannya. Bicarakanlah dengan Qiandra, yakinkanlah menantuku, aku hanya ingin selalu melihat kalian dan cucu cucu ku di sisa hidupku” ucapnya dengan berat hati.
Dean segera berdiri dan menghampiri sang daddy, “Dad, ku mohon jangan membicarakan hal hal seperti itu, Daddy akan panjang umur dan akan melihat cucu cucumu bertumbuh dan menjadi penerusmu” ucapnya sambil menggenggam tangan sang daddy.
“Son, tidak ada yang tahu apa rencana Yang Maha Kuasa, tapi untukku, dimanapun
aku berada tetap merupakan kebahagiaan bagiku. Kamu tahu, disana mommymu tetap setia menungguku, bahkan jika dia tidak
__ADS_1
memaksaku untuk kembali, aku sungguh merasa berat untuk kembali” ucap daddy
Walt dengan wajah sendu.
Dean hanya bisa diam dan meremas lembut tangan sang daddy, “Tetaplah bersamaku, Dad, mommy pasti tidak keberatan untuk menunggu lebih lama” desisnya dengan mata berkaca kaca.
Walt Zacharias tersenyum, menarik tangannya dari genggaman sang putra, lalu membelai kepala putra tunggalnya itu dengan penuh kasih. “Kamu tahu tidak ada yang abadi di dunia ini, Son, tapi mengetahui kamu
sudah memiliki istri dan tidak lama lagi akan menjadi seorang daddy, daddy sudah cukup bahagia” ucapnya dengan lembut.
Daddy Walt terus membelai rambut Dean dengan penuh kasih, bahkan dia terpejam dengan senyum merekah di bibirnya, “Sapalah mommymu, Son, kamu ingat dia selalu senang saat melihat kamu bermanja seperti ini” ucapnya lagi, perasaan bahagia begitu
memenuhi hatinya.
“Mom, .....” desis Dean, “Dean mohon biarkan daddy tetap bersama denganku, mommy tahu
bagaimana isi hatiku, bagaimana aku memerlukan daddy dalam hidupku” lanjutnya
lagi. Mata presidir tampan itu berkaca kaca, ada rindu yang begitu besar pada sang mommy membuatnya tak mampu menguasai diri.
“Hei, jangan begitu di hadapan mommymu, Son, kamu tahu mommymu akan sangat marah jika daddy membuatmu meneteskan air mata. Jangan sampai Daddy tidak mendapatkan jatah kue dari mommymu hanya gara gara kamu menangis” kekeh Daddy Walt, walau dia sendiri merasa sesak.
Kenangan bahagia itu tidak pernah hilang dari benak mereka. Mommy Dean memang selalu kesal pada Daddy Walt, karena laki laki itu
senang sekali menggoda putranya sehingga Dean seringkali menangis akibat keusilan sang daddy. Mommy Dean selalu mengancam tidak memberikan kue buatannya yang selalu menjadi favorite Dean dan daddy Walt.
Namun, semua itu hanyalah masa lalu indah yang akan selalu manis untuk dikenang. Kebersamaan mereka bertiga sebelum berbagai masalah membuat keluarga kecil mereka sering terancam bahaya. Hingga pada akhirnya, mereka bertiga terpisah
dengan dunia yang berbeda beda selama bertahun tahun. Ada rindu yang begitu menggelayut di dalam hati kedua pria berbeda usia itu, mereka berdua bahkan sama sama terpejam menikmati kerinduan yang begitu syahdu.
__ADS_1