PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

Dean dan Qiandra sedang menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang memang sudah menanti mereka berdua.  Tiba-tiba Qiandra tertegun menatap ke pinggiran pantai, air matanya perlahan mengalir di pipinya, “Kak Charles” desis Qiandra dan didengar dengan jelas oleh Dean.


“Honey….” Dean menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat, berusaha membawa kesadaran Qiandra kembali, namun Qiandra seperti tidak mendengarkan kata-kata Dean.  Matanya terus menatap ke arah tepian pantai dengan air mata yang terus mengalir.


Qiandra menatap seorang laki-laki berdiri di tepian pantai dan melambaikan tangan padanya.  Laki-laki itu tersenyum bahagia dan menganggukkan kepala ke arah Qiandra, seakan merestui perrnikahan ini.  Perlahan laki-laki itu berbalik dan melangkah menjauhi tempat itu, membuat Qiandra bergegas ingin mengejarnya.


“Kak Charles, tunggu….” seru Qiandra, untungnya seruan itu tidak didengar oleh orang lain karena suara alunan musik yang cukup nyaring.


Dean segera meraih pinggang ramping sang istri, walau ada sedikit perih dihatinya.  Namun, Dean berusaha menepis rasa kecewanya, dia sadar pasti Charles datang dan memberi restu untuk Qiandra.  “Honey…..” desisnya lagi di telinga Qiandra sambil memeluk erat pinggang ramping istrinya itu.


“Love, kak Charles….” ucap Qiandra dengan air mata yang masih mengalir dipipinya.


“Dia datang untuk memberimu restu, Honey”  ucap Dean berusaha menekan rasa cemburunya.


Qiandra menatap mata Dean, senyum lembut dan mata teduh laki-laki yang sesaat lalu telah resmi menjadi suaminya, membuat Qiandra  kembali merasa tenang.  “Terima kasih, Kak Charles, terima kasih atas restumu, ijinkan aku meraih bahagiaku, Kak, dan selamat jalan menuju ka alam ketenangan” bisik Qiandra dalam hati.


Qiandra melihat pada punggung laki-laki yang semakin jauh dan semakin menghilang dari pandangannya.  Sebuah jari lembut menyeka air mata yang mengalir dipipinya, “Ini akan  menjadi air mata terakhirmu, Honey, aku tidak akan mengijinkanmu menangis lagi karena masa lalumu” bisik Dean di telinga Qiandra.


Qiandra menatap wajah Dean, “Terima kasih atas pengertianmu, Love” bisiknya dengan lembut.


Dean mengecup kening istrinya dan membersihkan jejak air mata di wajah Qiandra.  “Maaf, Tuan, Nyonya, saya rasa antrian masih cukup panjang” seorang laki-laki muda menghampiri kedua mempelai yang sedang hanyut dalam suasana haru.


“Astaga, Al, kamu selalu saja mengacaukan suasana romantisku” seru Dean pada laki-laki yang tak lain dari dokter Albert.  Dokter tampan itu terpaksa harus naik ke atas pelaminan  karena para undangan tak bisa meneruskan memberi selamat saat melihat adegan antara kedua mempelai.

__ADS_1


Dokter Albert dan asisten Vian yang datang menghampiri kedua mempelai itu untuk memberikan ucapan selamat pada Dean dan Qiandra.  “Selamat, bro, semoga bahagia selalu dan cepat dapat momongan” kekeh dokter Albert.


“Selamat, Nyonya, mohon jaga sahabat kami ini dan harap maklum kalau sedikit karatan, karena memang sudah hampir kadaluarsa” lanjut  dokter Albert saat berjabat tangan dengan Qiandra, membuat Dean hampir saja memukul kepala sahabatnya itu.


“Terima kasih, Dok, dan maafkan aku sempat kasar padamu dulu” ucap Qiandra dengan lembut.


“Itu sudah seharusnya kamu lakukan, biar laki-laki ini mendapat pelajaran berharga” sahut dokter Albert.


“Al, kurasa aku akan melemparmu dari atas sini, jika kamu terus berkicau di hadapan ratuku”  desis Dean  yang membuat dokter Albert tertawa terbahak-bahak dan melangkah meninggalkan pelaminan itu.


Berbeda dengan dokter Albert  yang  berani  menggoda kedua mempelai, asisten Vian  bersikap sangat hormat pada keduanya.  Laki-laki muda yang tak kalah tampan itu, bahkan tidak berani berjabat tangan dengan Qiandra.  Dia hanya menangkup tangannya, “Selamat menempuh hidup baru, Tuan dan Nona, semoga bahagia selalu” ucapnya.


“Terima kasih Vian, kurasa sekarang kalian berdua bisa segera mengikuti jejakku” ucap Dean seraya meraih bahu sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat.  Asisten Vian  hanya tersenyum mendengar kata-kata Dean.


“Kuharap kamu bisa menjaga permata ini dari dia” desis asisten Vian di telinga Dean, membuat laki-laki itu sedikit tersentak.


Asisten Vian hanya tersenyum, lalu berlalu dari pelaminan itu, sehingga para tamu undangan yang lain dapat ikut serta memberikan restu  dan ucapan selamat.  “Semoga saja, Dean, semoga kamu bisa menjaga istimu dari wanita ular itu, karena aku sangat yakin saat ini, wanita itu pasti sedang dipenuhi kemarahan” bisik asisten Vian dalam hati.


Pesta terus berlangsung dengan meriah, bagi penduduk kota kecil itu, ini adalah pesta termegah yang pernah dilangsungkan di kota  itu.  Belum lagi banyaknya tamu undangan dari luar kota, juga para pemburu berita yang sengaja diundang oleh Dean untuk merekam semua proses dalam pernikahan ini.


Pesta berlangsung hingga pukul sebelas malam, kedua mempelai bahkan sempat dua kali berganti pakaian.  Meski sangat lelah, keduanya tetap berusaha tersenyum menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan yang seolah tiada akhir.  Pesta itu diakhiri dengan pesta dansa  yang diiringi oleh musik juga suasana romantis.


“Honey, terima kasih telah memilih aku dan menunggu aku diantara sekian banyak laki-laki yang mengharapkan cintamu.  Hari ini adalah  hari yang sangat bersejarah bagiku, hari paling bahagia dalam hidupku.  Menjadikanmu sebagai istriku adalah impianku yang menjadi kenyataan” bisik Dean di telinga Qiandra.  Keduanya menempel dengan erat saat berdansa bersama dalam suasana yang syahdu.

__ADS_1


Qiandra mendongak dan menatap wajah tampan sang suami, “Love, aku pun berterima kasih karena kamu mau menerima aku apa adanya diriku.  Maafkan segala kekuranganku, aku tak bisa memberikan kesucianku padamu,


aku….” kata-kata Qiandra terhenti karena Dean menyambar bibir seksi sang istri dengan lembut.


Setelah cukup lama tenggelam dalam ciuman yang memabukkan, perlahan Dean melepaskan bibirnya dari bibir Qiandra, “Honey, kamu tetap suci bagiku, karena kesucian tidaklah hanya  dilihat dari mahkota keperawanan, tapi lebih pada hatimu.  Bagiku, kesucian hatimu jauh lebih berharga dari apapun juga.  Jadi, jangan pernah berpikir  dan merasa rendah diri hanya  karena statusmu, bukankah aku sudah tahu hal itu.  Menjadi hal yang aneh, jika aku masih  mempertanyakan hal seperti itu lagi” ucap Dean dengan lembut di telinga Qiandra.


Qiandra memeluk erat tubuh suaminya, merasakan setiap kehangatan yang mengalir di tubuhnya.  Aroma khas sang suami membuat wanita itu merasa sangat nyaman, hingga jari Dean mengangkat wajahnya dengan lembut, “I love you, just you, sekarang dan sampai kapanpun, Honey” ucap laki-laki itu dengan senyum lembutnya.


“I love you too, Love, terima kasih telah menemukan aku, dan terima kasih mau menerima masa laluku” Qiandra membelai wajah sang suami, wanita itu merasakan jatuh cinta berkali-kali lipat pada laki-laki ini.  Bukan hanya ketampanannya, tetapi keberadaan Dean disisinya, selalu membuat Qiandra merasakan kebahagiaan dan juga kedamaian.


Tiba-tiba Dean mengangkat tubuh sang istri dan menggendongnya ala bridal style, semua pasangan yang ada di dekat mereka segera  memberikan jalan kepada kedua mempelai itu.  “Love, apa yang kamu lakukan, pestanya belum usai” desis Qiandra yang terkejut dengan perlakuan sang suami.


“Pesta ini tidak akan usai sebelum kita meninggalkannya, Honey, biarkan mereka membereskan semuanya.  Sekarang saatnya bagiku untuk menikmati waktuku dengan istriku sendiri” bisik Dean dengan lembut pada Qiandra.


Dean membawa Qiandra melewati jalan yang sudah disterilkan oleh asisten Vian, sehingga tidak ada siapa pun yang ada di jalur itu.  Keduanya langsung masuk ke dalam lift khusus yang sudah dihias dengan sangat cantik.  “Astaga, Love, sampai lift ini pun dihias dengan mawar putih” decak Qiandra dengan senyum bahagia.


“Semua yang terbaik akan selalu aku berikan untukmu, honey, apapun itu” ucap Dean, dia sama sekali tidak merasa berat saat harus tetap menggendong istrinya di dalam lift itu.


Mereka tiba di kamar pengantin yang sudah dipersiapkan dengan berbagai dekorasi dan cahaya lilin yang sangat lembut menyapu ruangan itu, dan membuat kamar pengantin itu terasa begitu syahdu.  Dean meletakkan sang istri diatas tempat tidur yang dipenuhi dengan taburan bunga mawar merah yang disusun dengan bentuk love.


Tanpa sempat memberi kesempatan bagi sang istri untuk memperbaiki posisinya, Dean langsung menyambar bibir seksi Qiandra dengan gairah yang benar-benar sudah tidak tertahankan.  Qiandra sangat mengerti dan dia merasa sangat bahagia karena suaminya ini sanggup bersabar menanti hingga saat ini.


Qiandra menerima semua kelembutan yang dibaluti gairah dari Dean, laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya.  Segenap dahaga dan kerinduan seolah tak ada habisnya untuk dicurahkan oleh keduanya pada sisa malam ini.

__ADS_1


Dean memperlakukan Qiandra benar-benar dengan sikap memuja, walaupun gairahnya  begitu menggebu.  Dean sama sekali tidak ingin menyakiti wanita yang sangat dicintainya ini.  Walaupun Dean tahu, Qiandra sudah tidak perawan lagi, tapi selama bertahun-tahun wanita ini tidak pernah disentuh.  Jadi, Dean  ingin melakukan semuanya tanpa harus membuat Qiandra merasa tertekan apalagi  kesakitan.


Penyatuan keduanya berlangsung dengan penuh cinta dan kelembutan.  Baik Dean maupun Qiandra menikmati setiap detik dan setiap jengkal tubuh pasangannya.  Pengantin baru ini tenggelam dalam lautan asmara yang seakan tiada habisnya untuk mereka raih.


__ADS_2