PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Awalnya Jossie melalui jalur-jalur yang normal, namun rasa penasarannya membuat Jossie mengarahkan motornya pada sebuah jalur ektrim yang memang belum dicoba.  Pengawas yang memperhatikan Jossie berseru memperingatkan gadis itu melalui alat komonikasi yang ada ditelinga Jossie.  Namun, seruan peringatan itu diabaikan oleh Jossie yang sudah merasakan gejolak tantangan.  Tak berapa lama, arena itu dihebohkan dengan teriakan sang pengawas yang melihat Jossie terjatuh ke dalam sebuah jurang.


Qiandra sedang asyik bersama dengan Paman Lev menata dan menanam beberapa tanaman bunga di halaman belakang rumah Qiandra.  “Non, bagaimana kalau mawar putih ini kita  bongkar saja, sepertinya sudah terlalu rimbun dan sudah cukup tua” tanya Paman Lev pada Qiandra.


Mawar putih adalah bunga kesayangan Qiandra, sehingga Paman Lev tidak berani mengganggunya tanpa izin dari Qiandra.  “Biarkan saja dulu, Paman, kita tanam yang  baru dulu, nanti kalau sudah tumbuh dan mulai berbunga baru yang sudah tua ini kita bongkar” sahut Qiandra.  “Taman ini akan terasa kurang jika tidak ada mawar putih ini berbunga dan mewarnainya” lanjutnya lagi.


“Ah, tentu saja, baiklah kalau begitu Paman akan merapikannya saja, daan membuang beberapa pohon yang sudah mati” sahut Paman Lev, dan disetujui oleh Qiandra.


“Auww” seru Qiandra tiba-tiba.


“Ada apa, Non” tanya Paman Lev seraya mendekati wanita cantik itu.


“Tanganku tertusuk duri, Paman” sahut Qiandra, dia melihat jari jempolnya yang mengeluarkan setitik darah.


“Apa tidak apa-apa, Non” tanya Paman Lev, “Sebaiknya Nona istirahat dulu” lanjutnya lagi.


“Tidak Paman, aku baik-baik saja” sahut Qiandra, tiba-tiba dia merasa gelisah, “Paman, apa Jossie sudah berangkat” tanyanya pada laki-laki paruh baya yang mulai melanjutkan pekerjaannya itu.


“Sudah, Non, bahkan setelah sarapan pagi tadi dia sudah berangkat” sahut Paman Lev, “Memangya kenapa, Non, tadi aku sudah menyuruhnya ijin dulu sama Nona, tapi katanya dia sudah ijin kemaren” lanjutnya lagi.


“Entahlah, Paman, perasaanku kok tidak enak, ya, dan kenapa juga aku tiba-tiba kepikiran Jossie” sahut Qiandra, sejenak dia termenung.


“Mungkin Nona terlalu khawatir saja, Paman yakin tidak akan terjadi apa-apa padanya, dia sangat ahli dalam urusan seperti itu, dan bukannya disana juga ada banyak tim yang bekerja” ucap paman Lev berusaha menenangkan Qiandra.


“Semoga saja begitu, Paman, Jossie kadang suka memaksakan kehendaknya” sahut Qiandra.


“Iya, dan cuma sama Non Andra dan Ibu saja dia bisa nurut” sahut Paman Lev dengan menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua kembali tenggelam dalam pekerjaannya, hingga beberapa saat kemudian phonsel Qiandra berdering.  Namun, Qiandra mengabaikannya, dia memang tidak mau aktifitas terganggu karena telepon yang tidak penting.  Karena berkali-kali Qiandra menerima panggilan dari para lelaki yang hanya sekedar menyapanya atau mengajaknya  menikmati akhir pekan.  Dan Qiandra akan  selalu kesulitan memutuskan sambungan telepon seperti itu.


Phonsel Qiandra kembali berdering untuk yang ketiga kalinya, “Non, apa nggak diangkat dulu, siapa tahu penting” Paman Lev yang merasa  sedikit heran karena phonsel Qiandra terus berdering.


“Ish, paling-paling yang biasa aja Paman” sahut Qiandra, namun, saat phonselnya kembali berdering, tak urung Qiandra berdiri juga dan  melihat siapa yang menghubungi dirinya.


“Pengawas arena?” Qiandra mengerutkan keningnya saat melihat nama pemanggil di phonselnya, namun belum sempat dia berpikir, kembali phonselnya berdering.

__ADS_1


“Halo, ada apa” tanya Qiandra.


“Ini, Nona Andra” tanya suara di seberang.


“Iya, saya sendiri, ada apa Pak” tanya Qiandra lagi.


“Nona, telah terjadi kecelakaan di arena” lapor pengawas itu lagi.


“Kecelakaan bagaimana, Pak, tolong jelaskan secara detil” sahut Qiandra tetap dengan sikap tenang, Qiandra sudah biasa menghadapi  berbagai kecelakaan kerja, dan dia tahu dia harus tenang menghadapi semuanya.


“Nona Jossie jatuh ke jurang, Nona” seru pengawas itu panik.


“Apa?” seru Qiandra, phonselnya hampir saja jatuh dari tangannya, “Saya segera kesana Pak” lanjutnya lagi seraya mematikan sambungan  telepon.


“Ada apa, Non” tanya Paman Lev yang melihat Qiandra panik.


“Jossie jatuh ke jurang, Paman, aku berangkat dulu” seru Qiandra langsung berlari ke rumahnya.


Paman Lev sangat terkejut mendengar hal itu, dia segera berlari menyusul Qiandra.  Saat Paman Lev sampai di rumah dia melihat Qiandra sudah meraih kunci mobil, “Non, gantilah dulu pakaianmu” seru Paman Lev.


Qiandra mengambil salah satu kunci mobil sportnya, lalu kembali berlari menuju garasi yang ada disamping rumahnya.  Qiandra memacu kendaraan super cepat itu dengan kecepatan tinggi menuju ke arena motor cross yang berada di luar kota.


Saat Qiandra tiba, pengawas sudah menunggu kehadirannya, “Dimana dia” seru Qiandra.


“Mari ikut saya Nona” ucap pengawas itu yang sudah menungguQiandra dengan mobil jeepnya,  Qiandra segera naik ke mobil itu.


“Apa sudah ada usaha evakuasi” tanya Qiandra.


“Kita sedang memperhatikan peluang dan jalan evakuasi termudah” sahut pengawas itu lagi.


“Apa kendalanya” tanya Qiandra.


“Jurangnya tidak terlalu dalam, namun belum ada akses jalan menuju kesana, kita takut ada bagian tanah yang bisa longsor dan malah akan lebih membahayakan lagi bagi Nona Jossie” sahut pengawas itu.


“Bagaimana keadaannya” Qiandra kembali bertanya.

__ADS_1


“Sepertinya Nona Jossie tidak sadarkan diri, dan motornya tergeletak disamping Nona Jossie” sahut pengawas itu lagi.  Mereka berdua tiba di lokasi kejadian, disana sudah berdiri beberapa orang pria yang sedang berunding untuk menentukan cara evakuasi termudah.


“Apa belum ada jalan” tanya Qiandra.  Para lelaki itu terkejut mendengar suara seorang wanita ditengah keadaan seperti itu.  Dan saat mereka melihat siapa yang berjalan mendekati mereka, mereka segera membungkukkan badannya.


“Belum, Nona Andra, daerah di bawah tergolong rawan longsor, karena itulah jalur ini masih belum kita buka” sahut salah satu pria itu.  Qiandra hanya mengangguk, dia segera  mengambil phonselnya dan menghubungi seseorang.


Tak berapa lama mereka mendengar suara helicopter mendekati tempat itu, Qiandra menggunakan phonselnya untuk mengarahkan helicopter itu.  Dia memberikan beberapa petunjuk seraya menunjukkan lokasi tempat Jossie terjatuh.


Helikopter melakukan evakuasi dengan cepat, sebuah tangga tali terulur ke bawah bersama dengan sebuah tandu.  Seorang laki-laki turun melalui tangga itu dan mengangkat tubuh Jossie ke atas tandu.  “Segera bawa ke rumah sakit” perintah Qiandra, saat melihat tandu yang membawa tubuh Jossie mulai terangkat ke atas.


“Pak, bawa aku kembali ke mobilku, tolong Bapak bereskan kekacauan disini” ucap Qiandra kepada pengawas itu setelah dia melihat Jossie sudah bisa dievakuasi.


“Baik, Nona” sahut pengawas itu, dia segera menyalakan mobil jeepnya dan membawa wanita cantik itu meninggalkan tempat itu.


Qiandra kembali memacu mobil sportnya menuju rumah sakit terbesar di kota kecil itu.  Sesampainya disana, dia melihat Jossie yang sudah dibaringkan di brankar rumah sakit dan akan didorong masuk kedalam ruang pemeriksaan.


Qiandra segera berlari menghampiri brankar itu, hatinya remuk saaat melihat keadaan Jossie yang benar-benar mengenaskan.  “Maaf, Nona Andra, apa Anda keluarga pasien” seorang dokter senior menyapa Qiandra.


“Benar, Dok, dia adikku” sahut Qiandra, “Bagaimana keadaannya, Dok” tanya Qiandra lagi.


“Kami akan mencoba melakukan yang terbaik, tapi fasilitas disini tidak begitu memadai, saya sarankan Nona mempersiapkan untuk membawanya ke rumah sakit yang punya fasilitas lebih baik” ucap dokter itu lagi.


“Baik, Dok, tolong selamatkan nyawanya” sahut Qiandra dengan suara bergetar.  Dokter itu hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruang operasi.


Tidak berapa lama Bik Sum, Paman Lev dan Bibi Ona datang ke rumah sakit itu dan mereka segera mendekati Qiandra, “Bagaimana keadaannya, Nak” tanya Bik Sum dengan wajah khawatir.


“Entahlah, Bu, dia masih belum sadarkan diri dan sekarang dia sedang di ruang operasi” sahut Qiandra.  Mereka akhirnya sama-sama berdiam diri dan menanti dengan harap-harap cemas.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Nak” tanya Bik Sum memecah kesunyian diantara mereka.


“Jossie membawa motornya melewati jalur yang memang masih belum dibuka oleh tim disana karena meraka menilai jalur itu berbahaya.  Namun, Jossie tidak memperdulikan peringatan dari pengawas, dan akibatnya Jossie jatuh ke jurang karena kondisi tanah disitu yang memang belum stabil” sahut Qiandra.


“Astaga, anak itu, ini yang membuat ibu selalu berat mengijinkannya melakukan kegiatan ekstrim, jiwanya pasti tertantang untuk  menaklukkan tantangan yang dirasa orang berbahaya” ucap Bik Sum.


“Sudahlah, Bu, jangan menyesali apa yang sudah terjadi, kita doakan saja agar Jossie baik-baik saja” ucap Qiandra, dalam hati kecilnya, Qiandra juga merasa bersalah, karena dialah yang telah memberikan ijin untuk

__ADS_1


Jossie.


__ADS_2