PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS LIMA BELAS


__ADS_3

Qiandra masih terus menatap Daniel yang


terlihat sangat kelelahan karena tidurnya begitu pulas.  “Bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu menyadarinya, kalau aku tidak akan bisa mencintai dirimu.  Aku mungkin bisa berbuat baik padamu, tapi


bukan karena aku mencintaimu, itu semua semata-mata karena aku menghargai semua


kebaikan dan cintamu” masih Qiandra berdialog dengan hatinya sendiri.


Saat Qiandra sedang tenggelam dalam lamunannya sambil memperhatikan Daniel yang masih terlelap, tiba tiba phonsel di saku


celana laki laki itu bergetar.  Qiandra yang mendengar getaran itu, segera kembali menutup matanya dan berpura pura tertidur.


Sementara Daniel tersentak sesaat dan segera bangun, lalu dia mengambil phonselnya dan melihat bahwa yang memanggilnya adalah pengawalnya.  “Ada apa” tanya Daniel dengan suara dingin tapi perlahan.  Dia melirik ke arah Qiandra yang masih terlihat terlelap.


“Tuan, kami sudah membawa dokternya, namun dia masih belum sadar, tadi kami sedikit membiusnya, mungkin sebentar lagi dia akan sadar” lapor pengawal Daniel.


“Baiklah, siapkan dia di depan kamar, saat


sadar langsung bawa masuk dan bius lagi setelah dia keluar dari kamar” sahut Daniel.


“Baik Tuan, tampaknya dia sudah mulai sadar,


Tuan” lapor si pengawal lagi.


“Ya, bawa dia kesini” perintah Daniel sebelum


menutup panggilan telepon itu.


Tidak berapa lama pintu kamar mewah itu


diketuk dari luar, Daniel segera berdiri dan melangkah menuju pintu, kemudian dia membuka pintu besar itu.  Daniel menatap seorang wanita paruh baya dengan jas dokter dan juga tas perlengkapan yang ditentengnya berdiri di depan pintu.  Dibelakang wanita itu ada dua anak buah Daniel sedang berjaga.


“Silahkan masuk, tolong periksa istri saya,


tadi dia sempat hampir tenggelam” ucap Daniel kepada wanita paruh baya yang


diyakininya sebagai dokter.


Wanita itu hanya mengangguk, dia tidak


bertanya apa apa lagi karena memang sudah dipesankan oleh para pengawal Daniel agar tidak perlu banyak bertanya.  Dokter itu langsung masuk dan sedikit terkesima saat melihat wajah cantik wanita yang sedang terbaring dengan mata terpejam itu.


“Astaga, bukankah ini istrinya Dean Walt


Zacharias yang dikhabarkan telah diculik, dia benar benar cantik, jauh lebih cantik dari yang terlihat di layar kaca” bisik hati dokter wanita itu.


“Ada apa, Dok, mengapa kamu terdiam” tanya


Daniel dengan sedikit curiga.


“Tidak apa apa, Tuan, hanya saja Nyonya ini


sedang terlelap, apakah tidak masalah kalau aku membangunkannya nanti” tanya dokter itu berusaha menenangkan dirinya.


“Periksa saja, istriku sudah cukup lama


istirahat” sahut Daniel yang dijawab dokter itu dengan mengganggukkan kepalanya.  Namun, saat wanita paruh baya itu menyentuh tangan Qiandra, wanita itu langsung terbangun dan membuka matanya.


“Si – siapa Anda” tanya Qiandra yang berpura pura terkejut melihat keberadaan wanita paruh baya itu, padahal dia sudah mendengar semuanya.


“Sayang, ini dokter, dia akan memeriksa


keadaanmu” ucap Daniel dengan lembut seraya duduk diatas tempat tidur di samping Qiandra.  Daniel juga segera membantu Qiandra untuk duduk dengan meletakkan bantal di belakang punggung wanita itu.


Qiandra sebenarnya risih dengan perlakuan


Daniel yang seolah olah benar benar melakukan untuk istrinya.  Tapi Qiandra juga tidak berani menolaknya, karena dia tahu keselamatan wanita paruh baya di hadapannya ini menjadi taruhannya.


“Maaf mengganggu istirahat Anda, Nyonya, Saya Dokter Mira” sapa wanita paruh baya itu memperkenalkan dirinya pada Qiandra.


“Oh, iya, maafkan saya juga, Dok, saya hanya


terkejut karena melihat orang yang baru saya lihat ada di dalam kamar ini” ucap Qiandra juga dengan sopan.  Dokter Mira seketika menjadi kagum mendengar tutur kata Qiandra yang seorang wanita dari keluarga bangsawan bisa bersikap begitu sopan padanya.


“Baiklah, Nyonya, sekarang ijinkan saya untuk


memeriksa keadaan Anda” ucap dokter Mira.  Dokter Mira segera mengeluarkan peralatannya dan mulai memeriksa keadaan


Qiandra.  Namun, baru saja dia memulai


memeriksa keadaaan Qiandra, tiba tiba keningnya mengernyit.

__ADS_1


“Ada apa, Dok” tanya Daniel yang merasa khawatir, matanya menatap dokter Mira dengan tajam.  Sementara Qiandra menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil menatap dokter Mira dengan mata penuh permohonan.  Dokter Mira segera mengerti kalau Qiandra tidak ingin dia mengatakan keadaan wanita itu yang sebenarnya pada Daniel.


“Maaf, Tuan, bisakah saya meminta air hangat, Nyonya sepertinya harus minum air hangat dulu agar peredaran darahnya lancar.  Mungkin sejak hampir tenggelam tadi, Nyonya belum mengkonsumsi apapun” ucap dokter Mira.


“Hmmm....” Daniel hanya mengangguk lalu


beringsut turun dari tempat tidur untuk meminta air minum hangat dari pelayan


di luar kamarnya.  Daniel tidak ingin terlalu lama meninggalkan Qiandra dan dokter Mira sendirian karena dia khawatir mereka sempat merencanakan hal hal yang tidak diinginkan.


Saat Daniel beringsut turun dari atas tempat


tidur, dokter Mira mengambil sesuatu dari tasnya lalu menyerahkannya dalam


genggaman Qiandra, “Periksa saat subuh” bisiknya pada Qiandra.  Qiandra yang memahami niat baik dokter Mira, segera menyembunyikan benda yang diserahkan dokter itu di balik bantalnya.


Kemudian Qiandra juga melepaskan salah satu cincin permata pemberian Dean yang ada di jarinya dan menyerahkannya pada


dokter Mira.  “Tolong aku, ini bisa jadi


bukti” desisnya dengan cepat pada dokter Mira.


Dokter Mira mengerti maksud Qiandra, dia juga segera mengambil cincin itu dan memasukkannya dalam saku dalam jas


dokternya.  Setelah itu, dokter Mira kembali melanjutkan pemeriksaan secara menyeluruh di tubuh Qiandra, bertepatan dengan Daniel yang sudah kembali dan duduk di samping Qiandra.


Tidak berapa lama mereka mendengar pintu kamar di ketuk dari luar.  “Masuk” seru Daniel


yang tidak ingin lagi meninggalkan Qiandra sendirian dengan dokter Mira, karena dia sempat melihat interaksi keduanya yang sedikit mencurigakan tadi.


Seorang pelayan masuk ke dalam kamar itu


dengan membawa segelas air hangat lalu menyerahkannya pada Daniel.  Daniel mengambil gelas itu dan memberikannya


pada Qiandra, “Minumlah, Sayang” ucapnya dengan lembut.


Qiandra hanya mengangguk lemah, lalu mengambil gelas itu dan segera meminum air dalam gelas itu hingga tandas.  Dokter Mira tersenyum melihat wanita muda nan cantik itu, walau dalam hati dia juga merasa sangat ketakutan, tapi dokter Mira tetap berusaha tenang.


“Bagaimana keadaan istriku, Dok” tanya Daniel yang tidak ingin dokter Mira berlama lama dengan Qiandra.


“Secara fisik, tidak ada masalah yang serius,


Tuan, Nyonya hanya perlu lebih banyak beristirahat.  Tetapi, sepertinya masalah psikis Nyonya yang lebih berat, saya sarankan Nyonya jangan terlalu banyak pikiran” ucap dokter Mira dengan penuh makna pada Qiandra.


“Dan ini ada beberapa vitamin yang harus


diminum untuk memperkuat .... emmm memperkuat kondisi Anda” ucap dokter Mira dengan sedikit gugu karena hingga hampir seperti hampir salah bicara.  “Tolong diminum secara rutin, Nyonya” ucapnya seraya menyerahkan beberapa vitamin pada Qiandra.


Qiandra menatap vitamin vitamin itu dengan


tatapan bingung, dia sangat ingat kapan dia pernah mengkonsumsi semua jenis vitamin itu.  Karena Qiandra terlihat ragu mengambil semua vitamin itu, Daniel langsung mengambilnya dari tangan dokter Mira.  “Baiklah, Dok, apa ada lagi hal lain” tanya Daniel dengan tidak sabaran.


“Saya rasa itu saja, Tuan, semoga Nyonya bisa cepat pulih” sahut dokter Mira.  Dokter Mira segera mengumpulkan semua barang barang yang di pakainya untuk memeriksa Qiandra tadi.  Saat dia berdiri, Daniel menyerahkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuknya membuat dokter Mira terkejut.


“Tuan, ini terlalu banyak” tolak dokter Mira


dengan halus.


“Anggap saja kompensasi untuk perlakuan kami yang kurang baik, dan saya harap Anda bisa melupakan semua yang ada disini”


ucap Daniel dengan nada sedikit mengancam membuat dokter Mira juga Qiandra hanya bisa menelan ludah.


Akhirnya dokter Mira menerima uang itu dan


memasukkannya dengan asal ke dalam tas kerjanya.  “Baiklah, saya mengerti, Tuan, kalau begitu sekarang saya permisi dulu, Tuan dan Nyonya, terima kasih” ucap dokter Mira lalu segera berdiri dan berbalik melangkah meninggalkan Qiandra.


Daniel mengantar dokter Mira hingga ke pintu


kamar, di luar kamar kedua penjaga tadi sudah berdiri dan langsung mempersilahkan dokter Mira berjalan lebih dulu.  Daniel menutup pintu kamar dari luar, lalu memberikan kode kepada pengawalnya.   Salah satu pengawal Daniel mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu membekap mulut dan hidung dokter Mira.  Tanpa perlawanan berarti dokter Mira langsung jatuh terkulai tidak sadarkan diri.


“Geledah barang barangnya” seru Daniel, dia


mencurigai kalau dokter Mira dan Qiandra sempat membicarakan atau melakukan


sesuatu tadi saat ditinggalnya.


“Baik, Tuan” sahut kedua pengawal Daniel


bersamaan.  Mereka segera memeriksa tas


dokter Mira dan menumpahkan seluruh isinya, kemudia mereka memungutnya satu

__ADS_1


persatu agar tidak ada yang terlewat.


“Semuanya bersih, Tuan” sahut pengawal Daniel setelah selesai memasukkan kembali seluruh barang barang dokter Mira.


“Hmmm, baiklah, segera antar dia kembali, dan pastikan untuk tidak meninggalkan jejak” sahut Daniel pada kedua pengawalnya.


“Baik, Tuan” sahut keduanya, lalu mereka


segera mengangkat tubuh dokter Mira dan membawanya menuju ke helikopter yang


sudah bersiap di landasan helipad di atas villa mewah itu.  Tidak berapa lama, Daniel mendengar helikopter itu sudah berangkat meninggalkan villa barulah dia kembali ke kamar untuk menemui Qiandra.


Daniel melihat Qiandra yang baru kembali dari


kamar mandi masih dengan langkah agak goyah.  Daniel setengah berlari menghampiri Qiandra, namun saat dia akan mengulurkan tangannya membantu wanita itu, Qiandra segera mengangkat tangannya, “Please, Daniel” ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.


“Qi, ......” desis Daniel yang merasa sedikit


kecewa karena Qiandra kembali menolak dirinya.  Namun, Daniel juga tidak bisa memaksa, dia tetap mengikuti keinginan


Qiandra walau hatinya merasa begitu kasihan melihat wanita yang sangat dicintainya itu berjalan dengan tertatih.


Qiandra kembali ke tempat tidur, lalu perlahan


membaringkan tubuhnya yang terasa letih.  Entah mengapa dia merasa kepalanya kembali pusing, walau tidak parah namun cukup mengganggunya.  Qiandra akhirnya lebih memilih menutup matanya dan berusaha menenangkan dirinya.


Daniel yang melihat Qiandra langsung


berbaring saja, segera menghampiri wanita itu.  Dengan perlahan Daniel menutupi tubuh Qiandra dengan selimut tebal, walaupun dengan begitu dia tidak bisa lagi melihat keindahan tubuh wanita itu yang ternyata hanya memakai baju tidur yang tidak terlalu tebal.


Qiandra sendiri tidak memperhatikan pakaian


yang dia kenakan, karena semua itu di pasang oleh pelayan Daniel tadi.  Dan saat ini, pikiran Qiandra sama sekali tidak tertuju pada apa yang dikenakan ataupun apa yang dipikirkan oleh Daniel saat melihat dirinya.  Pikiran Qiandra tertuju pada barang yang diberikan oleh dokter Mira tadi yang telah


disembunyikannya di kamar mandi.


Ya, Qiandra pergi ke kamar mandi untuk


menyembunyikan barang yang di berikan oleh dokter Mira.  Dia sempat tertegun saat melihat benda itu, bahkan lututnya sudah goyah sebelum dia menggunakan alat itu.


“Ini ....., apakah mungkin, astaga, bagaimana


ini” desis Qiandra dengan kebingungan.  Wajahnya seketika menjadi pucat bayangan masa lalu tiba tiba kembali menyeruak.  Namun, Qiandra tidak sempat terlalu lama berpikir, dia segera mencari tempat yang sekiranya cukup aman untuk menyimpan benda itu, sampai saat yang tepat baginya untuk menggunakannya.


Qiandra menemukan tempat yang cukup


tersembunyi, lalu menyimpan benda itu.  Dan saat dia telah selesai, dia bisa mendengar kalau pintu kamar terbuka.  Dengan tergesa Qiandra segera keluar dari kamar mandi, namun gerakannya yang tergesa malah menyebabkan kepalanya kembali pusing.  Oleh karena itulah, Qiandra melangkah dengan sedikit goyah saat kembali ke tempat tidurnya.


“Qi, ini sudah siang, sebaiknya kamu makan


dulu, ya, agar nanti kamu bisa segera meminum obatmu” ucap Daniel dengan lembut pada Qiandra.  Walaupun Qiandra menutup matanya, tapi Daniel yakin wanita itu tidak tidur.


Qiandra yang baru menyadari kalau perutnya


memang sedikit merasa lapar, hanya menganggukan kepalanya dengan perlahan.  “Baiklah, kamu tunggu sebentar ya, aku akan


memanggil pelayan untuk mengantar makan siang untuk kita berdua.  Sementara ini kamu makan disini dulu ya, aku lihat langkahmu masih goyah” ucap Daniel dengan lembut yang kembali dibalas Qiandra dengan anggukan lemah.


Daniel menghubungi pelayan melalui interkom yang ada di nakas dekat tempat tidur, “Segera antarkan makan siang kami kesini” perintahnya.  Setelah itu, dia kembali


menatap Qiandra dengan sendu, “Maafkan aku, Qi, maafkan cintaku yang terlalu besar padamu ini” ucap Daniel setengah berbisik.


Qiandra sebenarnya mendengar suara dan kata kata Daniel namun dia mengabaikannya dan tidak merespon kata kata laki laki itu.  Sekarang, Qiandra hanya memikirkan keadaan dirinya saat ini dan apa yang akan terjadi jika ketakutannya menjadi


kenyataan.  Ini bukanlah saat yang tepat,


tapi dia juga tidak bisa menolaknya.


Tidak berapa lama, pintu kamar mereka kembali diketuk dari luar, “Masuk” seru Daniel.  Empat orang pelayan melangkah masuk sambil mendorong troli yang dipenuhi


dengan berbagai hidangan yang tentunya semuanya favorit Qiandra.


Qiandra sontak membuka matanya saat mencium aroma makanan yang begitu menggoda indra penciumannya.  Daniel yang memang terus memperhatikan wanita itu, langsung tersenyum saat melihat Qiandra membuka matanya.  Daniel lalu berdiri dan mengambil sebuah meja kecil untuk diletakkan di hadapan Qiandra.


“Pergilah” ucap Daniel pada para pelayannya,


dan keempat orang itu segera keluar meninggalkan kamar itu.  Daniel lalu meletakkan troli makanan itu di dekat Qiandra, “kamu mau makan yang mana, Qi, biar aku ambilkan untukmu” ucap Daniel dengan lembut.


Perut yang lapar dan air liur yang sudah


hampir menetes membuat Qiandra tanpa ragu menunjukkan beberapa makanan yang

__ADS_1


ingin dinikmatinya.  Daniel kembali tersenyum, lalu dia mengambil semua makanan yang ditunjuk oleh Qiandra.


__ADS_2