
“Nona Qiandra” sebuah suara menghentikan langkah Qiandra yang baru saja mulai menapaki tangga untuk naik ke lobby kantor pusat PT. Mahardika.
Qiandra terkejut mendengar namanya dipanggil, dia sangat mengenal suara itu, jadi dia segera berpaling, “Tuan Dika, selamat pagi” sapa Qiandra ramah.
“Pagi, Nona Qiandra, sepertinya Anda tidak perlu masuk ke kantor, Nona, presidir menunggu Anda di mobil, agar bisa langsung menuju ke tempat pertemuan” ucap asisten Dika.
“Sepagi ini, Tuan” tanya Qiandra heran, tidak pernah ada pertemuan yang terlalu pagi dilaksanakan.
“Tempatnya sedikit di luar kota, Nona, jadi perlu waktu untuk bisa mencapai lokasi pertemuan itu” jawab asisten Dika, dia tahu pasti Qiandra akan bertanya-tanya.
“Oh, baiklah kalau begitu” sahut Qiandra, lalu dia kembali menuruni anak tangga dan melangkah menuju mobil mewah yang baru terparkir tadi.
Asisten Dika segera membuka pintu mobil untuk Qiandra, dan saat Qiandra akan masuk, dia terkejut mendapati Daniel yang sudah ada di dalam mobil itu.
“Selamat pagi Tuan Daniel” sapa Qiandra ramah, dia sudah biasa bepergian dalam satu mobil dengan Daniel, namun selalu Qiandra yang lebih dulu menunggu di dalam mobil.
“Hmmm….” sahut Daniel acuh, Qiandra sedikit heran melihat tanggapan Daniel, karena biasanya laki-laki itu selalu menyambutnya dengan wajah bahagia.
Sopir mobil mewah itu segera membawa Daniel dan Qiandra keluar dari komplek perkantoran PT. Mahardika. “Sebenarnya, dimana acara pertemuannya akan dilaksanakan, Tuan Daniel, dan apa agenda kegiatannya” Qiandra membuka pertanyaan untuk memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil mereka.
Daniel melirik Qiandra sekilas, lalu kembali menatap ke arah luar jendela, “Memangnya kamu takut pergi berdua denganku” tanya Daniel tiba-tiba.
Qiandra mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Daniel, “Bukan begitu, Tuan, kenapa juga saya harus takut, bukannya kita sudah sering pergi bersama, saya hanya ingin mengetahui apa saja yang harus saya persiapkan untuk pertemuan ini, tidak mungkin kan saya mendampingi Anda tanpa persiapan apapun” sahut Qiandra dengan penuh hormat.
Inilah salah satu hal yang paling dikagumi Daniel dari Qiandra, wanita ini sangat cekatan dan cerdas, dalam keadaan terdesak dan waktu yang sempit, dia mampu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk sebuah pertemuan. Sangat jarang ada sekertaris yang bisa seperti Qiandra, dia sangat total dalam melaksanakan
pekerjaannya.
__ADS_1
“Persiapkan saja dirimu dengan sebuah kejujuran” ucap Daniel dengan suara yang dingin.
Qiandra terkejut mendengar nada suara Daniel, ditambah lagi jawaban Daniel yang benar-benar ambigu buat Qiandra. “Maksud Anda, apa Tuan” tanya Qiandra yang tidak mengerti maksud ucapan Daniel.
“Pertemuan kali ini adalah untuk menguji kejujuranmu” sahut Daniel lagi.
Sesaat Qiandra mengerutkan keningnya, namun tiba-tiba dia teringat pada kejadian yang dilaluinya dalam dua hari terakhir. Seketika wajah Qiandra menjadi pias, “Apa Daniel akan mempertanyakan perihal hubunganku dengan Dean, apa dia benar-benar mengetahuinya, tapi seberapa banyak yang dia tahu” bisik hati Qiandra dengan harap-harap cemas.
“Kenapa kamu diam, apa kamu sedang mempersiapkan berbagai kebohongan” sinis suara Daniel membuat suasana dalam mobil yang sebenarnya sudah cukup dingin menjadi gerah untuk Qiandra.
“Sa-saya hanya tidak mengerti tujuan perkataan Anda, Tuan” ucap Qiandra dengan sedikit terbata.
“Huh…..” desis Daniel dengan wajah yang benar-benar dingin. Setelah itu, hanya kesunyian yang tercipta dalam mobil mewah itu, bahkan sopir tidak berani walau hanya memutar lagu saja untuk mengusir sepi.
Enam puluh menit kemudian, mobil mewah itu memasuki halaman sebuah villa yang terlihat megah. Villa indah itu bahkan nampak seperti sebuah kastil yang sangat megah, Qiandra berdecak kagum melihat villa tersebut.
“Kamu datang kesini bukan untuk berlibur” sarkas Daniel tiba-tiba disamping Qiandra, membuat wanita itu tersentak dari lamunannya.
“Ba-baik, Tuan, maafkan saya” ucap Qiandra yang terkejut mendengar Daniel memarahinya, karena selama Qiandra bekerja pada Daniel, tidak pernah sekalipun laki-laki itu membentaknya. bahkan Qiandra lah yang kerap kali menenangkan Daniel jika laki-laki itu sedang emosi.
Qiandra melangkah mengikuti langkah panjang Daniel memasuki villa megah itu, pemandangan mempesona dalam villa itu sama sekali tidak bisa Qiandra nikmati. Dia hanya melangkah mengikuti Daniel tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Daniel masuk ke dalam sebuah kamar, yang Qiandra duga adalah kamar utama dalam villa itu, karena sangat besar dengan berbagai perabotan yang mewah. Qiandra hanya berdiri di luar kamar itu, dia ragu untuk melangkah masuk, karena Qiandra berpikir, mungkin Daniel sedang ingin beristirahat atau ada keperluan pribadi didalam kamar itu.
“Sampai kapan kamu akan berdiri disitu” seru Daniel mengejutkan Qiandra.
“Ma-maaf, Tuan” ucap Qiandra, dia lalu melangkah masuk kedalam ruangan yang memang seperti dugaannya adalah sebuah kamar tidur besar dengan berbagai perabotan mewah.
__ADS_1
“Duduk” ucap Daniel dingin, membuat Qiandra segera duduk tanpa banyak bertanya lagi. “Sekarang jelaskan semuanya tentang laki-laki itu” lanjut Daniel saat Qiandra sudah duduk dihadapannya.
“Ma-maksud Tuan” tanya Qiandra, walaupun dia tahu siapa yang dimaksud oleh Daniel tapi dia masih berharap bahwa bukan itu yang ingin diketahui oleh Daniel.
“Dean Walt Zacharias” desis Daniel dengan sinis, “Apa kamu masih belum jelas” sarkasnya lagi. Qiandra bisa melihat kemarahan yang terpancar di mata Daniel.
Qiandra menghembuskan nafasnya pelan, “Seperti yang Tuan ketahui, saya sama sekali tidak mengenal Dean” Qiandra memulai ceritanya, namun Daniel menatapnya tajam saat mendengar Qiandra menyebut nama Dean tanpa embel-embel apapun.
“Sore itu, saya ke makam suami saya, dan saya sangat lelah menghadapi semua persoalan hidup saya, saya merasa tubuh saya sangat lemah dan hujan mulai turun sedangkan hari sudah mulai gelap. Seorang pria tiba-tiba memayungi saya, dan dia meminta saya untuk segera pulang, saya tidak memperdulikannya karena saya memang ingin mengakhiri hidup saya saat itu juga” Qiandra menarik nafas sejenak, airmatanya perlahan turun di kedua pipinya.
Daniel menatap Qiandra dengan intens, hatinya perih melihat airmata wanita yang begitu dicintainya itu. Daniel sangat ingin memeluk Qiandra, meringankan beban yang terlihat begitu berat menimpa bahu wanita itu. Tapi, dia mati-matian menahan keinginannya, dia berusaha mengeraskan hatinya.
“Saya telah mengusirnya, namun dia sepertinya tidak memperdulikan ucapan saya, hingga akhirnya saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Sepertinya saya jatuh tidak sadarkan diri, karena keesokan harinya saat saya bangun, saya sudah berada di sebuah kamar yang tidak saya kenali. Laki-laki itu ternyata Dean, dia menyelamatkan saya, saya sempat kesal padanya karena saya sangat ingin menyusul kak Charles” desis Qiandra bahkan diakhir ucapannya, wanita itu terisak menahan pedih dihatinya.
“Ternyata Dean menyelamatkan saya, tapi setelah sadar, saya ingat kalau saya harus segera pulang, saya sangat tahu bagaimana sikap orang-orang dirumah. Dean memaksa mengantar saya sampai ke rumah karena dia ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun, dugaan saya tidak meleset, belum sempat kami menjelaskan apa yang sudah terjadi, mama dan papa memaksa saya menanda tangani surat penyerahan rumah itu, dan kemudian mereka mengusir saya” Qiandra kembali menarik nafas berat.
“Saya belum sempat sarapan karena terburu-buru pulang, dan karena frustasi saya kembali tidak sadarkan diri, hingga akhirnya saya terbangun sudah berada di mansion Dean, itu saja yang bisa saya ceritakan, Tuan” Qiandra menghela nafas berat, berusaha menenangkan hatinya.
Daniel melempar beberapa foto ke atas meja, “Lalu apa arti ini semua” sarkasnya pada Qiandra.
Qiandra terkejut melihat foto-foto itu, ternyata itu adalah foto-foto Qiandra saat berada dipelukan Dean saat mereka berada di tepi pantai. Qiandra kembali menghela nafas berat, “Dean memang menyatakan perasaannya pada saya, tapi saya menolaknya, karena rasanya itu terlalu cepat, saya tak kuasa menolak perlakuannya saat itu karena rasa terima kasih atas pertolongannya pada saya, bahkan kesediaannya menampung saya bersama dengan Bik Sum dan Mang Ijal di mansionnya” jawab Qiandra.
“Tapi kamu terlihat sangat menikmatinya” sinis suara Daniel.
“Tuan, kalau masalah itu, saya rasa saya itu ranah pribadi saya” ucap Qiandra pelan.
“Ranah pribadi katamu, Qiandra, lalu kamu anggap apa aku selama ini, hah, bertahun tahun aku bersabar menantimu, tapi lihat, semudah itu kamu jatuh dalam pelukan laki-laki yang bahkan baru kamu kenal selama dua hari” seru Daniel dengan kemarahannya.
__ADS_1
“Tuan, tolong hargai saya, saya tidak jatuh dalam pelukannya, lagipula kalaupun saya jatuh dalam pelukannya, bukankah itu hak saya. Dan masalah saya dengan Tuan, bukankah sudah berulang kali saya menjawabnya, saya menghormati Anda sebagai atasan saya, tanpa ada niat lain” sahut Qiandra berusaha menahan kemarahannya. Qiandra merasa sedikit tersinggung mendengar tuduhan Daniel kepadanya.